A Tale of Quarter Life Crisis – The Nothingness

https://christaavampato.files.wordpress.com/2013/04/6aa707ea98f8beae1cba6d4f240735fb.jpg?w=216&h=320“Nothingness itu ngeri, lebih mengerikan daripada tenggelam dalam pikiran pikiranmu sendiri”
Kalimat nona @mpokgaga dalam perbincangan kelewat singkat soal quarter life crisis membuat saya mengangguk setuju. Nothingness itu ngeri.
  
Semenjak mengenal konsep quarter life crisis (tujuh delapan tahun silam kalau tak salah, berkat membaca autobiografi Kurt Cobain) saya menjadi agak rajin mencari artikel terkait hal itu bertahun tahun selepasnya hingga sekarang. Mencoba memahami apa itu quarter life crisis dan bagaimana cara melewatinya dengan baik. Overthinking memang, tapi rather be prepared than doing so many regrettable things, rite?
Stage QLC saya dimulai di usia 17 saya rasa. Tahap awalnya adalah baru menyelesaikan pendidikan SMA dan tidak tau harus berbuat apa. Lulus sekolah, saya ingat ada banyak sekali malam yang saya habiskan untuk tenggelam dalam pikiran pikiran soal seperti apa saya kudu memulai kehidupan saya sebab saya meyakini, salah ambil langkah sekali saja, blueprint kehidupan saya akan berubah. Kegelisahan soal pekerjaan pertama itu membuat saya nyaris menyerah dan mengikuti jejak seluruh perempuan di keluarga besar saya: bekerja sebagai pramuniaga toko. 
Tapi ada semacam kesombongan dalam diri saya yang membuat saya kembali menghabiskan bermalam malam kembali berpikir soal saya tidak semestinya menyerah dan mengikuti jejak kakak. Bahwa saya layak melakukan dan mendapatkan sesuatu yang lebih dari itu, bahwa saya cukup cerdas dan mampu untuk menjadi sesuatu yang lebih.
Keresahan yang kemudian mendorong saya untuk melanggar batasan minimum jenjang pendidikan dan menjadi wartawan di beberapa bulan kemudian. Atas keresahan dan malam malam yang dihabiskan untuk tenggelam dalam kondisi overthinking, saya kini bersyukur. Blueprint hidup yang berubah, mengantarkan saya ke banyak tempat dengan banyak pengalaman. Untuk mengerti soal tulis menulis, untuk menjadi pekerja kreatif, untuk mengenal orang orang hebat dengan masukan ilmu ilmu yang bermanfaat. Untuk berdiskusi tanpa jeda atas perkara perkara yang saya sendiri tidak bayangkan akan saya lontarkan jika saya menyerah atas keresahan di stage awal QLC tadi.
Saya kira saya selesai berurusan dengan keresahan masa remaja dan siap menyongsong 20an dengan baik baik saja. I couldn’t be more surprised than that. 
Ahahahahahahahaha.
Early stage of 20, saya dihajar dengan segenap definisi restless dan well, reckless yang mewujud dalam lompatan lompatan impulsif yang dalam perjalanannya tidak sekali dua menyakiti orang lain. Walkout begitu saja dari tempat kerja karena kalah dengan gempuran bernama searching for comfort zone. Resign tanpa clean break dan entah berapa kali berantem dengan orangtua karena saya tidak kunjung merasa nyaman.
Tahun tahun terakhir, setidaknya dua tahun ke belakang, saya menyadari ritme saya berkurang. Tidak lagi menyediakan banyak ruang untuk overthinking dan tenggelam dalam kecemasan kecemasan tanpa tuan. Mungkin lantaran asupan bacaan dan diskusi yang bertambah, atau kematian mama yang sedikit banyak mengubah saya dalam berperasa.
Setahun terakhir adalah stage baru dalam QLC saya. Menjejak tahun pertama bekerja di perusahaan perkebunan kelapa sawit asing saya berikrar dengan diri sendiri sejak bulan pertama untuk “Oke Nan, it’s time to settle down” dan akhirnya memutuskan untuk mengikat diri dengan kredit kredit barang tersier jangka panjang untuk mempertahankan kebetahan dalam bekerja hahaha. 
Setahun lewat dan pikiran untuk saya seharusnya melakukan hal lain sekarang tidak lagi datang. Saya menjalani rutin dengan sebaiknya, naik jabatan secepatnya dan menikmati hal hal yang mungkin tidak akan saya dapatkan jika dulu saya menyerah dengan kecemasan kecemasan saya. Betapa keresahan itu demikian subtil jika dilihat dari nani berusia 23 ia terdengar mengada ada. Restless yang tanpa sebab dan tindakan tindakan impulsif yang entah kenapa saya bersyukur telah mengalaminya. 
Tapi ini, a nothingness.
Entah lantaran hidup yang kelewat santai dan pemenuhan kebutuhan materi menjadi kian gampang, di beberapa bulan terakhir saya sering sekali terbangun di tengah malam dan merasa aneh. Biasanya saya bakal menuju dapur untuk minum air putih, menyulut rokok dan duduk di tepi ranjang sambil menatap dinding tanpa perasaan apa apa. Sejam dua jam lewat sambil membuka media sosial, mendengarkan tetangga yang baru pulang lalu tidur lagi. 
You know that feeling? of opening the door of an empty house after a long tiring day at work. To place your key, take a shower and change your clothes. Sitting down in the edge of your bed and start to think. Thinking and thinking until there’s nothing left but nothingness. In a short brief amount of time, you feel not an anger, not a sadness, not any other emotion, but nothing. 
Saya rasa ini tidak ada hubungannya dengan afeksi, cinta dan kasih sayang atau secara sederhananya : “Saya begini lantaran saya jomblo” sebab saya mengenal banyak orang, memiliki kehidupan sosial yang jika saya ikuti arusnya maka praktis saya bakal nongkrong setiap malam. Belum lagi jadwal ngegym, berenang, luluran, dan aktifitas di luar kantor yang sengaja saya jejalkan agar hidup tidak terasa monoton yang jika dilakoni bakal menghabiskan dua kali duapuluh empat jam weekend tanpa sisa untuk nothingness itu tadi.
Bahkan di saat tidak jomblo sekalipun, intensitas bangun tengah malam lalu menatap dinding dan berbicara sendiri itu kian meningkat. Saya rasa lantaran saya  merasa cemas akan terjadi perubahan besar di area otak yang reaksi kimiawinya jarang saya temui itu mungkin.
Saya merasa suara saya membal, memantul kembali tanpa terubah sedikitpun oleh reaksi resonansi dan setidaknya, placebo bernama ilusi didengarkan. Konstelasi semesta mungkin sedang tidak mengitari saya dengan kecepatan rapid yang memercikkan segenap emosi. Mungkin saya sedang berada di stage of nothing.
Saya akan berakhir di dua opsi. Menjadi sedemikian mati rasa hingga nothing excite me anymore lalu menjalani hidup dan kehidupan sebagai rutin berulang hingga akhirnya tubuh menemui expiration datenya atau stage ini akan selesai, saya menemukan excitement baru, perspektif baru yang membuat saya melihat setiap hal dengan bersemangat. Jawabannya bisa serumit jabaran soal psychological chain atau sesederhana jatuh cinta.
But at least, in this nothingness, I still find a lot of reason to keep on living, to keep on moving.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s