Justifikasi Pedofilia Lewat Empati

IMG_20160220_195510.jpg

Lolita adalah buku yang terlanjur populer berkat tema pedofilia yang diangkat bertahun tahun, berpuluh tahun lewat. Pembacaan ulang Lolita, kali ini dengan bersungguh sungguh setelah nyaris enam tahun lewat saat pertama kali sedemikian penasaran dengan kisah ini, berujung perasaan hambar yang mengawang awang. Seperti menelan ludah dalam mulut yang kering. Seperti dicubit di lengkung pinggul. Seperti eskrim kesukaan jatuh ke lantai.

Mencelos.

Dengan kurang ajarnya Nabokov membuatku memaklumi kelainan seks menyimpang bernama pedofilia. Isu yang diangkat memang tidak main main, soal lelaki dewasa (jika pada usia 12 tahun ia berkencan dengan Anabelle, dan kisah ini diceritakan 29 tahun kemudian saat ia bertemu dengan Lo, maka ini Humbert Humbert berusia 41 tahun) yang menyukai anak kecil kelas 1 SMP.

Kita tidak bicara soal suka seperti bapak bapak yang gemes liat anak anak bermain hujan karena ntar kebasahan. Kita bicara soal sukanya oom oom kepada dedek dedek yang re-assembled dengan cinta masa kanak kanak untuk kemudian dicintai tidak hanya satu-dua malam. Diksi atas kalimat kalimat sensual yang selalu “nyaris”, memberikan garis tipis antara literatur dan stensilan.

Stensilan juga cabang literatur sih #SaveEnnyArrow

Yang mengganggu, dan sebenarnya ini kesalahanku lantaran memilih membeli versi terjemahan karena lebih murah, adalah penerjemahan kata Nymphet menjadi Peri Asmara yang.. eum.. eum.. ganggu. Kenapa kudu Peri Asmara kek judul lagu Saiful Jamil, Kak? Kenapa? (jika hanya muncul di satu-dua chapter Hayati masih bisa terima, lah ini satu buku, SATU BUKUK!) Tujuh chapter membaca terjemahannya, aku akhirnya kudu menyerah dan melanjutkan hingga tuntas membaca buku ini via .pdf karena ya itu, ga tahan.

Satu hal lagi yang membekas dari buku ini adalah: Nabokov mengajak kita menyelami pikiran seorang pengidap pedophilia yang sociopath (berkali kali di buku ini dijabarkan bagaimana Humbert mengelabui psikiaternya hingga mendapat diagnosis “impoten” dan “schizophrenia”) sehingga tiba pada ujung, bangsatnya, pemakluman.

Dalam film dengan judul yang sama aku pernah nonton Lolita, besutan Kubrick. Waktu itu masih sedemikian abegeh sehingga menonton film ini hanya berujung kernyit di kening dan mempertanyakan soal WTF are just happened tiap Humbert menjabarkan kesukaannya pada gadis kecil.

Membacanya kembali, mungkin dengan latar mental di usia sekarang, yang kutemui justru pemakluman. Oh betapa tersiksanya Humbert dengan kondisi tidak dan tidak akan dimengerti oleh lingkungannya. Pada kesepian dan kesedihan kesedihannya, atas rasa cinta yang demikian mendalam tapi tidak bisa diungkapkan.

OKE NANINYA CURHAT!

Maksudku, orang dewasa mana yang tidak relate dengan perkara penelaahan diri dan perasaan sendiri ini. Kebingungan Humbert tidak pernah menang atas keyakinannya atas cinta kepada Lolita yang dari halaman ke halaman berubah mediumnya itu. Hingga akhirnya ia menemukannya di diri Dolores Haze, menyematkan cinta abadi di sana walaupun sang Lolita menua dan menikahi pria lain, kecintaannya pada sang gadis kecil tetap menyala.

Meski demikian, Humbert tidak digambarkan sebagai tokoh dengan semata fragile dan wajib dimaklumi. Ia toh tetap merasa ada yang salah dalam dirinya, melalui penalarannya soal ia yang seperti laba laba yang tengah memintal benang sutera untuk ‘menjebak’ sang Lolita. Tentang bagaimana ia bersemangat saat umpan atas jebakannya berhasil membawa sang gadis duduk di pangkuannya (hal 67)

Aku menyukai bagaimana Nabokov menghidupkan karakter Humbert yang tidak terjebak dalam klise dan bermain aman terhadap isu ini. Tidak ia bangun Humbert dengan cinta yang murni, subliminal dan suci tanpa nafsu duniawi. Ia justru dengan nyaring dan yakin (keyakinan ini yang membuatku susah lepas dari halaman demi halamannya) soal ia tertarik secara seksual dan jelas jelas menginginkan tubuh gadis gadis kecil itu dengan penggunaan bahasa yang sama nyaring dan meyakinkannya.

And less than six inches from me and  my  burning  life,  was  nebulous
Lolita!  After  a long stirless vigil, my tentacles moved towards her again,
and this time the creak of the mattress did not  awake  her.  I  managed  to
bring  my  ravenous  bulk  so  close to her that I felt the aura of her bare
shoulder like a warm breath upon my cheek. (page 190)

Meski demikian, Lo, Dolores Haze, Lolita bukannya sepenuhnya Nymphet yang sempurna, ia tetap anak kecil dengan segenap kelakuan kekanak kanakkannya yang sedikit banyak menimbulkan sebal pada pertengahan hingga sepertempat akhir buku. Bagaimana Humbert menjabarkan bahwa Lolitanya memanfaatkan kondisi mereka (yang saat itu sudah berhubungan seksual dan mendeklarasikan diri sebagai sepasang kekasih) dengan rengekan dan keinginan keinginan khas anak kecil.

Aku nyaris berempati jika tidak disadarkan oleh chapter soal manipulasi Humbert atas Lolita dengan ancaman soal Panti Asuhan. Buku ini adalah Roller Coaster yang menyenangkan sekaligus membuat kesal hahaha.

Bacaan yang sendu untuk Sabtu malam yang gerimis, memang. Namun membaca kembali Lolita membuatku sadar bahwa ini bukan cerita sesederhana itu. Ada lapisan lapisan penalaran psikologis yang membuatku ya itu tadi, memaklumi istilah kelainan seksual yang dimiliki sang tokoh utama.

Justifikasi yang bangkit melalui empati, indeed.(*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s