Etika Bunuh Diri

https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/236x/86/f2/12/86f21210c874be36435da6ba13d7800e.jpgBerkat CSI: NY 7 tadi malam dan situs ini, ditambah berita di koran lokal soal percobaan bunuh diri seorang istri yang menuduh suaminya selingkuh, aku sukses mikirin soal per-bunuhdiri-an sepanjang hari. Kasus bunuh diri terbanyak yang tercatat ada di negara Jepang. Sampe ada satu gunung yang terkenal gegara banyaknya temuan mayat mayat orang yang bunuh diri di sana. Ada satu kalimat menarik dari situs di atas:

Hampir semua orang dalam hidupnya pernah memiliki pikiran “lebih baik saya mati saja”, “kalau saya mati, saya tidak usah menghadapi segala persoalan rumit ini”, “mati tampaknya lebih menyenangkan”, “kalau saya mati, saya akan lepas dari penderitaan ini” dan sebagainya.

Dan rasa rasanya, kalimat ini ada benarnya. Terlepas dari sekian banyak teori mengenai penyebab bunuh diri, kausal kausal yang muncul dari hal ini rasanya sederhana saja. “Aku-ingin-mati”. Alasannya, bisa ribuan. Berita lokal yang kubaca pagi ini menjabarkan bahwa penyebab sang istri menyayat nadinya adalah sakit hati sang suami berselingkuh. Beberapa tahun lalu, dalam sebuah liputan, aku menemui bocah SMP yang menggantung dirinnya berkat sang ayah yang terus memukuli ibunya.

Manusia, hadir dengan segala kompleksitasnya. Ini menyebabkan kita sebagai manusia memiliki kecenderungan berperasaan yang berbeda beda. Ada yang perasa ada yang biasa biasa saja, ada yang peka ada yang tebal muka. Di CSI, tokoh yang bunuh diri rupanya memiliki kelainan genetik turunan yang menyebabkannya depresi tanpa sebab.

“You have money, you have the look. Why you so sad?”

Jika berbicara dari perspektif agama, bunuh diri adalah satu dari 70 dosa besar dalam islam. Bahwa pelakunya akan menempati neraka selama lamanya, tak berampun. Hukum dalam agama adalah mutlak, haram ya haram halal ya halal. Tidak ada istilah bargaining dalam sesuatu yang dinamakan dosa.

Aku tidak akan memperpanjang postingan kali ini jika ingin berbicara dari sudut agama. Dosa ya dosa, jangan dilakukan.

Lalu bagaimana dengan euthanasia? Bukannya ini juga termasuk dalam golongan bunuh diri? memutus hidup dengan pertimbangan kesehatan. Kenapa pelaku bunuh diri lekat dengan predikat pecundang? kenapa begitu erat dikaitkan dengan termal; “seseorang yang kalah dalam berjuang?”

Padahal, ada masanya di mana bunuh diri justru menjadi pembuktian dedikasi, harga diri dan bahkan, kejantanan. Ada Jepang dengan harakiri dan para istri di India yang turut membakar dirinya saat sang suami dikremasi, demi apa yang disebut sebagai loyaliti. Semacam downgrade kah? penurunan nilaikah?

Aku tidak bertujuan menulis pembenaran atau larangan atas bunuh diri. Ini bukan perkara pro dan kontra. Faktor budaya harus diakui merupakan landasan atas pertimbangan memilih pro maupun kontra. Seseorang dengan latar lingkungan agamis mungkin akan mengutuk. Seseorang dengan latar nihilis mungkin akan beranggapan biasa saja. Seseorang dengan nilai individualis tinggi mungkin beranggapan “Toh itu hidupnya, aku tidak peduli,”

Ini mungkin akan terdengar konyol, tapi adegan ending di CSI itu bagiku ada benarnya. Semua orang memberikan penghakiman atas keputusan bunuh diri seseorang. Tidak hanya orang terdekat, namun juga orang orang asing yang mungkin tau kabarnya hanya dari membaca surat kabar ataupun menonton televisi. Semua orang muncul dengan teorinya sendiri sendiri. Tentang keputusasaannya terhadap hidup, tentang sikapnya yang kurang jantan lantaran kalah atas perjuangan hidup dan sebagainya.

Apakah jika mereka, para penghakim, melihat alasan bunuh diri si tokoh bukan karena depresi, namun lantaran sesuatu yang meluncur dari vonis seorang kardiolog, atau sesuatu yang muncul dalam MRI, putusan putusan penghakiman itu akan berubah? Depresi bukan soal mudah, merasa sedih tanpa alasan itu menyakitkan, tokoh dalam CSI digambarkan menenggak banyak obat anti depressant sebelum kematiannya. Dan siapa bilang depresi bukan penyakit?

Aku pernah membaca sebuah kisah, waktu SD, mungkin, rasanya sudah lama sekali. Seorang perempuan akan diperkosa dan dia menggigit lidahnya sampai mati. Pelakunya tidak jadi memperkosanya dan meninggalkan mayatnya. Berita tentang perempuan yang bunuh diri ini tersebar, semua orang mengutuk sang perempuan sampai akhirnya pelaku percobaan pemerkosaan itu muncul ke media dan mengaku. Ia tidak dihukum, namun para pengutuk terdiam dan malah bersimpati.

Kesimpulannya sederhana saja, untuk tidak terlalu mudah menarik kesimpulan atas apa yang terlihat buruk di permukaan. Aku sering lupa bahwa simpulan baik-buruk sangat bergantung pada perspektif dan kesepakatan sosial (tentu di sini saya mengeliminasi doktrin agama yang terlalu hitam putih untuk disetarakan pada masyarakat abu abu). Lebih dari itu, seberapa jauh sebenarnya kita menjadi penghakim atas keputusan orang lain?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s