2015, Another Good Year

Desember adalah bulan melankoli (melan koli hehehe. okay). Bulan di mana banyak orang menulis kata kata perpisahan. Sementara Januari adalah bulan pengharapan, Desember seolah menjadi tumpuan semua kenangan. 
Iya ya, kita memang setidakcocok itu.
Desember menjadi bulan di mana buku buku menemui lembar terakhirnya. Bulan di mana satu per satu kenangan dipilah untuk dibawa ke tahun berikutnya dan diam diam diselipkan menjadi harapan. Ada yang lewat, ada yang singgah untuk sesaat, ada yang tergenggam lalu terlepas, ada upaya untuk menjadi ikhlas. 
2015, indeed, is another good year for me.
Enam tahun terakhir saya habiskan bulan Desember dalam kesibukan merancang dan mengerjakan event pisah sambut tahun perusahaan orang. Saya semacam menolak untuk merayakan perpindahan tahun dengan tidak larut dalam euforia itu dan justru memilih untuk bekerja. Seperti ada upaya rebel di sana, entah. Tahun ini, ajakan pemilik event organizer tempat saya iseng freelance selama ini saya tolak untuk alasan: pengen tahun baruan.
Ada semacam excitement yang sulit saya gambarkan terkait momentum perpindahan tahun ini. Seperti ada keinginan untuk bersegera meninggalkan tahun yang diam diam menorehkan banyak luka. Saya kehilangan beberapa kawan baik sekaligus dalam rentang waktu duabelas bulan atas perkara perkara yang berada di luar kuasa saya. Kesalahan kesalahan yang dengan sadar saya lakukan dan kegilaan kegilaan di luar batas logika.
Puncaknya adalah Nopember. Saya selipkan keinginan kuat untuk berhenti mencari pemenuhan atas adiksi dopamin serotonin dan endorfin yang saya dapatkan dari melakukan hal yang salah. Memutuskan untuk berjilbab dan mencukur habis rambut saya. I think I hit my lowest point this year and I need 2016 to get back into what I used to be.
Saya tidak akan pernah merendahkan diri saya sendiri lagi.
Perubahan perspektif yang terjadi di dalam kepala saya simbolisasikan ke dalam perubahan fisik. Dimulai dari diet sebenarnya, ada perubahan pola makan (saya tidak lagi sarapan yang aneh aneh dan sesekali makan malam) dan kebiasaan (tidak lagi ngemil dan hanya minum coffeeblend sesekali) yang berujung pada afirmasi “Nani kurusan ya sekarang” walaupun saya sungguh sangat jauh sekali dari berat ideal, but I know, I’m on my way. 
Selanjutnya saya memutuskan untuk menggunakan jilbab. Alasannya sangat sederhana, saya merasa cantik berjilbab. Bukan untuk menyatakan tobat atau pembuktian atas sesuatu. Namun lama kelamaan, mungkin di situlah menariknya cara kerja Allah, saya jadi tertarik untuk berperilaku seperti orang islam. Kalau sebelumnya saat kaget yang saya lontarkan adalah alat genital, kini jadi takbir. Ada dorongan untuk sholat dan membaca alquran walaupun selama ini (hingga saat ini bahkan) saya menganggapnya meaningless. Ada semacam pertanggungjawaban moril yang saya lakukan subconsciously mungkin. Mungkin.
Terakhir, ini yang sempat bikin shock tubuh saya (literally, saya sempat demam dua hari) adalah keputusan untuk mencukur habis rambut yang 23 tahun terakhir melekat di kepala. Keinginan ini sebenarnya berawal dari saran kang salon langganan. Rambut saya sudah sedemikian berantakannya hingga setiap pagi selepas malamnya keramas, rambut saya akan berbau seperti habis terbakar. Sejarahnya adalah sembilan tahun dengan interval dua bulan sekali rebonding dan enam tahun dibagi enam bulan sekali pewarnaan. Ditambah cerita nenek soal saya yang tidak pernah digundul saat bayi (lantaran konon waktu itu rambut saya halus dan lebat) jadilah keinginan itu diwujudkan pada 22 Nopember silam. Penyesuaiannya berat, kadang kaget sendiri kalau tanpa sengaja melihat kaca. Menjadi sering sakit kepala di pagi hari (mungkin lantaran kepalanya masuk angin kali ye) namun perlahan semuanya teratasi.
Seminggu berselang dan melihat rambut pelan pelan tumbuh (dan kayaknya) sehat itu menyenangkan yaaaaa hahaha.
Perubahan fisik maupun mental yang terjadi paska kejadian kejadian sedih di tahun ini semoga berkelanjutan dengan baik hingga tahun tahun selanjutnya. Untuk tidak lagi mempertanyakan kinerja semesta dan berhenti untuk terlalu banyak memikirkan hal hal yang will happen when it happens. Berfokus pada apa yang terjadi hari ini dan tidak membebani diri sendiri dengan terlalu banyak what if dan rasa bersalah yang tidak habis habis. 
Untuk terus berbahagia dan tidak bersedih lama lama. 
2016 dan usia 24, bring it on!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s