My 15 Most Inspiring Authors

Kena tagnya di Path, nulisnya di sini karena for the glory of satan, of course.

Seno Gumira Ajidharma

Seno Gumira adalah temuan di saat SMA sebenarnya. Bosan dengan gaya bahasa terjemahan buku buku luar aku mulai mencari penulis penulis dalam negeri yang bukunya bertebar di Lapak Tualang milik seorang kawan di Bandung. Dimulai dari membaca satu-dua cerpennya yang bertemakan Petrus lalu merambah ke Wesanggini dan Aku Kesepian Sayang, Datanglah Menjelang Kematian. Buku Saksi Mata yang mengangkat tema pembantaian Dili 1991 banyak mempengaruhi gaya tulisan saya di tahun 2008. Satir dan gelap (ditambah dose cukup dari Wiji Tukul, Nani di usia 17 tahun belum pernah sesinis itu)

Achdiat K Mihardja

Aku hanya membaca satu bukunya, berjudul Atheis. Aku ingat pernah menemukan buku ini di perpustakaan SMP dan membaca habis tanpa banyak ingat detil ceritanya. Membaca Atheis kembali beberapa bulan lalu kemudian bersegera menyimpulkan kalau aku memang jatuh cinta dengan sastrawan angkatan Pujangga Baru hahaha. Gaya bahasa yang baru saja bangkit dari era ejaan lama dengan pustaka HB Jasmin begitu memesona karena sedemikian baku lagi seksi. Terlepas dari itu, Achdiat membuatku kagum dengan plot cerita yang pernah kureview di sini

Stephen Hawking

Tentu tidak perlu kujelaskan bagaimana hype buku The Grand Design di tahun tahun silam. Tidak perlu kujabarkan soal isu ketuhanan memang senantiasa menarik untuk dibahas dari zaman ke zaman. Aku salah satu penikmat isu itu, dengan terus bertanya dan membaca, bertanya dan membaca. Dari zaman buku The Road to Allah-nya Jalalludin Rakhmat sampai The Grand Designnya Hawking, aku belum menemukan alasan apa yang mendorong saya percaya soal Allah. Aku, laiknya keterbatasan micro/macro-examination, melakukannya ya karena ingin saja. Sesungguhnya tidak penjabaran mutlak soal ketidakmutlakan free will ya kaaaan.

Emma Goldman

Sebagai anonimus di akun @bakunins, aku sendiri lupa apa yang membuatku sedemikian excite dengan anarkisme di tahun 2012. Mungkin lantaran aku diam diam menyukai @hansdavidian kali ya :)))) ada dorongan impulsif untuk mempelajari anarki dan membuat akun twitter itu. Emma Goldman, adalah author yang membuatku memikirkan soal feminisme lebih jauh lagi. Aku tidak berada di generasi habis gelap terbitlah terang dengan segenap gombalan feminisme a la kelas menengah ngehe. Goldman membabat habis batasan laki laki dan perempuan dan menempatkan semua orang adalah manusia. Tidak ada privilege dan bias gender.

Ini yang kemudian mendorongku untuk bisa melakukan instalasi listrik sendiri, bertukang dan merakit peralatan elektronik sendiri hingga membuat abah merasa useless saat bertandang ke kos untuk membantu pelaksanaan kerja berat.

Because ideas are bulletproof, my dear.

Jalalludin Rakhmat

Penulis penulis yang menginfluenceku adalah yang sekaligus menjadi trigger atas ketertarikan terhadap sesuatu. Aku memiliki kecenderungan untuk obsess terhadap sesuatu yang menarik. Kalau dirunut dalam satu timeline, sejauh yang aku ingat obsesiku adalah seperti ini:

Manga, Anime, Metal, Komunisme di Indonesia, Sufistik/Theist, Anarkisme, Greek Mythology, Cosmology/brainworks dan shits hippie says.

And I’m not even kidding when I said obsess. Aku ingat hari hari di mana sedemikian suka dengan anime aku sampai bercita cita jadi ninja dengan ninjutsu penyembuh dan pacaran sama Kakashi.

Pernah terlibat komunitas metal dan menggagas beberapa gigs, mengoleksi merch dan kaos hingga kaset kaset rekaman Roadrunner United. Obsesi soal komunisme menelurkan Senja Merah dan tahun tahun di mana tidak ada yang lebih penting di kepalaku kecuali urusan negara yang belum juga menemukan di mana Wiji Thukul.

Puncak pendalaman soal theist yang kemudian mendapat milestone berupa penyebutan “@rusnanianwar pasti anonimnya Asyaukani dan Ulil Abshar” lalu akun @bakunins yang menegaskan obsesi terhadap anarkisme yang bertahan sekurangnya setahun lamanya (yang lalu banyak difollow artes twitter itu)

Dan seterusnya dan seterusnya. Obsesi yang bersifat temporal karena jika aku melihat aku sekarang sungguh rasanya kehidupan sedang kelewat selow. Aku tidak sedang menyenangi apa apa kecuali ide soal menjadi kurus melalui diet OCD. Sungguh waktu membuat kita jadi cetek begini ya, Tun :))

Jalalludin, adalah triggerku untuk urusan sufistik. Jauh sebelum aku membuat akun twitter, jauh sebelum aku tau soal JIL dan utankayu. SMA kelas 2, aku mengenal mas Yudha. Beliau adalah lulusan pesantren dengan kemampuan bahasa inggris yang memesona. Berawal dari minta diajarkan bahasa inggris, bertandangnya beliau ke teras rumah berujung pada pembahasan soal Tuhan dan Agama. Aku dipinjamkan buku dengan judul The Road to Allah. Aku ingat aku yang sebulan kemudian sangat sangat alim hingga berfikir untuk mengenakan jilbab dan ingin menghadiri pengajian tasawuf (yang kemudian tidak diperkenankan abah, tentu saja.

Buku yang membuka pikiran saya soal betapa Islam sesungguhnya merupakan agama yang menyenangkan. Dengan konsep pluralisme yang menyentuh. Betapa beragama sungguh perkara sesederhana berbuat baik kepada sesama manusia.

Lalu saya lupa apa yang membuat saya kembali bebal dan tidak islami lagi di tahun tahun berikutnya. Mungkin lantaran pendalaman saya hanya sebatas membaca buku dan euforia sementara. Pada akhirnya yang melekat sebagai label adalah apa yang dilakukan dengan konsistensi kan?

Tan Malaka

Madilog adalah groundbaseku dalam belajar berlogika. Komplimen soal “Enak kalo curhat sama Nani, jawabannya logis” saya dapatkan paskan membaca Madilog. Ada runutan cara berpikir yang kucoba terapkan dari buku ini, terpujilah beliau dan kemampuan akalnya.

Paradigma paradigma berpikir serunut isi buku ini tentu belum bisa kuterapkan, ada banyak kausal yang membuatnya menjadi sulit. Faktor geologis dan etnologis misalnya, tapi simpulan paling sederhana dari menggunakan metode Tan Malaka adalah step back and see the whole page.

Sapardji Djoko Damono 

Beliau adalah penulis yang menyelamatkan jiwa romantisku. Aku selalu sinis dengan perkara cinta cintaan entah untuk alasan apa. Mungkin lantaran referensi bacaanku yang jauh dari buku buku romantis populer atau ya itu, aku emang ditakdirkan untuk menjadi frigid hingga akhir zaman.

Membaca puisi puisi Damono, melemparkanku pada potongan potongan senja merah jambu yang berujung dengan perasaan hangat di dalam dada. Kesukaan terhadap puisi puisi Sapardji kian menjadi pasca menonton duo Ari Reda secara langsung di Bentara Budaya Jakarta 2012 silam.

Musikalisasi puisi yang sungguh syahdu hingga aku hampir menasbihkan diri sebagai kelas menengah berbudaya yang hanya mendengar musik musik kelas atas nan berkualitas.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana 

Setabah hujan di bulan Juni.

Karena akulah si telaga.

 #MashupHore  

Leo Tolstoy

Anna Karenina mengantarkan saya pada Leo Tolstoy. Bukunya dipinjamkan ibu produser paling baik hati sejagad ranah hiburan Jakarta dan menghabiskan berminggu minggu membaca bukunya. Tolstoy, di balik nama besarnya melalui War and Peace (yang segera menobatkannya sebagai bapak filsuf politik rusia) justru lebih kusukai di buku ini. Kenapa? karena Tolstoy adalah ‘manusia’ di buku ini, ditambah adaptasi filmnya yang mayan di tahun 2014 silam, Anna Karenina adalah satu dari dongeng kehidupan aristokrat yang saya suka. Tuhan Maha Tau, Tapi Ia Menunggu adalah kumpulan cerpen menarik lainnya dari Tolstoy ^^

Marjane Satrapi

Oh siapa yang tidak jatuh cinta pada Persepolis? Siapa yang tidak merasa tergugah, menahan nafas dan trenyuh dengan ilustrasi dan gaya penulisan Satrapi? Aku membeli buku Embroideries sebagai buku kedua Satrapi yang kubaca (setelah Persepolis, tentu saja) dan makin suka pada sudut pandang perempuan ini.

Karl Marx

Oke, aku anak IPS murtad hahaha. Baru mengenal Marxisme justru setelah membaca Madilog. Jika bukan karena disebut tulisan tulisanku Marxis sekali, aku tidak akan menunggu belasan menit untuk mengunduh sekedar .PDF artikel artikel beliau lalu membacanya dengan tekun. Ketekunan itu berakhir dengan senyum simpul dan menertawakan komentar tersebut dengan ketertakjuban kenapa bisa seterkiblat itu pada Marx.

Mungkin lantaran tidak ada yang benar benar original di bawah matahari kan ya?

NH Dini

Begini, aku tumbuh di era SD-SMP dalam kondisi sangat miskin sampai sampai keluarga kami tidak memiliki uang untuk ikut beramai ramai menggunakan televisi parabola. Di kotak TV 14 inci kami hanya ada TVRI berkat antena alakadarnya. Kondisi ini praktis membuatku tidak menonton televisi kecuali jam 4 sore untuk tayangan Pak Odor dan Tara anak Tengger. Gugatku semasa kecil soal kenapa kami tidak punya TV digital untuk menonton sinetron yang tengah hype di kawan kawanku berujung syukur saat ini. Karena kemiskinan itu aku jadi memiliki referensi bacaan yang lumayan.

Hiburan untuk Nani kecil adalah perpustakaan daerah. Menjadi anggota di sana dan rutin meminjam sekedar buku bergambar hingga akhirnya berani masuk ke area non bacaan anak anak dan mulai mengenal penulis penulis angkatan baru, 45, 60 hingga angkatan reformasi. Sederet nama seperti YB Mangunwijaya, Sutan Takdir Alisjahbana, Marah Rusli, Putu Wijaya hingga NH Dini masih aku ingat dengan baik beserta karya karya mereka.

NH Dini dikenal dengan bukunya yang fenomenal; Namaku Hiroko. Buku yang bisa dibilang one hit wonder lantaran aku tidak pernah mendengar gaungnya lagi selepas buku itu. Lalu beberapa bulan silam menemukan buku dengan judul Padang Ilalang di Belakang Rumah dan bersegera menuntaskan nostalgia pada penulis yang membuat masa kecil Nani banyak membayangkan soal penjajah Jepang dan jugun ianfu.

Ugaran Prasad

Definisi author masuk dalam penulis lirik juga kan ya boleh ya ya ya. Hahaha. Ugaran Prasad temukan di blog yang kerap mengupdate tulisan tulisan yang masuk dalam kompas. Mulai dari SGA, Gunawan Muhammad hingga Djenar Maesa Ayu. Prasad, menyempil di antara nama nama itu dengan cerpennya Sepatu Tuhan, kisah soal Maradonna dan fenomena tangan Tuhan dengan ending yang apik.

Lama berselang dan aku mendapat kiriman album Anamnesis milik Melancholic Bitch dan tebak siapa vokalisnya? Yep. Ugaran Prasad. Tulisan tulisannya yang aku sukai itu mewujud dalam deretan lirik yang subhanallah membuatku bersemangat untuk bergumam “Anjrit ini bagus banget”

Chie Watari

Kenapa Nani punya selera horor yang lumayan eksentrik? salahkan Chie Watari :)) kesehatan jiwa anak muda manapun bakal terganggu jika sepanjang waktu luangnya dihabiskan untuk membaca komik horor dengan plot cerita yang buangsat dan ilustrasi yang gore nan graphic semacam Misteri Sepotong Tangan misalnya. Kenapa tidak aku habiskan masa muda dengan nonton anak seusiaku main basket dan pacaran, misalnya. Kenapa??

Jane Austen

Another romantic author. Buku buku Jane, utamanya Emma dan Pride and Prejudice mengusung tema feminisme tanggung yang membuatku terkadang gemes sendiri dengan konflik yang dihadapi Emma dan Elizabeth. Di buku Mansfield Park dan Sense and Sensibility barulah aku paham bagaimana Austen ingin menalarkan kegelisahannya sebagai perempuan di abad 18. Kebutuhan feminisme memang sesepele itu mengingat kondisi sosial budaya yang melatari kisah kisahnya. Tentu tidak akan countable jika dijadikan default untuk masyarakat sekarang. Hm.

Charles Dickens

Seperti semua orang, perjalanan mengenal Dickens dimulai dari A Christmast Carol. Meski bersekolah di SD Muhammadiyah, perpustakaan SDku ternyata menyimpan buku usang bertema natal itu. Lalu beralih ke Oliver Twist, lalu Three Ghost Story dan terakhir The Great Expectations.

So, am I took this tagging game too seriously?

Advertisements

100 Buku Untuk 2016

Lelah mata Hayati.

Hahaha, satu dari kepinginan (atau romantisnya; resolusi resolusian) di tahun 2016 ini adalah membaca 100 buku. Asal muasalnya dari goodreads yang terkonek di facebook dan kawan kawan saya banyak sekali membaca buku di tahun 2015 kemarin! Merasa tertantang sayapun membentang ingin untuk menuntaskan sekurangnya 100 buku di tahun ini.

Januari masih panjang, apalagi Desember. Semangat menggebu untuk terus membaca menghantarkan saya pada sepertiga akhir di bulan ini dengan runut buku yang telah dibaca:

  1. Aleph – Paulo Coelho
  2. The Devil and Miss Prym – Paulo Coelho
  3. Kereta Malam – Avianti Ahmad 
  4. Perempuan Yang dihapus Namanya – Avianti Ahmad
  5. Anjing Anjing Menggali Kuburan – Kumcer Terbaik Kompas 2014
  6. Senja dan Cinta Yang Berdarah – Seno Gumira Ajidharma
  7. Philosophy 101 – Paul Kleinman
  8. Pohon Pohon Sesawi – YB Mangunwijaya
  9. Perawan Remaja dalam Cengkraman Militer – Pramoedya Ananta Toer
  10. Tiga Menguak Tabir – Kumpulan Puisi Chairil Anwar, Rivai Apin, Asrul Sani
  11. Salah Asuhan – Abdoel Moeis
  12. Perawan di Sarang Penyamun – Sutan Takdir Alisjahbana

Sengaja akan memposting buku buku yang dibaca setiap bulan under #2016ReadingProject sebagai ganti #OCDProject. Sengaja pula memposting ini sebelum Januari habis karena keknya saya butuh istirahat. Akan menghadiri konser AriReda bersama mas mas pujaan bangsa di 26 ini dan kepleset ke Bali empat hari sebelumnya karena masa membudak hingga setahun penuh tanpa cuti itu berakhir sudah. Corrie adalah tokoh terakhir untuk bulan ini yang saya izinkan untuk memporakporandakan hati ini. Bungcudh bangetlah, udah baper baperan pula mbaca sampe habis.

Oke, ehm, lebay.

Yang saya takjubkan justru, saya ternyata punya banyak sekali waktu untuk membaca. Kebiasaan membaca buku berhenti sejak berganti pekerjaan. Saya ingat buku terakhir yang saya baca adalah Linguae-nya Seno Gumira dan itupun rasanya butuh berbulan bulan untuk menamatkan buku tak seberapa tebal itu. Alasannya; sibuk, malas, mending ngecek media sosial.

Mengganti kebiasaan itu ternyata semudah ini; selalu bawa buku. Jam kerja masih gila gilaan, lembur masih sekejam ibu tiri, hati masih dipenuhi lara bertubi, perasaan apalagi. Tapi dengan membawa buku, ternyata waktu luangnya lumayan banyak loh. Saat dalam perjalanan ke kebun yang berjam jam itu, menunggu revisian sibos, makan siang, sepulang kerja, sebelum tidur, belum lagi jika jadual nongkrongnya kosong. Banyak, berjam jam. Tidak sedikit buku yang habis dalam sekali duduk walopun beberapa butuh hingga 4-5 hari untuk menamatkannya karena either tebal atau berbahasa inggris.

Eniwei, semoga kebiasaan baru ini bertahan. Untuk tidak dikit dikit tenggelam dan mengurai keentahan dalam jabaran jabaran serba rumit yang melelahkan itu. Mending membaca, atau belajar berenang. Atau jalan jalan. Atau nonton konser di kota orang.

Hidup memang selayaknya dijalani dengan perasaan senang!

Soal Pindahan

Jadi gini…

Aku menghapus rusnanianwar.blogspot.com dan pindah ke sini berkat promo kartu kredit, beli domain cuma 11 dolar buat setaun! Sudah merencanakan bakal menghapus blog yang lebih banyak keluh dibanding bahagianya itu dalam rangka membersihkan hal hal negatif dari dalam jiwa :)))

Mengapa beli domainnya di wordpress? Selain lantaran promo itu tadi, wordpress jauh lebih ringan dibanding blogspot sehingga lebih gampang buat nulis entry dari internet kantor muahahaha.

Pindahan kos, pindahan blog, pindahan apa lagi ya ^^

https://i0.wp.com/www.unpakt.com/blog/wp-content/uploads/2013/05/Unpakt-Moving-Quote.png

A Farewell

Sebagai yang gemar menitipkan perasaan pada setiap jengkal kejadian dalam hidupnya, aku agak tertelan blues kecil bernama pindahan. Yep, genap setahun aku ngekos dan meninggalkan rumah Abah. Meskipun sekota dan jarak antara rumah-kosan relatif dekat, tapi selama setahun terakhir frekwensi aku main ke rumah Abah bisa dihitung dengan jari. Bahkan saat lebaran aku menolak pulang dan memilih sendirian di kos dengan alasan bekerja. 
Sudah seminggu lewat sejak barang barang dipak dan dibawa pergi dari kos. Masih ada setengah bulan sewa yang tersisa. Aku sisakan beberapa barang dan baru hari ini main lagi ke kos pas istirahat siang. Men itu satu setengah jam paling reflektif dalam hidup hahaha.

Ada banyak sekali kejadian yang mengubah perspektif dan cara menjalani hidup setahun belakangan. Perkenalan dengan orang orang baru, pertemanan yang sedemikian akrab, persahabatan yang berhenti begitu saja dan satu-dua kejadian yang begitu mengguncang fondasi yang kukira sudah sempurna terbentuk.

Lalu keputusan keputusan dalam mengubah penampilan, untuk berkompromi dan memulai sebuah hubungan, untuk menerima kepahitan kepahitan. Wah umur 23-nya Nani menyenangkan sekali :))) Aku rasa jika keputusan untuk ngekos tidak diambil setahun lalu, mungkin aku tidak akan tiba di titik ini. Ini adalah milestone yang paling sulit kujabarkan. Berkali kali aku menyebutnya sebagai perjalanan. Namun aku sendiri tidak begitu pandai menjaskan perjalanan apa yang sebenarnya kulakukan.

Aku tetap bangun pagi, mandi, gosok gigi, berangkat bekerja, melakoni fungsi sebagai pekerja sebaik baiknya, pulang ke rumah, menyalakan aroma therapy, membaca buku lalu tidur. Tidak ada yang berubah sehingga aku tidak tau apa yang harus kupaparkan sebagai perubahan itu sendiri.

Yang aku tau, aku akan sembuh. Iya, sembuh atas penyakit yang aku tidak tau apa. Aku ceritakan soal ini kepada teman akrab dan kakak kesayangan lalu mereka mengurai pertanyaan pertanyaan baru yang membingungkan. Aku terus diyakinkan bahwa tidak ada yang salah denganku sehingga tidak perlu aku mengambil porsi untuk menyendiri sedemikian sering. Bahwa aku melakoni hidup yang baik dengan pekerjaan baik dan teman serta keluarga yang baik; seolah aku lupa dan tidak pernah bersyukur atas itu. Bahwa aku cantik cerdas lagi memesona sehingga tak perlu aku mengkhawatirkan soal jodoh sebab ada banyak lelaki yang akan jatuh cinta kepadaku di luar sana.

Kamu pernah berfikir soal bagaimana bisa mereka yang telah mengenal kita sekian lama justru terasa sangat asing dan tidak memahami kita? Oh kemarilah, aku bisa menceritakan sebuah dongeng soal itu hingga kamu terkantuk kantuk lalu tertidur atasnya.

Aku selalu bilang I’m an open book, semudah menanyakan “Ada apa?” lalu mendengarkan atau membaca blog yang telah kutasbihkan sebagai semata tempat mengurai gundah dan segenap pikiran sejak bertahun belakangan. Tapi mungkin aku tidak disayangi sebanyak itu untuk diketahui kabar dan isi pikirannya. And that’s okay, aku sepenuhnya mengerti tidak semua orang memiliki banyak waktu untuk disiasiakan dengan memerdulikan mereka yang tidak membawa pengaruh apa apa dalam hidupnya, toh?

Now I’m sounds like an attention whore who ranting about “Why nobody’s noticed me?”

Eniwei, momentum perpindahan kali ini membawa banyak bliss. Meski ada beberapa kali di hari yang berisik di rumah membuatku berpikir ulang untuk ngekos lagi, tapi aku suka kok. Utamanya lantaran aku bisa menepi dari kesepian kesepian yang kuciptakan sendiri, sebelum kembali ke kebiasaan bengong lalu menangis tanpa tau alasannya apa aku bisa bergegas turun tangga dan ngerecokin adik yang lagi main DOTA atau ngobrol dengan kakak. Lalu kembali ke kamar dengan baik baik saja.

Aku tidak tau bagaimana caranya menjelaskan tentang apa yang sedang kulakukan sekarang, yang aku tau, aku sedang menuju sesuatu.

And that’s what makes this life worth living.

Coffee Toffee, 15 Februari 2016
Kepada keinginan untuk terselamatkan perjalanan ini bermuara.