Bolehkah Menjadi Jahat?

Betapa membosankannya semua dongeng jika tidak ada sosok yang disalahkan, yang menjadi masalah, yang berbuat salah. Bayangkan seperti apa rupa sinetron Indonesia jika tidak ada satupun tokoh berdandan menor dengan suara tinggi dan bermisi tunggal; merepresentasikan tujuh dosa manusia dalam sekali waktu.Jika bukan karena merasa benar, tidak akan ada manusia yang berbuat jahat.

Perasaan benar akan menimbulkan pembenaran, semacam kebenaran, namun hanya untuk konsumsi pribadi. Sebetulnya membahas soal ‘kejahatan’ itu sendiri rasanya menarik, apa yang membuat kita menyimpulkan satu kejahatan dan memberi vonis jahat kepada pelakunya. Sayangnya tulisan ini akan menjadi semakin panjang dam semakin membosankan untuk dibaca.

Kita simpulkan saja, kejahatan adalah label atas tindakan yang tidak sesuai norma (hukum, agama, adat dan susila), yang meresahkan lagi merugikan orang banyak dan pelakunya wajib menanggung konsekuensi berupa hukuman sesuai norma yang diberlakukan. Urusan menjadi jahat dan hubungannya dengan masyarakat sudah jelas, sekarang kembali ke soal pembenaran untuk berbuat jahat.

Seseorang pernah memberitau saya bahwa esensi dari hidup dan berbuat kebaikan itu ada tiga. Tidak merugikan orang lain, tidak menyakiti harga diri orang lain, dan tidak merusak lingkungan. Jika satu saja terlanggar, maka itu sesungguhnya adalah kejahatan. Sebelum menengok terlalu jauh kepada pelaku kriminal, saya rasa dalam setiap langkah, manusia sadar atau tidak sudah berbuat jahat.

Manusia memiliki sub conscious, suara kecil dalam kepala yang membantu kita mempertimbangkan baik buruk sebuah tindakan. Suara ini kemudian sering muncul dalam kartun jadul berupa setan dan malaikat yang berdiri di bahu dan saling membisiki. Biasanya, sang malaikat menang.

Namun perkenalkan sisi dalam kepala dengan suara lebih lantang bernama ego. Karena kita butuh merasa lepas dari rasa bersalah, ego akan membuatkan pembenaran atas tindakan yang merugikan, menyakiti harga diri orang lain dan merusak lingkungan. Dan biasanya, suara paling lantanglah yang terdengar.

ditemukan di sini

“Ah, telat dikit doang gini. Klien juga sering bikin gue nunggu, sekali kali bikin bawahan cengo di lokasi meeting gapapalah”

“Ya kan aku niatnya becanda. Dia juga pasti ngerti, kita kan temen. Lagian emang bener kok, dengan badan kaya gitu di duduk di situ bisa aja kursinya patah…”

“Sampah seupil gini ga bakal ngaruh sama banjir bandang”

Butuh waktu empat bulan bagi saya untuk berhenti mengelak dan mencari cari pembenaran atas hal jahat yang telah saya lakukan. Juli lalu saya menyakiti orang lain, mengkhianati kepercayaan, dan sebagainya dengan pergi begitu saja dari tempat saya bekerja di Jakarta.

Pembenaran pembenaran yang saya buat, alih alih menenangkan, ia justru menjadi beban. Saya terus berlindung dalam pernyataan “Tapi kan, gue ga nyaman ada di sana” seolah itu adalah hal besar yang akan mengubah Jakarta menjadi neraka jika dalam segera tidak ditemukan solusinya. Saya menyeret koper  dan melangkah ke bandara dengan ego yang besarnya melebihi diri saya sendiri. Lalu pergi, begitu saja.

Tidak ada cara lain selain memaafkan diri saya sendiri. Beberapa hal yang terjadi saya kompromikan sebagai konsekuensi atas tindakan saya dan sekarang, saya telah berdamai dengan diri sendiri. Sedang menata kembali mimpi dan merencanakannya dengan matang. Hebatnya, setelah semua yang terjadi, ternyata saya masih ingin menjadi penulis.

 

***

Lalu satu berita datang dari Bandung, tentang masjid Ahmadiyah yang dirusak FPI. Apakah Ahmadiyah telah melanggar suatu norma (hukum, agama, adat dan asusila)? jawabnya (sayang sekali) adalah iya, norma agama yang disuarakan melalui fatwa MUI bahwa Ahmadiyah adalah sesat dan diluar islam. Tapi apakah Ahmadiyah merugikan orang lain, menyakiti harga diri orang lain dan merusak lingkungan?

Semua orang memiliki versi jawabannya sendiri dan saya yakin betul yang paling popular adalah ini; Ahmadiyah menyakiti harga diri umat muslim dan menginjak sakralitas nabi muhammad sebagai nabi terakhir. Tapi betulkah itu yang seluruh umat muslim rasakan atau hanya pendapat pribadi? Manusia tidak akan pernah menjadi individu yang merdeka pikirannya jika dalam memutuskan sikappun masih harus melalui approval dan persamaan visi dengan sang alpha dog.

Terlepas dari itu semua, negara ini pastilah punya regulasi hukum untuk pelanggaran norma agama. Membiarkan FPI mengambil alih proses penghukuman secara barbar dan tanpa keadilan bukanlah refleksi dari negara hukum yang konon katanya berasas demokrasi.

Jika setiap kubu, setiap individu memiliki pembenarannya sendiri atas sikap sikap jahat yang dianggap sebagai perbuatan ‘wajar’, sesungguhnya kita sudah mencapai esensi sebagai penerus nenek moyang. Menjadi manusia yang membuat dirinya dan seluruh keturunannya terusir dari surga demi memenuhi suara terlantang di dalam kepala bernama ego.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s