Before Sunrise’s After Dark Odyssey

https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/736x/9c/43/cb/9c43cb3c65cd73b6d8b7633955fbfe12.jpg
This words comes out from Korogi, pages 228. Not a main character but steal my attention vaguely.

Menamatkan After Dark dalam buruan deadline. So there’s these three presentation I have to prepare for General Manager, Production Director up to President Director level. The work wasn’t that much, but with 3 weeks of prep and endless revision from those guys, I felt a bit worn out. Dan mungkin berakibat pada penelaahan berlebih pada karya Tuan Murakami yang satu ini.

Halaman pertama dibuka dengan sebuah scene your favorite young-rebelious wallflower of all time. Mari Asai tengah membaca buku sambil minum kopi pada larut malam di sebuah pojokan kedai 24 jam. Mengenakan worn out jeans jacket, faded colored yellow sneaker and wasn’t talked so much when this guy, Takahashi Tetsuya sat down in front of her and started the conversation.

And that’s it. Buku berjalan dalam durasi satu malam penuh dengan keduanya sebagai magnitude cerita. Little bit tasted like Before Sunrise, for me. A dark, dark Before Sunrise without sex scene at all hahaha. Keduanya lantas bercerita, dan bercerita, dan bercerita tentang banyak kejadian. Mari kemudian terlibat dengan seorang pekerja seks yang dipukuli pada sebuah Love Hotel. Jika muncul dugaan Mari akan bermasalah dengan gangster China dan cerita berubah menjadi action, maka kamu kudu kecewa. Murakami selalu demikian adanya. Something big, out of ordinary happende but it pretty much was it. Shit happens and that’s it.

244 halaman berlanjut dengan fragmen fragmen antara Tetsuya – Mari, Eri (kakak Mari) dan the eagle eyes, serta sedikit sempilan kejadian di Alphaville (love hotel) dengan porsi yang cukup menyenangkan. Cerita berakhir dengan khas Murakami.

KENTANG.

Buku ini menjadi buku ke-11 dari 19 buku untuk proyek Marathon Murakami yang saya mulai 4 bulan silam. Sepuluh kali dikentangin Murakami tidak kunjung membuat saya jera untuk membaca dan membaca lagi. He has this weird magnetic field with his words, meski lamban dan membosankan, meski senantiasa berakhir dengan kentang, saya toh tidak berhenti melahap halaman demi halaman hingga tamat dengan helaan nafas dalam dan perasaan sedih tanpa penjelasan yang menjadi jadi. Buku yang tepat bagi penggemar ide soal nihilisme.

Hari ini saya call-off from work, meminta izin kepada HR dengan alasan “Aku rada susah fokus ngerjain deadline dengan semua distraksi di kantor mbak. Mbak tau lah anak kreatif dan kebutuhannya terhadap konsentrasi ngerjain beginian” menyusul rencana untuk berhenti menjadikan kebohongan sebagai sebuah kebiasaan. And she nodded, understanding my reason fully and let me go home with a promise than this 198 pages of presentation will be done before the deadline.

Walaupun kemudian di kos saya dengan semena menad tidur dari jam 10 pagi sampai 5 sore, sih :))) bangun tidur untuk memenuhi janji meeting dengan camera guy for my 14th event membuat saya berfikir soal ini sepanjang jalan:

Kenapa semakin banyak tidur yang saya lakoni, semakin mengerikan bayangan yang saya temui saat terjaga? These bad dreams just too much to handle.

Maka begitulah, dalam keadaan super terjaga berkat double shoot ristretto, semangat dan optimisme yang meluap luap di malam hari seperti ini selalu saya pertanyakan mengapa ia tidak muncul di siang hari, saat saat saya sungguh membutuhkan mereka :)) I’m just a night owl afterall. Inevitable condition.

Sampit 09 Agustus 2016,

Whoa, I talked to myself more rapidly now.

Advertisements

100 Buku untuk 2016 #Juni&Juli

https://i0.wp.com/slodive.com/wp-content/uploads/2013/04/quotes-about-losing-a-loved-one/haruki-murakami-quote.jpg

Nampaknya saya harus meredam optimisme soal berhasil membaca 100 buku di tahun ini. Dalam dua bulan terakhir saya cuma berhasil membaca 9 buku, itupun rasanya betul betul penuh perjuangan. Kesulitan utamanya tentu saja, waktu. Sepanjang Juli saya berkutat dengan drama di kantor soal ingin ditarik kantor Jakarta namun ditahan kantor Regional (Sampit), jalan tengah luar biasa yang diambil managemen:

Saya mengerjakan urusan kantor pusat dan kantor regional tanpa penambahan gaji. Meh. Korporat dan apa yang mereka lakukan terhadap karyawannya. Tapi sudahlah, saya tidak sedang dalam state marah atau kecewa atau apapun. Saya menyenangi pekerjaan ini, bisa jalan jalan sesekali dan memenuhi kebutuhan hidup sehari hari, cukuplah. Dan bisa beli buku!

Fokus saya bulan ini masih pada 19 buku Haruki Murakami yang kini 7 di antaranya telah terbaca. Sedikit pembenaran atas minimnya jumlah buku yang dibaca dua bulan ini adalah saya mulai tertarik pada buku berbahasa Inggris. Hal ini lantaran saat membaca terjemahan Indonesianya Murakami yang Dunia Kafka, saya agak terseok mengikuti alurnya dan beberapa frase membuat saya mengernyit tidak suka. Karenanya untuk buku dengan penulis bukan bahasa Inggris (Murakami, Milan Kundera, Andrey Kurkov) saya mencari first hand translation dan ketemunya memang bahasa Inggris.

Bukan karena sok baca buku bahasa Inggris biar keren.

Selain itu, berkurangnya buku yang dibaca adalah lantaran tebalnya ampun ampunan hahaha.

Buku yang telah dibaca bulan Juni dan Juli:

  1. What We Talk About When We Talk About Love – Raymond Carver
  2. And the Mountains Echoed – Khaled Hosseini
  3. Dance Dance Dance – Haruki Murakami (I finished the book in Singapore, in the middle of packed MRT hahaha)
  4. Death and the Penguin – Andrey Karkov
  5. The Wind-Up Bird Chronicle – Haruki Murakami
  6. Ignorance – Milan Kundera
  7. Hear the Wind Sing – Haruki Murakami
  8. Pinball – Haruki Murakami
  9. What I Talk About When I Talk About Running – Haruki Murakami

 

 

Sampit, 2 Agustus 2016

Tidak sampai sepuluh buku untuk dua bulan. Akusedi 😦