My 15 Most Inspiring Authors

Kena tagnya di Path, nulisnya di sini karena for the glory of satan, of course.
1. Seno Gumira Ajidharma
https://rusnanianwardotcom.files.wordpress.com/2016/02/952d2-saksi2bmata.jpg

Kebiasaan membaca buku dimulai dari Enyd Bylton dan R.L Stine. Nani SD adalah pengunjung taman bacaan Pondok Rukun yang kerap menyewa buku buku Lima Sekawan dan Goosebumps. Disertai Lupus, Reuni Para Hantu hingga komik komik Jepang. Saat SMP ketika semua orang membaca teenlit yang tengah populer populernya saat itu, saya membaca Agatha Christie dan roman roman abad pertengahan (Jane Austen, Sandra Brown dkk). Mungkin ini sebabnya referensi romantisme saya sedemikian bebal hahaha.

Seno Gumira adalah temuan di saat SMA sebenarnya. Bosan dengan gaya bahasa terjemahan buku buku luar saya mulai mencari penulis penulis dalam negeri yang bukunya bertebar di Lapak Tualang milik seorang kawan di Bandung. Dimulai dari membaca satu-dua cerpennya yang bertemakan Petrus lalu merambah ke Wesanggini dan Aku Kesepian Sayang, Datanglah Menjelang Kematian. Buku Saksi Mata yang mengangkat tema pembantaian Dili 1991 banyak mempengaruhi gaya tulisan saya di tahun 2008. Satir dan gelap (ditambah dose cukup dari Wiji Tukul, Nani di usia 17 tahun belum pernah sesinis itu)
2. Achdiat K Mihardja
Saya hanya membaca satu bukunya, berjudul Atheis. Saya ingat pernah menemukan buku ini di perpustakaan SMP dan membaca habis tanpa banyak ingat detil ceritanya. Membaca Atheis kembali beberapa bulan lalu kemudian bersegera menyimpulkan kalau saya memang jatuh cinta dengan sastrawan angkatan Pujangga Baru hahaha. Gaya bahasa yang baru saja bangkit dari era ejaan lama dengan pustaka HB Jasmin begitu memesona karena sedemikian baku lagi seksi. Terlepas dari itu, Achdiat membuat saya kagum dengan plot cerita yang pernah saya review di sini
http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTL_ia2E4f-_QjcYXGYIokszrOO6uPdbF77oYey_qH7CgAKVqyT3. Stephen Hawking
Tentu tidak perlu saya jelaskan bagaimana hype buku The Grand Design di tahun tahun silam. Tidak perlu saya jabarkan soal isu ketuhanan memang senantiasa menarik untuk dibahas dari zaman ke zaman. Saya salah satu penikmat isu itu, dengan terus bertanya dan membaca, bertanya dan membaca. Dari zaman buku The Road to Allah-nya Jalalludin Rakhmat sampai The Grand Designnya Hawking, saya belum menemukan alasan apa yang mendorong saya percaya soal Allah. Saya, laiknya keterbatasan micro/macro-examination, melakukannya ya karena ingin saja. Sesungguhnya tidak penjabaran mutlak soal ketidakmutlakan free will ya kaaaan.
4. Emma Goldman
Sebagai anonimus di akun @bakunins, saya sendiri lupa apa yang membuat saya sedemikian excite dengan anarkisme di tahun 2012. Mungkin lantaran saya diam diam menyukai @hansdavidian kali ya :)))) ada dorongan impulsif untuk mempelajari anarki dan membuat akun twitter itu. Emma Goldman, adalah author yang membuat saya memikirkan soal feminisme lebih jauh lagi. Saya tidak berada di generasi habis gelap terbitlah terang dengan segenap gombalan feminisme a la kelas menengah ngehe. Goldman membabat habis batasan laki laki dan perempuan dan menempatkan semua orang adalah manusia. Tidak ada privilege dan bias gender. Ini yang kemudian mendorong saya untuk bisa melakukan instalasi listrik sendiri, bertukang dan merakit peralatan elektronik sendiri hingga membuat abah merasa useless saat bertandang ke kos untuk membantu pelaksanaan kerja berat. 
Ideas are bulletproof, my dear.
5.  Jalalludin Rakhmat 
https://i0.wp.com/d.gr-assets.com/books/1235014305l/2864252.jpgPenulis penulis yang menginfluence saya adalah yang sekaligus menjadi trigger atas ketertarikan terhadap sesuatu. Saya memiliki kecenderungan untuk obsess terhadap sesuatu yang menarik. Kalau dirunut dalam satu timeline, sejauh yang saya ingat obsesi saya adalah seperti ini:
Manga, Anime, Metal, Komunisme di Indonesia, Sufistik/Theist, Anarkisme, Greek Mythology, Cosmology/brainworks dan shits hippie says.

And I’m not even kidding when I said obsess. Saya ingat hari hari di mana sedemikian suka dengan anime saya sampai bercita cita jadi ninja dengan ninjutsu penyembuh dan pacaran sama Kakashi. Pernah terlibat komunitas metal dan menggagas beberapa gigs, mengoleksi merch dan kaos hingga kaset kaset rekaman Roadrunner United. Obsesi soal komunisme menelurkan Senja Merah dan tahun tahun di mana tidak ada yang lebih penting di kepala saya kecuali urusan negara yang belum juga menemukan di mana Wiji Thukul sebenarnya. Puncak pendalaman soal theist yang kemudian mendapat milestone berupa penyebutan “@rusnanianwar pasti anonimnya Asyaukani dan Ulil Abshar” lalu akun @bakunins yang menegaskan obsesi terhadap anarkisme yang bertahan sekurangnya setahun lamanya (yang lalu banyak difollow artes twitter itu)

Dan seterusnya dan seterusnya. Obsesi yang bersifat temporal karena saya melihat saya sekarang dan sungguh merasa kehidupan sedang kelewat selow. Saya tidak sedang menyenangi apa apa kecuali ide soal menjadi kurus melalui diet OCD. Sungguh waktu membuat kita jadi cetek begini ya, Tun :))
Jalalludin, adalah trigger saya untuk urusan sufistik. Jauh sebelum saya membuat akun twitter, jauh sebelum saya tau soal JIL dan utankayu. SMA kelas 2, saya mengenal mas Yudha. Beliau adalah lulusan pesantren dengan kemampuan bahasa inggris yang memesona. Berawal dari minta diajarkan bahasa inggris, bertandangnya beliau ke teras rumah berujung pada pembahasan soal Tuhan dan Agama. Saya dipinjamkan buku dengan judul The Road to Allah. Saya ingat saya yang sebulan kemudian sangat sangat alim hingga berfikir untuk mengenakan jilbab dan ingin menghadiri pengajian tasawuf (yang kemudian tidak diperkenankan abah, tentu saja)
Buku yang membuka pikiran saya soal betapa Islam sesungguhnya merupakan agama yang menyenangkan. Dengan konsep pluralisme yang menyentuh. Betapa beragama sungguh perkara sesederhana berbuat baik kepada sesama manusia.
Lalu saya lupa apa yang membuat saya kembali bebal dan tidak islami lagi di tahun tahun berikutnya. Mungkin lantaran pendalaman saya hanya sebatas membaca buku dan euforia sementara. Pada akhirnya yang melekat sebagai label adalah apa yang dilakukan dengan konsistensi kan?
6. Tan Malaka
Madilog adalah groundbase saya dalam belajar berlogika. Komplimen soal “Enak kalo curhat sama nani, jawabannya logis” saya dapatkan paskan membaca Madilog. Ada runutan cara berpikir yang saya coba terapkan dari buku ini, terpujilah beliau dan kemampuan akalnya. 
Paradigma paradigma berpikir serunut isi buku ini tentu belum bisa saya terapkan, ada banyak kausal yang membuatnya menjadi sulit. Faktor geologis dan etnologis misalnya, tapi simpulan paling sederhana dari menggunakan metode Tan Malaka adalah step back and see the whole page.
7. Sapardji Djoko Damono 
https://blogbukufaraziyya.files.wordpress.com/2015/11/hujan-bulan-juni.jpg?w=219&h=327Beliau adalah penulis yang menyelamatkan jiwa romantis saya. Saya selalu sinis dengan perkara cinta cintaan entah untuk alasan apa. Mungkin lantaran referensi bacaan saya yang jauh dari buku buku romantis populer yang kerap Amel bahas (sekali waktu saya pernah membaca buku Falla Adinda dan berujung jengah dan menggumam “Pfft.. selebtwit”) atau ya itu, saya emang berkemampuan untuk menjadi frigid hingga akhir zaman. 

Membaca puisi puisi Damono, melemparkan saya pada potongan potongan senja merah jambu yang berujung dengan perasaan hangat di dalam dada. Kesukaan terhadap puisi puisi Sapardji kian menjadi paska menonton duo Ari Reda secara langsung di Bentara Budaya Jakarta. Musikalisasi puisi yang sungguh syahdu saya hampir menasbihkan diri sebagai kelas menengah berbudaya yang hanya mendengar musik musik kelas atas nan berkualitas.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana 
Setabah hujan di bulan Juni.
Karena akulah si telaga.
 #MashupHore  

8. Leo Tolstoy
Anna Karenina mengantarkan saya pada Leo Tolstoy. Bukunya dipinjamkan ibu produser paling baik hati sejagad ranah hiburan Jakarta dan menghabiskan berminggu minggu membaca bukunya. Tolstoy, di balik nama besarnya melalui War and Peace (yang segera menobatkannya sebagai bapak filsuf politik rusia) justru lebih saya sukai di buku ini. Kenapa? karena Tolstoy adalah ‘manusia’ di buku ini, ditambah adaptasi filmnya yang mayan di tahun 2014 silam, Anna Karenina adalah satu dari dongeng kehidupan aristokrat yang saya suka.

https://i0.wp.com/photos1.blogger.com/blogger/787/545/1600/Embroideries.jpg9. Marjane Satrapi
Oh siapa yang tidak jatuh cinta pada Persepolis? Siapa yang tidak merasa tergugah, menahan nafas dan trenyuh dengan ilustrasi dan gaya penulisan Satrapi? Saya membeli buku Embroideries sebagai buku kedua Satrapi yang saya baca dan makin suka pada sudut pandang perempuan ini.

10. Karl Marx
Oke, saya anak IPS murtad hahaha. Baru mengenal Marxisme justru paska membaca Madilog. Jika bukan karena disebut tulisan tulisan saya Marxis sekali, saya tidak akan menunggu belasan menit untuk mengunduh sekedar .PDF artikel artikel beliau lalu membacanya dengan tekun. Saya berakhir dengan senyum simpul dan menertawakan komentar tersebut dengan ketertakjuban kenapa bisa seterkiblat itu pada Marx.

mungkin lantaran tidak ada yang benar benar original di bawah matahari kan ya?

11. NH Dini
Begini, saya tumbuh di era SD-SMP dalam kondisi sangat miskin sampai sampai keluarga kami tidak memiliki uang untuk ikut beramai ramai menggunakan televisi parabola. Di kotak TV 14 inci kami hanya ada TVRI berkat antena alakadarnya. Kondisi ini praktis membuat saya tidak menonton televisi kecuali jam 4 sore untuk tayangan Pak Odor dan Tara anak Tengger. Gugat saya semasa kecil soal kenapa kami tidak punya TV digital untuk menonton sinetron yang tengah hype di kawan kawan saya berujung syukur saat ini. Karena kemiskinan itu saya jadi memiliki referensi bacaan yang lumayan.

Hiburan untuk Nani kecil adalah perpustakaan daerah. Menjadi anggota di sana dan rutin meminjam sekedar buku bergambar hingga akhirnya berani masuk ke area non bacaan anak anak dan mulai mengenal penulis penulis angkatan baru, 45, 60 hingga angkatan reformasi. Sederet nama seperti YB Mangunwijaya, Sutan Takdir Alisjahbana, Marah Rusli, Putu Wijaya hingga NH Dini masih saya ingat dengan baik beserta karya karya mereka.

NH Dini dikenal dengan bukunya yang fenomenal; Namaku Hiroko. Buku yang bisa dibilang one hit wonder lantaran saya tidak pernah mendengar gaungnya lagi selepas buku itu. Lalu beberapa bulan silam menemukan buku dengan judul Padang Ilalang di Belakang Rumah dan bersegera menuntaskan nostalgia pada penulis yang membuat masa kecil Nani banyak membayangkan soal penjajah Jepang dan jugun ianfu.

12. Ugaran Prasad
Definisi author masuk dalam penulis lirik juga kan ya boleh ya ya ya. Hahaha. Ugaran Prasad saya temukan di blog yang kerap mengupdate tulisan tulisan yang masuk dalam kompas. Mulai dari SGA, Gunawan Muhammad hingga Djenar Maesa Ayu. Prasad, menyempil di antara nama nama itu dengan cerpennya Sepatu Tuhan, kisah soal Maradonna dan fenomena tangan Tuhan dengan ending yang apik.

Lama berselang dan saya mendapat kiriman album Anamnesis milik Melancholic Bitch dan tebak siapa vokalisnya? Yep. Ugaran Prasad. Tulisan tulisannya yang saya sukai itu mewujud dalam deretan lirik yang subhanallah membuat saya bersemangat untuk bergumam “Anjrit ini bagus banget”

13. Chie Watari
Kenapa Nani punya selera horor yang lumayan eksentrik? salahkan Chie Watari :)) kesehatan jiwa anak muda manapun bakal terganggu jika sepanjang waktu luangnya dihabiskan untuk membaca komik horor dengan plot cerita yang buangsat dan ilustrasi yang gore nan graphic semacam Misteri Sepotong Tangan misalnya. Kenapa tidak saya habiskan masa muda dengan nonton anak seusia saya main basket dan pacaran, misalnya. Kenapa?

14. Jane Austen
Another romantic author. Buku buku Jane, utamanya Emma dan Pride and Prejudice mengusung tema feminisme tanggung yang membuat saya terkadang gemes sendiri dengan konflik yang dihadapi Emma dan Elizabeth. Di buku Mansfield Park dan Sense and Sensibility barulah saya paham bagaimana Austen ingin menalarkan kegelisahannya sebagai perempuan di abad 18. Kebutuhan feminisme memang sesepele itu mengingat kondisi sosial budaya yang melatari kisah kisahnya. Tentu tidak akan countable jika dijadikan default untuk masyarakat sekarang. Hm.

15. Charles Dickens
Seperti semua orang, perjalanan mengenal Dickens dimulai dari A Christmast Carol. Meski bersekolah di SD Muhammadiyah, perpustakaan SD saya ternyata menyimpan buku usang bertema natal itu. Lalu beralih ke Oliver Twist, lalu Three Ghost Story dan terakhir The Great Expectations.

So, am I took this tagging game too seriously?

4 thoughts on “My 15 Most Inspiring Authors

  1. Ahaha pencitraan doang ini sih. Aslinya juga bacaannya nani Mira W sama Tatang S. Iyaa agatha christie favoritku, poirot dan miss marple banyak ngajarin soal kepengenan jadi detektif kala itu yaaa hahaha.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s