My Super Power : Being Single

finding-yourself-quotes-3rmnRo-quote.jpgI’m enjoying my super single phase for just two months and it’s actually feels amazing. Being super single means you cuts all the rope from mothership of romance towards other human. Since you got a lot of times of being super alone, like really really alone, you’ll start to grow an interconnection, creating your own rope to yourself.

Untuk pertama kalinya dalam 24 tahun masa kehidupan, saya sama sekali tidak berhubungan secara romantik kepada siapapun. Tidak melakukan pedekate, tidak sekalipun chatting yang menjurus ke arah percintaan, tidak menambatkan hati kepada siapapun. Dua bulan berlalu dengan saya tidak memikirkan siapapun saat ditanya soal “Nani lagi dekat sama siapa” membuat ini akan terdengar menyedihkan atau bagaimana tapi buat saya yang telah memutuskan untuk melakukan ini dengan sengaja, ini menjadi hal yang membanggakan dan patut dirayakan.

Dalam hitungan hari saya akan melakukan perjalanan luar negeri untuk pertama kalinya. Saya mendengarkan diri saya dengan sungguh sungguh dan tidak lagi ada friksi apapun soal “I want to draw his attention” or “I miss him so much I need to go to his city immediately” dan seterusnya dan seterusnya. Menjadi betul betul saya tanpa tebengan perasaan menye menye romantik begitu ternyata menjadi pintu pembuka untuk mengenal diri sendiri.

Saya menemukan banyak sekali kebiasaan yang saya mulai karena alasan si X juga suka begitu. Hal sesepele minum kopi saja, misalnya. Entah sejak kapan saya mengharuskan diri saya untuk selalu memesan Americano/Houseblend atau kopi hitam tanpa gula di coffeeshop manapun. Beberapa kali mencoba menu lain dan saya menemukan saya ternyata suka dan boleh minum ice chocolate and IT WAS FINE. Indonesia masih merdeka.

Itu baru hal sesepele minum kopi. Di list saya ada ratusan kebiasaan yang saya tidak pernah sadari saya melakukannya bukan benar benar karena saya suka atau ingini secara utuh. Dua bulan ini saya menjadi pribadi yang baru dan itu benar benar terasa, saya bangun pagi dengan ringan dan pergi tidur tanpa beban.

Kepada lingkaran kecil pertemanan saya mulai membuka pemikiran pemikiran saya tentang apa yang saya mau dan seperti apa pandangan saya terhadap hal hal yang sedang dibicarakan. Ada semacam batasan (moril? kewajiban menjaga image? takut mendapat cap yang akan membuat lelaki yang saya taksir memandang saya sebagai perempuan yang tidak sesuai keinginannya?) yang membuat saya meletakkan pandangan umum dan wajar sebagai pernyataan kepribadian. Dan itu berkembang begitu sporadis hingga jika ada yang bertanya soal Deskripsikan Nani pada kawan terdekat saya sekalipun maka itu akan menjadi seperti ini:

Perempuan 24 tahun yang bekerja di Sawit dan senang jalan jalan ke Bali, suka minum kopi, mengenakan jilbab karena menemukan keindahan Islam, penyiar radio dan suka musik musik barat.*

*Ini jawaban teman saya saat pacarnya bertanya soal “Nani itu gimana sih orangnya”

Deskripsi yang sedemikian dangkal hingga saya nyaris mempertanyakan the hell are we doing in last 12 years kalau saya ternyata cuma begitu. So I just go out, and loud, and speak what I saw fit.

Tidak ada lagi wejangan super bijaksana yang saya kutip dari pelbagai sumber agar terdengar memotivasi dan memperbaiki segalanya. I’m a hard truth teller now and it goes like:

“He’s an asshole, he cheated on you, fuck another woman, dump you right away, asks you to leave the town when you’re spending 8 hours driving to see him. He’s an asshole and forgiving him for the “Tapi aku sayang sama dia” is stupid” for a 5 am curhat moment a friend of mine gave.

or

“I’m done hanging out with you, you’re homophobic,” when a guy refusing a hand shake and joking about “Ga mau ah nanti kamu naksir” to my gay friend

Or

“No, I don’t do fasting since I don’t believe in religion, if you see me fasting, it’s because I just want to, with no other reason. Yes, I ate pork, drink alcohol and fuck a guy before marriage because I see it fits on me.” when this men, (I know it later that he’s an agnostic, so I was like, forgiving him for being an asshole) asking about my religion like 3 times in a single night out.

I am now dying my hair blue because I like the colour and I feel awesome in it. I have no idea that being super single like this could trigger so much power in me. Saya menerima, menyayangi dan bahkan bangga kepada diri sendiri. Dan itu rasanya keren sekali astaga.

And you know what, I prepare myself of losing some friends on this journey. I was honestly pull myself in a lonesome party, cancelling plan, refusing to go out and at the end of the day, they’re actually stays.

In a small test I throw, my dearest Amel asking me to go out and I say: “Duh ntar kamu malu Mel ke mall bawa bawa aku yang kepalanya keriting biru begini” and she’s like:

“Meh. Bodo amaaat”

And she’s really mean it.

In KFC (we both don’t do fasting; Amel got her daytime wet dream (meh, alasan) and I just not really want to do it today) I was ordering some drinks on KFC Krusher and she’s in another line for meal. In a table Amel told me there’s 2 girls pointing at me and laugh.

“Emosih aku Nan, kukasih jari tengah”

And I was like, hahaha. And continues drinking.

Was spending the whole Sunday with her and we laugh and laugh and laugh just like usual. But this time, I’m Nani who had a fucking blue hair, fat as ever, already told anyone who asked that I don’t see marriage fits me, I don’t have a religion, I was using jilbab to cover my bald head -and later become a working uniform- and my bucket list for 2017 is travelling abroad as many as I can afford, not married, not even finding the one.

Actually there’s a logical explanation about “the one”. Saya senantiasa menulis soal tidak ada yang lebih sepi dari perasaan tidak dimengerti. Saya memang berbeda dan saya menerima itu. And I kind of belief that kalo kamu jadi dirimu sendiri, benar benar tanpa layer pencitraan melelahkan itu, yang mendekat denganmu adalah yang akan membuatmu mudah menjadi kamu, tanpa harus bersusah payah memenuhi standar imajinatif soal perempuan “seharusnya”

Lagipula, understanding me is not your job, it’s mine.

This super power gives me strength to say no, to be affirmative, to say something that I saw fit, to define a line between love and lust, what I want and what I need (hey, I’m saving lots of money since I stopped buying useless things), who to keep and who to shoo, I actually CAN do that, by not thinking about what others gonna say about me, I have my own value and carrying my own mistakes as consequence of applying those values.

My world revolves on me, me, and me only.

And it feels gooooood.

 

 

 

 

Sampit, 26 Juni 2016

Any time is the right time to be alive

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s