Menjadi Peluru

Nama Wiji Thukul pertama kali kudengar bertahun lalu. Saat kelas satu SMA, kalau tak salah. Di dalam buku Membedah Kesusastraan, Mahasiswa Bertanya Sastrawan Menjawab tahun 2006. Seingatku, nama Wiji Thukul dikategorikan ke dalam sastra kerakyatan dalam buku itu. Sastra kerakyatan adalah istilah untuk cabang kepenulisan dengan tema pergerakan dan perlawanan utamanya kelas akar rumput kepada kapitalis.

Atau kemiskinan.

Aku sendiri baru berkesempatan membaca buku kumpulan puisi miliknya (Aku Ingin Menjadi Peluru) yang terbit tahun 2000 itu pada bulan lalu. Sepuluh tahun terlambat. Itupun kalau tidak seorang kawan menjualnya di pasar buku Facebook miliknya, niscaya aku tak akan pernah menyesapi keluarbiasaan buku ini (deuh lebay pisannn)

Tak perlu rasanya kutulis mengenai biografi Wiji Tukul di postingan ini. Dunia sastra Indonesia tidak mungkin asing dengan namanya. Aku cuma ingin membagi kesan kesanku selepas membaca buku ini.

Ada lebih dari belasan line yang kusukai dari buku ini. Secara personal, Aku menyukai keseluruhan buku. Entah ada hubungan dengan kegemaranku menulis sajak sajak getir khas orang miskin, atau memang buku ini memiliki magnitude besar yang tak pelak membuat siapapun penikmatnya suka.

Salah satu kalimat yang (jujur saja) membuatku sedih tak karuan adalah

“Aku tak akan mengakui kesalahanku

Karena berfikir merdeka bukanlah kesalahan

Bukan dosa bukan aib bukan cacat

yang harus disembunyikan”

Merontokkan Pidato – Wiji Thukul

Betapa mengerikannya pemerintahan kala itu (tulisan berkisar antara tahun 80-90an awal). Betapa karya sastra (pun sastrawan) semacam menjadi momok kala itu. Wiji Thukul adalah penulis sajak! sajak bukan essai bukan pledoi yang bisa menumbangkan seseorang. Sajak, kemudian dicetuskan sebagai karya sastra berbasis fiksi. Negara yang takut terhadap fiksi sungguh merupakan negara yang tidak layak dihormati.

Tapi tak bisa dipungkiri, perjuangan melalui sastra dianggap paling ampuh untuk menggalang massa kala itu. Betapa banyak orasi mahasiswa yang di’produseri’ puisi dan sajak berapi api. Kala itu, pers yang dianggap vokal turut di bredel (editor, detik, tempo). Kumpulan puisi ini, konon ditulis Wiji saat dia dalam pelarian.

Hingga akhirnya, tahun 1996, ia diputuskan sebagai ‘Yang Hilang Secara Misterius’. Ia menjadi buron lantaran berpuisi. Bukti bahwa pemerintahan kala itu sungguh paranoia dan obsesif gila gilaan terhadap kekuasaan. Dan betapa mengerikannya pelanggaran HAM yang meraja kala itu. Orba, bagaimanapun merupakan bagian dari sejarah kelam perpolitikkan bangsa.

Hmm.. mungkin yang juga menarik dari Wiji adalah kejeniusannya memutar kata dan menemukan banyak hook hook menarik dalam sajaknya. Satir, getir, pahitnya kemiskinan disulap menjadi sebuah pasar malam. Penuh hiburan (dengan perpseksi miskin, tentu saja) dan rasa tergelitik untuk turut menertawakan pemerintah. Juga, tentu saja, pembangkit semangat juang nomor wahid. Mengurai kemiskinan tanpa menimbulkan kesan cengeng dan mengada ada.

Juang untuk lepas dari miskin, Juang lepas dari pemimpin zalim.

PENGUASA KEMBALIKAN BAPAKKU!

Fitri Nganthi Wani – Putri Wiji Thukul dalam puisi Pulanglah, Pak

P.S : Masih menghasrati Nagabumi – Seno Gumira Ajidharma dan Tanah Tabu-nya Anindhita S. Juga Pledoi Sastra Kontroversi Cerpen Langit Makin Mendung Kipandjikusmin.

Ah saya ini banyak maunya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s