Sebuah Kekejian yang Diceritakan dengan Lembut

Untuk alasan alasan tertentu, saya tidak membaca novel ataupun buku tulisan selebtwit meski konon bagus dan banyak kawan saya yang membelinya. Nama seperti Zarry Hendrik, Falla Adinda, Diana Rikasari, bahkan Arman Dhani tidak pernah membangkitkan selera baca saya. Mungkin lantaran sombong, atau mungkin sudah keburu jengah dengan kecerewetan selebtwit di twitter sehingga saya sudah bisa menebak seperti apa isi buku mereka. Ga tau.

Puthut EA, adalah yang dengan khilaf saya kira sebagai selebtwit. Lantaran Sarapan Pagi Penuh Dusta yang saya lihat berjejer di antar nama nama di atas. Serta sepotong kalimat judul buku yang seperti twit twit roromantisan di twitter. Penulis lain yang mengalami kekhilafan saya adalah Sitor Situmorang, but we’ll get there, later.

Seekor Bebek yang MatiIMG_20160301_195436[1].jpg di Pinggir Kali adalah buku pertama Puthut EA yang saya baca dan langsung tandas sekali duduk. Dua bulan terakhir rasa rasanya cuma buku ini dan Sepotong Senja Untuk Pacarku-nya SGA yang sampai membuat saya rela menahan pipis dan dorongan merokok demi menamatkan cerita di dalamnya.

SBYMDPK adalah kumcer dengan tebal 158 lembar berisi 15 cerpen. Cerita pertama di buku ini sepintas mengingatkan saya pada buku buku Gitanyali (Bre Redana). Lekat dengan kisah kisah berbau kiri dan cara penulis mengimplikasikan kejadian nyata dengan fiksi yang tidak berlebihan ini yang terasa menyenangkan untuk dibaca.

Gaya penulisan Puthut di buku ini adalah realism. Dan realisme yang diangkatnya diuntai dengan gaya bahasa tutur yang enak sekali. Bahkan cenderung lembut dan menyenangkan. Ibarat lagu, ritme yang diberikan adalah tempo sedang cenderung lambat kek lagu lagu dangdut lapanpuluhan.

Di tengah buku, saya nyaris terlena berkat cerpen Sambal Keluarga yang sangat hangat, dijabarkan dengan manis dan menyenangkan. Lalu boom! ritme itu diruntuhkan oleh rentetan cerpen soal penjara dan kisah memilukan perempuan dan anak anak yang dirampas oleh negara.

Soal kekejaman tentara, polisi dan kaki tangan Orba sudah kerap saya baca melalui buku buku Pram dan SGA. Terakhir saya menamatkan Orang Orang yang Berlawan tulisan Wilson yang memuat kekejian penjara hingga memaksa seorang tawanan yang dibiarkan kelaparan memakan belatung yang muncul dari borok bekas siksaan di tubuhnya. Saya sudah terbiasa dengan penjabaran soal kuku kaki yang dicabut paksa, catut yang menarik lidah lalu bayonet yang mengiris indra pengecap itu, atau bagaimana kemaluan perempuan dipopor senjata yang telah diletuskan ke kepala rekannya hingga melepuh dan infeksi bekas residu. Rezim Orba memang bangsat, semua orang tau soal itu.

Namun Puthut, menceritakan segenap kisah memilukan itu dengan bahasanya yang menghanyutkan. Ia pandai menjelajahi ranah fiksi dengan membubuhkan rasa perih yang pas. Ia kian perih karena dari setiap kepiluan yang diuatarakan, Puthut menyelipkan kalimat kalimat pengharapan yang lembut sebagai penutup dari tiap ceritanya. Seperti dalam cerpen Anak Anak yang Terampas, bagaimana luruhnya segenap hidup seorang wanita saat diperkosa dan dipaksa hamil lantas membesarkan anaknya di dalam kungkungan penjara dan menelan jagung setiap harinya. Bagaimana soal anak kecil yang harus melanjutkan masa kurungan bapaknya, namun Puthut tetap saja bisa menghangatkan hati dengan pemilihan kalimat soal masa depan di akhir ceritanya.

Saya dibuat hanyut sore itu, di antara keinginan untuk pipis yang menggebu dan bibir yang menagih nikotin, saya menamatkan sebuah dongeng soal bangsatnya Orba dengan bahasa lembut yang membalut kekejian itu (*)

3 thoughts on “Sebuah Kekejian yang Diceritakan dengan Lembut

  1. Setelah kecewa dgn Cinta Tak Pernah Tepat Waktu, saya coba mengobatinya dgn Sarapan Pagi Penuh Dusta. Hasilnya sama. Mungkin beliau bukan jenis-jenis suara yg saya suka. Sudut pandang “Aku” yg dominan pd EA memang bisa jd ciri khasnya. Tapi entah kenapa kebebalan saya suka melarang, bahwa “Aku” di situ sepatutnya tak bisa “merasakan” apa yg sedang terjadi pd karakter lain. Sudut pandang “aku” terbatas. Ia memang bisa bicara panjang lebar tentang “aku”, tetapi ia hanya bisa menebak isi pikiran karakter lain dan itu bukan suatu kepastian.

    Bukan perkara teknik kepenulisannya yg justru mengganggu saya menikmati prosa EA, tapi “aku” yg terkesan begitu dominanlah yg bikin saya, sbg pembaca yg duhai papa ini, sungguh penasaran apa yg sebenarnya karakter lain rasakan, dengarkan, dan pikirkan, ketimbang melulu “melihatnya” lewat perantaraan Aku. Sehingga, di beberapa cerpennya dlm Sarapan Pagi, saya berandai-andai bisa menuliskan isi pikiran karakter lain yg menyertai “aku”; sekedar meneruskan, atau menggarap kembali apa yg tak terbahasakan sudut pandang yg terbatas itu.

    Selebihnya, tentu saja beliau penulis yang handal. Banyak frasa dan pilihan diksi yg aduhai jika tdk dicatat. Kadang kalimat-kalimat EA langsung menancap, bikin ngilu dan bilang, “Anying” di hati atau terucap berkali-kali. Sungguh hamdalah yg sastrawiah.

    Makasih udah mengulas EA yg satu ini, Nan. Saya pertimbangkan kembali EA dan mau cari bebeknya segera.

    Liked by 1 person

    1. Bebeknya Puthut (sounds wrong, I know) adalah rekomendasi kawan saya. Katanya bagus untuk yang masih perawan terhadap karyanya. Saya sendiri mengamini sebab kurang tau apa yang diangkat Puthut dalam buku bukunya yang lebih populer itu.
      Kalau bukan kamu yang menyatakan soal sudut pandang itu, saya mungkin ga bakal ngeh hahaha, bagi saya yang namanya POV orang pertama tunggal ya begitulah, berbeda dengan orang pertama serba tau atau orang ketiga dalam hubungan kita.
      Tapi JD Salinger dalam The Cathcer in the Rye juga menggunakan aku sebagai POV orang pertama tunggal dan memenangi pertandingan soal penjabaran karakter lain karena sifat Holden yang serba sotoy, curigaan dan pesimistis hahaha.
      Lagipula ketidaktauan tokoh utama akan menambah keseruan soal tebak menebak jalan cerita dan menjadikannya lebih seperti kita, manusia yang tidak melulu bisa mengerti isi pikiran orang lain kan?
      Tapi sekali lagi, ini baru buku pertama Puthut EA yang saya baca. Akan menambah koleksinya di bulan bulan mendatang biar diskusi ini lebih seimbang basisnya.

      Eniwei, saya berhutang terimakasih terhadap blogmu. Sedikit banyak ia menginspirasi website ini soal “Jika hatimu patah, perbanyak membaca dan tetaplah menulis” hahaha.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s