Hikayat Siti Mariah, Perjalanan Nostalgik Abad Delapanbelas

WhatsApp-Image-20160512Saya selalu yakin kalau saya sebenarnya orang tua yang terjebak di tubuh gadis belia hahaha. Saya begitu bersemangat saat membaca Banda Neira beberapa bulan silam dan baru baru ini menamatkan Hikayat Siti Mariah tulisan Haji Mukhti. Saya memiliki ketertarikan dan penalaran berlebih terhadap buku buku berlatar waktu bahari.

Membaca tiap tiap lembar buku setebal 402 halaman ini memunculkan ingatan ingatan sedemikian jelas saya sampai seram sendiri. Seperti seolah olah saya tau seperti apa bentuk pabrik tebu Sokaraja tempat Joyopranoto dan Henry Dam bekerja. Seperti apa wujud rumah mandor dan desa desa yang membentang di sepanjang Jawa Tengah saat itu.

Ini semua tidak lain lantaran imajinasi yang berlebihan saja, saya rasa.

Eniwei Hikayat Siti Mariah adalah buku/hikayat yang digambarkan secara detil dan terlalu banyak drama hingga saya agak skeptis soal keotentikan sejarah buku ini (konon disebut sebagai kisah nyata) dan akhirnya memilih untuk menikmatinya seperti buku buku fiksi lainnya saja.

Kehadiran Pramoedya Ananta Toer selaku editor dan penerbit melalui Hasta Mitra adalah alasan mengapa saya begitu “memburu” buku ini. Awalnya setiap kang buku langganan bilang buku itu sulit dicari, sayapun beralih ke situs penjualan online dan menemukan Hikayat Siti Mariah yang bukan terbitan Hasta Mitra mencapai 750 rebu!

Berkat niat kuat untuk tidak impulsif dan seketika memesan, saya biarkan keinginan membaca buku ini mengendap hingga sebulan lamanya dan akhirnya tokopedia memberikan suggestion buku ini dengan harga cuma 55 ribu. Bekas memang, dan si penjual segera menjadi teman diskusi saya atas sastra Indonesia lama, senangs!

Hikayat Siti Mariah adalah kisah hidup seorang anak hasil hubungan terlarang antara kontrolir tebu Elout van Hogerveldt terhadap Sarinem, seorang buruh pabrik. Sarinem yang hamil dinikahkan dengan petani miskin yang kemudian berniat membunuh bayi perempuan (yang semula bernama Urip) lantaran menghalangi Sarinem untuk bekerja. Urip lantas urung dibunuh dan dipungut oleh Joyopranoto mandor pabrik gula lantas dipelihara di lingkungan pabrik gula Sokaraja dan berubah namanya menjadi Siti Mariah.

WhatsApp-Image-20160512-1Sisanya adalah kelindan drama serba-rumit seperti percintaan Siti Mariah dan Henry Dam orang Belanda yang tidak direstui lantaran perbedaan agama, dijadikannya Siti Mariah sebagai Nyai, Sarinem yang akhirnya bertemu kembali dengan anaknya, Lucy anak pemilik pabrik tebu yang mencintai Sondari yang mencintai Siti Mariah dan seterusnya dan seterusnya. Konflik konflik standar jaman penjajahan.

Semula, jujur saja, saya curiga Haji Mukti adalah tokoh jelmaan Pramoedya Anata Toer sendiri. Gaya penulisan dan pemilihan kata di buku ini sangatlah Pram sekali. Dan jika ditilik dari sejarah buku ini, ia memiliki kisah pembredelan panjang karena melakukan ekspos atas tanam paksa di era Belanda, serupa dengan Gadis Pantai yang juga dibredel kala itu. Mengapa orde baru gemar sekali menutupi sejarah ya, bang?

Mungkin lantaran saya terlalu banyak membaca Pram dalam waktu yang serba berdekatan, meski buku ini membikin hati senang lantaran akhirnya berada di genggaman, saya tidak bisa menutupi perasaan meh saat membuka lembar terakhir buku ini. It tasted just like another Pramoedya book’s. Bukan berarti jelek, saya cuman lagi bosen aja hihi.

WhatsApp-Image-20160512-2
I’m obsessed with this unamused wolf hahaha

Sampit, 12 Mei 2016

Naninya mau nonton AriReda! KYAAAAAAA!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s