Menjadi Peluru

Nama Wiji Thukul pertama kali kudengar bertahun lalu. Saat kelas satu SMA, kalau tak salah. Di dalam buku Membedah Kesusastraan, Mahasiswa Bertanya Sastrawan Menjawab tahun 2006. Seingatku, nama Wiji Thukul dikategorikan ke dalam sastra kerakyatan dalam buku itu. Sastra kerakyatan adalah istilah untuk cabang kepenulisan dengan tema pergerakan dan perlawanan utamanya kelas akar rumput kepada kapitalis.

Atau kemiskinan.

Aku sendiri baru berkesempatan membaca buku kumpulan puisi miliknya (Aku Ingin Menjadi Peluru) yang terbit tahun 2000 itu pada bulan lalu. Sepuluh tahun terlambat. Itupun kalau tidak seorang kawan menjualnya di pasar buku Facebook miliknya, niscaya aku tak akan pernah menyesapi keluarbiasaan buku ini (deuh lebay pisannn)

Tak perlu rasanya kutulis mengenai biografi Wiji Tukul di postingan ini. Dunia sastra Indonesia tidak mungkin asing dengan namanya. Aku cuma ingin membagi kesan kesanku selepas membaca buku ini.

Ada lebih dari belasan line yang kusukai dari buku ini. Secara personal, Aku menyukai keseluruhan buku. Entah ada hubungan dengan kegemaranku menulis sajak sajak getir khas orang miskin, atau memang buku ini memiliki magnitude besar yang tak pelak membuat siapapun penikmatnya suka.

Salah satu kalimat yang (jujur saja) membuatku sedih tak karuan adalah

“Aku tak akan mengakui kesalahanku

Karena berfikir merdeka bukanlah kesalahan

Bukan dosa bukan aib bukan cacat

yang harus disembunyikan”

Merontokkan Pidato – Wiji Thukul

Betapa mengerikannya pemerintahan kala itu (tulisan berkisar antara tahun 80-90an awal). Betapa karya sastra (pun sastrawan) semacam menjadi momok kala itu. Wiji Thukul adalah penulis sajak! sajak bukan essai bukan pledoi yang bisa menumbangkan seseorang. Sajak, kemudian dicetuskan sebagai karya sastra berbasis fiksi. Negara yang takut terhadap fiksi sungguh merupakan negara yang tidak layak dihormati.

Tapi tak bisa dipungkiri, perjuangan melalui sastra dianggap paling ampuh untuk menggalang massa kala itu. Betapa banyak orasi mahasiswa yang di’produseri’ puisi dan sajak berapi api. Kala itu, pers yang dianggap vokal turut di bredel (editor, detik, tempo). Kumpulan puisi ini, konon ditulis Wiji saat dia dalam pelarian.

Hingga akhirnya, tahun 1996, ia diputuskan sebagai ‘Yang Hilang Secara Misterius’. Ia menjadi buron lantaran berpuisi. Bukti bahwa pemerintahan kala itu sungguh paranoia dan obsesif gila gilaan terhadap kekuasaan. Dan betapa mengerikannya pelanggaran HAM yang meraja kala itu. Orba, bagaimanapun merupakan bagian dari sejarah kelam perpolitikkan bangsa.

Hmm.. mungkin yang juga menarik dari Wiji adalah kejeniusannya memutar kata dan menemukan banyak hook hook menarik dalam sajaknya. Satir, getir, pahitnya kemiskinan disulap menjadi sebuah pasar malam. Penuh hiburan (dengan perpseksi miskin, tentu saja) dan rasa tergelitik untuk turut menertawakan pemerintah. Juga, tentu saja, pembangkit semangat juang nomor wahid. Mengurai kemiskinan tanpa menimbulkan kesan cengeng dan mengada ada.

Juang untuk lepas dari miskin, Juang lepas dari pemimpin zalim.

PENGUASA KEMBALIKAN BAPAKKU!

Fitri Nganthi Wani – Putri Wiji Thukul dalam puisi Pulanglah, Pak

P.S : Masih menghasrati Nagabumi – Seno Gumira Ajidharma dan Tanah Tabu-nya Anindhita S. Juga Pledoi Sastra Kontroversi Cerpen Langit Makin Mendung Kipandjikusmin.

Ah saya ini banyak maunya!

Advertisements

Bermain Cita Cita

“Mari bermain cita cita”

Seorang guru berseru pada Selasa pagi

Di sebuah sekolah kumuh,

Dengan murid murid berseragam lusuh,

Dengan dana remah remah anggaran daerah

Puluhan bocah empat SD, bergemuruh, beberapa bertepuk tangan

Satu per satu ditanyai ingin menjadi apa

Berloncatan senang, masing masing punya jawaban

Dokter-astronot-artis-hingga presiden dilontarkan

Ada yang memukul mukul meja,

Tak sabar menunggu cita citanya terpapar

Amin diam,

Tak bergeming kala sang guru mengetuk ngetukkan ujung sepatu, menunggu

“Saya tak punya cita cita Pak, lihat nanti saja”

Gumam menggumam, tawa cela memburai seketika

Ruang kelas gaduh, Amin dihukum berdiri di depan kelas

Karena tak punya cita cita

Puluhan tahun lewat, tak ada satupun kawan kelasnya yang menjadi dokter-astronot-artis

Lebih lebih presiden

Satu satu mati, ada yang bolong kepalanya ditembak, gara gara bertatto

Ada yang mati kesetrum, kala menjaja asongan di atas atap kereta

Ada yang mati beranak, semata tak mampu ikut KB

Tak pula ada yang menjadi dokter bertatto

Astronot kemudi kereta

Atau bahkan artis dengan anak kelewat banyak

Amin, mengais sisa sisa sampah rumah mewah

Sekolahnya tak tuntas, SD-nya diratakan di tahun ke lima

Deru menderu, bisik membisik sampaikan padanya

Kawannya yang ingin jadi presiden mati

Ketangkapan warga sekampung mencuri televisi

Kais mengais, sampah yang bisa dimakan

Gumam pelan Amin tak tertangkap udara

“Hidup kok kebanyakan cita cita..”

Etika Bunuh Diri

https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/236x/86/f2/12/86f21210c874be36435da6ba13d7800e.jpgBerkat CSI: NY 7 tadi malam dan situs ini, ditambah berita di koran lokal soal percobaan bunuh diri seorang istri yang menuduh suaminya selingkuh, aku sukses mikirin soal per-bunuhdiri-an sepanjang hari. Kasus bunuh diri terbanyak yang tercatat ada di negara Jepang. Sampe ada satu gunung yang terkenal gegara banyaknya temuan mayat mayat orang yang bunuh diri di sana. Ada satu kalimat menarik dari situs di atas:

Hampir semua orang dalam hidupnya pernah memiliki pikiran “lebih baik saya mati saja”, “kalau saya mati, saya tidak usah menghadapi segala persoalan rumit ini”, “mati tampaknya lebih menyenangkan”, “kalau saya mati, saya akan lepas dari penderitaan ini” dan sebagainya.

Dan rasa rasanya, kalimat ini ada benarnya. Terlepas dari sekian banyak teori mengenai penyebab bunuh diri, kausal kausal yang muncul dari hal ini rasanya sederhana saja. “Aku-ingin-mati”. Alasannya, bisa ribuan. Berita lokal yang kubaca pagi ini menjabarkan bahwa penyebab sang istri menyayat nadinya adalah sakit hati sang suami berselingkuh. Beberapa tahun lalu, dalam sebuah liputan, aku menemui bocah SMP yang menggantung dirinnya berkat sang ayah yang terus memukuli ibunya.

Manusia, hadir dengan segala kompleksitasnya. Ini menyebabkan kita sebagai manusia memiliki kecenderungan berperasaan yang berbeda beda. Ada yang perasa ada yang biasa biasa saja, ada yang peka ada yang tebal muka. Di CSI, tokoh yang bunuh diri rupanya memiliki kelainan genetik turunan yang menyebabkannya depresi tanpa sebab.

“You have money, you have the look. Why you so sad?”

Jika berbicara dari perspektif agama, bunuh diri adalah satu dari 70 dosa besar dalam islam. Bahwa pelakunya akan menempati neraka selama lamanya, tak berampun. Hukum dalam agama adalah mutlak, haram ya haram halal ya halal. Tidak ada istilah bargaining dalam sesuatu yang dinamakan dosa.

Aku tidak akan memperpanjang postingan kali ini jika ingin berbicara dari sudut agama. Dosa ya dosa, jangan dilakukan.

Lalu bagaimana dengan euthanasia? Bukannya ini juga termasuk dalam golongan bunuh diri? memutus hidup dengan pertimbangan kesehatan. Kenapa pelaku bunuh diri lekat dengan predikat pecundang? kenapa begitu erat dikaitkan dengan termal; “seseorang yang kalah dalam berjuang?”

Padahal, ada masanya di mana bunuh diri justru menjadi pembuktian dedikasi, harga diri dan bahkan, kejantanan. Ada Jepang dengan harakiri dan para istri di India yang turut membakar dirinya saat sang suami dikremasi, demi apa yang disebut sebagai loyaliti. Semacam downgrade kah? penurunan nilaikah?

Aku tidak bertujuan menulis pembenaran atau larangan atas bunuh diri. Ini bukan perkara pro dan kontra. Faktor budaya harus diakui merupakan landasan atas pertimbangan memilih pro maupun kontra. Seseorang dengan latar lingkungan agamis mungkin akan mengutuk. Seseorang dengan latar nihilis mungkin akan beranggapan biasa saja. Seseorang dengan nilai individualis tinggi mungkin beranggapan “Toh itu hidupnya, aku tidak peduli,”

Ini mungkin akan terdengar konyol, tapi adegan ending di CSI itu bagiku ada benarnya. Semua orang memberikan penghakiman atas keputusan bunuh diri seseorang. Tidak hanya orang terdekat, namun juga orang orang asing yang mungkin tau kabarnya hanya dari membaca surat kabar ataupun menonton televisi. Semua orang muncul dengan teorinya sendiri sendiri. Tentang keputusasaannya terhadap hidup, tentang sikapnya yang kurang jantan lantaran kalah atas perjuangan hidup dan sebagainya.

Apakah jika mereka, para penghakim, melihat alasan bunuh diri si tokoh bukan karena depresi, namun lantaran sesuatu yang meluncur dari vonis seorang kardiolog, atau sesuatu yang muncul dalam MRI, putusan putusan penghakiman itu akan berubah? Depresi bukan soal mudah, merasa sedih tanpa alasan itu menyakitkan, tokoh dalam CSI digambarkan menenggak banyak obat anti depressant sebelum kematiannya. Dan siapa bilang depresi bukan penyakit?

Aku pernah membaca sebuah kisah, waktu SD, mungkin, rasanya sudah lama sekali. Seorang perempuan akan diperkosa dan dia menggigit lidahnya sampai mati. Pelakunya tidak jadi memperkosanya dan meninggalkan mayatnya. Berita tentang perempuan yang bunuh diri ini tersebar, semua orang mengutuk sang perempuan sampai akhirnya pelaku percobaan pemerkosaan itu muncul ke media dan mengaku. Ia tidak dihukum, namun para pengutuk terdiam dan malah bersimpati.

Kesimpulannya sederhana saja, untuk tidak terlalu mudah menarik kesimpulan atas apa yang terlihat buruk di permukaan. Aku sering lupa bahwa simpulan baik-buruk sangat bergantung pada perspektif dan kesepakatan sosial (tentu di sini saya mengeliminasi doktrin agama yang terlalu hitam putih untuk disetarakan pada masyarakat abu abu). Lebih dari itu, seberapa jauh sebenarnya kita menjadi penghakim atas keputusan orang lain?

Ventriloquist

https://i2.wp.com/sobadsogood.com/uploads/media/2014/03/09/Creepy-Vintage-Ventriloquist-Dummies-1.jpg
Serem? Iya. Kek mantan.

Ventriloquist itu istilah untuk pemain boneka dengan suara perut. Saya pertama kali mendengar istilah ini dari film Dead Silence, tentang hantu Mary Shaw, seorang ventriloquist yang terobsesi untuk membuat boneka yang bernyawa.

Postingan kali ini, saya tiba tiba terfikir tentang siapa yang ‘menggerakkan’ kita. Yang berbicara melalui kita, yang membut kita tertawa, menangis, bersuara, segalanya. Teori sains akan mengatakan semua itu merupakan reaksi neurotik yang kompleks pada otak besar yang memerintahkan syaraf untuk menggerakkan bibir, mengeluarkan suara, tertawa, semuanya.

Teori teologinya lebih kompleks lagi. Ada Tuhan dibalik semua kejadian. Manusia tertawa, menangis, bersuara, segalanya berkat ‘lillahi ta’ala’, kehendak Tuhan yang maha tinggi. Atas restu dan keinginan-Nya manusia berjalan, berfikir, berniat, berdetak dll.

Apakah juga Tuhan yang menggerakkan setiap perilaku cela manusia? Atau adakah konspirasi setan-malaikat dalam setiap tindakan yang manusia ambil?

Sebagai seorang realis-relatif, maka saya percaya pada teori sains yang sudah disepakati sebagai ke-be-nar-an dalam mengambil simpulan terhadap apapun (termasuk di dalamnya teori teori filsafat). Bahwa yang menggerakkan manusia adalah self-conscious, pertimbangan pribadi, dan reaksi tubuh atas perintah yang diberikan syaraf syaraf neurotik dari otak.

Bahwa tidak ada konspirasi setan-malaikat serta pihak ketiga dalam wujud yang menggerakkan manusia untuk berfikir, bernafas, mengunyah, berjalan, berbuat apapun. Sebagian besar merupakan tindakan natural yang terjadi secara begitu saja. Neither lantaran tubuh memang terbiasa melakukannya atau memang harus dilakukan demi stabilisasi organ tubuh (baca: denyut nadi, bernafas dan lain sebagainya)

Fokus saya kali ini, adalah apa yang menggerakkan pikiran manusia. Sebagai pusat gerak, tubuh harus diperintah oleh pikirannya. Mencuri, membunuh, tindakan tindakan yang disepakati secara sosial sebagai ‘perbuatan tercela’ itu tentu telah mendapat stimulasi dari pikiran untuk mencuri, membunuh dan sebagainya, oleh pikiran manusia.

Apa betul, tindakan jahat manusia digerakkan oleh setan? Sementara perbuatan baik digerakkan oleh malaikat? Saya, memilih untuk belum mempercayainya. Pihak ketiga yang menggerakkan manusia secara pasif untuk berfikir dan mencerna segala sesuatu itu berbentuk kasatmata. Pola pikir manusia dipengaruhi oleh lingkungan, latar pendidikan, asupan pengetahuan dan tentu saja: pengalaman hidup.

Keputusan yang diambil seseorang yang tidak pernah tau bahwa karbondioksida itu zat berbahaya tentu berbeda dengan keputusan seseorang yang mengetahui bahwa zat karsinogenik dari karbondioksida bisa memicu kanker dan flek paru paru saat keduanya sama sama dihadapkan pada masalah serupa: menyetujui atau tidak menyetujui pembangunan pabrik pengolahan Crude Palm Oil di dekat rumahnya, dengan iming iming kompensasi yang cukup besar.

Setidaknya itu merupakan contoh bahwa campur tangan pihak ketiga yang kasatmata (dalam hal ini pengetahuan) bisa membuat perbedaan dalam tindakan manusia. Simpulannya, ventriloquist saya adalah akal, nurani, asupan pengetahuan dan keinginan untuk terus berkembang.

So, who/what is your ventriloquist?

Ateis Puritan A La Mihardja

Disclaimer: Penulis adalah pembaca amatir, pengulas amatir, dan pengamat sastra amatir. Satu satunya yang profesional dari Penulis adalah makan rendang tanpa banyak mengunyah.

Yang saya kagumi saat membaca roman ini ialah kepandaian penulisnya dalam menjalin kata hingga pemaparan mengenai komunisme menjadi mudah dicerna. Tokoh bernama Hasan nampaknya sengaja dibuat agar berkarakter “mudah” dan gamang. Kiranya dengan sifat demikian, penggunaan sudut pandang orang pertama tunggal tetap mampu mengcover dua ideologi serba bertentangan. Komunisme dan kapitalisme, sosialisme dan anarkisme, atheis dan theis, modern dan mistik.

Maka Hasan, menceritakan hidupnya dengan alur yang runut. Tentang jiwanya yang semula kukuh perlahan menjadi goyang dan akhirnya runtuh (ditandai saat ia pulang ke Panyeredan dan menyatakan bahwa ia ingin mengambil jalannya sendiri) lalu menjadi kukuh kembali saat dirinya menjemput maut.

Tidak berimbangnya antara tokoh yang menganut paham mistik, tradisionalis dan yang menjunjung modernisme, komunis dan atheis (bahkan muncul Anwar, sang anarkhis) membuat roman ini terkesan ingin mempropagandakan paham komunisme. Bagaimana tidak, seorang Hasan yang mudah berubah pendiriannya digempur oleh Rusli, Kartini, Anwar dan sederet kawan kawan politiknya. Ditambah dengan tumbuhnya cinta dari Hasan kepada Kartini. Satu satunya yang menguatkan teori Hasan hanyalah ayah dan ibunya. Itupun tertinggal jauh di Panyeredan, di pikirannya.

Tapi kesan tersebut hanya bertahan hingga pertengahan buku. Sebab dengan hadirnya Anwar, seniman anarkhis yang nampaknya sengaja betul menjadi pembuat onar, menyeimbangkan sisi Hasan kepada ideologi komunis-atheis milik Rusli yang tampak begitu sempurna, utopis dan merayu rayu. Anwar menjunjung anarki dengan Bakunin sebagai gurunya. Ia tidak mengenal konsep ‘Lu punya gua punya’ dan cenderung barbar. Tidak sedikit ia menghina agama dan tuhan, sehingga kesal Hasan dibuatnya. Seolah ingin menegaskan bahwa tidak semua penganut paham tersebut menjadi seorang ‘sukses’ seperti Rusli. Anwar justru menjadi kuda liar hilang kendali, tak bersopan santun dan meletup letu, pemadat serta senantiasa tak beruang.

Cinta Hasan yang demikian kuat kepada Kartini-lah yang sebenarnya mengubah haluan hidupnya sedemikian rupa. Layaknya teori teori adaptasi, maka Hasan mencoba begitu keras agar terterima di dunia Kartini. Dunia yang serba modern, dunia di manaGone With the Wind  dan Bing Crosby menjadi penting.  “Terasa sekali betapa besarnya perubahanku dibanding dulu. Dulu artinya empat bulan yang lalu segala jejak dan ucapanku selalu kusesuaikan dengan “pendapat umum”, terutama dengan pendapat para ahli ulama. Aku selalu berhati – hati jangan sampai menjadi noda dalam pendangan umum, alias “klaim alim – ulama” itu. Tapi sekarang pandangan umum itu sudah tidak begitu kuhiraukan lagi. Bagiku sekarang lebih penting pendapat Kartini. ( Atheis, hal. 108)

Kemudian, sekali lagi Achdiat memberikan twist berupa pernyataan Anwar ketika Hasan tengah sembahyang saat pulang ke rumah orangtuanya. “…itulah yang kunamakan sandiwara dengan diri sendiri. Mengelabui mata sendiri… Itulah yang kubenci, sebab dengan begitu hilanglah kepribadian kita, persoonlijkheid kita.” (Atheis, hal. 145)

Sebab Anwar, Hasan merenung kembali. Sebab Anwar yang kemudian menggoda istrinya, di tahun tahun selepas pernikahannya dengan Kartini, Hasan menjauh dari Rusli dan kawan kawannya. Hidupnya tak jauh dari ke kantor, pulang dan mendapati isterinya tak di rumah, dan batuk batuk hebat. Di halaman halaman akhir terlihat betul keinsyafan Hasan dan penyakitnya yang mengganas dianggapnya sebagai siksa dunia.

Romanpun berakhir gamang. Tanpa ada batas jelas apakah hasan kembali ke islam atau menjadi atheis. Achdiatpun mendaulat tokoh tanpa nama yang menjadi editor untuk menerbitkan naskah autobiografi Hasan. Tokoh ini pula yang seolah menjadi pendamai atas dua ideologi besar yang merongrong pikiran Hasan. Jika Rusli hadir bersama Karl Marx, Hasan yang semula berpegang teguh pada Muhammad, maka Tokoh Ini membawakan Freud kepadanya. Tidak hanya Freud, namun segala perdamaian perdamaian pikiran. “Sesungguhnya, saudara, kita dilahirkan ke dunia ini dengan satu tugas yang mahapenting, yaitu ‘hidup’..” ( Atheis, hal. 202)

Sebagai penyeimbang, tugas tokoh tersebut tidak tunai sepenuhnya. Sebab pada detik sebelum Hasan ditembak, Hasan masih dikuasai amarah untuk membunuh. Dalam lubang perlindunganpun, ia banyak tepekur dan menangis. Sebab takut siksa neraka meski porsi rasa bersalahnya kepada orangtuanya -terutama ayahnya yang baru saja meninggal- demikian besar.

Hingga tuntas halaman terakhir, saya tidak banyak mengeluh. Kompleksitas Hasan sangat memukau saya. Sebagai yang baru membaca sedikit dan mendapat secuil pemahaman soal ideologi ideologi seperti komunisme, atheisme dan anarkisme serta filsafat, tentu saya kagum dengan kepiawaan Achdiat meramu semuanya dalam satu buku. Lebih lebih, dalam satu karakter bernama Hasan.

Berlatar di tahun 1940an, novel ini sedikitpun tidak menyentil isu kemerdekaan. Hanya sedikit bagian yang mengindikasikan Rusli terlibat dalam gerakan politik berbau kiri. Ditambah dengan sikap Anwar yang begitu membenci penjajah disebabkan oleh paham anarkis yang dijunjungnya.

Seolah ingin menjabarkan betapa berbahayanya pikiran manusia hingga yang telah kukuh memegang satu prinsip bisa luluh juga jika digempur prinsip baru dan tentu saja, cinta. Meski seolah ini adalah kisah yang menjadikan ide atheis sebagai garis utama, namun saya memandangnya sebagai kisah cinta Hasan dan Kartini yang dibalut teori teori. Entahlah, sekurang kurangnya hanya itu yang saya mampu simpulkan.

Membaca kembali Atheis setelah nyaris tujuh tahun membuat buku ini menjadi pengobat kangen yang cukup manjur. Membelinya dan membaca pelan pelan mampu menjabarkan banyak bagian yang tidak saya mengerti kala itu. Maklum saja, waktu itu saya baru kelas tiga SMP, tak tau soal komunisme, atheisme dan filsafat.Kisahnya begitu melekat hingga ke mana mana saya sebut jikalau Atheis karya Achdiat K Mihardja adalah novel favorit saya.

Sebuah novel, meskipun fiksi adanya, senantiasa menggambarkan suatu kondisi masyarakat tertentu. Atheis yang diterbitkan di tahun 1949 inipun membawakan gambaran jelas kondisi saat itu, Bandung khususnya. Masyarakat mengalami gelombang kiri dengan munculnya Rusli, bung Parta dan kawan kawan politiknya. Pemahaman kiri seolah meluas hingga (dari?) Jakarta sebab Anwarpun demikian.

Namun, kondisi masyarakat yang masih sangat lekat berhubungan dengan budaya Belanda membuat tokoh tokoh islam tidak menolah mentah segala yang di luar islam. Rukmini yang bersekolah di sekolah menengah kristen, Hasan yang mengenakan jas dan sempat bekerja di kantor milik Belanda. Meski secara pribadi Hasan menolak bioskop dan musik musik barat sebab dianggapnya tidak sesuai dengan didikan agamanya.

Sementara sekarang saat kita sudah membaur sekian lama dengan agama agama lain, budaya budaya lain, mengapa begitu sulit untuk menjadi damai atau setidaknya, bersikap seperti Hasan saat dirinya melewati lorong pelacuran; bersikap acuh dan terus berjalan sambil berdoa semoga tidak tergoda dirinya alih alih menggalang massa dan beramai ramai meruntuhkan sarang maksiat tersebut.

Nostalgiaaaa

Buku di atas merupakan cetakan ke 34 di tahun 2010. Sementara cetakan pertamanya di tahun 1949. Dari berbagai catatan di dunia maya yang mengulas buku ini, kebanyakan menyebut pekerjaan Hasan adalah juru tiket kapal. Sementara di buku yang saya beli, disebutkan bahwa Hasan adalah pegawai di kantor pemerintahan bagian pemasangan air (semacam PDAM). Di sanalah ia bertemu Rusli dan Kartini, saat Rusli ingin meminta pemasangan air di rumah barunya. Entah mana yang betul, tapi yang saya baca lebih terasa masuk akal.

Isu Ateisme yang diangkat Mihardja di buku ini dapat dikatakan masih di permukaan. Ia menjelaskan bagaimana Rusli dan pergejolakan jiwa lelaki taat beragama itu terhadap pertanyaan soal Tuhan dan Agama. Tidak dimunculkan sekat dan label apapun terhadap apa yang diyakini Rusli kemudian sebenarnya, bahkan hingga akhir hayatnya.

Meski demikian, lagi lagi mengingat tahun terbitnya buku ini, apa yang disuguhkan Mihardja sangatlah menarik sebab ia mampu menggambarkan seperti apa gejolak di masa itu. Tidak hanya di tataran sosial namun juga di tataran spirituil orang Indonesia yang baru mengenal ideologi bawaan barat tersebut (*)

Objektivitas

https://i2.wp.com/ecx.images-amazon.com/images/I/51DdAAw9vIL._SX258_BO1,204,203,200_.jpg
Bukunya Robert A. Divine

Seberapa sering kita dituntut, merasa harus, atau bahkan mengklaim diri telah bersikap netral? melakukan penilaian yang sepenuhnya objektif -berdasar atas variabel variabel non konjungtif terhadap standar standar penilaian- tanpa sedikitpun unsur keberpihakan.

Atau seberapa sering keputusan diambil tanpa memandang latar belakang kedekatan atau bahasa Orbanya, tanpa nepotisme?

Kita memiliki kesadaran. Fungsi limbik di dalam otak hanya mempengaruhi sedikit dari sistem logika. Sistem logika merupakan akumulasi gerakan dan paham yang diserap manusia sedari kanak kanak.

Sebabnya bisa muncul berbagai penyakit psikis, seperti schizophrenic, yang memposisikan seseorang di ambang realita dan khayal hingga tidak bisa membedakan keduanya, atau bersikap sesuai keduanya, tanpa memiliki sistem logika yang merunut kejadian berdasar sebab-akibat dan kronologi. Seseorang seharusnya concern dan memeriksakan dirinya jika memiliki sindrom seperti ini alih alih update status facebook dan mengubah nama belakangnya menjadi schizophrenia.

Itu atau mungkin dia penggemar barisan depan untuk band melancholic core itu sik

Dengan posisi manusia yang dibesarkan dengan sistem runut dan logika sebab-akibat, mustahil untuk berdiri di garis tengah, paling tengah antara dua kubu pandangan berbeda. Sumber bacaan, kawan bergaul, orangtua, lingkungan, tontonan, menjadi pembangun karakter dan sistem logika. Kalau saja netralitas adalah hal yang absolut, maka teori relativitas tak akan dilirik lebih lebih diakui sebagai sebuah teori.

Sebuah teori yang mungkin benar adalah benar sampai teori itu dipatahkan dan muncul teori mengenai kemungkinan benar yang baru. Begitu seterusnya. Kebenaran di hari ini bisa menjadi kesalahan di masa mendatang, Pun hal yang dinilai salah di saat ini, bisa saja merupakan kebenaran di masa lalu.

Bagaimana sebenarnya proses penilaian berlangsung? kalau saya sih begini; Ketika saya dihadapkan dengan satu hal -ambilah contoh soal yang menurut saya agak mbingungi, Syiah- dan saya diminta untuk mengambil sikap setuju-tidak setuju mereka harus dimigrasikan ke pulau lain. Saya akan menyebut tidak setuju sebab penilaian saya berdasar atas apa yang saya pahami, yakini, dan berpihaki selama ini; Asas kemanusiaan yang melarang seseorang mengambil hak orang lain, dalam hal ini hak untuk tetap tinggal di tanah milik sendiri, kampung halaman sendiri.

Buku buku yang saya baca, obrolan kawan kawan saya, didikan orangtua yang tidak radikal terhadap islam dan lain sebagainya mengambil posisi dalam penilaian tersebut. Akan lebih sahih lagi jika misalnya ada seorang keluarga saya tinggal di Sampang dan menganut Syiah. Apakah penilaian saya netral? rasanya tidak. Sebab netral adalah kondisi tidak berpihak dan tidak ada yang dirugikan. Tidak memilihpun bisa jadi bukan pilihan netral sebab alasan ketidakpilihan saya adalah untuk kenyamanan pribadi. Saya melihat, (mencoba) memahami, mengambil kesimpulan, memihak lalu kemudian mengutarakan pendapat.

Nan, kepuntel puntel Nan.

Lantas bagaimana caranya mencapai atau sekurang kurangnya mendekati titik netral? Kita diberi solusi berupa pengadilan, pemerintah, pihak pihak ketiga yang diharap bisa mengambil keputusan yang memenangkan semua pihak lebih lebih menyenangkan hati setiap ummat. Pihak ketiga adalah yang dianggap tidak memiliki kedekatan emosional dengan pihak pihak yang butuh peleraian.

Kesadaran akan memaksa kita untuk berpihak. Dalam batas batas imaji soal netralitas dan tanpa nepotisme.

Bolehkah Menjadi Jahat?

Betapa membosankannya semua dongeng jika tidak ada sosok yang disalahkan, yang menjadi masalah, yang berbuat salah. Bayangkan seperti apa rupa sinetron Indonesia jika tidak ada satupun tokoh berdandan menor dengan suara tinggi dan bermisi tunggal; merepresentasikan tujuh dosa manusia dalam sekali waktu.Jika bukan karena merasa benar, tidak akan ada manusia yang berbuat jahat.

Perasaan benar akan menimbulkan pembenaran, semacam kebenaran, namun hanya untuk konsumsi pribadi. Sebetulnya membahas soal ‘kejahatan’ itu sendiri rasanya menarik, apa yang membuat kita menyimpulkan satu kejahatan dan memberi vonis jahat kepada pelakunya. Sayangnya tulisan ini akan menjadi semakin panjang dam semakin membosankan untuk dibaca.

Kita simpulkan saja, kejahatan adalah label atas tindakan yang tidak sesuai norma (hukum, agama, adat dan susila), yang meresahkan lagi merugikan orang banyak dan pelakunya wajib menanggung konsekuensi berupa hukuman sesuai norma yang diberlakukan. Urusan menjadi jahat dan hubungannya dengan masyarakat sudah jelas, sekarang kembali ke soal pembenaran untuk berbuat jahat.

Seseorang pernah memberitau saya bahwa esensi dari hidup dan berbuat kebaikan itu ada tiga. Tidak merugikan orang lain, tidak menyakiti harga diri orang lain, dan tidak merusak lingkungan. Jika satu saja terlanggar, maka itu sesungguhnya adalah kejahatan. Sebelum menengok terlalu jauh kepada pelaku kriminal, saya rasa dalam setiap langkah, manusia sadar atau tidak sudah berbuat jahat.

Manusia memiliki sub conscious, suara kecil dalam kepala yang membantu kita mempertimbangkan baik buruk sebuah tindakan. Suara ini kemudian sering muncul dalam kartun jadul berupa setan dan malaikat yang berdiri di bahu dan saling membisiki. Biasanya, sang malaikat menang.

Namun perkenalkan sisi dalam kepala dengan suara lebih lantang bernama ego. Karena kita butuh merasa lepas dari rasa bersalah, ego akan membuatkan pembenaran atas tindakan yang merugikan, menyakiti harga diri orang lain dan merusak lingkungan. Dan biasanya, suara paling lantanglah yang terdengar.

ditemukan di sini

“Ah, telat dikit doang gini. Klien juga sering bikin gue nunggu, sekali kali bikin bawahan cengo di lokasi meeting gapapalah”

“Ya kan aku niatnya becanda. Dia juga pasti ngerti, kita kan temen. Lagian emang bener kok, dengan badan kaya gitu di duduk di situ bisa aja kursinya patah…”

“Sampah seupil gini ga bakal ngaruh sama banjir bandang”

Butuh waktu empat bulan bagi saya untuk berhenti mengelak dan mencari cari pembenaran atas hal jahat yang telah saya lakukan. Juli lalu saya menyakiti orang lain, mengkhianati kepercayaan, dan sebagainya dengan pergi begitu saja dari tempat saya bekerja di Jakarta.

Pembenaran pembenaran yang saya buat, alih alih menenangkan, ia justru menjadi beban. Saya terus berlindung dalam pernyataan “Tapi kan, gue ga nyaman ada di sana” seolah itu adalah hal besar yang akan mengubah Jakarta menjadi neraka jika dalam segera tidak ditemukan solusinya. Saya menyeret koper  dan melangkah ke bandara dengan ego yang besarnya melebihi diri saya sendiri. Lalu pergi, begitu saja.

Tidak ada cara lain selain memaafkan diri saya sendiri. Beberapa hal yang terjadi saya kompromikan sebagai konsekuensi atas tindakan saya dan sekarang, saya telah berdamai dengan diri sendiri. Sedang menata kembali mimpi dan merencanakannya dengan matang. Hebatnya, setelah semua yang terjadi, ternyata saya masih ingin menjadi penulis.

 

***

Lalu satu berita datang dari Bandung, tentang masjid Ahmadiyah yang dirusak FPI. Apakah Ahmadiyah telah melanggar suatu norma (hukum, agama, adat dan asusila)? jawabnya (sayang sekali) adalah iya, norma agama yang disuarakan melalui fatwa MUI bahwa Ahmadiyah adalah sesat dan diluar islam. Tapi apakah Ahmadiyah merugikan orang lain, menyakiti harga diri orang lain dan merusak lingkungan?

Semua orang memiliki versi jawabannya sendiri dan saya yakin betul yang paling popular adalah ini; Ahmadiyah menyakiti harga diri umat muslim dan menginjak sakralitas nabi muhammad sebagai nabi terakhir. Tapi betulkah itu yang seluruh umat muslim rasakan atau hanya pendapat pribadi? Manusia tidak akan pernah menjadi individu yang merdeka pikirannya jika dalam memutuskan sikappun masih harus melalui approval dan persamaan visi dengan sang alpha dog.

Terlepas dari itu semua, negara ini pastilah punya regulasi hukum untuk pelanggaran norma agama. Membiarkan FPI mengambil alih proses penghukuman secara barbar dan tanpa keadilan bukanlah refleksi dari negara hukum yang konon katanya berasas demokrasi.

Jika setiap kubu, setiap individu memiliki pembenarannya sendiri atas sikap sikap jahat yang dianggap sebagai perbuatan ‘wajar’, sesungguhnya kita sudah mencapai esensi sebagai penerus nenek moyang. Menjadi manusia yang membuat dirinya dan seluruh keturunannya terusir dari surga demi memenuhi suara terlantang di dalam kepala bernama ego.