Lingua

Perjalanan liburan saya ke Malang diiringi buku Seno Gumira Ajidharma, Lingua. Satu cerpen yang saya baca berulang ulang hingga akhirnya berujung pada posting ini.
Tentang pria yang mencintai perempuan yang tidak pernah ada.
***
Seberapa sering kita menemukan diri sendiri jatuh dan patah hati, menemukan diri sendiri mendeklarasikan cinta yang menggebu kepada lebih dari satu orang. Untuk jadian, lalu putus, jadian, putus dan seterusnya hingga kelak settle dalam pernikahan lalu bercerai, mungkin. 
Seberapa sering kita menemukan diri sendiri berikrar bahwa tidak akan menemukan cinta lain selain seseorang yang kita cintai saat itu. Berikrar bahwa adalah mustahil untuk berbahagia, tertawa dan merasakan sepenuhnya hidup bersama orang lain selain dirinya.
Seberapa sering kita mencoba memahami bahwa tidak satupun perkara di dunia ini yang bisa berkekalan namun toh sepenuh hati pula kita memaksakan diri untuk berkata “inilah kekekalan perasaan yang bisa aku ikrarkan”
Kita, sesungguhnya, adalah lelaki yang mencintai perempuan yang tidak pernah ada.
Cinta adalah adjektiva, sepenuhnya merupakan sesuatu yang lepas dari nilai kepemilikian dan ia tidak semestinya dipahami sebagai nomina. Ia, layaknya energi, dapat menempati ruang mana saja dalam dimensi mana saja.
Karenanya saya percaya, bahwa besaran cinta yang telah dilimpahkan kepada seseorang di masa lalu dapat dirasakan kembali di masa mendatang. Lebih kecil, lebih besar, seimbang tergantung kepada apa nomina yang adjektiva ini bersinergi. 
https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/736x/2f/ee/97/2fee975d0bc371530de60cd32c39953a.jpgDengan keyakinan ini saya memulai perjalanan jatuh cinta. Untuk berproses dan mengerti perkara kompromi. Lalu voila! saya mengalami 30 kali 24 jam yang menyenangkan. Puncaknya adalah saya yang memutuskan pergi untuk menemuinya di kota lain. Untuk menemukan ritme dan kesepakatan bahwa kami akan berdansa dengan rima yang sama, di bawah keputusan yang serupa.
Tapi saya lupa soal ini; adjektiva membutuhkan nomina. Saya tidak bisa menjadi lelaki yang mencintai perempuan yang tidak pernah ada. Energi tidak dapat mengalir tanpa konduktor. Dan sebuah dansa tidak bisa dimulai jika hanya sebelah pihak yang menginginkannya.
So here we go again, another chapter of losing the idea of settling down and enjoying the love under the compromise spell. But is all okay, that’s life.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s