About This Diet Thingy~

Doing a diet is hard. When you seeing a woman with perfect body smiling while eating her salad, its fucking fake. Salad can’t tame the hunger, Nasi Padang surely can. Drinking water wont stop the craving, sweets and doughnut and lots lots of carbs would do. Diet is hard especially when your starting point is 85kg and losing 5 or even 10kg wouldn’t made anything noticeable from your body. Technically speaking, I need to lose at least 30kg until I hit the magical scale of 55. Which is a long way to go because its week 3 already of OCD and gym and I lost merely 2kg. Yes, my scale now is 83kg.
https://i2.wp.com/data.whicdn.com/images/163321151/large.jpgRunning is hard, gym is hard, pushing your leg to keep on bumping the road is hard. The sore, pain and exhaustiveness is hard. I fell asleep with sore arms and torso and legs and basically every muscle in me screaming for mercy. Not to mention all the bad words that comes from orang orang kurang bahagia across my running track.
Can’t eat anything you want is hard. I know OCD allows me to eat anything I want in my 6 hours meal window but to think that “When I’ll hit the 55 if I still ate 3 huge portion of meal?” restrain me from taking another scoop of ice cream, or buying gorengan, or making pasta like I usually do. Can’t fulfill your craving is hard. I woke up in the middle of the night thinking of martabak telor and taking esilgan instead so I can fall asleep without buying them in hurry.
Keeping the motivation alive is hard. It’s day 15 of OCD and I already broke my window meal 3 times. Not to mention the sweets, gorengan and large portion of lunch that I take in daily basis (even though it still in the meal window), to maintain the energy and willingness to go to the gym after a loooong tiring working day is hard. You know, there’s so many night I’m thinking about cancelling the gym because I do so many task at work, that I deserve to take a rest and watching TV. Some night I made it, some night I don’t. 
Waking up at dawn to run is hard. I’d rather going back to sleep after solat subuh than pushing my tits on running bras and lace the shoes for another torturing activity. Right after that I’d felt the hunger yet the clock is 6am, means 7 hours to go before I allowed to eat. It feel stupid to drink so much water when you know you could’ve ate, you know, bubur ayam.
But its day 15 and I’m not giving up yet. 
This is the longest period of dieting I’ve ever take. My past diet program is either extreme (like a whole week of not eating ANYTHING but an apple) or backbouncing and I’ll back to my old routine in no time. This time I’m trying to build a consistency rather than a shortcut.  15 days to go and my body will get used to it, I believe. Routine is what keep us stable, and I’m breaking my routine so it’s gonna make my world trembling, for sure. My digestive system that comfortable with savory-large portion meal will scream for more when I cut down the portion to half and change my daily meal into less savory dishes. The hunger is tame-able, the sore and pain of working out is heal-able. My organs will get used to it, my brain would have a whole new perspective and stop to stimulate the craving. 
Right?
And then comes the question of “Why?” from everyone who knows that I’m doing this diet thingy. Then comes the compliments about I actually looks good even though I’m fat. Comes the encouragement even, to don’t bother suffering myself because I’m beautiful just the way I am. The last words comes from my dad actually, when I’m explaining my diet and refuse to eat at our Sunday Family Lunch. 
To be honest, I don’t even know what is my reason of doing this. 
I mean, my current weight is not jeopardizing my health (yet). I’m 85kg with a normal blood sugar, normal blood pressure, not having any major health issue but maag (which by doing the diet my maag is actually in harm) so I don’t think that much of “Aku diet biar sehat” because I’m fat and the doctor says I’m healthy.
I don’t want to impress anyone since I’m in the state of ‘being alone and not placing any interest to any men’ and I certainly believe that anyone who approach me would be okay with my weight since they can clearly saw that I’m fat. So no, there’s positive reason of why I keep on the diet track and pushing my limits to do the gym.
What’s left is an anger.
I’m driven by this negative emotion. I’m mad, I’m angry, I’m disappointed in the top levels of disappointment. At first. But then comes the week two, a month passed by since I drown in tears and nights of overthinking until now, I feel absolutely nothing. I even forced myself to cry by remembering the good and the bad memories but no, not a single tear comes out. So I can say that I finally overcome that. I finally done.
So my only reason of dieting is no reason. I just want to change and doing something new, this whole new habit would work on me and somehow makes me more excite to live. To keep myself challenged, to feel better about myself by achieving the milestones I made. Because we all need to do something to keep on going, right?
I’m fat and keep on running.
 

A Tale of Quarter Life Crisis – The Nothingness

https://christaavampato.files.wordpress.com/2013/04/6aa707ea98f8beae1cba6d4f240735fb.jpg?w=216&h=320“Nothingness itu ngeri, lebih mengerikan daripada tenggelam dalam pikiran pikiranmu sendiri”
Kalimat nona @mpokgaga dalam perbincangan kelewat singkat soal quarter life crisis membuat saya mengangguk setuju. Nothingness itu ngeri.
  
Semenjak mengenal konsep quarter life crisis (tujuh delapan tahun silam kalau tak salah, berkat membaca autobiografi Kurt Cobain) saya menjadi agak rajin mencari artikel terkait hal itu bertahun tahun selepasnya hingga sekarang. Mencoba memahami apa itu quarter life crisis dan bagaimana cara melewatinya dengan baik. Overthinking memang, tapi rather be prepared than doing so many regrettable things, rite?
Stage QLC saya dimulai di usia 17 saya rasa. Tahap awalnya adalah baru menyelesaikan pendidikan SMA dan tidak tau harus berbuat apa. Lulus sekolah, saya ingat ada banyak sekali malam yang saya habiskan untuk tenggelam dalam pikiran pikiran soal seperti apa saya kudu memulai kehidupan saya sebab saya meyakini, salah ambil langkah sekali saja, blueprint kehidupan saya akan berubah. Kegelisahan soal pekerjaan pertama itu membuat saya nyaris menyerah dan mengikuti jejak seluruh perempuan di keluarga besar saya: bekerja sebagai pramuniaga toko. 
Tapi ada semacam kesombongan dalam diri saya yang membuat saya kembali menghabiskan bermalam malam kembali berpikir soal saya tidak semestinya menyerah dan mengikuti jejak kakak. Bahwa saya layak melakukan dan mendapatkan sesuatu yang lebih dari itu, bahwa saya cukup cerdas dan mampu untuk menjadi sesuatu yang lebih.
Keresahan yang kemudian mendorong saya untuk melanggar batasan minimum jenjang pendidikan dan menjadi wartawan di beberapa bulan kemudian. Atas keresahan dan malam malam yang dihabiskan untuk tenggelam dalam kondisi overthinking, saya kini bersyukur. Blueprint hidup yang berubah, mengantarkan saya ke banyak tempat dengan banyak pengalaman. Untuk mengerti soal tulis menulis, untuk menjadi pekerja kreatif, untuk mengenal orang orang hebat dengan masukan ilmu ilmu yang bermanfaat. Untuk berdiskusi tanpa jeda atas perkara perkara yang saya sendiri tidak bayangkan akan saya lontarkan jika saya menyerah atas keresahan di stage awal QLC tadi.
Saya kira saya selesai berurusan dengan keresahan masa remaja dan siap menyongsong 20an dengan baik baik saja. I couldn’t be more surprised than that. 
Ahahahahahahahaha.
Early stage of 20, saya dihajar dengan segenap definisi restless dan well, reckless yang mewujud dalam lompatan lompatan impulsif yang dalam perjalanannya tidak sekali dua menyakiti orang lain. Walkout begitu saja dari tempat kerja karena kalah dengan gempuran bernama searching for comfort zone. Resign tanpa clean break dan entah berapa kali berantem dengan orangtua karena saya tidak kunjung merasa nyaman.
Tahun tahun terakhir, setidaknya dua tahun ke belakang, saya menyadari ritme saya berkurang. Tidak lagi menyediakan banyak ruang untuk overthinking dan tenggelam dalam kecemasan kecemasan tanpa tuan. Mungkin lantaran asupan bacaan dan diskusi yang bertambah, atau kematian mama yang sedikit banyak mengubah saya dalam berperasa.
Setahun terakhir adalah stage baru dalam QLC saya. Menjejak tahun pertama bekerja di perusahaan perkebunan kelapa sawit asing saya berikrar dengan diri sendiri sejak bulan pertama untuk “Oke Nan, it’s time to settle down” dan akhirnya memutuskan untuk mengikat diri dengan kredit kredit barang tersier jangka panjang untuk mempertahankan kebetahan dalam bekerja hahaha. 
Setahun lewat dan pikiran untuk saya seharusnya melakukan hal lain sekarang tidak lagi datang. Saya menjalani rutin dengan sebaiknya, naik jabatan secepatnya dan menikmati hal hal yang mungkin tidak akan saya dapatkan jika dulu saya menyerah dengan kecemasan kecemasan saya. Betapa keresahan itu demikian subtil jika dilihat dari nani berusia 23 ia terdengar mengada ada. Restless yang tanpa sebab dan tindakan tindakan impulsif yang entah kenapa saya bersyukur telah mengalaminya. 
Tapi ini, a nothingness.
Entah lantaran hidup yang kelewat santai dan pemenuhan kebutuhan materi menjadi kian gampang, di beberapa bulan terakhir saya sering sekali terbangun di tengah malam dan merasa aneh. Biasanya saya bakal menuju dapur untuk minum air putih, menyulut rokok dan duduk di tepi ranjang sambil menatap dinding tanpa perasaan apa apa. Sejam dua jam lewat sambil membuka media sosial, mendengarkan tetangga yang baru pulang lalu tidur lagi. 
You know that feeling? of opening the door of an empty house after a long tiring day at work. To place your key, take a shower and change your clothes. Sitting down in the edge of your bed and start to think. Thinking and thinking until there’s nothing left but nothingness. In a short brief amount of time, you feel not an anger, not a sadness, not any other emotion, but nothing. 
Saya rasa ini tidak ada hubungannya dengan afeksi, cinta dan kasih sayang atau secara sederhananya : “Saya begini lantaran saya jomblo” sebab saya mengenal banyak orang, memiliki kehidupan sosial yang jika saya ikuti arusnya maka praktis saya bakal nongkrong setiap malam. Belum lagi jadwal ngegym, berenang, luluran, dan aktifitas di luar kantor yang sengaja saya jejalkan agar hidup tidak terasa monoton yang jika dilakoni bakal menghabiskan dua kali duapuluh empat jam weekend tanpa sisa untuk nothingness itu tadi.
Bahkan di saat tidak jomblo sekalipun, intensitas bangun tengah malam lalu menatap dinding dan berbicara sendiri itu kian meningkat. Saya rasa lantaran saya  merasa cemas akan terjadi perubahan besar di area otak yang reaksi kimiawinya jarang saya temui itu mungkin.
Saya merasa suara saya membal, memantul kembali tanpa terubah sedikitpun oleh reaksi resonansi dan setidaknya, placebo bernama ilusi didengarkan. Konstelasi semesta mungkin sedang tidak mengitari saya dengan kecepatan rapid yang memercikkan segenap emosi. Mungkin saya sedang berada di stage of nothing.
Saya akan berakhir di dua opsi. Menjadi sedemikian mati rasa hingga nothing excite me anymore lalu menjalani hidup dan kehidupan sebagai rutin berulang hingga akhirnya tubuh menemui expiration datenya atau stage ini akan selesai, saya menemukan excitement baru, perspektif baru yang membuat saya melihat setiap hal dengan bersemangat. Jawabannya bisa serumit jabaran soal psychological chain atau sesederhana jatuh cinta.
But at least, in this nothingness, I still find a lot of reason to keep on living, to keep on moving.

My 15 Most Inspiring Authors

Kena tagnya di Path, nulisnya di sini karena for the glory of satan, of course.
1. Seno Gumira Ajidharma
https://rusnanianwardotcom.files.wordpress.com/2016/02/952d2-saksi2bmata.jpg

Kebiasaan membaca buku dimulai dari Enyd Bylton dan R.L Stine. Nani SD adalah pengunjung taman bacaan Pondok Rukun yang kerap menyewa buku buku Lima Sekawan dan Goosebumps. Disertai Lupus, Reuni Para Hantu hingga komik komik Jepang. Saat SMP ketika semua orang membaca teenlit yang tengah populer populernya saat itu, saya membaca Agatha Christie dan roman roman abad pertengahan (Jane Austen, Sandra Brown dkk). Mungkin ini sebabnya referensi romantisme saya sedemikian bebal hahaha.

Seno Gumira adalah temuan di saat SMA sebenarnya. Bosan dengan gaya bahasa terjemahan buku buku luar saya mulai mencari penulis penulis dalam negeri yang bukunya bertebar di Lapak Tualang milik seorang kawan di Bandung. Dimulai dari membaca satu-dua cerpennya yang bertemakan Petrus lalu merambah ke Wesanggini dan Aku Kesepian Sayang, Datanglah Menjelang Kematian. Buku Saksi Mata yang mengangkat tema pembantaian Dili 1991 banyak mempengaruhi gaya tulisan saya di tahun 2008. Satir dan gelap (ditambah dose cukup dari Wiji Tukul, Nani di usia 17 tahun belum pernah sesinis itu)
2. Achdiat K Mihardja
Saya hanya membaca satu bukunya, berjudul Atheis. Saya ingat pernah menemukan buku ini di perpustakaan SMP dan membaca habis tanpa banyak ingat detil ceritanya. Membaca Atheis kembali beberapa bulan lalu kemudian bersegera menyimpulkan kalau saya memang jatuh cinta dengan sastrawan angkatan Pujangga Baru hahaha. Gaya bahasa yang baru saja bangkit dari era ejaan lama dengan pustaka HB Jasmin begitu memesona karena sedemikian baku lagi seksi. Terlepas dari itu, Achdiat membuat saya kagum dengan plot cerita yang pernah saya review di sini
http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTL_ia2E4f-_QjcYXGYIokszrOO6uPdbF77oYey_qH7CgAKVqyT3. Stephen Hawking
Tentu tidak perlu saya jelaskan bagaimana hype buku The Grand Design di tahun tahun silam. Tidak perlu saya jabarkan soal isu ketuhanan memang senantiasa menarik untuk dibahas dari zaman ke zaman. Saya salah satu penikmat isu itu, dengan terus bertanya dan membaca, bertanya dan membaca. Dari zaman buku The Road to Allah-nya Jalalludin Rakhmat sampai The Grand Designnya Hawking, saya belum menemukan alasan apa yang mendorong saya percaya soal Allah. Saya, laiknya keterbatasan micro/macro-examination, melakukannya ya karena ingin saja. Sesungguhnya tidak penjabaran mutlak soal ketidakmutlakan free will ya kaaaan.
4. Emma Goldman
Sebagai anonimus di akun @bakunins, saya sendiri lupa apa yang membuat saya sedemikian excite dengan anarkisme di tahun 2012. Mungkin lantaran saya diam diam menyukai @hansdavidian kali ya :)))) ada dorongan impulsif untuk mempelajari anarki dan membuat akun twitter itu. Emma Goldman, adalah author yang membuat saya memikirkan soal feminisme lebih jauh lagi. Saya tidak berada di generasi habis gelap terbitlah terang dengan segenap gombalan feminisme a la kelas menengah ngehe. Goldman membabat habis batasan laki laki dan perempuan dan menempatkan semua orang adalah manusia. Tidak ada privilege dan bias gender. Ini yang kemudian mendorong saya untuk bisa melakukan instalasi listrik sendiri, bertukang dan merakit peralatan elektronik sendiri hingga membuat abah merasa useless saat bertandang ke kos untuk membantu pelaksanaan kerja berat. 
Ideas are bulletproof, my dear.
5.  Jalalludin Rakhmat 
https://i1.wp.com/d.gr-assets.com/books/1235014305l/2864252.jpgPenulis penulis yang menginfluence saya adalah yang sekaligus menjadi trigger atas ketertarikan terhadap sesuatu. Saya memiliki kecenderungan untuk obsess terhadap sesuatu yang menarik. Kalau dirunut dalam satu timeline, sejauh yang saya ingat obsesi saya adalah seperti ini:
Manga, Anime, Metal, Komunisme di Indonesia, Sufistik/Theist, Anarkisme, Greek Mythology, Cosmology/brainworks dan shits hippie says.

And I’m not even kidding when I said obsess. Saya ingat hari hari di mana sedemikian suka dengan anime saya sampai bercita cita jadi ninja dengan ninjutsu penyembuh dan pacaran sama Kakashi. Pernah terlibat komunitas metal dan menggagas beberapa gigs, mengoleksi merch dan kaos hingga kaset kaset rekaman Roadrunner United. Obsesi soal komunisme menelurkan Senja Merah dan tahun tahun di mana tidak ada yang lebih penting di kepala saya kecuali urusan negara yang belum juga menemukan di mana Wiji Thukul sebenarnya. Puncak pendalaman soal theist yang kemudian mendapat milestone berupa penyebutan “@rusnanianwar pasti anonimnya Asyaukani dan Ulil Abshar” lalu akun @bakunins yang menegaskan obsesi terhadap anarkisme yang bertahan sekurangnya setahun lamanya (yang lalu banyak difollow artes twitter itu)

Dan seterusnya dan seterusnya. Obsesi yang bersifat temporal karena saya melihat saya sekarang dan sungguh merasa kehidupan sedang kelewat selow. Saya tidak sedang menyenangi apa apa kecuali ide soal menjadi kurus melalui diet OCD. Sungguh waktu membuat kita jadi cetek begini ya, Tun :))
Jalalludin, adalah trigger saya untuk urusan sufistik. Jauh sebelum saya membuat akun twitter, jauh sebelum saya tau soal JIL dan utankayu. SMA kelas 2, saya mengenal mas Yudha. Beliau adalah lulusan pesantren dengan kemampuan bahasa inggris yang memesona. Berawal dari minta diajarkan bahasa inggris, bertandangnya beliau ke teras rumah berujung pada pembahasan soal Tuhan dan Agama. Saya dipinjamkan buku dengan judul The Road to Allah. Saya ingat saya yang sebulan kemudian sangat sangat alim hingga berfikir untuk mengenakan jilbab dan ingin menghadiri pengajian tasawuf (yang kemudian tidak diperkenankan abah, tentu saja)
Buku yang membuka pikiran saya soal betapa Islam sesungguhnya merupakan agama yang menyenangkan. Dengan konsep pluralisme yang menyentuh. Betapa beragama sungguh perkara sesederhana berbuat baik kepada sesama manusia.
Lalu saya lupa apa yang membuat saya kembali bebal dan tidak islami lagi di tahun tahun berikutnya. Mungkin lantaran pendalaman saya hanya sebatas membaca buku dan euforia sementara. Pada akhirnya yang melekat sebagai label adalah apa yang dilakukan dengan konsistensi kan?
6. Tan Malaka
Madilog adalah groundbase saya dalam belajar berlogika. Komplimen soal “Enak kalo curhat sama nani, jawabannya logis” saya dapatkan paskan membaca Madilog. Ada runutan cara berpikir yang saya coba terapkan dari buku ini, terpujilah beliau dan kemampuan akalnya. 
Paradigma paradigma berpikir serunut isi buku ini tentu belum bisa saya terapkan, ada banyak kausal yang membuatnya menjadi sulit. Faktor geologis dan etnologis misalnya, tapi simpulan paling sederhana dari menggunakan metode Tan Malaka adalah step back and see the whole page.
7. Sapardji Djoko Damono 
https://blogbukufaraziyya.files.wordpress.com/2015/11/hujan-bulan-juni.jpg?w=219&h=327Beliau adalah penulis yang menyelamatkan jiwa romantis saya. Saya selalu sinis dengan perkara cinta cintaan entah untuk alasan apa. Mungkin lantaran referensi bacaan saya yang jauh dari buku buku romantis populer yang kerap Amel bahas (sekali waktu saya pernah membaca buku Falla Adinda dan berujung jengah dan menggumam “Pfft.. selebtwit”) atau ya itu, saya emang berkemampuan untuk menjadi frigid hingga akhir zaman. 

Membaca puisi puisi Damono, melemparkan saya pada potongan potongan senja merah jambu yang berujung dengan perasaan hangat di dalam dada. Kesukaan terhadap puisi puisi Sapardji kian menjadi paska menonton duo Ari Reda secara langsung di Bentara Budaya Jakarta. Musikalisasi puisi yang sungguh syahdu saya hampir menasbihkan diri sebagai kelas menengah berbudaya yang hanya mendengar musik musik kelas atas nan berkualitas.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana 
Setabah hujan di bulan Juni.
Karena akulah si telaga.
 #MashupHore  

8. Leo Tolstoy
Anna Karenina mengantarkan saya pada Leo Tolstoy. Bukunya dipinjamkan ibu produser paling baik hati sejagad ranah hiburan Jakarta dan menghabiskan berminggu minggu membaca bukunya. Tolstoy, di balik nama besarnya melalui War and Peace (yang segera menobatkannya sebagai bapak filsuf politik rusia) justru lebih saya sukai di buku ini. Kenapa? karena Tolstoy adalah ‘manusia’ di buku ini, ditambah adaptasi filmnya yang mayan di tahun 2014 silam, Anna Karenina adalah satu dari dongeng kehidupan aristokrat yang saya suka.

https://i1.wp.com/photos1.blogger.com/blogger/787/545/1600/Embroideries.jpg9. Marjane Satrapi
Oh siapa yang tidak jatuh cinta pada Persepolis? Siapa yang tidak merasa tergugah, menahan nafas dan trenyuh dengan ilustrasi dan gaya penulisan Satrapi? Saya membeli buku Embroideries sebagai buku kedua Satrapi yang saya baca dan makin suka pada sudut pandang perempuan ini.

10. Karl Marx
Oke, saya anak IPS murtad hahaha. Baru mengenal Marxisme justru paska membaca Madilog. Jika bukan karena disebut tulisan tulisan saya Marxis sekali, saya tidak akan menunggu belasan menit untuk mengunduh sekedar .PDF artikel artikel beliau lalu membacanya dengan tekun. Saya berakhir dengan senyum simpul dan menertawakan komentar tersebut dengan ketertakjuban kenapa bisa seterkiblat itu pada Marx.

mungkin lantaran tidak ada yang benar benar original di bawah matahari kan ya?

11. NH Dini
Begini, saya tumbuh di era SD-SMP dalam kondisi sangat miskin sampai sampai keluarga kami tidak memiliki uang untuk ikut beramai ramai menggunakan televisi parabola. Di kotak TV 14 inci kami hanya ada TVRI berkat antena alakadarnya. Kondisi ini praktis membuat saya tidak menonton televisi kecuali jam 4 sore untuk tayangan Pak Odor dan Tara anak Tengger. Gugat saya semasa kecil soal kenapa kami tidak punya TV digital untuk menonton sinetron yang tengah hype di kawan kawan saya berujung syukur saat ini. Karena kemiskinan itu saya jadi memiliki referensi bacaan yang lumayan.

Hiburan untuk Nani kecil adalah perpustakaan daerah. Menjadi anggota di sana dan rutin meminjam sekedar buku bergambar hingga akhirnya berani masuk ke area non bacaan anak anak dan mulai mengenal penulis penulis angkatan baru, 45, 60 hingga angkatan reformasi. Sederet nama seperti YB Mangunwijaya, Sutan Takdir Alisjahbana, Marah Rusli, Putu Wijaya hingga NH Dini masih saya ingat dengan baik beserta karya karya mereka.

NH Dini dikenal dengan bukunya yang fenomenal; Namaku Hiroko. Buku yang bisa dibilang one hit wonder lantaran saya tidak pernah mendengar gaungnya lagi selepas buku itu. Lalu beberapa bulan silam menemukan buku dengan judul Padang Ilalang di Belakang Rumah dan bersegera menuntaskan nostalgia pada penulis yang membuat masa kecil Nani banyak membayangkan soal penjajah Jepang dan jugun ianfu.

12. Ugaran Prasad
Definisi author masuk dalam penulis lirik juga kan ya boleh ya ya ya. Hahaha. Ugaran Prasad saya temukan di blog yang kerap mengupdate tulisan tulisan yang masuk dalam kompas. Mulai dari SGA, Gunawan Muhammad hingga Djenar Maesa Ayu. Prasad, menyempil di antara nama nama itu dengan cerpennya Sepatu Tuhan, kisah soal Maradonna dan fenomena tangan Tuhan dengan ending yang apik.

Lama berselang dan saya mendapat kiriman album Anamnesis milik Melancholic Bitch dan tebak siapa vokalisnya? Yep. Ugaran Prasad. Tulisan tulisannya yang saya sukai itu mewujud dalam deretan lirik yang subhanallah membuat saya bersemangat untuk bergumam “Anjrit ini bagus banget”

13. Chie Watari
Kenapa Nani punya selera horor yang lumayan eksentrik? salahkan Chie Watari :)) kesehatan jiwa anak muda manapun bakal terganggu jika sepanjang waktu luangnya dihabiskan untuk membaca komik horor dengan plot cerita yang buangsat dan ilustrasi yang gore nan graphic semacam Misteri Sepotong Tangan misalnya. Kenapa tidak saya habiskan masa muda dengan nonton anak seusia saya main basket dan pacaran, misalnya. Kenapa?

14. Jane Austen
Another romantic author. Buku buku Jane, utamanya Emma dan Pride and Prejudice mengusung tema feminisme tanggung yang membuat saya terkadang gemes sendiri dengan konflik yang dihadapi Emma dan Elizabeth. Di buku Mansfield Park dan Sense and Sensibility barulah saya paham bagaimana Austen ingin menalarkan kegelisahannya sebagai perempuan di abad 18. Kebutuhan feminisme memang sesepele itu mengingat kondisi sosial budaya yang melatari kisah kisahnya. Tentu tidak akan countable jika dijadikan default untuk masyarakat sekarang. Hm.

15. Charles Dickens
Seperti semua orang, perjalanan mengenal Dickens dimulai dari A Christmast Carol. Meski bersekolah di SD Muhammadiyah, perpustakaan SD saya ternyata menyimpan buku usang bertema natal itu. Lalu beralih ke Oliver Twist, lalu Three Ghost Story dan terakhir The Great Expectations.

So, am I took this tagging game too seriously?

December OCD Project – The Beginning

Saya memulai perjalanan diet dietan ini sejak lama banget sebenarnya. Saya ingat satu fase di mana saya menolak makan apapun kecuali apel dan turun hingga delapan kilo di 2013 silam. Lalu berhenti, lalu menggebu lagi di beberapa bulan lalu lalu berhenti. Diet yoyo ini saya coba gali apa masalahnya, kenapa sebegitu susah buat saya untuk memulai sesuatu yang baik untuk diri saya sendiri.
1. Motivasi
Alasan untuk menjadi kurus harus cukup kuat dan tidak fluktuatif. Karenanya jangan memulai diet jika tujuannya hanya untuk menarik perhatian orang yang disuka misalnya. Saat orang tersebut tidak menyukaimu lagi, apa alasan untuk tidak memulai emotional eating (lagi?) 
oke ini curhat.
2. Metode diet
https://i0.wp.com/img.picturequotes.com/2/2/1512/no-one-wants-to-see-curvy-women-quote-1.jpg
Fuck you Karl.
Oh you named it, I’ve tried them all. Katering sehat yang isinya melulu nasi merah dengan porsi anak ayam itu? Sudah. Diet mayo? sudah. Program 13 hari, OCD, food combining sampai belasan merk pil pelangsing sudah saya coba. Hasilnya? teteup, yoyo. Hari ini diet, besok nasi goreng kambing. Program selesai, balik ke kebiasaan awal. Kembalinya kudu ke atas, motivasinya ga kuat. 
3. Support Group 
“Ah Nani sok diet. Percuma ga bakal kurus juga”
“Ayo makan siang, ga usah diet dietan gitu ah”
“Kenapa harus kurus sih? Begini aja aku suka sama kamu”
Kapan kurusnya kalau begini men?
4. Wake Up Call
Kamu kudu ditempeleng semesta dulu sampai merasa se-worthless worthlessnya biar sadar.
5. Mindset
“Gapapalah makan agak banyakan, kan seharian cape di kantor”
“Nongkrong minum iceblend plus camilan ah, I deserve it”
“Gapapa gendut, nanti juga ada yang suka Nani apa adanya”
the fuck is it, brain?
 
Lima kausal di atas menemui pencerahannya paska saya memutuskan untuk memulai OCD dan rutin ngegym di bulan ini. So here we go, December OCD Project.
1. Motivasi
Saya nihilkan semua bayangan soal akan disukai orang yang saya sukai. Saya tidak butuh dia untuk mendikte seperti apa tubuh saya seharusnya terlihat. Saya bongkar lemari dan melihat history pembelian baju baju online. Ukuran saya mentok di XXL sementara baju baju ukuran XL hanya beberapa yang muat. Saya gendut banget, gendut sekali hingga saya benci apa yang saya lihat di cermin setiap pagi. Saya keluarkan semua baju baju lama dan lungsuran dari kakak lalu memajangnya di lemari. Rata rata berukuran L. Ini milestone pertama, saya kudu muat di ukuran L SECEPATNYA.
2. Metode Diet
Oke, here’s the fact. I can actually have a foodgasm. You know, when the food is so good it makes you smile and somehow felt better instantly? Hal ini muaranya di otak, reaksi kimiawinya membuat kita merasakan endorphin karena makanan enak. Googlinglah biar saya ga repot menjelaskan. Satu hal yang sulit untuk saya jalani dari semua metode diet selama ini: Pantangan makan.
Selain lantaran katering saya sekarang enak sekali, menunaikan pantangan makan terasa berat karena sulit untuk makan dada ayam polos tanpa lemak dikukus bukan digoreng plus sayur yang disteam dengan garam dikit dan gaboleh makan ini gaboleh makan itu setiap hari. Bosen dan ribet.
Lalu Amel, dengan menggebu gebu menjelaskan soal OCD. Saya tidak asing dengan OCD, hanya saja baru sore itu saya mengerti bahwa OCD memperbolehkan kita makan apa saja yang kita mau. WHOA! ini lebih menarik dari teori relativitas revisiannya Carl Sagan.
Jadi metode diet saya seminggu belakangan adalah jendela delapan jam. Jadi saya puasa 16 jam dengan water intake semata. Berat, satu dua hari pertama adalah siksaan utamanya di jam 10 pagi masa masa saya kerap ditawari sarapan dari bos yang baik hati. Tapi dari jam 10 ke 12 siang cuma tiga jam dan saya bisa makan katering yang enak sekali, gorengan yang dibeli kantor bahkan es cendol yang sudah sekian lama saya ga minum itu. Sepanjang jam 12 hingga pulang kantor, saya makan senormalnya, seenaknya. Lalu berhenti di jam 8 malam dan lanjut water intake sampai besoknya jam 12 siang.
Sampai sekarang, rasanya oke oke aja. 
3. Support Group
Ini yang saya lakukan untuk membendung pedihnya omongan orang soal saya yang sok sokan diet: I’m telling EVERYBODY that I’m on diet with a serious note. Mulai dari OB sampai manager sampai bos besar saya kasih tau kalau saya sedang diet dan hanya available buat ditawarin makan di jam 12 siang. Hasilnya, di kantor saya bisa adem ayem minum air doang tanpa harus dikatain “Halah Nani sok diet” tiap ada makanan. Saya lemah kalo dibujuk soal makanan soalnya :’) 
Social circle sayapun luar biasa supportif. Amel utamanya, jika sebelumnya ada berjam jam selepas jam ngantor yang kami habiskan dengan bergelas gelas coffeeblend dan anek camilan di cafe, saat ini saya ga diajakin lagi, kalaupun kebutuhan ngobrol sedemikian mendesak, kami memilih buat ke mall dan ngobrol sambil window shopping atau ya harus pasrah saya cuma minum aer doang di cafe. Geng arisanpun paham dan tidak ngoceh aneh aneh saat saya tidak makan apa apa lantaran jendela makan sudah lewat. 
Mereka yang menghargai niatan kita dengan diam diam mendukung ini kudu diapresiasi dengan sikap tidak mudah menyerah, bukan?
Lagian kan tengsin men, sudah ngomong diet ke mana mana tapi ga kurus kurus :))))
4. Wake Up Call
Momentum ditempeleng semesta soal “Hey! diet sekarang juga” tidak pernah saya dapatkan sebelumnya. Alasan saya diet semata ingin disukai lelaki yang saya sukai, atau ingin menjadi lebih sehat, tapi tidak pernah ada satu momen di mana saya sedemikian merasa worthlessnya, terhinanya, tesinggungnya lantaran menjadi gendut.
Lalu kejadian juga akhirnya. Butuh waktu lama untuk mengakui ini, tapi saya diputusin saat sedang sayang sayangnya oleh lelaki yang sehari setelah meminta putus balikan lagi dengan mantannya yang berbadan jauh lebih kurus dibanding saya.
Ini memalukan, sungguh. Saya belum pernah merasa seworthless ini sebelumnya, saya, seorang Nani, dipermalukan oleh seorang lelaki. I’m in rage, I’m angry, I’m insulted and its good. I have all the energy I needed to keep on working out at gym. Saya rangkum semua perasaan itu dan menyalurkannya dengan bijaksana. Saat fase makan biasa memasuki emotional eating misalnya, saya bisa mengingat kejadian itu dan makanan saya tiba tiba terasa hambar. Atau saat malas malasnya ngegym, atau saat pengen makan gordon bleu dan fettucine carbonara di malam hari. Even the negative energy can be good at something yes 🙂
5. Mindset
Butuh waktu 28 hari nonstop hingga seseorang bisa memulai habit baru. Ini teori yang belum saya verifikasi kebenarannya. Tapi berhasil untuk upaya berhenti merokok pertama di tahun 2012 silam. 28 hari tanpa rokok membuat seluruh nikotin dalam darah keluar dan urge untuk menyulut itu sirna. Yaaaa kalau setahun kemudian iseng mulai merokok (lagi) ya salah sendiri ya Nan.
Saya ingin menjadikan OCD sebagai habit, setidaknya sampai bobot saya ideal. Saya ingin pergi ke gym tidak menjadi keharusan tapi sesuatu yang dilakukan dengan normal seperti bernafas misalnya. Mindset terhadap makananpun pelan pelan diubah.
Saya sudah tidak meminum minuman berwarna dalam kemasan sejak setahun belakangan. Soda, teh botol, susu, apapun yang manis manis sudah saya tinggalkan karena mindset “Gula yang membuat mama meninggal”. Alhasil jika sekarang saya terlalu banyak minum atau makan yang manis manis, saya jadi hiperaktif dan cepat sekali merasa lelah.  
Mindset yang simpel tapi ternyata pengaruhnya besar. Beberapa mindset yang ingin saya tanamkan:
“Ah saya udah puas makan itu di duapuluh tahun hidup saya kemarin” tiap craving makanan yang ga sehat
“Ah ngapain banyak banyak nanti kekenyangan malah susah gerak” tiap ketemu makanan enak
“Mending ngegym” tiap kali down dan mulai pengen emotional eating.
Semoga kausal kausal ini cukup untuk membentuk saya menjadi lebih bertujuan dalam melakukan diet. Saya bahkan sampai menuliskan soal menjadi kurus ke dalam bucket list. Karena saya terlalu berharga untuk dipepatkan dalam jokes jokes basi soal orang gendut. Sebab saya worthy, saya berharga 🙂
Started tommorow, I’ll post a weekly progress.
Buat motipasi.

Bucket List, Revised

Saya adalah pendoa yang lantang. Saya tuliskan banyak sekali harapan di blog ini untuk alasan saya ingin didengar. Ia mungkin menjadi satu dari sekian banyak medium untuk berkomunikasi. Karenanya dari tahun ke tahun saya punya kebiasaan menuliskan resolusi dan pengharapan melalui momentum tahun baru sekaligus ulang tahun. Ada keinginan keinginan yang begitu subtil nan kerdil yang saya tuliskan untuk kemudian diharapkan dapat terwujud. Somehow.
Saya bukan pembaca gejala yang baik, ada banyak kejadian yang tidak saya duga terjadi meski saya merasa sudah sepenuh upaya membaca semesta. Untuk tidak ignoran dan menakar nakar kemungkinan dari segi logika. Toh kecolongan juga, untuk menegaskan bahwa saya selaku manusia memang selemah itu.
Salah satu yang rutin saya update adalah Bucket List. Terinspirasi dari film lawas dengan judul serupa, saya menuliskan hal hal yang ingin saya lakukan sebelum mati di bulan Mei 2011. Setelah bucket list itu ditulis, apa yang terjadi di tahun selanjutnya membuat saya terkagum kagum dengan kinerja semesta. Satu per satu terwujud hingga nyaris habis. Paska 2012, tahun keajaiban itu, saya menulis kembali sebuah bucket list.
Bucket List, Revised December 20, 2012 

  1. New York
  2. Menulis buku
  3. Keluar dari rumah dan tinggal sendiri
  4. Jatuh cinta
  5. Bikin zine
  6. Jadi anchor televisi
  7. Merasa cukup dan berdamai dengan keadaan 
Yang kemudian mengendap karena hidup sedang ramai ramainya di tahun 2013 hingga sekarang. Jika bukan lantaran kegiatan iseng tengah malam untuk stalking diri sendiri, saya mungkin bakal lupa soal ini. Dan here we are, menghadapi satu lagi keterkaguman atas kinerja semesta dengan melakukan review terhadap satu per satu harapan itu.
1. New York
New York adalah muara mimpi mimpi saya sejak usia belasan. Sejak menonton Pretty Woman, Friends, Sex and the City dan tentu saja, How I Met Your Mother. Ada keinginan besar untuk hidup di apartemen dengan segenap kegaduhannya, untuk malam malam yang dihabiskan dengan mendengarkan musik musik jazz di bar bar lusuh, untuk merayakan kebebasan rokenrol yang sesungguhnya. Mimpi itu, masih saya pendam hingga sekarang, jelang 9 tahun selepasnya.
2. Menulis buku
Januari 2014 saya menulis Perempuan Kopi. Yang meski tidak berujung di penerbit manapun, saya toh tetap menulis buku 😀 😀
3. Keluar dari rumah dan tinggal sendiri
Keinginan ini menguat sekembalinya saya dari Jakarta. Kebiasaan untuk hidup sendiri menjadi faktor mengapa rumah begitu gerah saat itu. Mei 2014 ibu saya meninggal, alasan untuk keluar dari rumah bergeser menjadi betapa sesaknya saya yang harus melihat bayangan ibu di setiap sudut rumah. Atas alasan saya yang begitu lemah untuk tetap di rumah, saya keluar rumah dan ngekos pada Februari 2015 hingga sekarang. Memenuhi ingin untuk tinggal sendiri dan sepenuhnya mandiri. Alhamdulillah, kesampaian.
4. Jatuh Cinta
Tahun 2012 adalah tahun yang kering hahaha. Saya sedemikian terasing dengan kehidupan sosial sampai sampai ide untuk jatuh cinta masuk ke dalam bucket list. Hasilnya, saya habis dihajar cinta di tahun ini :’) perjalanannya singkat meski saya mengenalnya bertahun tahun lamanya. Satu yang saya pelajari dari perjalanan ini adalah betapa saya sudah bisa move on, membuka diri dan berkompromi. Yay.
5. Bikin Zine
Late for School namanya, zine besutan Edi dan Abdi, duo zinemaker dari Sampit favorit saya. Mereka mengajak saya untuk berkolaborasi, lama kelamaan menjadi kontributor tetap lalu bersama sama menyebarka wabah LS ke gig gig kecil yang menjamur kala itu, di tahun 2013. 
6. Jadi Anchor Televisi
“Setelah ini, lalu apa?” adalah pertanyaan yang tanyakan pada diri sendiri paska pulang merantau. Di tahun itu saya sudah melakoni pekerjaan sebagai wartawan, penyiar radio, copywriter dan publicist. Ide untuk tetap berada di track pekerja kreatif membuat saya terpikir untuk menjadi anchor. Iseng sebenarnya karena saya melupakan ide ini begitu saja selepas diposting. Oh, tapi hati hatilah dengan doa, ia diam diam menyerabut di langgam semesta dan voila, saya tercatat sebagai presenter dan kreatif televisi lokal dua tahun lamanya sejak Pebruari 2013 hingga Oktober 2014.
7. Merasa Cukup dan Berdamai Dengan Keadaan
Saya adalah sepenuhnya jabaran atas definisi restless di tahun 2012. Saya ingat malam malam yang saya habiskan untuk terlalu banyak merenung atas kemungkinan kemungkinan. Siang siang yang terasa panjang lantaran berlalu dengan penuh pikiran mengawang awang soal apa yang seharusnya saya lakukan. Saya sempat pengangguran lima bulan lamanya. Masa masa sulit yang dihadapi perempuan berusia 20 tahun yang masih tinggal bersama orangtua bukanlah sesuatu yang besar sebenarnya.
Namun saya ingat betul soal ini, soal semacam sumpah kepada diri sendiri. Untuk bekerja sekeras mungkin dan menjadi kaya raya :’)))) tidak lama kemudian saya bekerja di televisi hingga sekarang di kantor perkebunan kelapa sawit. Saya masih jauh dari kaya raya, jauh dari gelimang materi yang mudah ditemui di televisi. Tapi jika Nani sekarang bertemu dengan Nani yang berusia 20 tahun, saya akan memeluknya dan berterimakasih karena telah bekerja sedemikian keras di saat itu. Karena tidak menyerah pada saya sekarang, karena ia saya bisa merasa cukup meskipun belum kaya raya. 
Perkara berdamai dengan keadaan, ada beberapa kejadian yang mengajarkan saya tentang kehilangan di bentangan tahun 2012-2015. Mulai dari kehilangan cinta pertama, meninggalnya mama, lalu puncaknya di tahun ini, saya diajarkan soal kehilangan kepercayaan terhadap orang lain. Dari kejadian kejadian itu saya harusnya paham soal bersabar, pasrah dan ikhlas. Saya diajak untuk belajar patah hati, adaptasi atas rasa sedih, kehilangan, rindu, lalu rutin paska meninggalnya mama hingga belajar untuk meresapi perasaan kecewa yang demikian subtil saya masih sulit untuk menihilkan perasaan itu di sesekali waktu.
Tapi begitulah, kehidupan masih menjanjikan perjalanan yang panjang. Tahun 2016 tinggal hitungan minggu. Di sela gegap Pilkada saya menyelipkan harapan harapan yang bermuara pada bucket list yang telah direvisi. Senang bisa mencentang enam dari tujuh harapan dalam kurun tiga tahun. Saya semakin ingin percaya dan berpasrah pada perputaran semesta. Sebab tidak ada yang lebih menyenangkan dengan duduk manis dan menikmati pertunjukan maha dahsyat penuh kejutan bernama Perjalanan Hidup.
https://sharpandkeen.files.wordpress.com/2012/06/rainy-new-york.jpg?w=212&h=320Bucket list revised, 7 Desember 2015
  1. New York
  2. Berat badan ideal
  3. Jatuh cinta karena perasaan ini menyenangkan mehehehe
  4. Perjalanan ke luar negeri
  5. Kuliah dan menjadi sarjana
  6. Melihat abah naik haji
  7. Pekerjaan yang nyaman
  8. Memenuhi impian impian tersier di masa kecil
  9. Membuat siapapun yang bersinggungan dengan saya merasa bahagia.
  10. Be a positive Nani and makes the struggling 2012 Nani proud!

AMIIIIIN