A Clarity

I’m reading so many articles about hippie shit lately. Stuck myself up in lonerwolf.com and webmd.com in order of somehow finding an answer. And the answer is, there’s no answer. I’m in a verge of something huge, there’s a major movement inside of my head I don’t know what. 
Maybe it’s the final stage of my quarter life crisis. 
https://i2.wp.com/quotespictures.com/wp-content/uploads/2015/02/fine-clarity-quotes-by-beth-johnson-when-you-eliminate-the-egos-intense-desire-to-be-correct-the-clarity-of-the-moment-can-come-through-how-simple-is-that.jpgMenghabiskan diskusi soal mental development di Minggu malam hingga jelang subuh. Bahasannya sederhana, tentang definisi kedewasaan sekaligus afirmasi terhadap norma norma sosial. Saya sebutkan bahwa usia biologis yang tidak mutlak menentukan usia mental itu sedikit benar banyak salahnya. Yang menentukan adalah sebanyak apa mereka berhadapan dengan permasalahan riil. Usia biologis berperan di sini sebab probabilitas pertemuan dengan permasalahan rii itu semakin besar ketika seseorang berusia lebih tua, bukan?
Karenanya ketika dengan sombongnya saya menyebutkan there’s so many shits I’ve done in my 23, saya sepenuhnya salah. Ada jutaan kemungkinan kejadian yang mempengaruhi perspektif saya yang akan terjadi setelah ini karenanya adalah sombong jika saya menyatakan saya sudah selesai.
Yang membuat saya sedikit lebih beruntung adalah, saya menghabiskan masa remaja dengan mengenal konsep konsep. Sedikit banyak saya tau teori tentang bagaimana semestinya bersikap dan beremosi, bagaimana bertoleransi dan menahan diri. Ground base yang tidak perlu saya cari cari lagi di usia sekarang, teori yang perlahan diterapkan dan hasil yang paling saya rasakan adalah: sesulit apapun sebuah kejadian, saya bisa melewatinya tanpa amarah dan dendam.
Saya lemah untuk urusan rasa, tapi bukan berarti saya tidak tahu bagaimana cara memanusiakan manusia. Menghargai harga dirinya, egonya, logika logikanya. Kejadian terakhir memang cukup menguras emosi, utamanya hormon kortisol tapi toh tidak memakan waktu lama untuk dicerna. Tiga minggu berselang dan saya sudah kembali seperti biasa, saya tidak sedahsyat itu diguncang kesedihan.
Ini menjadi menarik dan segera saya bawa dalam diskusi kami. Ia tertawa dan menjelaskan betapa ia bangga dengan saya sekarang. kejadian kejadian hidup yang saya kira tidak ada hikmahnya ternyata berpengaruh banyak dalam kemampuan saya mengendalikan emosi dan diri sendiri. 
“Dilihat dari sudut pandang manapun kamu sudah diperlakukan sejahat itu, tapi kamu memutuskan untuk melakukan hal yang bahkan akupun ga tau apakah aku bisa atau engga. Kamu memaafkan dan merelakan, itu yang menjadikanmu akhirnya dewasa”
Saya ingat hari hari di mana saya sedemikian sedihnya sampai mata terasa mau copot gara gara menangis. Saya ingat hari di mana saya berkendara sedemikian pelan di jam 2 malam dengan pikiran kosong dan menangis dan menangis sambil mendengarkan lagu. Hal hal yang kalau saya ingat ingat sangatlah memalukan tapi kemudian saya justru bangga dengan hal itu. Saya ternyata masih sesosok manusia yang berfungsi secara mental. Lama sekali saya tidak beremosi sekuat ini dan rasanya entah bagaimana, senang saja. I’m still capable to fall in love and do so many stupid things driven by that emotion.  
Soal jawaban, bless my restless soul, saya mungkin belum menemukan definisi pasti atas apa yang saya cari (bahkan formulasi pertanyaan sayapun sedemikian kompleks untuk dijabarkan) dan itu tidak masalah, beberapa hal memang dikodratkan untuk tidak terjawab secara tersurat. Yang bisa saya lakukan sekarang adalah terus bergerak. Sebab yang membedakan manusia dan benda mati adalah apa yang mereka lakukan untuk menandakan bahwa mereka hidup dan terus bergerak.
 
Di akhir diskusi Bumi menyelipkan senyum dan berkata “Senang bisa melihatmu naik kelas Nan”

:’)
Advertisements

2015 Mixtape : Rambling Mind

Temuan menarik tahun ini adalah Spotify, semacam aplikasi musik yang memungkinkan kita menjelajah trilyunan lagu dan mendengarkannya secara streaming dan membuat playlist sendiri. Lantaran Indonesia masih dianggap sebagai third world country oleh developernya, jadi untuk bikin akunnya kudu pakai proxy (yang mana saya ga tau apa apa soal ini kecuali kenyataan bahwa proxy mirip dengan merk baju). Terimakasih untuk seorang kawan yang telah berbaik hati membuatkan akun rusnanianwar!
Mengikuti zinemaker favorit saya, Ilham Satrio yang konsisten tahun ke tahun membuat mixtape di bulan Desember, sayapun terpikir buat melakukan hal serupa. Didukung oleh aplikasi mahadahsyat bernama spotify tadi, here’s my 2015 mixtape: Rambling Mind.
1. Halsey – Ghost (Badlands, 2015)
https://i1.wp.com/mutemag.com/wp-content/uploads/2015/06/image8-480x330.jpgHalsey adalah Lorde, Ed Sheeran atau bahkan Justin Bieber. Penyanyi penyanyi yang menuai popularitas di usia muda berkat kuasa viral. Alasan menjadikan lagu ini sebagai lini pertama Rambling Mind mixtape adalah penyataan keras bahwa Nani kini sungguhlah sangat mainstream :)))
Setelah diarahkan Vevo ke laman youtube pribadinya, kesukaan terhadap Halsey rupanya berhenti cuma di lagu ini. Selain music videonya yang mesum menarik, suaranya mirip nona Goulding.

 

2. One Republic – I Lived (Native, 2014)
https://i1.wp.com/ecx.images-amazon.com/images/I/719--QpLjhL._SL1400_.jpgDi awal saya bilang apa? Yak, Nani kini sungguh sangat mainstream sekali. Lagu ini sedemikian catchynya hingga ia berada di urutan kedua prioritas playlist karaoke saya, tepat setelah lagu Siti Nurhaliza – Nirmala. Tahun tahun mendengarkan lagu lagu rumit dengan makna terlampau implisit sudah saya lewatkan. 2015 adalah tahun di mana Nani banyak menyanyi di kamar mandi dengan lagu yang didengarnya secara semena mena sekenanya. 
One Republic selalu mengisi playlist saya dari tahun ke tahun lantaran dulu sering mengcopy lagu dari radio dan baru nyadar ini: paska Love Runs Out yang rasanya mirip Panic! at the Disco banget itu, di single ke enam ini mereka lebih kalem dan liriknya juara.
3. Florence + The Machine – Delilah (How Big How Blue How Beautiful, 2015)
Saya memulai perjalanan menyukai musik musik ambeien ambient di tahun 2013. Saat itu genre folk  alternative indie-hipster sedang marak maraknya mungkin lantaran seluruh lelaki di muka bumi menyukai Summer dan seluruh perempuan di muka bumi ingin menjadi Summer from 500 days with Summer. Nama nama seperti Laura Marling, First Aid Kit, She and Him, Camera Obscura sampai Haim memenuhi playlist hanphone saya. 
https://i2.wp.com/florenceandthemachine.pl/wordpress/wp-content/uploads/2015/02/hbhbhb-cover.jpgSisa sisa kejayaan itu adalah Florence + The Machine, yang perkenalan pertama saya dengan musik mereka justru di tahun 2012, saat lagu Dog Days are Over muncul di serial CSI New York. Di tahun 2015 mereka merilis album How Big, How Blue How Beautiful yang langsung saya unduh via iTunes (Ya Allah ampuni dosa kafir indie Nani ya Allah dia beli iPhone ya Allah) dan seketika menyukai sejumlah nomor di album ini. Delilah, adalah lagu pertama yang dengan gila gilaan saya nyanyikan di bulan Juni di sepanjang jalan menuju tempat makan di tengah malam. Khas lagu lagu ambient, liriknya yang implisit dan kemampuan struktur musiknya membuat yang mendengar merasa remang remang adalah alasan kenapa ia berada di urutan ketiga di Rambling Mind Mixtape.
4. Paloma Faith – It’s The Not Knowing (A Perfect Contradiction, 2014)
Aduh maap, kalau untuk Paloma Faith saya kudu memasukkan satu album penuh ke dalam playlist. Hahaha becanda. Tapi temuan atas Paloma Faith adalah temuan yang paling menarik belakangan ini. Tema yang diambil kebetulan pas banget sama kondisi hati mungkin. Di tahun 2013 ketertarikan atas Paloma Faith ditandai dengan mulai masuknya nomor nomor seperti Agony, Technicolor, Picking Up The Pieces ke dalam daily playlist. 
https://i0.wp.com/ecx.images-amazon.com/images/I/51446Hp7yOL.jpgSama seperti nona Florence, album A Perfect Contradiction adalah yang saya unduh berbayar tanpa berpikir panjang soal tagihan kartu kredit di akhir bulan (eniwei kalo dipikir pikir paska mengenal spotify saya kok berasa bego sekali menghabiskan duit di iTunes ya hahaha). Nomor nomor di dalam album ini setimpal dengan sembilan ribu rupiah per lagunya. Can’t Rely on You nyaris menjadi yang saya pilih tapi aura pengen nampol nampolin orang menguat di lagu yang kalau boleh saya quote liriknya berbunyi seperti ini 
“I’m sure you meant all that you said, at the time
I believe you can’t be made of stone
We both know it’s ok to change your mind
It’s just the not knowing, that hurts, the most”
SINI SAYA TEMPELENG DULU KAMUNYA SINI HEH! oke maap, baper. 
5. Katjie & Piering – Kinanti (Kinanti EP, 2010)
Posted Image

Ini lagu lama yang secara sadar saya download ulang untuk dinikmati menjelang musim penghujan. Kesukaan atas lagu ini sampai menjadikannya inspirasi untuk satu cerpen di tahun 2013 silam. Men dua tahun sungguh waktu yang singkat, setiap mendengar lagu ini padahal rasanya seperti baru didengarkan kemarin. Saat masih muda mudanya, indie indienya, petualang petualangnya. Sekarang kita menua, iya. *minum teh sambil elus jenggot*

Katjie & Piering saya temukan di yesnowave.com, situs sekaligus label lokal dari Malang. Rilisan rilisan yesnowave senantiasa memuaskan selera saya seperti duo ini atau Semak Belokar hingga Bara Suara misalnya. Katjie & Piering adalah proyek dari vokalis Tigapagi (Sigit) dan vokalis Baby Eat Crackers (Ayay/Yayi), isi EP mereka sendiri adalah coveran lagu lagu indie yang dibikin menjadi folk minimalis. Dari lima nomor di EPnya, cuma Kinanti ini yang mereka ciptakan sendiri, sisanya cover (Psycho Girl (Olive Tree), Destiny (Homogenic), Zsa Zsa Zsu (Rock n’ Roll Mafia), Polypanic Room (Polyester Embassy).
6. Postmodern Jukebox – Seven Nation Army (Haley Reinhart, 2015)
https://i0.wp.com/cdn0.carltoninnmidway.com/wp-content/uploads/2015/03/scott-bradlee%E2%80%99s-postmodern-jukebox.jpgWhite Stripes justru saya dengarkan paska lagu Seven Nation Army dibawakan oleh Melanie Martinez dalam The Voice season 6 tiga tahun lalu. Seven Nation Army yang sama yang dibawakan Haley Reinhart jebolan American Idol 11 yang dibikin menjadi vintage! Lagu ini jadi semakin kaya karena dijadikan proyek Scott Bradley dalam laman youtubenya, Postmodern Jukebox (PMJ).
Laman itulah yang berbulan bulan belakangan saya ikuti perkembangannya dan sesekali diunduh menggunakan snaptube (terpujilah developer aplikasi ini), sederet nama peserta American Idol saya temukan dan kedua setelah Aubrey Logan, Haley mencuri hati saya dengan kemampuannya bernyanyi sekaligus bikin horny. 
7. Lana Del Rey – Young and Beautiful (The Great Gatsby Soundtrack, 2014)
https://i2.wp.com/cdn2-b.examiner.com/sites/default/files/styles/image_content_width/hash/92/fb/92fbc1759f726fc60b60a250fc7962b5.jpgThe Great Gatsby adalah satu dari sekian film yang saya cari dengan penuh kesungguhan lantaran reviewnya bagus dan nominasi oscarnya banyak tentu saja. Di tahun 2014 barulah saya nemu yang bluray dan sengaja memutarnya di layar televisi yang agak besar dengan sound maksimal karena seperti film Gravity (Sandra Bullock – 2014) yang hanya bisa dinikmati di bioskop, The Great Gatsby baru terasa greatnessnya kalau dinikmati setelah kausal kausal di atas dipenuhi.
Oh karena saya menyukai film ini dan nyaris hapal setiap adegannya, lagu Young and Beautiful yang mengalun saat Jay dan Daisy berdansa langsung nempel di kepala untuk kemudian digoogling. “Pantesan kenal suaranya,” ternyata Llama del Rey sotara sotara. Saya tidak tertarik pada Lana paska Barely Political habis habisan mereferensikan suaranya dengan sebutan A horny lazy kind of voice. Namun seorang kawan menceritakan soal album albumnya, lagu lagunya dan sedikit banyak lagu lagu Lana mulai saya dengarkan. By far yang menarik untuk saya ulang ulang di playlist adalah Young and Beautiful dan Video Games.
8. Barasuara – Api dan Lentera (Taifun, 2015)
1440x1440srProyekan indie yang juga saya suka. Sepintas saya kira ini ada hubungannya dengan Efek Rumah Kaca (yang sekarang menjadi Pandai Besi), gara gara laman youtube soundfromthecorner yang kerensekali itulah perkenalan dengan Barasuara dan album Taifun mereka. Saya fikir ini akan seperti band band indie sok kece (you know lah, ada perasaan “I’m better than anybody else since I played this kind of music with this kind of lyric” yang ditimbulkan band band indie protelar antimainstream pretensius di abad ini) yang melumasi musik mereka dengan referensi referensi njelimet dan gaung yang kelewat jenius hingga susah dipahami.
Dan ternyata benar adanya.
9. Mumford and Sons – The Wolf (Wilder Mind, 2015)
https://i2.wp.com/www.mumfordandsons.com/wp-content/uploads/2015/03/wildermind-packshot.jpgTidak begitu banyak banjo di album ini, tidak seperti album sebelumnya, Noah and the Whale, yang over-exploit unsur folk-country dengan kelintingan banjo di nyaris setiap partitur lagu lagunya. Di album ini saya merasa Mumford and Sons jauh lebih pop dan mengarus sekaligus mengingatkan pada band band 90an seperti the Strokes dan Arctic Monkey. 
The Wolf adalah single ketiga di album Wilder Mind, menyukai lagu ini karena setelah single self tittled, ini lagu kedua dengan nuansa yang lebih ceria dibanding nomor nomor lainnya yang entah kenapa terdengar sangat Bruce Springsteen sekali. Lagu ini juga yang menandai perubahan mood saya di beberapa pekan silam selepas bermalam malam mendengarkan lagu sendu. 
Because, the lone wolf licks their own wounds and being strong by that, right?
10. Sheila On 7 – Canggung (Musim Yang Baik, 2014)
https://rusnanianwardotcom.files.wordpress.com/2016/02/c618d-downlaod-sheila-on-7-album-musim-yang-baik-lengkap.png
Menjadi penyiar radio sejak kelas 2 SMA hingga beberapa bulan lalu semestinya membuat saya aware terhadap lagu lagu baru. Nyatanya tidak, sejak awal berkiprah di dunia broadcast radio, saya selalu memilih program acara lagu lagu mancanegara. Ini berlangsung sekian lama dan akhirnya baru sadar soal saya buta lagu lagu indonesia populer pada masanya saat karaoke dengan kawan kawan. Mereka memilih lagu indonesia yang ngehits di zamannya dan saya cuma bisa cengo, tidak tau apa apa (and they’re like “How could you wasn’t know Cidaha Nan? Its like the biggest catching phrase in 2008” hahahaha)
Sheila on Seven, adalah pengecualian. Sebut album apa saja, lagu yang mana saja, dapat dipastikan saya tau dan hapal. Untuk alasan mereka menarik, udah itu aja. Musim yang Baik adalah album terakhir band asal Jogja ini di bawah Universal Music Indonesia. Paska album ini (kalaupun mereka bikin album lagi) maka Sheila on Seven akan menjadi band indie. Lagu Canggung, adalah lagu pertama di album ini yang saya dengarkan. Nomor nomor selanjutnya segera mengisi playlist dan sesekali didengarkan dengan senyum mengembang, liriknya positif dan musiknya riang.

Sebenarnya ada puluhan bahkan ratusan lagu lain yang menemani perjalanan 2015 saya, Namun lantaran aturan utama dari 2015 mixtape adalah kudu berasal dari tahun 2015 maka beginilah, sekurangnya sepuluh lagu teranyar di playlist harian saya.
Daaaaan, mixtapenya bisa dinikmati di sinih.

Lobus Temporal

Otak manusia dibagi menjadi 4 lobus; frontal, parietalis, oksipital dan temporal. 2013 adalah tahun di mana saya somehow terobsesi mempelajari kinerja otak melalui kanal wikipedia dan artikel artikel kedokteran di webmd. Oh saya ingat, saya lakukan itu untuk riset sebelum menulis cerpen Logika, walopun hasilnya alakadarnya tapi begitulah, ada beberapa yang masih saya ingat dari maraton membaca artikel bebas di internet itu.
Melalui lobus temporal, apa yang ditangkap oleh reseptor reseptor indera perasa (sistem limbik) diolah menjadi ingatan sensorik. Di sini terdapat hipokampus yang mengolah bau, suara, rasa, rangsangan syaraf dan tentu saja, gambar menjadi ingatan. Kenangan, yang kerap disandarkan sebagai sumber segala kebahagiaan itu adalah produk hipokampus. Pernah lagi senyam senyum abis gajian terus tetiba dunia hancur lebur gara gara mencium parfum mantan? nah berterimakasihlah pada hipokampus.
https://i0.wp.com/inspirably.com/uploads/user/26007-sometimes-your-heart-defies-everything-you-know-is-right-sometimes.pngDi lobus temporal pula, kenangan dapat diminimalisir. Prosesnya seperti menghapal RPUL, lagu kesayangan atau detil kecil soal kencan pertama, mata menerima apa yang dilihatnya dan memprosesnya sebagai ingatan jangka pendek. Stimulasi hipotalamuslah yang membuatnya menjadi ingatan jangka panjang bahkan patahan patahannya bisa melompat ke jalur subconscious atau memori bawah sadar. Ingatan jangka pendek yang diulang, diulang, diulang dan diulang hingga tiap kamu melihat wajahnya di mana saja, yang menghambur bukan sekedar identifikasi nama, tapi tarakdungcesdararamdararamsyalalala mampuslah kau dikoyak koyak kenangan.
Bagaimana proses pengolahan rasa hingga ia bisa menjadi pemicu emosi, penyebab seseoang galau atau bahkan menjadi pengambil keputusan keputusan besar dalam hidup. Beruntungnya, saya tidak banyak bersinggungan dengan perkara emosional sejak usia bekerja sehingga rasa rasanya beberapa keputusan besar dalam hidup saya ambil dengan logika yang insya Allah logis. Tidak ada momentum saya memutuskan untuk berhenti bekerja atau pindah ke luar kota lantaran disuruh pacar, misalnya. Atau karena marah dengan orang tertentu, atau karena secara batiniah tertekan. Untungnya saya diberi kekuatan untuk tidak baper secara serius.
Ah ya, itu istilahnya. Baper.
Menarik untuk memikirkan bahwa saat ini, tepat di momen ini, ada ribuan neuron dan syaraf yang bekerja di dalam kepala kita sedemikian hebohnya. Ada ribuan kilometer perjalanan darah dalam pembuluh dan ada ribuan potongan ingatan yang sedang diolah menjadi kenangan di dalam sistem limbik beserta amigdala dan hipokampus dan sederet reseptor lainnya. Dengan semua kehebohan di dalam sana, yang tampak di luar hanyalah kamu yang sedang menatap layar komputer sambil ngupil.
Lalu jika perkara kenangan yang menyayat hati nyatanya sesederhana itu, kenapa ada rasa sakit yang tidak bisa dijabarkan saat kenangan itu menyerbu? Kenapa muncul perasaan seperti darah yang mendesir, dada yang sesak, feels like a pinch in a heart, kepala yang wombling bahkan ada yang serangan jantung karena kaget misalnya.
Perkenalkan, amigdala.
Saya ingat pernah berdiskusi perkara ini, soal temuan sains bahwa psychological pain dan social / physical pain sebenarnya memiliki sirkuit yang sama. Saya sebutkan bahwa amigdala mungkin mempengaruhi kelenjar kelenjar penghasil hormon yang kemudian menstimulasi organ untuk bereaksi terhadap rangsangan tersebut. Sederhananya, saat kamu lagi galau, amigdala memproses emosi menjadi sedih. Somehow, mungkin, rangsangan emosi dari amigdala ini bersinggungan dengan kelenjar penghasil protein ACTH (hipotipis, hipopipis?) yang membuat seseorang menangis dan menangis dan menangis hingga boom! dadanya sesak lantaran jalur oksigen masuk tertutupi kelenjar ingus. Lalu asma, lalu mati.
Lalu mati.
Namun argumen yang ia ajukan lebih menarik, dibanding merunutnya sebagai perkara sebab-akibat, ia menyebut bahwa secara logika psychological pain dan physical pain adalah sama. Sebab ketika seseorang sakit secara fisik, obat yang diberikan adalah zat kimia yang jika bersinergi dengan kelenjar hormon, sistem syaraf dan lobus lobus otak, maka ia akan menyeimbangkan yang kurang dan menihilkan sirkuit rasa sakit.
Jadi semisal sedang sedih sedihnya, minumlah esilgan 😀 😀 😀
Eh jangan ding, seriusan jangan. hahaha.
Dalam Madilog-nya Tan Malaka pernah membahas soal dialektika adalah penentu perkembangan mental manusia. Kemampuan untuk menangkap setiap kejadian melalui reseptor reseptor indera tubuh dan mengolahnya melalui cortex logika. Memisahkan mana yang penting dan tidak melalui hiptalamus lalu menyerapnya menjadi kenangan di hipokampus dan dikeluarkan sebagai emosi oleh amigdala. Bijak dalam berdialektika, adalah kunci. You can reads all the books in the world, or having a non-stop hour of langitan conversation, its all means nothing if you’re not loved. Kata Lennon begitu kak. Maaf. Posting ini ujungnya ternyata cuma begini doang :))) 

Tahun Tahun Yang Tidak Berulang

Mama adalah misteri terbesar dalam hidup saya. Saya hidup dan berkutat dengan beliau puluhan tahun lamanya dan sampai hari ini, saya tidak memahami beliau. Mama sosok yang pendiam, bayangkan saja saya, lalu pikirkan kemungkinan paling jauh dari itu. Mama yang saya ingat di tahun tahun sebelum kematiannya, banyak duduk di ruang tamu lalu menerawang jauh. Diam mematung sambil sesekali menegur keponakan agar tidak bermain ke jalan.
Dari mama saya belajar soal tough love. Beliau yang mencubit, memukul, menceburkan ke dalam bak mandi, memukul, mencubit dan memukul lagi tanpa banyak kata. Saya nyaris tidak pernah mendengar mama ngomel, kecuali pada keponakan, cucu pertama kesayangannya. Ketika marah beliau memilih untuk diam atas alasan yang baru saya tau dari kakak, kemarin
“Kata mama, kalau lagi marah diam saja. Dengan diam yang lagi marah dengan kita akan serba salah. Dengan diam kita tidak mengeluarkan kata kata yang seharusnya tidak dikatakan”
Marah terbesar mama adalah saat saya SMA, dua malam saya tidak pulang karena karena saya memang sedemikian kacaunya. Pulang pulang membawa tujuh tindikan di telinga kiri dan omelan nyaring soal kenapa keluarga kami sedemikian miskin hingga saya tidak bisa punya apa yang teman teman saya punya. Marah yang sedemikian keras hingga beliau menangis, menangis sedemikian memilukan hingga setiap saya mengingat kejadian itu, saya merasa pintu surga tertutup dan tidak akan pernah saya memasukinya.
Tapi mama memaafkan saya semudah suguhan nasi goreng bawang di pagi hari sebelum berangkat ke sekolah. Menyiapkan dasi dan topi untuk mengikuti apel hari Senin dan tanpa banyak kata, memaafkan saya dengan menanyakan soal ujian kenaikan kelas.
Saya lupa apa momentumnya, namun kegiatan bolos dan begadang hingga larut bahkan menghilang itu saya tinggalkan begitu saja saat jelang kelulusan SMA. Bosan mungkin, atau karena diam diam saya sayang pada mama dan ingin menghargai beliau dengan cara saya.
Drama drama yang saya lontarkan kepada beliau sepanjang masa hidupnya, sudahlah sangat besar untuk ditanggung perempuan dengan riwayat penyakit sebanyak beliau. Pun saya senantiasa dimaafkan, diperhatikan dan disayangi dengan cara beliau.
Mama yang sedemikian pendiam dan tertutupnya, hingga saya anaknya sendiri tidak tau sedikitpun kisah masa muda beliau. Apa warna kesukaannya, apa makanan favoritnya, siapa artis idolanya, siapa mantan mantan pacarnya, seperti apa masa kecilnya, apa yang ia lakukan sebagai hobi, atau sesederhana; apa yang sedang beliau pikirkan?
Mama yang saya kenal adalah perempuan mandiri yang bisa melakukan banyak hal sendirian. Beliau suka mendengarkan lagu lagu keroncong dan hapal nomor nomor klasik dari Sam Saimun maupun Ismail Marzuki. Mama memiliki masa kecil yang keras karena harus menjadi sulung dari 6 orang adiknya dengan rentang usia masing masing 2 tahun di keluarga yang miskinnya minta ampun. Ia suka warna hijau, mungkin. Mengingat warna cat rumah yang beliau inginkan saat saya tawarkan untuk mengecat ulang seluruh rumah adalah warna itu.

Saya tidak dibesarkan dengan ciuman, pelukan atau usapan bangga di kepala sejak kecil. Saya tidak terbiasa dininabobokan sebelum tidur atau dihadiahi mainan saat jadi juara kelas. Mama yang kaku ditambah abah yang sedemikian tradisionil membuat saya tidak memiliki momentum momentum afeksional yang bisa saya rekam dan implementasikan ulang sebagai perwujudan kasih sayang. Saya tidak tau apakah ini karena saya anak tengah (reference: middle child syndrome) atau memang seperti itulah pola didik yang diterapkan mereka.

Toh saya akhirnya tumbuh, 23 tahun lamanya dengan baik baik saja. Mama mengajarkan saya untuk berkemauan keras, tidak banyak mengeluh dan kuat. Kalau bukan karena mama, mengingat seperti apa saya di masa muda, mungkin saat ini saya sedang cengo netekin anak kedua dengan daster gombrong instead of being, you know, wanita karir. 

Saat abah melarang keras saya pergi ke Jakarta, mama justru secara implisit mendorong keinginan itu. Dalam bulan bulan selanjutnya malah mama melarang saya untuk pulang setiap saya nangis nangis nelpon bilang kangen rumah dan ga betah di Jakarta. Beliau tau saya sedang menuju apa yang saya mau, mengejar apa yang saya cita citakan. Nyatanya selepas setahun, saya toh harus pulang karena mengetahui kesehatan mama yang kian menurun.

Bicara soal ingatan ingatan yang nyelekit, saya ingat pernah pergi ke Hypermart yang waktu itu mallnya belum rampung. Beliau menanyakan soal eskalator dan saya janjikan “Iya nanti kalau sudah jadi, kita cobain naik eskalator” karena seumur hidupnya mama belum pernah saya ajak jalan jalan ke manapun. Beberapa bulan selepasnya, mama kolaps dan sampai hari ini, sesekali ingatan itu melintas tiap saya menuju lantai dua Borneo City Mall.

Saya merindukan beliau, amat sangat, setiap harinya. Ada ingatan ingatan kecil yang membuat saya mengambil satu dua menit untuk sekadar menghela nafas atau membaca al fatihah (jika ingat). Sebab kematian memang ternyata tidak semudah itu untuk dihadapi.

Hari ini 23 Nopember, adalah ulang tahun mama. Saya tidak pernah sekalipun merayakan ulang tahunnya, tidak pernah memberinya kado lebih lebih ciuman dan peluk sebagai perwujudan sayang. Karenanya saya hadiahi diri saya sendiri semua memorandum, untuk mengingat hari ini, hari di mana beliau mengulang hari lahirnya.

Dua jam bolos dan mengunjungi makam beliau di tengah hari. Membawakan banyak sekali bunga dengan harapan naif saya bisa menebus tahun tahun yang tidak terulang dengan permintaan maaf yang banyak. Saya merindukan rekanan bercerita saya yang senantiasa mendengarakan dan mendengarkan tanpa banyak bicara. Saya merindukan mama yang menjadi orang pertama pasang badan saat saya dijahili anak tetangga. Mama yang pemarah, tapi yang paling saya suka.
Mama yang selamanya adalah perempuan favorit saya.

Selamat ulang tahun, mama
Maaf anakmu ini belum sekuat yang ia inginkan

A Beautiful Mind

I’m in love with a beautiful mind
The way he answer all of my questions in his own way
The way he calm me in my adrenaline rush and annoying ramble

I’m in love with a beautiful mind
Of the endless conversation we had over everything trough the day and night
Of the sleepless night we shared in vain of counting the day we’ll finally met

I love to find myself in an awe every time he makes me laugh
The way he laugh
The way he looked at me

I’m in love with tons of possibilities I created in mind of how awesome the future will be
if we stayed together.

I’m in love with a beautiful mind
That makes me think that it’s okay to be vulnerable
To be completely open and let yourself fall
The way he changes my mind
The way he changes my rage into an affection
To tame and calm me down
To finally makes me say
“Kamu adalah titik kompromiku”

***
I love the smell of the rain that follows me home after a long-rushing-tiring flight in the day I finally have to go back home.
To find an empty house with the lights off. To sit down on the floor and dialing his number. 
To listen to my favorite voice. 
To break my heart
I’m in love with a beautiful mind
That never be mine.

Lingua

Perjalanan liburan saya ke Malang diiringi buku Seno Gumira Ajidharma, Lingua. Satu cerpen yang saya baca berulang ulang hingga akhirnya berujung pada posting ini.
Tentang pria yang mencintai perempuan yang tidak pernah ada.
***
Seberapa sering kita menemukan diri sendiri jatuh dan patah hati, menemukan diri sendiri mendeklarasikan cinta yang menggebu kepada lebih dari satu orang. Untuk jadian, lalu putus, jadian, putus dan seterusnya hingga kelak settle dalam pernikahan lalu bercerai, mungkin. 
Seberapa sering kita menemukan diri sendiri berikrar bahwa tidak akan menemukan cinta lain selain seseorang yang kita cintai saat itu. Berikrar bahwa adalah mustahil untuk berbahagia, tertawa dan merasakan sepenuhnya hidup bersama orang lain selain dirinya.
Seberapa sering kita mencoba memahami bahwa tidak satupun perkara di dunia ini yang bisa berkekalan namun toh sepenuh hati pula kita memaksakan diri untuk berkata “inilah kekekalan perasaan yang bisa aku ikrarkan”
Kita, sesungguhnya, adalah lelaki yang mencintai perempuan yang tidak pernah ada.
Cinta adalah adjektiva, sepenuhnya merupakan sesuatu yang lepas dari nilai kepemilikian dan ia tidak semestinya dipahami sebagai nomina. Ia, layaknya energi, dapat menempati ruang mana saja dalam dimensi mana saja.
Karenanya saya percaya, bahwa besaran cinta yang telah dilimpahkan kepada seseorang di masa lalu dapat dirasakan kembali di masa mendatang. Lebih kecil, lebih besar, seimbang tergantung kepada apa nomina yang adjektiva ini bersinergi. 
https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/736x/2f/ee/97/2fee975d0bc371530de60cd32c39953a.jpgDengan keyakinan ini saya memulai perjalanan jatuh cinta. Untuk berproses dan mengerti perkara kompromi. Lalu voila! saya mengalami 30 kali 24 jam yang menyenangkan. Puncaknya adalah saya yang memutuskan pergi untuk menemuinya di kota lain. Untuk menemukan ritme dan kesepakatan bahwa kami akan berdansa dengan rima yang sama, di bawah keputusan yang serupa.
Tapi saya lupa soal ini; adjektiva membutuhkan nomina. Saya tidak bisa menjadi lelaki yang mencintai perempuan yang tidak pernah ada. Energi tidak dapat mengalir tanpa konduktor. Dan sebuah dansa tidak bisa dimulai jika hanya sebelah pihak yang menginginkannya.
So here we go again, another chapter of losing the idea of settling down and enjoying the love under the compromise spell. But is all okay, that’s life.

Prasangka Beragama

Saya ingat tahun tahun di mana saya sedemikian bersemangat mempelajari soal ketuhanan. Dan agama agama, dan mazhab mazhab, dan aliran aliran kepercayaan. Saya juga ingat bagaimana akun @rusnanianwar di twitter (yang kemudian saya tutup dua tahun kemudian) menembus angka 1,000 follower dalam waktu 4 bulan di tahun 2011. 
https://i0.wp.com/www.juwitajalil.com/http://www.juwitajalil.com/wp-content/uploads/2013/08/20130812-112015.jpgRasanya masih kemarin, saya begitu rutin mengikuti forum forum diskusi agama di facebook, twitter hingga kaskus dan menjadi ‘yang lantang mengajukan pendapatnya’ di media media diskusi tersebut. Bermalam malam hingga jelang subuh sibuk melontarkan kata kata semacam bigot, thagut, fundamentalis dan sebagainya untuk mereka yang tidak setuju soal cara saya memandang agama.
Diskusi diskusi ini semakin menjadi ketika saya tinggal di Jakarta. Semakin banyak kawan kawan ‘sealiran’ untuk saya temui dan ‘membenarkan’ lontaran lontaran kalimat saya yang sungguh dangkal dan hanya berdasar pada logika, akal dan secuil referensi bacaan.
2012 adalah downroad saya dari puncak gunung itu. Saya bekerja di sebuah production house milik Sabrang Mowo Damar Panuluh (Noe Letto), anak dari Emha Ainun Nadjib. Perlahan saya berproses dan mempelajari orang orangnya Cak Nun dan mendapati ini: a bliss of tranquility. Dari orang orang tersebut saya tidak menemukan kemarahan, tidak menemukan hujatan, tidak menemukan bantahan bantahan. Orang orang Cak Nun adalah definisi terbaik dari kata toleransi yang pernah saya temui. 
Lalu begitu saja, seiring dengan sibuknya saya mengelola konten akun @AkuRayya kala itu, twitter saya hilang gairah. Rutinitas ngetwit berkurang hingga hitungan jari hingga tidak sama sekali. Pikiran saya teralihkan, semangat saya terluapkan dalam keinginan untuk belajar soal tranquility-nya orang orang Cak Nun. Saya mengikuti nyaris setiap Kenduri Cinta di Taman Ismail Marzuki, menonton unggahan video youtube dan melepaskan diri dari penggolongan penggolongan istilah buatan manusia. Saya bukan lagi atheis, agnostik, theist-enthusiast, modern buddhism atau apalah istilah yang dulu sempat disebutkan untuk saya -atau akun twitter saya- kala itu.
Saya manusia, yang memanusiakan dirinya.
Waktu berselang dan saya pulang. Sepanjang rentang waktu dari saat itu hingga sekarang, saya nyaris tidak pernah lagi mengikuti diskusi langitan. Begitu banyak hal yang terjadi dan tiga tahun kemudian, saya menulis posting ini sambil tertawa sendiri. Oh how young and naive I was. 
Simpulannya adalah, tidak peduli bagaimana orang menyebutmu sebagai gadis 18 tahun cerdas yang memiliki kemampuan berlogika di atas rata rata, kamu tidak akan bisa menemukan kebijaksanaan waktu secepat usiamu. Mengetahui kapan harus diam saja, kapan harus berbicara namun tidak menyakiti, atau kapan harus menahan keinginan untuk berdebat atas sesuatu yang hanya akan berakhir dengan ketidaknyamanan adalah perkara kebijaksanaan waktu. Sejak usia 18 hingga sekarang nyaris menyelesaikan seperempat abad putaran usia, saya belum memiliki kebijaksanaan itu.
To restrain yourself from being selfish, is the main goal of living in a society. 
 Saya bumping di timehop dan menemukan sederet posting soal jilbab. Saya masih ingat perspektif saya soal penutup kepala umat muslim ini. Intinya soal pemisahan antara agama dan budaya, serta kepandaian memahami aturan tersirat dan tersurat. Saya tertawa karena sejak seminggu belakangan saya memutuskan untuk menggunakan apa yang saya sebut sebagai “Tidak lebih sebagai penegas teritori umat superior yang telah merasa lebih beragama” untuk alasan yang insya Allah bukan itu. Saya masih Nani yang sama, hanya lebih kalem karena sulit untuk bergerak berlebihan dengan baju panjang dan jilbab di kepala. 
Yang saya tau, ada jawaban untuk keinginan (dan tuntutan) saya atas sebuah perubahan.
Hidup kadang memang semenarik ini.