Di Sebuah Persinggahan

Kiranya blog ini akan berubah menjadi deep shit of self healing rambling dalam hitungan bulan hahaha. Ada terlalu banyak kontemplasi belakangan dan ia membutuhkan ruang untuk disalurkan. Mustahil bagi saya membahasnya dengan kawan kawan sepertongkrongan lantaran ada sedikit kekuatiran atas lunturnya pencitraan saya sebagai remaja mesum yang lucu lagi menyenangkan. 
Ada malam malam yang dihabiskan dengan bengong hingga jelang subuh, ada ruang yang saya buka untuk diskusi dengan teman imajinasi yang sudah sekurangnya tiga tahun ini saya repress kehadirannya.
Atas nama perubahan rutin yang sedemikian mendadak, saya jadi punya banyak waktu untuk diri saya sendiri. Ada sekian jam saat pulang bekerja hingga menjelang tidur. Ada ruangan ruangan kosong di kontrakan yang sedemikian sunyi ia membutuhkan volume nyaris maksimal dari televisi agar saya tidak merasa benar benar sendirian. Dalam kondisi ini, entah lantaran saya memiliki kecenderungan sadomasokis atau apa, saya justru sebisanya menghindari pergi keluar. Rutinitas nongkrong sudah masuk dalam kotak bernama menjemukan. Dan entah kenapa ada sedikit kesenangan dari menjadi sendirian.
Saya sedang berupaya kembali menjadi saya sebelum tahun ini, ada kerinduan untuk benar benar tidak menggantungkan apapun kepada siapapun termasuk harapan. Sikap nihilisme dan ideologi untuk DIY saya pegang kukuh hingga berujung pada marka “Keras Kepala” di jidat saya. Usia usia regal namun sangat membanggakan. Saya merindukan Nani yang tidak membutuhkan siapapun untuk pemenuhan atas kebutuhan emosionalnya. Nani yang bisa dengan mudahnya pergi dari hubungan yang dirasa tidak menyenangkan, yang bisa dengan mudahnya mematikan segenap emosi dan kembali normal dalam hitungan hari.
Puncaknya adalah kematian mama. Bertahun tahun bersikeras untuk memiliki ideologi “Tidak ada yang berkekalan di muka bumi, jangan berharap apapun dari manusia lain” ternyata membuahkan hasil. Untuk gadis berusia 22 tahun yang ditinggal mati ibunya, saya hanya membutuhkan tiga hari untuk bersedih. Tepat di hari berikutnya hingga detik ini, saya bangga dengan diri saya sendiri yang tidak sekalipun menggugat soal kenapa mama harus meninggal dan hal seperti ini terjadi pada saya?
Saya lupa kapan tepatnya, namun tahun ini menjadi momentum saya untuk pertama kalinya menggantungkan kebutuhan emosional kepada orang lain. Jika di hubungan hubungan sebelumnya saya hanya sebatas “Yuk, jadian” lalu berujung “Yaudah gapapa, kita putus” dalam hitungan sekian hari, tahun ini saya merelakan sebagian dari ideologi itu untuk dikompromikan menjadi proses membuka diri.
I’m an open book, its easy to know me. Tapi untuk membuat saya membutuhkan kamu, that’s another story.  Tahun ini saya berproses dan berkompromi, mengenal dan dikenali, lalu diam diam membutuhkan. Atensi, afeksi dan bantuan. Ada toleransi yang besar dan ruang ruang terkunci yang saya buka lebar untuk dibagi dalam konsep kebersamaan.
Pada akhir proses itu ternyata hanya ada luka yang ditinggalkan.
Karenanya saya sungguh merindukan tahun tahun di mana tidak ada hal yang lebih penting untuk dipikirkan saya selain buku buku dan musik kesukaan. Tidak ada masalah yang lebih pelik selain pekerjaan yang belum selesai atau sekadar lampu teras yang mendadak mati. Saya ingin berhenti berkontemplasi perkara perasaan dan emosi yang begitu melelahkan dan meninggalkan terlalu banyak probabilitas tak terukur di penghujung hari.
  
Yes only love can break your heart.
Advertisements

2015, Another Good Year

Desember adalah bulan melankoli (melan koli hehehe. okay). Bulan di mana banyak orang menulis kata kata perpisahan. Sementara Januari adalah bulan pengharapan, Desember seolah menjadi tumpuan semua kenangan. 
Iya ya, kita memang setidakcocok itu.
Desember menjadi bulan di mana buku buku menemui lembar terakhirnya. Bulan di mana satu per satu kenangan dipilah untuk dibawa ke tahun berikutnya dan diam diam diselipkan menjadi harapan. Ada yang lewat, ada yang singgah untuk sesaat, ada yang tergenggam lalu terlepas, ada upaya untuk menjadi ikhlas. 
2015, indeed, is another good year for me.
Enam tahun terakhir saya habiskan bulan Desember dalam kesibukan merancang dan mengerjakan event pisah sambut tahun perusahaan orang. Saya semacam menolak untuk merayakan perpindahan tahun dengan tidak larut dalam euforia itu dan justru memilih untuk bekerja. Seperti ada upaya rebel di sana, entah. Tahun ini, ajakan pemilik event organizer tempat saya iseng freelance selama ini saya tolak untuk alasan: pengen tahun baruan.
Ada semacam excitement yang sulit saya gambarkan terkait momentum perpindahan tahun ini. Seperti ada keinginan untuk bersegera meninggalkan tahun yang diam diam menorehkan banyak luka. Saya kehilangan beberapa kawan baik sekaligus dalam rentang waktu duabelas bulan atas perkara perkara yang berada di luar kuasa saya. Kesalahan kesalahan yang dengan sadar saya lakukan dan kegilaan kegilaan di luar batas logika.
Puncaknya adalah Nopember. Saya selipkan keinginan kuat untuk berhenti mencari pemenuhan atas adiksi dopamin serotonin dan endorfin yang saya dapatkan dari melakukan hal yang salah. Memutuskan untuk berjilbab dan mencukur habis rambut saya. I think I hit my lowest point this year and I need 2016 to get back into what I used to be.
Saya tidak akan pernah merendahkan diri saya sendiri lagi.
Perubahan perspektif yang terjadi di dalam kepala saya simbolisasikan ke dalam perubahan fisik. Dimulai dari diet sebenarnya, ada perubahan pola makan (saya tidak lagi sarapan yang aneh aneh dan sesekali makan malam) dan kebiasaan (tidak lagi ngemil dan hanya minum coffeeblend sesekali) yang berujung pada afirmasi “Nani kurusan ya sekarang” walaupun saya sungguh sangat jauh sekali dari berat ideal, but I know, I’m on my way. 
Selanjutnya saya memutuskan untuk menggunakan jilbab. Alasannya sangat sederhana, saya merasa cantik berjilbab. Bukan untuk menyatakan tobat atau pembuktian atas sesuatu. Namun lama kelamaan, mungkin di situlah menariknya cara kerja Allah, saya jadi tertarik untuk berperilaku seperti orang islam. Kalau sebelumnya saat kaget yang saya lontarkan adalah alat genital, kini jadi takbir. Ada dorongan untuk sholat dan membaca alquran walaupun selama ini (hingga saat ini bahkan) saya menganggapnya meaningless. Ada semacam pertanggungjawaban moril yang saya lakukan subconsciously mungkin. Mungkin.
Terakhir, ini yang sempat bikin shock tubuh saya (literally, saya sempat demam dua hari) adalah keputusan untuk mencukur habis rambut yang 23 tahun terakhir melekat di kepala. Keinginan ini sebenarnya berawal dari saran kang salon langganan. Rambut saya sudah sedemikian berantakannya hingga setiap pagi selepas malamnya keramas, rambut saya akan berbau seperti habis terbakar. Sejarahnya adalah sembilan tahun dengan interval dua bulan sekali rebonding dan enam tahun dibagi enam bulan sekali pewarnaan. Ditambah cerita nenek soal saya yang tidak pernah digundul saat bayi (lantaran konon waktu itu rambut saya halus dan lebat) jadilah keinginan itu diwujudkan pada 22 Nopember silam. Penyesuaiannya berat, kadang kaget sendiri kalau tanpa sengaja melihat kaca. Menjadi sering sakit kepala di pagi hari (mungkin lantaran kepalanya masuk angin kali ye) namun perlahan semuanya teratasi.
Seminggu berselang dan melihat rambut pelan pelan tumbuh (dan kayaknya) sehat itu menyenangkan yaaaaa hahaha.
Perubahan fisik maupun mental yang terjadi paska kejadian kejadian sedih di tahun ini semoga berkelanjutan dengan baik hingga tahun tahun selanjutnya. Untuk tidak lagi mempertanyakan kinerja semesta dan berhenti untuk terlalu banyak memikirkan hal hal yang will happen when it happens. Berfokus pada apa yang terjadi hari ini dan tidak membebani diri sendiri dengan terlalu banyak what if dan rasa bersalah yang tidak habis habis. 
Untuk terus berbahagia dan tidak bersedih lama lama. 
2016 dan usia 24, bring it on!