Self Restraint, Beat Your Own Beast.

“Baca, menulis, baca dan nulis sampai waras lagi”

Saya menjalani disiplin yang cukup membuat saya bangga sama diri sendiri sekurangnya sepanjang Februari kemarin. Saya sedang mempelajari seni menahan diri. Dalam rangka mencari kewarasan dan fungsi normal sebagai makhluk sosial.

Sebulan terakhir, saya tidak beremosi berlebihan. Nyaris tidak belanja impulsif, nyaris tidak emotional eating (bahkan dalam sebulan terakhir saya sukses menurunkan 2 kilo berkat seni menahan diri itu tadi), dan tidak curhat pada siapapun soal perkara itu itu saja.

Saya mengingat hari hari di beberapa bulan silam di mana saya bisa mendadak burst out dan menangis sejadinya, atau mendadak merasa kek disedot ke dalam bumi tanpa alasan jelas lalu bengong berjam jam. Sekarang alasan alasan itu justru kian jelas, dan karena ia telah menjadi jelas, saya bisa memahami lalu memutus rantai itu dengan seni menahan diri.

Selain itu, membaca buku ternyata sangat membantu. Pertengahan tahun silam, dengan becanda saya ditantang untuk ikutan challenge di Goodreads. Dia memasang target 30 buku, saya ditantang 50 yang segera saya sahut “50? Seratus sekalian!” dengan nada sarkas tentu saja. Eh ternyata malah saya menggebu menjalani tantangan itu dan sudah melahap 23 buku hingga bulan ini.

Saya sampai menemukan pola, saat sedang dirundung kesepian, saat mulai memikirkan kemungkinan kemungkinan bahkan saat mulai merasa menyesal atas kejadian yang sudah lewat, saya bersegera mengambil buku dan mulai membaca. Masuk ke dalam pikiran orang lain yang tertuang dalam kalimat kalimat dan tau tau waktu berlalu, saya tidak lagi berminat memikirkan perkara lain selain apa yang telah saya baca. Siapa sangka jika membaca bisa menjadi terapi.

Hihi.

Selain itu ya seperti kata kawan saya di atas, proses mewaraskan diri salah satunya ya dengan menghapus blog lama, meninggalkan ruang ruang berpikir berlebihan dan ketidakwarasan itu dengan mantap. Saya lalu hijrah ke sini dan menjadikannya medium menulis hal hal di luar sekresi pikiran berlebih dan ketidakwarasan itu tadi. Menulis resensi, pandangan saya soal buku buku dan film yang telah disantap dan rasanya sama saja seperti menulis derita, keluhan serta kesedihan. Saya hanya butuh beradaptasi agar tidak menjadi individu baperan dan menyusahkan.

Sisanya, tidak ada kabar berarti dari saya. Koleksi buku yang makin bertambah, saya tidak lagi takut pada waktu senggang, saya tidak takut sendirian, saya tidak berpikir berlebihan dan semoga ini bisa menjadi rutin yang terus bertahan. Urgensi untuk mengeluh juga sering kalah oleh renungan renungan soal betapa beruntungnya saya yang masih bisa bertahan hidup dan tidak kalah oleh kepala sendiri.

Hidup masih menjanjikan perjalanan. Dan perjalanan itu, masih panjang!

Palangkaraya, 5 Maret 2015

Untuk hidup dan kehidupan, bersulang!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s