Lower Class Wisdom

Tumbuh besar di keluarga dengan ekonomi rendah mengajarkanmu soal ini: you have to blend in if you wants to have a peaceful life. Saya senantiasa diajarkan untuk tidak neko neko, tidak mengikuti hal hal kekinian saat itu. Tidak pergi darmawisata, tidak membeli baju baju populer, tidak nonton konser, pokoknya jangan aneh aneh. 
Setiap berdiskusi dengan ayah soal perkara yang sedang ramai dibicarakan, ayah selalu menjawab “Ikuti apa kata orang banyak saja” dengan alasan itu tadi, orang orang miskin jika ingin hidup tenang, wajib bagi mereka untuk tidak menonjol.
Lower class wisdom ini saya bawa sampai usia belasan. Untuk tidak menonjol, untuk blend in dan menjalani hidup yang peaceful dan apa adanya. Kalau dipikir di kondisi sekarang, apa yang ayah saya ajarkan benar adanya. Mau lower class mau higher class mau top class sekalipun, kita manusia ini apalah selain sebutir debu di lautan kosmis.
Keinginan untuk menonjol, menjadi berbeda, unggul dari satu dan lainnya, adalah produk premodernisme yang diusung jauh sebelum era Amelia Earhart, jauh sebelum Emma Goldman, jauh sebelum Habis Gelap Terbitlah Terang ditulis oleh sejarah. Setiap era memiliki produknya sendiri, produk kelas postmodern seperti kita -yang dimulai sejak zaman bapak saya bisa mengangkat pacul dan bertani di desa sebenarnya- ya adalah pemuasan hasrat atas menjadi berbeda itu.
Lihat bagaimana iklan iklan menggempur kita untuk take a chance, be bold and be different, go a head dan setumpuk tagline soal menjadi berbeda dari manusia abu abu kebanyakan. Lihat juga bagaimana sekolah sekolah berlomba menyampirkan kata internasional, pengembangan karakter berbasis minat anak dan lain lain.
Modernitas mengajarkan -menuntut- kita untuk senantiasa bergerak. Pergerakan pergerakan yang disetting sedemikian cepat hingga masing masing manusia modern meneguk liur lantaran berkeinginan untuk hidup sebebas iklan ajarkan. Yang bergerak terlalu cepat akan membentur keterbatasan fisika bernama momentum. Maka friksi tak dapat dihindari, benturan benturan dan gesekan gesekan akan berujung pada manusia manusia modern yang kebingungan ke mana perubahan mereka harus bermuara.
Maka pandangan abah soal tidak neko neko tadi ada benarnya, untuk tidak berupaya berbeda dan tidak memulai perjalanan express menuju momentum entah apa. 
Advertisements

September

I wrote this during my first day of period and I watched Ted 2 until 3am so forgive me for all the bad words and curses in this post.

September supposed to be a nice, cold, fresh breeze month. As in another continent do, they’re entering fall season. Indonesia SHOULD be in wet season now, when there’s a nice dark cloud hanging in every corner of the sky and cold water actually pouring from the cloud. Just like 5-6 years ago. But not now, something has changed our weather season into Dry and Smoke season. So bye cloudy day and welcome to a fucking humidity day with tons of carbon dioxide from the hound of hell.

God please bring back the rain.

Keresahan Perpindahan

https://i0.wp.com/quotesfans.com/wp-content/uploads/2015/05/Quotes-On-Change-In-Love-1.jpg
“Tidak ada yang berketetapan di muka bumi kecuali ketidaktetapan itu sendiri”
Rekan sejawat saya dalam dunia tulis menulis di jejaring maya bernama blog, Bapak Ilham Satrio telah mengembangkan blognya hingga sedemikian mutakhir saya sampai malu sendiri bermain ke stereofolk.blogspot.com dan dialektikata.blogspot.com miliknya. Rasanya seperti bertandang ke rumah kawan lepas naik haji gegara menang undian alfamart hahaha. Megah, besar lagi matang. Posting kali ini akan banyak berisi keluhan. Saya menahan diri untuk tidak banyak mengeluh karenanya sepanjang tahun posting blog yang memang ditujukan untuk menelan segala keluhan ini hanya sejumlah hitungan jari. 
Saya larut dalam terlalu banyak kenangan dalam rentang tidak hanya bulan tapi bertahun tahun belakangan. Saya telah menjadi seseorang yang sedemikian sensitif terhadap kenangan hingga sejengkal bait lagu atau sepenggal kalimat random bisa memicu tangis. Saya cengeng, melankolis, pesimis dan tidak begitu pandai mengendalikan perasaan.
Kini, perputaran itu kembali menemui titiknya. Di hari hari seperti ini tiga-empat tahun lalu saya kira saya telah bereuforia dengan teriakan eureka! saya menemukan formulasi paling akhir untuk mengentaskan ketidakmoveonan dan keresahan mengenai titik nyaman, pencarian jati diri dan pelbagai masalah pelik khas remaja akhir usia belasan.
Saya lupa, hidup masih sangat panjang terbentang dan permasalahan akan menemui titik pengulangan. Oh tentu, dulu sempat terpikir bahwa selepas momentum pencerahan itu saya bakal menjadi fasih dalam menghadapi masalah serupa di masa mendatang lantaran saya sudah tau formulasinya, saya tau tahapan untuk mengentaskannya.
oh naive little me.

Nyatanya tidak. Kenaifan kenaifan tulisan bubbly optimistik ceria berbungan bunga di posting posting sebelum ini membuat saya mendengus dan merasa murka. Saya marah dengan Nani yang tak pandai menerapkan teori buatan sendiri. Pada Nani yang terus kembali ke titik resah, restless dan selalu ingin pergi tapi tak kunjung angkat kaki. Yang selalu ingin berpindah namun berdalih di balik alasan tidak mudah. Yang mengklaim berada di zona nyaman tapi selalu menginginkan perubahan.
Apa lagi yang saya cari, pertanyaan serupa tidak sekali dua kali saya dapatkan. Posisi pekerjaan yang begitu baik, finansial yang cukup, keluarga yang sehat, teman teman yang baik, dan sebagainya dan sebagainya. Saya sendiri tidak mengerti, usia 23 begitu cepat berlalu dan dalam hitungan bulan saya menginjak 24. Dan yang saya tanyakan pada diri sendiri setiap bangun pagi selalu sama.
kamu ini maunya apa nan..

Obstacle

https://i1.wp.com/40.media.tumblr.com/4dd4160846a083365412a74a30e3dc54/tumblr_ncf7wmbgLP1qmbdzpo1_500.jpgWhy its so hard to say : “Please stay, I’m not okay” or “I admit it, I’m weak and I need your help”
instead of pushing everyone who cares about you away and refuse to accept a help from a pure hearted people?

Why its easier to say : “Go, I don’t need your help” or “Your attention makes me dependent”

Why its so important for me to be independent? As if when someone help me I’ll drown into an endless hole of moral duty? I can’t live that way yet I don’t want to feel like I’m using or taking people for granted.

Or maybe,
Maybe I just had to find someone I can relying to without feeling guilty at all.

9/9/2015
I’ve learned to say No thanks before Thank You, I guess.