Carol, Definitely not A Happy Song

https://i2.wp.com/ia.media-imdb.com/images/M/MV5BMTcxNTkxMzA5OV5BMl5BanBnXkFtZTgwNTI0ODMzNzE@._V1__SX1303_SY576_.jpgMeski tidak memenangi satu Oscarpun dari sekian nominasi yang memuat judul film ini, Carol tidak mengurangi alasan saya untuk menyedot torrentnya dengan segera. Rasa rasanya ini film soal LGBT kedua yang masuk dalam Academy Awards tahun ini (setelah the Danish Girl), Mengangkat tema lesbianism driven by frustration, film berdurasi satu jam 58 menit ini terasa begitu gelap dengan latar tahun 1950an.

Mungkin yang membuat saya betah atas film ini adalah sejumlah unsur favorit saya yang ada di dalamnya. Saya selalu suka film film dengan latar Amerika 1920-1970an, musik musik jazz dan sosok seperti Carol Aird secara keseluruhan (depresi, gundah, impulsif, lemah sekaligus powerful).

Ada beberapa scene yang terasa terlalu sendu, dingin dan bikin ga nyaman di film ini. Seperti keheningan yang seketika membuat saya meremang saat sebelum Carol mencium Therese -sambil menyisir rambut- dan di dalam mobil pada perjalanan pulang selepas mereka bercinta untuk pertama kalinya di kota Waterloo. Duh.

Saya jatuh pada Cate Blanchett di film Blue Jasmine (2013), film yang membuat saya turut sesak nafas mengikuti gaya Jasmine yang senantiasa bicara sambil tersengal sengal. Ditambah Carol, saya rasa cukup bagi saya untuk menobatkan beliau sebagai Yang Jago Membawakan Karakter Perempuan Depresi.

Carol adalah petualangan seorang perempuan kelas menengah yang tengah menjalani proses perceraian dengan suami yang menelantarkan ia anaknya. Mentally neglected sebab toh Carol tetap bergelimang kekayaan. Saya sebut petualangan sebab dalam proses itu ia menjalin hubungan bersama Abby dan Therese Belivet tanpa ada penjelasan berarti mengenai orientasi seksual Carol. Petualangan yang kemudian mengancap kredibilitasnya sebagai ibu yang baik bagi custody anaknya pasca perceraian. Juga Herge (suaminya) yang menyerangnya di pengadilan dengan pemaparan atas bukti perselingkuhan sang istri dengan dua perempuan.

Rotten Tomatoes memberi skor 8.6 untuk film ini, fantastis mengingat RT cukup kejam dalam memberikan rating. Saya sendiri agak menguap di menit menit pertengahan, sebab terlalu banyak adegan yang saya rasa terlalu panjang. Sisanya, saya kudu mengacungi jempol untuk Carol Aird karena telah mampu menyampaikan kegelisahan perempuan yang mentally abused namun ragu untuk mengambil langkah berani. Keberanian yang lalu tertuang dalam petualangan seksual yang berujung pada langkah berani itu tadi. Keren.

Sampit, 7 Maret 2016

Tadinya mau review London Has Fallen. Tapi gajadi, filmnya Amerika sekali :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s