When the Lonely Game Gone Too Far

https://rusnanianwardotcom.files.wordpress.com/2016/02/9d9ed-great_expectations_by_charles_dickens.jpg?w=250&h=406Menemukan novel ini berkat lagu the Beatles – Eleanor Rigby. Seperti yang saya tulis di sini, bisa jadi inilah lagu milik beatles yang paling saya suka. Lagu tentang orang orang yang kesepian.
Apa yang lebih sepi dari duduk diam dan tidak berbicara kepada siapapun selama 40 tahun? Ms. Havisham adalah perempuan yang mewarisi seluruh harta ayahnya -seorang Earl- dan ibunya meninggal saat ia masih bayi. Tanpa saudara, Ms. Havisham menghabiskan masa mudanya di kastil (catatan; setting di tahun 1891) dan akhirnya jatuh cinta pada Compeyson (Compassion?) pria yang mengejar hartanya.

Kerabatnya sudah memperingatkan perempuan muda itu soal Compeyson. Tapi namanya cinta, Ms. Havisham keukeh dan akhirnya ditinggalkan di altar. Dua puluh menit sebelum pukul sembilan, pernikahannya. Patah hati, Ms. Havisham mengurung diri di dalam kastilnya, mematikan semua jam dan duduk di sebuah kursi di depan perapian hingga tua tanpa melepas gaun dan kerudung pernikahannya.

Hingga kemudian ia meninggal setelah ujung gaunnya terkena percikan api dari perapian. Iya, ini spoiler.

Yang mengurus kehidupan Ms. Havisham adalah anak angkatnya, Estella. Anak angkatnya lalu dititipkan ke pengacaranya dan kembali ketika Estella sudah dewasa. Anak angkatnya tumbuh menjadi perempuan cantik, dan Miss Havisham mengajarinya untuk mematahkan hati setiap pria yang menyukainya.

But as she grew, and promised to be very beautiful, I gradually did worse, and with my praises, and with my jewels, and with my teachings, and with this figure of myself always before her a warning to back and point my lessons, I stole her heart away and put ice in its place.

Lalu, well, tidak ada akhir yang bahagia untuk novel berjudul Great Expectations ini. Miss Havisham mati setelah menderita luka bakar, Estella menikah dengan pria yang tidak dicintainya hanya karena ingin membuat Pip, pria yang jatuh cinta padanya patah hati (dan berhasil, Pip mengalami penderitaan yang sama seperti Miss Havisham, membuat perempuan itu tersentuh dan meminta maaf)

Sejak awal hingga pertengahan novel ini bercerita tentang Pirrip -Pip- dengan sudut pandang orang pertama serba tahu. Sampai akhirnya Pip bertemu dengan Estella dan darinyalah kisah tentang ibunya, Miss Havisham meluncur. Dickens, seolah ikhlas membiarkan Pip sang tokoh utama tidak menjadi semenarik Miss Havisham. Sebab setelah membaca Great Expectations, yang akan senantiasa diingat adalah Miss Havisham, bukan Pip.

Dan konon miss Havisham adalah tokoh nyata bernama Eliza Emily Donnithorne (1827–1886) dari sydney. Ia ditinggalkan di altar pada hari pernikahannya. Emily menutup semua jendela dan duduk diam dengan tetap mengenakan gaun pengantin sementara makanan dan kue untuk pesta dibiarkan membusuk. Namun sebuah pintu, yang kerap digunakan calon pengantin prianya saat datang ke rumah Emily, dibiarkan terbuka. Dengan harapan pria yang dicintainya itu akan kembali dan menikah dengannya.

Cocok dibaca sambil tiduran dengan perut dalam keadaan kenyang. Kalau bisa konsen membaca sambil mendengarkan musik (saya ga pernah bisa berlaku seromantis itu, selalu bubar konsentrasinya) cobalah lagu lagu klasik semacam nomor nomor waltz dan tentu saja, Eleanor Rigby-nya the Beatles.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s