100 Buku Untuk 2016 #Mei

Untitled
My favorite spot in kosan

Satu yang saya agak sesalkan bulan ini adalah: saya menyadari kalau Periplus ada onlinenya. Selama ini proses membeli buku selalu saya lakukan bersama mas mas terpercaya di Jogja, yang dengan jiwa besar saya rekuwes carikan berjudul judul buku bukan terbitan baru dan ketemu meski kudu menunggu berminggu minggu. Semoga di Sampit tidak dibangun toko buku sebelum saya kaya raya hahaha.

Di sela kubangan airmata lantaran habis dirampok Periplus Online (ya abisnya gimana, wishlist buku yang diinginkan dari enam-tujuh tahun silam semuanya ada begitu) saya bertekad untuk tidak membeli buku lagi sampai empat bulan ke depan. Kecuali ada diskon. Kecuali jika SGA rilis buku baru.

Buku buku yang telah dibaca di bulan Mei:

  1. Colorless Tsukuru Tazaki and His Years of Pilgrimage – Haruki Murakami
  2. Hikayat Siti Mariah – Haji Mukti
  3. Tidak Ada New York Hari Ini – Aan Mansyur
  4. Kumpulan Budak Setan – Kumcer oleh Eka Kurniawan, Ugaran Prasad dan Intan Paramaditha
  5. This Book Loves You – PewDiePie
  6. Dunia Kafka – Haruki Murakami
  7. The Strange Library – Haruki Murakami
  8. Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi – Eka Kurniawan
  9. Kukila – Aan Mansyur
  10. Melihat Api Bekerja – Aan Mansyur

Sepulangnya dari Bali dalam rangka menyaksikan pagelaran Ari Reda sekaligus mencari mood bagus untuk menamatkan 500-an halaman Dunia Kafka (yang sejak bulan Februari dimulai tapi mentok di halaman 77 gara gara ga tahan dengan keanehan keanehan di dalamnya), saya menargetkan Marquez – One Hundred Years of Solitude selesai sebelum akhir bulan. Namun nampaknya saya butuh liburan panjang lagi untuk membangun mood membaca tragedi ini. #Alasan

Catatan Acak :

Juni adalah bulan yang menurut Sapardji paling tabah, arif dan bijak. Juni adalah bulan ke enam di penanggalan Masehi dan enam hari lagi Ramadhan. Kalau alasan Kafka ngewe sama Nona Saeki dan Sakura karena ramalan bapaknya, rasanya kok alsannya tipis banget. Descendants of the Sun udah tamat setelah 19 jam di akhir pekan habis buat maraton serial ini. Akhirnya ketemu buku Raymond Carver. Beli kompor listrik dan crossed finger buat bayar listrik kosan bulan ini. Akhirnya kosan bebas nyamuk setelah seminggu berkutat dengan Mosquitos Reduction Program. Nemu bedsheet 100 persen cotton dan enak banget di Hypermart diskonan 20 persen. Sebulan ini telat ngantor 4 kali dan semuanya di hari Kamis, wow. Diwawancara Kantor Berita Jerman soal PT. Meranti Mustika Plywood. Ke Bali buat nonton Ari Reda 14 – 18 Mei dan makan omelette Smorgas sampe bosen. Membatalkan tawaran buat pindah ke kantor Jakarta dan jadi Communication Executive karena di Sampit tekanan kerjanya ga seberapa dan duitnya lebih banyak dan Naninya ga mau jadi penduduk Danau Sunter. Tab jadi sering mati mati, pengen cek masalahnya di RAM atau gara gara kebanting. Dikasih tenggat seminggu buat ngerjain presentasi yang udah dikerjakan dari tahun lalu. Pengen ke Helsinki tapi belum ada tanda tanda di Sampit mau hujan duit.

Sampit, 30 Mei 2016

Buset udah Juni aja.

Advertisements

Hikayat Siti Mariah, Perjalanan Nostalgik Abad Delapanbelas

WhatsApp-Image-20160512Saya selalu yakin kalau saya sebenarnya orang tua yang terjebak di tubuh gadis belia hahaha. Saya begitu bersemangat saat membaca Banda Neira beberapa bulan silam dan baru baru ini menamatkan Hikayat Siti Mariah tulisan Haji Mukhti. Saya memiliki ketertarikan dan penalaran berlebih terhadap buku buku berlatar waktu bahari.

Membaca tiap tiap lembar buku setebal 402 halaman ini memunculkan ingatan ingatan sedemikian jelas saya sampai seram sendiri. Seperti seolah olah saya tau seperti apa bentuk pabrik tebu Sokaraja tempat Joyopranoto dan Henry Dam bekerja. Seperti apa wujud rumah mandor dan desa desa yang membentang di sepanjang Jawa Tengah saat itu.

Ini semua tidak lain lantaran imajinasi yang berlebihan saja, saya rasa.

Eniwei Hikayat Siti Mariah adalah buku/hikayat yang digambarkan secara detil dan terlalu banyak drama hingga saya agak skeptis soal keotentikan sejarah buku ini (konon disebut sebagai kisah nyata) dan akhirnya memilih untuk menikmatinya seperti buku buku fiksi lainnya saja.

Kehadiran Pramoedya Ananta Toer selaku editor dan penerbit melalui Hasta Mitra adalah alasan mengapa saya begitu “memburu” buku ini. Awalnya setiap kang buku langganan bilang buku itu sulit dicari, sayapun beralih ke situs penjualan online dan menemukan Hikayat Siti Mariah yang bukan terbitan Hasta Mitra mencapai 750 rebu!

Berkat niat kuat untuk tidak impulsif dan seketika memesan, saya biarkan keinginan membaca buku ini mengendap hingga sebulan lamanya dan akhirnya tokopedia memberikan suggestion buku ini dengan harga cuma 55 ribu. Bekas memang, dan si penjual segera menjadi teman diskusi saya atas sastra Indonesia lama, senangs!

Hikayat Siti Mariah adalah kisah hidup seorang anak hasil hubungan terlarang antara kontrolir tebu Elout van Hogerveldt terhadap Sarinem, seorang buruh pabrik. Sarinem yang hamil dinikahkan dengan petani miskin yang kemudian berniat membunuh bayi perempuan (yang semula bernama Urip) lantaran menghalangi Sarinem untuk bekerja. Urip lantas urung dibunuh dan dipungut oleh Joyopranoto mandor pabrik gula lantas dipelihara di lingkungan pabrik gula Sokaraja dan berubah namanya menjadi Siti Mariah.

WhatsApp-Image-20160512-1Sisanya adalah kelindan drama serba-rumit seperti percintaan Siti Mariah dan Henry Dam orang Belanda yang tidak direstui lantaran perbedaan agama, dijadikannya Siti Mariah sebagai Nyai, Sarinem yang akhirnya bertemu kembali dengan anaknya, Lucy anak pemilik pabrik tebu yang mencintai Sondari yang mencintai Siti Mariah dan seterusnya dan seterusnya. Konflik konflik standar jaman penjajahan.

Semula, jujur saja, saya curiga Haji Mukti adalah tokoh jelmaan Pramoedya Anata Toer sendiri. Gaya penulisan dan pemilihan kata di buku ini sangatlah Pram sekali. Dan jika ditilik dari sejarah buku ini, ia memiliki kisah pembredelan panjang karena melakukan ekspos atas tanam paksa di era Belanda, serupa dengan Gadis Pantai yang juga dibredel kala itu. Mengapa orde baru gemar sekali menutupi sejarah ya, bang?

Mungkin lantaran saya terlalu banyak membaca Pram dalam waktu yang serba berdekatan, meski buku ini membikin hati senang lantaran akhirnya berada di genggaman, saya tidak bisa menutupi perasaan meh saat membuka lembar terakhir buku ini. It tasted just like another Pramoedya book’s. Bukan berarti jelek, saya cuman lagi bosen aja hihi.

WhatsApp-Image-20160512-2
I’m obsessed with this unamused wolf hahaha

Sampit, 12 Mei 2016

Naninya mau nonton AriReda! KYAAAAAAA!

100 Buku Untuk 2016 #April

Bulan ini saya agak sedikit off, hasilnya sejumlah entry mendayu memenuhi blog ini sebagai produk kebaperan dalam beberapa minggu terakhir. Awal bulan ini saya disibukkan dengan haul (peringatan tahun kematian) tahun kedua kematian Ibu. Ditambah dengan petualangan mencari kos baru (dua bulan di rumah Abah membuat saya sadar bahwa saya memang sangat merindukan hidup secara soliter hahaha) praktis waktu untuk membaca berkurang drastis 😦

IMG_0607.JPGBulan April adalah perayaan atas temuan terhadap Eka Kurniawan. Bergegas memesan lima bukunya pada kang buku langganan yang lantas dibalas dengan “Cieee ada yang baru jatuh cinta sama Eka nih” hahaha. Nyatanya iya! saya jatuh cinta pada Eka Kurniawan dan buku bukunya yang penuh dendam, kepahitan dan amarah yang meruap di tiap tiap halaman. Biasa, konektivitas. Wkwkwkwk.

Buku yang telah dibaca di bulan April:

  1. Cantik Itu Luka – Eka Kurniawan
  2. Lelaki Harimau – Eka Kurniawan
  3. Corat Coret di Toilet – Eka Kurniawan
  4. Seperti Dendam, Rindu Harus dibayar Tuntas – Eka Kurniawan
  5. O – Eka Kurniawan
  6. Midah si Manis Bergigi Emas – Pramoedya Ananta Toer
  7. Larasati – Pramoedya Ananta Toer
  8. The Little Prince  – Antoine de Saint-Exupéry
  9. Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai – Emha Ainun Nadjib
  10. Wiji Thukul Teka Teki Orang Hilang – Tim Buku Tempo
  11. Cyanide & Happiness – Kris, Rob, Matt & Dave

Yang terakhir ga layak masuk kategori buku yang telah dibaca sih, mengingat itu komik hahaha. Senang bisa kembali ke angka belasan dalam sebulan. Empat bulan penuh menekankan untuk membaca buku dengan lahap menghasilkan efek yang menyenangkan. Semakin ke sini saya semakin terbiasa untuk membawa buku ke mana mana. Menyicil membacanya pada saat antri belanja bulanan di Hypermart, menunggu travel, sambil makan saat istirahat siang bahkan menemani ritual pup tiap pagi.

Efek menyenangkan lainnya adalah kepala saya selalu occupied sehingga tidak ada ruang buat merenung soal what could and what should have been done. Ada banyaaaaaaaakk sekali yang saya ingin ubah di masa silam dan pikiran pikiran soal itu yang sering membawa saya dalam titih entah itu. Now, in most day I made it (thanks to Serenity Prayer and EFT Method), some other day -in a teeny tiny small amount- I fell.

Tapi gapapa, prosesnyaaaaa.

Sampit, 2 Mei 2016

Setelah ini, proyek diet dimulai kembali :)))