lelaki yang memulai pagi dengan sunyi

Lelaki itu memulai pagi dengan sunyi.

Disekanya peluh saat mentari meninggi dan menelusup di celah jendela, seketika menerpa wajahnya. Dalam menit menit kemudian ia duduk di tepi ranjangnya, meraih sebatang rokok dan menimangnya dengan ingatan soal entah sudah berapa pagi ia menginginkan untuk berhenti mengisap benda sialan itu.

Asap mulai meliuk saat ia bangkit dan menuju dapur kecil kontrakannya. Menyalakan kompor lalu menunggu secangkir air mendidih dan dituang ke dalam gelas yang telah berisi kopi bubuk tanpa gula. Entah kesadaran semacam apa yang membuat lelaki itu terus mengulang kebiasaan yang telah disumpahnya untuk tidak lagi dilakukan, enam tahun silam.

Asap rokok berbaur dengan kepulan dari gelas kopinya. Ia buka pintu kontrakan, berkalung handuk dan secarik celana kolor berwarna kelabu ia duduk di depan pintu. Melihat yang lewat dan sesekali menghirup kopi, perlahan hingga kopi itu dingin lalu tandas. Rokok telah memasuki batang ketujuh saat ia memutuskan untuk mandi tepat pada saat anak anak Sekolah Dasar membanjiri pintu gerbang, menuju pulang.

Kamar mandi bersama senantiasa sunyi pada jam jam begini. Ia bisa mengambil waktu sebanyak mungkin untuk buang tai, menyikat gigi bahkan onani. Pagi itu ia putuskan untuk melakukan ketiganya dengan urutan nyaris bersamaan. Seringai di wajahnya tak bisa ia kendalikan saat penis yang sedemikian tegak itu mengeluarkan sejumput cairan putih kental yang mungkin berisi calon presiden beserta kabinetnya.

Siang menjelang dan belum sepatah katapun ia lontarkan. Kesunyian yang diulangnya setiap hari itu hanya ia sendiri yang mengerti mengapa meski kini usia 34 tahun membayang di jidatnya. Sepatah kata akan diucapkannya saat membeli makan siang, berupa “Nasi campurnya satu” dan “Terimakasih” lalu kembali ke kontrakan 3 kali 5 dengan dapur kecil dan kamar mandi bersama.

Ia nyalakan televisi dan makan dalam sunyi.

Lalu menyalakan rokok dan mengisapnya dalam sepi.

Sore itu kontrakannya ramai, tetangga dan sejumlah anak SD sepulang les menemukan darah yang merembes dari pintu, diserap alas kaki dan mengubah warna kuningnya menjadi merah. Darah yang menetes dan menggumpal diserap tanah berpasir dan menguarkan bau amis.

Lelaki itu kemudian ditemukan mati.

Dalam sunyi.

Advertisements

O, Sebuah Fabel Yang Sendu

IMG_0375
Sekalian pamer kalo kerjaan saya banyak, sampe dikerjain di cafe. Huft.

Novel ini saya terima pada awal bulan, berbarengan dengan empat buku Eka Kurniawan lainnya; Corat Coret di Toilet, Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas, Cantik Itu Luka dan Lelaki Harimau. Ia menjadi buku Eka Kurniawan kelima yang saya baca bulan ini. Semua lantaran dipacu oleh perasaan kagum berlebih lebih dan kesenangan absolut karena telah menemukan penulis dengan karya sebagus beliau.

O, adalah novel dengan irisan peristiwa dan jumlah karakter yang tidak main main banyaknya. Mulai dari O dan Entang Kosasih, Kaleng Sarden, Betalumur si pawang Topeng Monyet, Mimi Jamilah pengamen waria yang mencintai Bruno lelaki yang memanfaatkannya, Rini Juwita dan suami abusifnya, Sobran polisi beristri dan Dara kekasih begal Toni Barong, Kirik yang mencari ibunya, Rudi Gudel, Wulandari, si Kutu, Kiai yang buta, Manikmaya pembaca tanda tanda dan kekasih dengan penis bertotol totolnya, dan sederet tokoh lain yang saya lupa namanya saat menulis ini.

Menjelang halaman halaman akhir, tempo yang diberikan semakin cepat dan cenderung “Yuk ah cepetan kelar ini satu satu nasib tokohnya”, karena saya suka dengan Eka jelas jelas lantaran alasan bias, personal nan subjektif, maka kepentingan untuk menyebut tokoh terlalu banyak dan beberapa tidak penting, ending yang terkesan diburu buru dan kritik lainnya seperti yang dituliskan kawan kawan di Goodreads saya kesampingkan. Seperti hubungan saya dan Nasi Padang, saya suka Eka Kurniawan no matter what :’)

Eniwei, irisan irisan kejadian yang segunung itu dapat saya pahami keberadaannya setelah di halaman terakhir Eka menuliskan rentang penulisan novel ini. 2008-2015, tujuh tahun pengendapan yang tentu saja akan berpengaruh banyak pada perkembangan tokoh dan cerita di dalamnya. Terlepas dari pemahaman itu, saya suka suka aja sih, bahkan dibikin ternganga dengan kemampuan Eka menalikan semua peristiwa itu kepada peristiwa utama tokoh utama : O dan Entang Kosasih, dua monyet yang ingin menjadi manusia.

Berkat gegabah mencari cari spoiler sebelum menamatkan sendiri 500an halaman O, saya dibikin waswas dengan ending “Akhirnya O menikah dengan Betalumur dan ga pernah ketemu dengan Entang Kosasih” kan bikin males ya hahaha. Saya sendiri suka sekali dengan permainan takdir yang dijalin Eka untuk mempertemukan kembali O dan Entang, sambil terus mempermainkan teori evolusi yang dibaurkan dengan konsep reinkarnasi. Di tengah itu, bisa bisanya ia menyelipkan unsur mistis dengan karakter Betalumur yang menjadi BabiNgepet!

IMG_0070

O jelas mengalusi Animal Farm-nya George Owell (eh tapi ini beneran menarik loh, saya semacam dihantarkan untuk membaca buku buku Eka Kurniawan. Dulu sebelum memesan Cantik Itu Luka, saya sudah lebih dulu menamatkan Sastra Realisme Sosialis-nya Pram. Lalu bahkan sebelum tau bahwa O berkisah soal fabel dan sindiran sosial atas manusia yang kebinatang kebinatangan, saya lebih dulu mendapat kiriman Animal Farm dan menjejak sepertiga bukunya sebelum terdistraksi oleh O). Eka bahkan mengutip buku itu di ending cerita O dan Entang.

Kelima lima buku Eka Kurniawan yang saya baca, semuanya berisi dendam dan kepahitan kepahitan yang dibayar demi pemenuhan atas dendam tersebut. Corat Coret di Toilet mungkin tidak semenggebu itu pahitnya lantaran ia kumcer. Selebihnya? persiapkan saja hatimu bakal patah dengan jalan nasib yang disiapkan Eka atas tokoh rekaannya. Persiapan mental itu sudah saya bangun sejak Cantik itu Luka dan hasilnya, meski Margio si anak manis kudu membunuh Anwar Sadat dan menghancurkan hati Maharani atau Iteung yang digelandang dua polisi saat Ajo Kawir akhirnya bisa ngaceng. Dan tak perlulah saya jabarkan bagaimana nasib ciptaan Eka memporak porandakan fondasi keluarga besar Ayu Dewi dalam Cantik itu Luka. MEH!

Hanya saja, Eka membuat saya yang kapasitas penelaahannya minim ini paham dengan mudah soal sarkasme, sindiran halus, alegori alegori dan personifikasi soal kebinatangan manusia dengan dimasukkannya konten konten lokal bahkan -sekali lagi- unsur mistik lokalan semacam santet, babi ngepet dan ngaji ilmu kebatinan. Oh ya, sementara banyak penulis kekinian menggunakan nama nama karakter yang sastrawi, sansekertawi dan berbau dewa dewa Yunani, Eka Kurniawan dengan semena mena menyebut gadis paling cantik dengan nama Rosalina, Iteung, Rini Juwita, atau lelaki paling tampan dengan Kamerad Kliwon, Edi Gendeng, Ajo Kawir, Entang Kosasih. Saya cuma bisa merengut dan kesulitan menyampirkan nama nama tersebut pada figur yang dijabarkan dalam satu-dua paragraf soal bentuk fisik tokoh yang dimaksud.

Jika Seno memiliki ciri khas tulisan dengan banyak menyebut sesuatu yang benar, sangat benar, bagaikan tiada lagi yang akan lebih benar, maka Eka akan menulisnya menjadi sesuatu yang benar dan tidak salah dan paling benar dan tiada lain yang lebih benar. Hahaha. Dan iya, Eka berhasil menyamai, bahkan melampaui Pram (penulis favoritnya, saya duga, didukung dengan beberapa kebiasaan menulis Pram seperti dalam mengganti kata tobat/sadar menjadi insyaf), seperti yang didengung dengungkan banyak lembaga literasi kelas dunia. Karyanya bahkan disandingkan dengan Salman Rushdie, Gabriel Marquez sampai Mark Twain! Mark fucking Twain!

Maka bukan sebuah kekhilafan jika saya menyukai Eka Kurniawan semata mata bias, subjektif dan jauh dari titik netral :)))

Sebulan ini rasanya (lagi lagi) tidak banyak buku yang saya tamatkan. Hutang bacapun masih bertumpuk hingga belasan buku. Namun temuan atas Eka Kurniawan sungguh sangat membuat bulan April bertransformasi menjadi bulan yang menyenangkan ❤

Sampit, 21 April 2016

Selamat Hari Kartini, perempuan perempuan yang gabisa hidup tanpa lelaki :3

Cantik itu Luka

SwYfxA90.jpgEka Kurniawan harus saya cintai untuk alasan ini:

Dia adalah pencipta karakter paling pahit yang pernah saya baca.

Holden Caufield-nya The Catcher in the Rye sampai Toru Watanabe-nya Haruki Murakami yang saya kira takaran pahitnya sudah di atas rata rata itu kalah oleh karakter karakter yang ada di dalam novel setebal 478 halaman ini. Saya dibuat menggumam “Anjrit..” berkali kali saat disuguhkan situasi yang menunjukkan betapa dingin dan tidak berperasaannya si tokoh utama.

Saya kira karakter demikian hanya dimiliki satu tokoh utama dengan tokoh tokoh lain sebagai penyeimbang. Dugaan ini seketika runtuh sebab pada halaman demi halaman yang melibatkan tokoh baru, saya selalu menemukan kekejaman dan kedinginan yang sama dengan karakter utama- Dewi Ayu-

Dimulai dari si Cantik, lalu Maman Gendeng, lalu Kamerad Kliwon, lalu Alamanda dan seterusnya. Silih berganti mereka menjelma menjadi sosok yang akan mematahkan hatimu tanpa ampun untuk kemudian tersenyum dan berlalu. Kisah percintaan laki laki paling tampan sedunia dan perempuan paling cantik sejagad raya itupun berakhir dengan Kamerad Kliwon yang menikahi Adinda, adik Alamanda. Pedih dan menyakitkan.

Kemudian cara Eka Kurniawan menyediakan ending cerita untuk si Cantik yang seolah berkata “Ga ada gunanya menunggu akhir yang bahagia, hidup ini fucked up, telan dan jalani saja”. Sebuah cara penyampaian cerita yang, sekali lagi, pedih dan menyakitkan. Seperti kebanyakan resensi atas buku ini, membaca Cantik itu Luka memang menyisakan perasaan yang gamang dan sejumlah gugatan. Namun terlepas dari itu semua, bagi saya Cantik itu Luka adalah vakansi yang menyenangkan karena rasa rasanya tidak pernah saya temukan karakter karakter sedingin, sekelam, sepahit mereka bahkan di dalam karya Seno Gumira Ajidarma.

Dewi Ayu adalah puncak performa kelihaian pak Kurniawan dalam menguntai kepahitan karakter. Di halaman halaman awal kita disuguhkan sesosok perempuan tua bekas pelacur yang melahirkan anak buruk rupa namun justru bersyukur atas itu. Lebih lebih, menginginkan agar si anak terlahir demikian. Ia lalu memutuskan untuk mati lalu hidup kembali 21 tahun kemudian. Ia begitu karena ia ingin begitu. Fak sekali kan? KAN??

Dalam novel novel yang terobsesi menyuguhkan pesan moral sebagai dagangan singkat rangkuman cerita di cover belakang, Dewi Ayu tentu akan dijabarkan sebagai perempuan baik baik, manis ramah kesayangan semua orang di masa silam yang lalu diubah oleh keadaan. Sayapun berprediksi demikian, sebab Cantik itu Luka adalah novel pop kekinian yang digemari banyak orang.

Kenyataannya? Dewi Ayu memang bersifat demikian sejak awal mula penciptaan. Gadis kecil dengan kecerdasan alami di atas rata rata yang membuatnya lebih tenang sebab mengetahui banyak hal dari orang sekitarnya. Ia memandang orang lain tidak memiliki kecerdasan yang setara dengannya sehingga mudah baginya menjadi berkuasa atas orang lain. Ia memiliki bakat pemimpin, ketenangan yang tidak main main ditambah ketabahan luar biasa yang ditempa oleh apa (ia sudah memiliki karakter ini sejak hari pertama tentara Jepang mengurungnya di penjara, sejak hari pertama ia dijadikan pelacur di rumah Mama Kalong)

Tanpa penjelasan susah payah soal mengapa si A berkarakter demikian, Eka justru menambah unsur magis novel ini. Membuat saya dan siapapun betah untuk duduk berlama lama, membaca lompatan peristiwa dengan sederet tokoh yang berkaitan satu sama lain meski dalam beberapa chapter agak jauh ia dituliskan.

Buku ini sekaligus menjadi penanda sebuah momentum. Sebulan terakhir saya menjadi bagian dari chapter menyenangkan bersama seseorang yang tidak kalah menyenangkan dari cerita yang saya susun di dalam kepala. Ia yang sedianya ada di dalam orbit saya bertahun tahun lamanya. Orbit yang kemudian berbenturan dan menjumput kebahagiaan. Banyak, berlimpah ruah.

Lalu seperti layaknya sebuah perjalanan, saya harus kembali menyusuri orbit itu. Meninggalkan momentum itu dan melayang untuk menemukan benturan benturan baru. Begitu seterusnya hingga usia gumpalan debu kosmis ini berakhir, saya rasa. Meski terdengan suram dan membosankan, namun setiap kita memang berhutang kewajiban untuk meneruskan perjalanan.

Sampit, 6 April 2016

Seperti Dewi Ayu, dingin dan kejam nampaknya memang sebuah pilihan yang menyenangkan.