100 Buku Untuk 2016 #Februari

Januari kemarin saya menulis entry soal kepinginan membaca 100 buku di sepanjang tahun ini. Rencananya akan mengupdate buku buku yang telah dibaca setiap akhir bulan agar ter-track down sampai penghujung tahun. Tidak semua buku yang dibaca akan dijadikan review di web ini lantaran tidak semua buku yang saya baca semenarik itu. Kalo mau cek akun goodreads saya boleh juga. Siapa tau naksir.

.

.

.

Sama bukunya.

So here we go. List buku yang sudah dibaca di bulan Februari:

  1. Si Parasit Lajang – Ayu Utami
  2. Norwegian Woods – Haruki Murakami
  3. Banda Neira – Mayon Soetrisno
  4. Penembak Misterius – Seno Gumira Ajidharma
  5. Lolita – Vladimir Nabokov
  6. The Catcher in The Rye – JD Salinger
  7. Seks dan Revolusi – Jean-Paul Sartre
  8. Adultry – Paulo Coelho
  9. Ugly – Constance Briscoe
  10. Orang Orang yang Berlawan – Wilson
  11. Melipat Jarak – Sapardji Djoko Damono

Yang menjadi highlight adalah Banda Neira dan the Catcher in the Rye yang sempat saya review di web ini. Dua puluh tiga buku dalam kurun 2 bulan rasanya ga jelek jelek banget kaaan hahaha.

Akan lebih selow di bulan Maret mengingat pekerjaan mulai memasuki musim audit, blah.

Sampit, 29 Februari 2016

Dalam pembelajaran soal the art of being alone ūüôā

Advertisements

Room

https://i2.wp.com/ia.media-imdb.com/images/M/MV5BMjE4NzgzNzEwMl5BMl5BanBnXkFtZTgwMTMzMDE0NjE@._V1__SX1303_SY582_.jpgSaya ingat sewaktu SMP saya sering sekali membaca majalah gosip langganan tante di rumah nenek. Isinya, tentu saja, gosip terkini soal artis. Di halaman tengah akan ada resep masakan -bagian favorit saya- dan di halaman halaman akhir akan ada berita berita in-depth yang menyayat perasaan. Seperti pengakuan keluarga korban tabrakan pesawat, atau penyataan isteri-anak korban kecelakaan maut dan sebagainya.

Sekali waktu, saya ingat betul, saya membaca soal perempuan yang diculik ayahnya sendiri di usia belasan lalu disekap di basement hingga 23 tahun (yes, 23 freakin years) hingga melahirkan beberapa orang anak (beberapa lainnya meninggal) dan anak perempuan mengalami perlakuan serupa seperti ibunya.

Membaca itu, saya cuma membayangkan soal ruangan gelap, sempit, dan bertahun tahun tanpa berkomunikasi dengan orang lain. Dan hari hari dilewati dengan pikiran soal apakah akan diselamatkan atau berakhir dengan kondisi seperti itu.

Room, adalah sebuah film yang mewujudkan penggambaran saya soal artikel majalah gosip berusia belasan tahun itu. Walau sejujurnya, kondisi kamar 10 kali 10 yang sebelumnya merupakan gudang itu masih jauh lebih manusiawi dibanding yang ada di pikiran saya. Brie Larson (Scott Pilgrim Vs the World) sebagai Joy Newsome sangat apik mengimpersonate seorang perempuan berusia 24 tahun yang telah disekap tujuh tahun lamanya.

Tidak ada glamorisasi berupa sikap optimis dibuat buat atau penghambaan pasrah dengan airmata di sana sini. Kehidupan di dalam kamar nyaris normal kecuali kenyataan bahwa Jack, sang anak yang berusia 5 tahun harus tidur di dalam lemari setiap malam dan mendengarkan ibunya dipukuli.

Joy marah, menangis, frustasi namun menjadi ibu untuk Jack selama lima tahun di dalam ruangan sesempit itu adalah alasan kenapa film ini kalau bisa saya kasih dua ratus jempol, saya kasih dua ratus jempol deh. Jika ingin mencari cari bloopers, ada banyak pertanyaan soal kenapa dia tidak mencoba menggeser lemari dan memecahkan atap kaca dan keluar dari sana, atau kenapa tidak mencoba menjebol dinding yang rapuh tempat tikus keluar masuk, atau kenapa begini kenapa begitu.

Saya diajak nangis saat Jack yang berusia 5 tahun mulai mempertanyakan soal apa yang nyata dan apa yang tidak. Yawla kek gimana rasanya jadi emaknya yawla.

Saya sangat, sangat beryukur karena tidak ada adegan seks di film ini. Sebab meskipun film adaptasi novel Emma Donoghue ini sepenuhnya fiksi, ceritanya mirip dengan beberapa kasus penyekapan di era 80an yang akan mematahkan hati korban jika film ini menginterpretasi trauma seksual dengan segamblang itu.

Dua pertiga film ini berisi soal kehidupan setelah Joy dan Jack berhasil diselamatkan. Iya, porsi scene demi scene yang mematahkan hati itu nampaknya memang sengaja sedikit ditampilkan. Sisanya adalah bagaimana korban menjalani hidup setelah selamat dari peristiwa memilukan semacam itu -hal yang justru sering kita lupakan-

Soal bagaimana Jack perlahan membuka diri terhadap dunia nyata (saya suka sekali sama pemeran bocah ini, narasi kepolosannya dapet, ga seperti anak anak besutan teater bablas yang kalau narasi kek lagi deklamasi puisi), bagaimana ia menghadapi manusia lain selain ibu yang dikenalnya sejak usia nol sementara manusia lain yang ia kenal hanyalah Old Nick (penculik) yang melulu menjahati ibunya. Jugasoal bagaimana Joy menghadapi pascatraumanya dan sorotan media. KEREN.

Penempatan ending yang seperti itu juga indah sekali, secara simbolik keduanya berpamitan pada Room yang telah -bagaimanapun juga- menjadi taman bermain untuk Jack lima tahun lamanya. Hiks. (*)

To be A Catcher in the Crooked Mind

IMG_20160226_091227[1]Buku ini lebih populer karena kisah tentang bukunya dibanding isi buku itu sendiri. Pembunuh John Lennon ditangkap saat sedang membawa buku ini, pun pelaku penembakan Rebecca Schaeffer di era 80an. Bukunya sempat dilarang beredar dan bahkan disebut sebut memprovokasi soal Komunisme. Alhasil, banyak review soal buku ini yang membubuhkan kata pemicu pembunuhan sebagai kalimat judul.

Saya sendiri, baru mulai membaca The Catcher in the Rye ini sebulan silam. Menemukannya di lapak dagangan onlen dan mendapati kalimat “Mengapa buku ini disukai para pembunuh?” di sampul belakang sebagai gantinya sinopsis. Kalimat ini retorikal sebab ia bukan menjelaskan isi buku, tapi turut mempertanyakan keterbetulan dua kasus pembunuhan selebritis yang melibatkan buku ini. Sepotong kalimat yang menyesatkan jika buku terbitan ini dibaca oleh yang tidak tau soal latar bukunya, atau 40-50 tahun dari sekarang.

Eniwei, buku ini berkisah soal Holden Caulfield, remaja berumur 16 tahun yang dikeluarkan dari sekolahnya dan memutuskan untuk pulang lima hari (semoga hitung hitungan saya tidak salah) lebih awal sebelum akhirnya ia pulang di hari Rabu ke apartment orang tuanya. Alasannya, ia berkelahi dengan Stradlater lantaran perempuan yang ia sukai berkencan dengan room mate-nya itu. Sisanya, adalah cerita soal apa saja yang Holden alami sebelum akhirnya pulang ke rumah dengan ending yang kentang, sejujurnya.

295 halaman dengan rentang waktu yang hanya lima hari. Bayangkan saja apa yang kira kira dibahas Salinger dalam buku ini kalau bukan monolog yang panjangnya ampun ampunan. Saya rasa buku dengan genre seperti ini menjadi popular sebab diterbitkan pada saat penulis penulis di zaman itu tengah mengulik genre yang bersifat gagasan, ideologi dan teori teori produk dari filsuf era 1900an. Ia menjadi menonjol sebab membahas psikologi klasik bernama alienasi.

Yang mana akan menjadi basi di era sekarang sebab Murakami keburu menjadi dewa atas tema semacam itu.

Holden adalah remaja pada umumnya, yang kebetulan sedikit lebih pemikir dibanding yang lain. Dua orang yang ada di lingkarannya bunuh diri sehingga sedikit banyak mempengaruhi caranya untuk melihat dunia secara optimistik. Ini adalah rangkaian kalimat umpatan yang relate dengan saya sebab begitulah saya melihat dunia. Yang lebih gemar melihat segalanya dengan sinis lagi pesimis. Yang merasa canggung dengan kebaikan dan gestur afeksi, namun sebenarnya memiliki keinginan untuk menjadi anak yang baik.

Di sepanjang buku kita akan setuju jika Holden adalah pemarah, sinis, pesimis bahkan cenderung vandal. Namun jika dibaca lebih jauh lagi, ia adalah sosok yang luar biasa sincere, baik hati, penyayang dan sangat peduli terhadap nilai nilai. Yang justru kontradiktif dengan umpatannya sendiri kepada gurunya -Spencer- saat lelaki itu menasehati Holden bahwa hidup haruslah patuh terhadap aturan aturan.

Ada satu bagian yang saya missed di buku ini. Soal Holden yang menyebutkan ia sudah belasan kali mendapat perlakuan serupa saat ada indikasi Pak Antolini gurunya menggerayanginya (hal. 267) saya sampai membaca ulang buku ini untuk memastikan apakah Holden pernah mengalami trauma seksual di masa kecilnya.

Sebab reaksi Holden setelah terbangun dan menemukan sang guru menepuk nepuk dahinya sangatlah berlebihan jika ia tidak pernah mengalami hal serupa sebelumnya. You know, protection mode based on trial and error gitu. Ditambah dengan Holden yang mendadak sakit, mual luar biasa dan merasa aspal di jalanan menelannya hidup hidup.

Saya sendiri tersenyum simpul saat di halaman belasan menemukan Holden yang tengah menyusup ke kamar kawannya, bertindak seenaknya lalu dalam sepersekian menit menatap jendela dan merasa sangat sangat kesepian hingga rasanya ingin terjun saja.

Atau saat ia ingin membuktikan sesuatu, seperti merokok, minum alkohol bahkan melakukan dansa bodoh bersama perempuan kurang menarik dan mengundang pelacur ke kamar hotel hanya untuk mendengarkan ia bicara. Jadinya saya justru ingin memeluk Holden dan berkata semuanya baik baik saja, jangan terlalu keras dengan dirimu sendiri. Sini tante jajanin.

Jadi jangan keburu lelah dengan pengulangan kata umpatan, runutan makian bahkan sikap tokoh utama yang seperti pecundang. Mungkin ia adalah kamu, adalah kita di masa lalu, masa kini atau masa mendatang. (*)

Justifikasi Pedofilia Lewat Empati

IMG_20160220_195510.jpg

Lolita adalah buku yang terlanjur populer berkat tema pedofilia yang diangkat bertahun tahun, berpuluh tahun lewat. Pembacaan ulang Lolita, kali ini dengan bersungguh sungguh setelah nyaris enam tahun lewat saat pertama kali sedemikian penasaran dengan kisah ini, berujung perasaan hambar yang mengawang awang. Seperti menelan ludah dalam mulut yang kering. Seperti dicubit di lengkung pinggul. Seperti eskrim kesukaan jatuh ke lantai.

Mencelos.

Dengan kurang ajarnya Nabokov membuatku memaklumi kelainan seks menyimpang bernama pedofilia. Isu yang diangkat memang tidak main main, soal lelaki dewasa (jika pada usia 12 tahun ia berkencan dengan Anabelle, dan kisah ini diceritakan 29 tahun kemudian saat ia bertemu dengan Lo, maka ini Humbert Humbert berusia 41 tahun) yang menyukai anak kecil kelas 1 SMP.

Kita tidak bicara soal suka seperti bapak bapak yang gemes liat anak anak bermain hujan karena ntar kebasahan. Kita bicara soal sukanya oom oom kepada dedek dedek yang re-assembled dengan cinta masa kanak kanak untuk kemudian dicintai tidak hanya satu-dua malam. Diksi atas kalimat kalimat sensual yang selalu “nyaris”, memberikan garis tipis antara literatur dan stensilan.

Stensilan juga cabang literatur sih #SaveEnnyArrow

Yang mengganggu, dan sebenarnya ini kesalahanku lantaran memilih membeli versi terjemahan karena lebih murah, adalah penerjemahan kata Nymphet menjadi Peri Asmara yang.. eum.. eum.. ganggu. Kenapa kudu Peri Asmara kek judul lagu Saiful Jamil, Kak? Kenapa? (jika hanya muncul di satu-dua chapter Hayati masih bisa terima, lah ini satu buku, SATU BUKUK!) Tujuh chapter membaca terjemahannya, aku akhirnya kudu menyerah dan melanjutkan hingga tuntas membaca buku ini via .pdf karena ya itu, ga tahan.

Satu hal lagi yang membekas dari buku ini adalah: Nabokov mengajak kita menyelami pikiran seorang pengidap pedophilia yang sociopath (berkali kali di buku ini dijabarkan bagaimana Humbert mengelabui psikiaternya hingga mendapat diagnosis “impoten” dan “schizophrenia”) sehingga tiba pada ujung, bangsatnya, pemakluman.

Dalam film dengan judul yang sama aku pernah nonton Lolita, besutan Kubrick. Waktu itu masih sedemikian abegeh sehingga menonton film ini hanya berujung kernyit di kening dan mempertanyakan soal WTF are just happened tiap Humbert menjabarkan kesukaannya pada gadis kecil.

Membacanya kembali, mungkin dengan latar mental di usia sekarang, yang kutemui justru pemakluman. Oh betapa tersiksanya Humbert dengan kondisi tidak dan tidak akan dimengerti oleh lingkungannya. Pada kesepian dan kesedihan kesedihannya, atas rasa cinta yang demikian mendalam tapi tidak bisa diungkapkan.

OKE NANINYA CURHAT!

Maksudku, orang dewasa mana yang tidak relate dengan perkara penelaahan diri dan perasaan sendiri ini. Kebingungan Humbert tidak pernah menang atas keyakinannya atas cinta kepada Lolita yang dari halaman ke halaman berubah mediumnya itu. Hingga akhirnya ia menemukannya di diri Dolores Haze, menyematkan cinta abadi di sana walaupun sang Lolita menua dan menikahi pria lain, kecintaannya pada sang gadis kecil tetap menyala.

Meski demikian, Humbert tidak digambarkan sebagai tokoh dengan semata fragile dan wajib dimaklumi. Ia toh tetap merasa ada yang salah dalam dirinya, melalui penalarannya soal ia yang seperti laba laba yang tengah memintal benang sutera untuk ‘menjebak’ sang Lolita. Tentang bagaimana ia bersemangat saat umpan atas jebakannya berhasil membawa sang gadis duduk di pangkuannya (hal 67)

Aku menyukai bagaimana Nabokov menghidupkan karakter Humbert yang tidak terjebak dalam klise dan bermain aman terhadap isu ini. Tidak ia bangun Humbert dengan cinta yang murni, subliminal dan suci tanpa nafsu duniawi. Ia justru dengan nyaring dan yakin (keyakinan ini yang membuatku susah lepas dari halaman demi halamannya) soal ia tertarik secara seksual dan jelas jelas menginginkan tubuh gadis gadis kecil itu dengan penggunaan bahasa yang sama nyaring dan meyakinkannya.

And less than six inches from me and  my  burning  life,  was  nebulous
Lolita!  After  a long stirless vigil, my tentacles moved towards her again,
and this time the creak of the mattress did not  awake  her.  I  managed  to
bring  my  ravenous  bulk  so  close to her that I felt the aura of her bare
shoulder like a warm breath upon my cheek. (page 190)

Meski demikian, Lo, Dolores Haze, Lolita bukannya sepenuhnya Nymphet yang sempurna, ia tetap anak kecil dengan segenap kelakuan kekanak kanakkannya yang sedikit banyak menimbulkan sebal pada pertengahan hingga sepertempat akhir buku. Bagaimana Humbert menjabarkan bahwa Lolitanya memanfaatkan kondisi mereka (yang saat itu sudah berhubungan seksual dan mendeklarasikan diri sebagai sepasang kekasih) dengan rengekan dan keinginan keinginan khas anak kecil.

Aku nyaris berempati jika tidak disadarkan oleh chapter soal manipulasi Humbert atas Lolita dengan ancaman soal Panti Asuhan. Buku ini adalah Roller Coaster yang menyenangkan sekaligus membuat kesal hahaha.

Bacaan yang sendu untuk Sabtu malam yang gerimis, memang. Namun membaca kembali Lolita membuatku sadar bahwa ini bukan cerita sesederhana itu. Ada lapisan lapisan penalaran psikologis yang membuatku ya itu tadi, memaklumi istilah kelainan seksual yang dimiliki sang tokoh utama.

Justifikasi yang bangkit melalui empati, indeed.(*)

Magnum Opus of Layers of Fear

http://vignette2.wikia.nocookie.net/steamtradingcards/images/b/bd/Layers_of_Fear_Logo.jpg/revision/latest?cb=20150829052843
official poster for LoF

“Kan nyebelin”

Adalah kalimat pertama yang terlontar setelah selama dua jam penuh bungkam (selain kata “Ahh!” “Fuck” “MAMAAAAAA”) saat menjajal jualan baru Steam yang rilis pada 15 Februari 2016 ini.

Layers of Fear adalah game PC/console untuk PS4 (powered by Aspyr) dengan storyline yang baik. Dibanding game dengan genre serupa (Wick, Slenderman, Inside) LoF jelas menawarkan grafis yang huwow dan tidak membosankan.

Dalam bermain game adventure dengan single-point of view begini kita biasanya bakal membuat mental map seperti “Oh abis dari ruang tamu kita bakal ke dapur, ntar abis dari dapur kita ke kamar” dst dst. Lupakan soal itu di game ini. RUMAHNYA BISA MINDAH MINDAH RUANGAN SENDIRI KAN EEK.

Aku abis naik ke attic, buka pintu eh yang muncul malah kamar di lantai dasar. Abis dari basement tiba tiba ada di kamar tidur. Belum lagi beberapa kali ketemu ruangan kosong dengan empat sudut tanpa pintu yang abis diputari sekali, langsung madep ke ruang tengah! Kondisi ruangan yang acak menambah greget(an) LoF. Sayang PewDiePie belum merilis Let’s Play video soal LoF. Kan lumayan buat bahan ketawa :))

Buatku, bermain dengan metode “Ah beli terus main aja ah” tanpa ikutan heboh di forum atau mencoba mencari tau soal game ini sebelumnya itu lebih menarik sebab banyak unsur kejutan yang engga spoiled di gamenya.

Misi player sederhana, mengitari rumah yang ada setannya sambil mencari item demi item buat mengupas layers dari lukisan paling mutakhir bikinan si pelukis yang mengidap schizophrenia, alcohol and abusive issues. Indikatornya adalah lemari dengan laci laci terkunci di ruangan kerja si pelukis yang satu per satu kebuka seiring ditemukannya petunjuk.

Permainan dari schizophrenia world-nya hantu pelukis juga menarik. Bisa masuk ke dunia kubism, nembus kaca, mendengarkan gumam si setan (God I want to have an Oculus) dst dst. Sayangnya aku bermain lewat windows laptop jadi sering lag dan mouse-nya liar banget yawla.

Overall LoF keren. Grafis, gameplay dan alur di atas rata rata, setidaknya LoF membuatku betah bermain sampai habis dan dimakan setan karena dimanjakan tiga unsur tadi. Dan adalah kesalahan bermain di malam Senin sebab akhirnya fase tidur-kebangun jadi kek cicilan KPR. Banyak banget.

The Count of Banda Neira

xxxx
Beberapa buku emang susah dicari ya, kek jodoh.

Ekspektasi awal membaca Banda Neira adalah suguhan gaya bahasa melayu dengan saduran bahasa Belanda khas Angkatan Melayu Lama mengingat latar tahun di novel Banda Neira adalah 1880an. Ternyata tidak, setelah membuka halaman pertama aku mendapat penjelasan bahwa Mayon Soetrisno lahir di tahun 1958 sehingga Banda Neira adalah sepenuhnya fiksi dengan riset sejarah yang tidak main main.

Aku rasa yang sulit dari novel dengan latar sejarah adalah bagaimana cara untuk membuatnya meyakinkan -seolah olah si tokoh betulan ada di zaman itu- tanpa melukai sejarah itu sendiri. Banda Neira menghadirkan kolonialiasi di kepulauan Banda dengan sangat baik. Dalam beberapa chapter memang terasa sangat the Count of Monte Carlo sekali mengingat referensi penjajah-perompak-pelaut terakhir yang kutonton adalah film itu (selain Pirates of Caribbean, tentu saja)

Mayon menuturkan soal kehidupan Pieter van Horn dengan latar Banda Neira era kolonial Spanyol dan Inggris dan Belanda. Men yang menjajah kita banyak banget men. Dalam kisah ini, orang Indonesia masih belum ada. Yang ada adalah Pappua, Bali, Jacatra, dan Orangkaya Orantatta dengan porsi peran yang menyedihkan. Kalo ga budak yang mati dipancung, yhaa.. gitude.

Seks memang telah dijanjikan sejak halaman pertama. Untuk melakukan emphasize soal liarnya kehidupan seks para pelaut, aku rasa ia sudah cukup hingga halaman tigaratus. Tapi tidak, adegan adegan seks terus diulang sampai tamat di halaman 508 sehingga agak sedikit membosankan. Aku sampai bisa menebak jika perempuan dan laki laki berada sekamar, atau sekadar berbincang saat makan malam, pasti bakal kejadian. Kan, enak banget :)))

Selain seks, emphasize atas maniaknya Nicolaus Speelman soal mendapatkan kepuasan seksual lebih saat menyiksa lawan jenisnya membuat adegan Speelman-memecuti-Cornelia terasa seperti ratusan kali diulang.

Selebihnya, novel (atau roman?) ini sangat menarik. Mayon mampu menarik aku ke dalam fantasi soal pulau Banda dan keindahannya, serta arsiteksi kolonial yang memesona. Aku diajak menyelam dalam ranah yang sama sekali asing dan di luar bayanganku soal Indonesia di abad 18.

Karakter yang disuguhkanpun menarik dengan latar hidup yang berlarah larah. Meski agak tertatih di awal untuk mengingat ingat ini sodaranya siapa saking banyaknya karakter yang ditawarkan di seratus halaman pertama, buku ini masih sangat enak untuk diikuti. Secara sederhana ini adalah kisah soal bagaimana Pieter van Horn membalaskan dendam ayah dan keluarganya kepada Nicolaus Speelman, sang kapten kapal penguasa Banda yang membantai 14.000 penduduk setempat demi memuaskan hasratnya terhadap kekuasaan.

Sempalan ceritanya ada istri istri dan kekasih kekasih Pieter yang buanyak banget sampe aku sebel kok laki laki ini kurang ajar sekali. Ada Eveline, anak kapten kapal Belanda yang jatuh cinta abitch sama Pieter tapi lalu mati. Atau Michiko, budak Jepang yang jatuh cinta abitch sama Pieter sampe punya anak yang dikirimkannya ke Jepang dan lalu milih buat seppuku karena ditinggal Pieter kawin sama Elizabeth anak Gubernur yang akhirnya bunuh diri karena ditinggal pergi sama Pieter yang milih buat kawin sama Cornelia.

Yawla ini Pieter cita citanya mau jadi kapten kapal apa Cassanova sik??

Sempalan lain yang paling menarik adalah Cornelia. Gadis dengan latar kisah yang membuatku sempat berhenti membaca, menghela nafas lalu mengumpulkan keberanian lagi untuk lanjut membaca. Bacalah sendiri dan kamu bakal paham kenapa pada prolog muncul dua halaman segore itu.

Sesuai yang tertulis di cover novel, Banda Neira memang lahir untuk menghidupkan erotisme dan eksotisme. Dijabarkan penuh dalam ratusan adegan seks dan bagaimana Mayon membuatmu benar benar mampu memvisualisasikan setiap latar tempat dengan keahliannya bercerita. Juga bagaimana obsesi seksual dan keimanan itu saling bergelut dan berkali kali satu di antaranya menang, ataupun kalah.

Bagian favoritku, selain bermain tebak tebakkan apakah perempuan ini akan ditiduri Pieter/Nicolaus, adalah kisah Michiko, perempuan yang diberikan sebagai hadiah untuk keluarga salah satu Orangkaya Orantatta lalu bertemu dengan Pieter. Bagaimana keduanya berproses hingga saling jatuh cinta, kalimat dan gestur yang mengandung pesan subliminal dan cara Michiko mengakhiri penderitaannya melalui Seppuku. Michiko aku padamu.

Secara sederhana Banda Neira adalah sebuah novel dengan latar sejarah yang menyegarkan, betul betul lugas dan berhasil membangun sebuah (re)konstruksi atas bagaimana negara ini di abad ke 18. Yum!

Coffee Toffee, 18 Februari 2016

Fuck you, Nicolaus Speelman.

Danish Girl of the Spotless Mind

Satu dari kegiatan favoritku sebagai pekerja urban adalah menonton film. Alasannya simpel, membaca buku jatahnya akhir pekan dan dua jam sebelum tidur menonton film bagus bisa bikin mimpi ikutan bagus. Film bagus loh ya, bukan maraton series the Walking Dead sama Game of Throne yang siaul bikin aku mimpi dikejar jombi sampe Kabupaten sebelah.

Beberapa yang menarik di pekan ini adalah 9 Songs, the Danish Girl, for Grace dan Eternal Sunshine of the Spotless Mind. Berhubung 9 Songs didonlot buat menambah koleksi bokep dan for Grace adalah film yang …meh, maka the Danish Girl dan ESotSM jadi lebih menonjol. Selain itu, kedua film ini punya satu benang merah yang sama:

Tentang bagaimana membuang bagian dari kita yang bukan “kita”.

The Danish Girl

Isu soal LGBT yang lagi heboh belakangan mengantarkan pada film soal transgender ini. Ditambah dengan From the Director of The King’s Speech and Les Miserables di posternya membuat perkara menyedot torrent film ini adalah penting. Eddie Redmayne sekali lagi membuktikan kemampuan riset yang baiknya dalam interpretasi tokoh nyata. Setelah memerankan Stephen Hawking dalam film Theory of Everything di tahun 2014, tahun 2015 dia memerankan Lili Elbe dengan, well, meyakinkan. Dan meyakinkan adalah kunci sukses sebuah interpretasi tokoh, kurasa.

Aku dibikin ikut terenyak dan tarik-embus nafas tiap Einer menyentuh baju baju perempuan. Kemampuan untuk menyuguhkan sesuatu seperti itu dalam kurun kurang dari setahun pak Redmayne lompat peran dari Stephen Hawking ke Lili Elbe adalah kerja keras sesungguhnya.

Yang mengganggu buatku justru sikap sang istri, Gerda Wegener yang kelewat selow. Aku tau latarnya adalah Denmark dan Paris di tahun 1920 awal di mana revolusi teknologi dan¬† feminisme mulai diterapkan dengan baik di sana. Isu LGBTpun sudah ada (dalam satu scene seorang di jalan menyebut Einer sebagai “lesbian”) namun patut diingat bahwa Lili adalah orang pertama yang melakukan serangkaian operasi transgender.

Karakter Gerda yang terkesan “Oh elu ternyata pengen jadi cewe? Yodah gih” itu bikin gemes. Aku menunggu momentum denial, gugat, upaya buat meluruskan dan klise lainnya jika sebagai istri nemuin suaminya ternyata mau jadi perempuan. Mungkin film ini tidak bermain di klise semacam itu, mungkin aku yang kebanyakan nonton sinetron sehingga muncul espektasi demikian.

Mengangkat kisah soal LGBT ke dalam film bukan perkara mudah, banyak film film yang gagal dan jatuh pada klise hingga tanpa sengaja menghina komunitas LGBT itu sendiri. Seolah cuma ada dua cara untuk mengantarkannya; melalui komedi satir atau penelaahan serius.

Untungnya, the Danish Girl masuk ke yang kedua. Ini film serius dengan penggarapan tidak main main sehingga mampu mengantarkan pesan yang benar soal keadaan psikologis tokoh. Aku diajak merasakan keinginan untuk diakui, hasrat dan penalaran soal ‘sesuatu yang memuncak dan tidak bisa dibendung lagi’ hingga dua jam penuh. Soal trauma atas ‘penyembuhan’ dengan radiasi bahkan bisa disampaikan tanpa dialog. Touch√©!

Eternal Sunshine of the Spotless Mind

https://i1.wp.com/schmoesknow.com/wp-content/uploads/2014/08/poster-eternal-sunshine-of-the-spotless-mind.jpg

Ini adalah film lawas yang aku tonton di tahun 2006 kalo ga salah. Begitu buram ingatan soal film ini, aku tonton lagi dan akhirnya ngeh soal isi ceritanya. Yang membuat film ini menarik selain nama besar pemain pemainnya, ide filmnya juga menarik.

Soal bagaimana cara membuang kenangan yang bakal bikin susah move on.

Metodenya dibikin sedemikian masuk akal sampai aku lupa ini sci-fi hahaha. Sebagai film drama tentu dia menghibur, sebagai film komedi tentu bakal tertawa berkat akting Mark Ruffalo dan Kirsten Dunst yang ucuw banet. Sebagai film romantis ia juga sukses dengan buanyaknya quote yang bisa diposting di media sosial kalo lagi baper.

Jim Carey dan Kate Winslet juga menarik, karakter Clementine utamanya. Masuk ke hidup orang tanpa dinyana lalu pergi begitu saja. LALU MAIN APUS APUS KENANGAN BEGITU AJA LAGIH. Oke. Uhuk.

Paling suka justru bagaimana Stan sama Mary akhirnya barengan. Dan bagaimana kok ndilalah Elijah Wood (Patrick) bisa jadian sama Clementine padahal dia teknisi buat ngapus ngapusin kenangan orang!