Menulis, dan Menulis Saja. Seratus Buku Untuk 2016 #Agustus&September

Sebelum saya kehilangan waktu untuk membaca pada kesibukan kesibukan di luar diri sendiri, saya ingin membaca dan terus membaca. Menulis dan menulis saja. Saya ingin memenuhi laman laman site ini dengan ratusan bahkan ribuan entry, yang penting atau tidak, yang sarat pemikiran atau sekadar sampahan curhat.

Sebelum saya memikirkan soal tagihan listrik air kreditan bayar sekolah dan kebutuhan rumah, saya ingin menghabiskan hari hari saya dengan rasa penasaran soal alter realitas, teori teori evolusi dan pembentukan semesta serta perputaran langit bumi beserta luar angkasa. Saya ingin merasakan urgensi untuk mengetahui nasib tokoh utama di buku buku populer yang saya baca. Saya ingin menuliskan semua yang saya rasa hingga detil terkecil dan merayakan semeriah meriahnya festival perasaan dalam kesunyian tengah malam di kamar kos saya.

Saya ingin pergi ke setiap kota di Indonesia, belajar sekurangnya 3 bahasa berbeda dan menjadi pandai dalam tawar menawar harga di pasar karena kemampuan komunikasi yang mumpuni. Saya ingin berdiskusi dan tertawa hingga pagi, saya ingin menari dan bernyanyi sekerasnya pada hujan hujan di kota asing.

Sebelum saya memutuskan untuk melibatkan orang lain selain diri saya sendiri dalam merayakan hidup ini. Sebelum saya menambah satu-dua nama dalam festival sunyi tengah malam dengan rengekan dan dengkuran mereka. Sebelum saya melonggarkan persyaratan serba-praktis dalam periode paling egois ini.

Saya berada di usia di mana saya tidak menginginkan keterlibatan orang lain kecuali satu-dua kawan yang datang sesekali untuk memastikan saya tidak melakukan hal hal tolol seperti memangkas habis rambut (lagi) misalnya. Saya menemukan refleksi paling akurat dalam buku buku Murakami dan larut dalam setiap lembar keriuhan cerita dan dibaca dalam sunyi. Saya kini memahami mengapa orang orang gemar sekali membaca buku.

Saya merapel (lagi) log bacaan saya bulan ini.

Buku yang telah dibaca bulan Agustus dan September:

  1. Wind – Haruki Murakami
  2. Pinball – Haruki Murakami
  3. After Dark – Haruki Murakami
  4. After the Quake – Haruki Murakami
  5. The Girl on the Train – Paula Hawkins
  6. The Elephant Vanishes – Haruki Murakami
  7. South of the Border, West of the Sun – Haruki Murakami
  8. 1Q84 book 1 – Haruki Murakami

Total buku yang telah dibaca hingga September 2016 : 62 dari 100 buku.

Karena mustahil rasanya melahap 38 buku dalam tiga bulan yang tersisa, maka sepertinya resolusi 100 Buku Untuk 2016 harus direlakan untuk tidak tercapai. Sisi positifnya: saya sudah membaca 62 buku! di tahun tahun sebelumnya untuk memikirkan membaca 10 buku setahun saja rasanya sulit. Padahal hidup tidak sibuk dengan waktu luang kelewat banyak.

Maka sebelum saya melibatkan diri dalam hubungan fisik non fisik dengan Homo Sapiens lain di muka bumi, sebelum kepala saya dipenuhi perkara perkara duniawi, saya ingin menghabiskan waktu yang saya punya seegois egoisnya.

Sampit, 29 September 2016

It’s the most egocentric time of my lifetime period. But aren’t we all?

Advertisements

1Q84 Membuat Saya Merasa Normal

Untitled.jpg

Dalam buku George Orwell yang ditulis pada tahun 1949, muncul sebuah prediksi masa depan atas seperti apa dunia di tahun 1984. Di buku ini, tuan Orwell menggambarkan totalitarian di mana bumi dikuasai oleh segelintir orang yang menyebut dirinya Big Brother. Mengingat tahun penulisannya, tuan Orwell sepertinya ingin mengingatkan sesama rekan penulis dan kaum intelektual mengenai bahaya komunisme.

Eniwei, bicara soal tema, 1Q84 mengadaptasi ide tuan Orwell tentang (sebagian) dunia yang dikuasai segelintir orang (Little People) yang sedemikian berkuasa dan mempengaruhi pengikutnya. Sakigake namanya, berada dalam realita alternatif di mana ada dua bulan  berwarna kuning dan hijau menggantung di cakrawala. Pak Murakami mungkin dapat mengendus kemungkinan buku ini akan dituding mengacu pada karya tuan Orwell, didampuklah Profesor Ebisuno untuk menjelaskan hal ini:

“George Orwell introduced the dictator Big Brother in his novel 1984, as I’m sure you know. The book was an allegorical treatment of Stalinism, of course. And ever since then, the term ‘Big Brother’ has functioned as a social icon.” – Professor Ebisune, page 338

Mungkin lantaran buku yang saya baca masih belum banyak dan temanya terbatas, penelurusan psikologis sedetil dan semenarik ini baru saya temukan di buku buku Murakami. Yang dituliskan tidak seperti cukilan dari buku buku psikologi atau menggurui seperti Paulo Coelho. Ia seperti menceritakan kembali sebuah pengalaman pribadi sehingga membuat yang membaca merasa terkoneksi dan membaca lebih lagi. Tidak heran jika kemudian banyak yang terobsesi dengan kehidupan pribadi pak Murakami dan memulai telaah sotoy soal apakah beliau mengalami depresi, lekat dengan ide bunuh diri dan seorang nihilist.

Dalam buku What I Talk About When I Talk About Running saya menangkap bahwa Murakami adalah orang paling simpel sedunia. Lihat bagaimana beliau menjabarkan latar hidupnya sampai akhirnya ia memutuskan untuk menjadi penulis. Penjelasan penjelasannya soal pertanyaan media/fans yang -tidak selengean penuh sarkasme seperti Seno Gumira- namun lebih seperti… menceritakan kembali. Tanpa penelaahan atau upaya menjadi misterius yang berlebihan.

1Q98 adalah buku Murakami paling panjang (sejauh ini) lantaran terdiri dari tiga buku terpisah. Totalnya 1318 halaman dengan satu potongan chapter yang tembus ke Newyorker Magazine berjudul Towns of Cats. Lagi lagi setelah Kafka on the Shore, Murakami ngobrol sama kucing di cerpen yang mengharukan ini hiks.

Membaca 1Q98 membawa kesenangan tersendiri bagi saya, meski sepanjang ini, tiga minggu terasa sebentar dan tau tau bukunya abis. Meski banyak yang menyebut buku ini belum bisa disebut sebagai magnum opusnya Murakami karena masih ada buku bukunya yang lain yang tidak kalah bagus, namun bagi saya yang baru membaca 14 judul Murakami, 1Q98 memenangkan kompetisi Buku Murakami yang Nani Paling Suka. Kompetisi yang tidak penting sekali hahaha.

Proporsinya pas sekali, jumlah tokoh tidak berlebihan dan permainan antara surealisme, plot twist, koneksi antar tokoh, semuanya pas. Rasanya bahagia sekali kalau bisa baca buku sebagus ini ya.

Meski sepenuhnya fiksi, soal pembunuh bayaran di sebuah dunia dengan dua bulan menggantung di cakrawala, penokohan yang dibangun Murakami sepenuhnya terasa nyata. Kita seolah mengenal baik Aomame dan Tengo di dunia nyata. Kepala saya bahkan tidak henti hentinya mengulang sosok Ayumi sebagai refleksi diri sendiri hingga berujung cengengesan dan gumaman “Hehehe, ada temennya hehe”

None of them know, Aomame thought. But I know. Ayumi had a great emptiness inside her, like a desert at the edge of the earth. You could try watering it all you wanted, but everything would be sucked down to the bottom of the world, leaving no trace of moisture. No life could take root there. Not even birds would fly over it. What had created such a wasteland inside Ayumi, only she herself knew. No, maybe not even Ayumi knew the true cause.But one of the biggest factors had to be the twisted sexual desires that the men around Ayumi had forced upon her. As if to build a fence around the fatal emptiness inside her, she had to create the sunny person that she had built, there was only an abyss of nothingness and the intense thirst that came with it. Though she tried to forget it, the nothingness

would visit her periodically – on a lonely rainy afternoon, or at dawn when she woke from a nightmare. What she need at such times was to be held by someone, anyone. – page 523

Setelahnya, saya merasa semua keanehan keanehan di muka bumi ini dapat terjelaskan dengan baik. Seharusnya saya lebih giat membaca buku sejak dulu. Meski akhirnya Ayumi ditemukan mati dalam keadaan telanjang setelah dicekik seseorang di kamar hotel, hidup memang seharusnya dijalani dengan kesederhanaan sikap dan pikiran, seperti yang telah berpuluh puluh tahun pak Murakami lakukan. Hahaha.

When the Train Hits You Early

Kenapa novel ini begitu populer? Padahal “cuma” bercerita soal perempuan pecandu alkohol yang tiap pagi naik kereta ke London lalu suatu hari ia terlibat kasus pembunuhan. Untuk saya, ada tiga faktor yang melatari melesatnya buku ini ke rak top seller di toko buku.

Pertama: Tokoh utama yang mengundang simpati

Jika setiap tokoh utama di buku buku yang kita baca tidak memiliki masalah yang cukup pelik untuk turut kita pikirkan, niscaya buku tersebut tidak akan menarik. “Masalah” ini yang dimainkan oleh penulis agar pembaca hooked dengan tokoh utama. Saya tentu ogah membaca sebuah buku jika tokoh utamanya berupa perempuan cantik jelita kaya raya punya kekasih ga kalah rupawan dan penuh harta lalu keduanya jalan jalan keliling dunia sambil ketawa ketawa ngabisin duit hingga halaman terakhir.

http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRty1MH9_TCaIjMfIc_8adMMueqUhGBtNeCMh2NQqKYK9Fs2Xhp
Filmnya rilis Oktober tahun ini, yang main Emily Blunt.

Hawkins mendampuk Rachel Watson sebagai perempuan 32 tahun yang ditinggalkan Tom Watson suaminya untuk wanita lain, Anna Watson. Rachel adalah seorang alkoholik, dipecat dari pekerjaannya, kehabisan uang hingga harus menumpang di rumah adiknya, dan berpura pura masih bekerja di London dengan menaiki kereta api setiap pagi selama berbulan bulan. Oh, seolah hidup Rachel masih kurang blangsak, dia dinyatakan ga bisa punya anak.

Hingga sepertiga buku saya menaruh simpati sedalam dalamnya untuk Rachel, betapa bangsatnya Tom yang meninggalkannya karena meraka ga bisa punya anak, Tom yang berselingkuh dan seterusnya. Namun simpati ini berubah perlahan menajadi pertanyaan “Hooh, why won’t you get help, find AA meeting and get your shits together”, hal ini dilatari dengan adanya 3 sudut pandang yang dimainkan bergantian. Rachel, Anna dan Megan/Jess yang memberikan pembelaan mereka terhadap keburukan yang dilemparkan masing masing.

Kedua: Konflik konflik klasik khas masyarakat urban

Kecanduan alkohol karena masalah hidup yang pelik, suami selingkuh lalu menikahi selingkuhannya, rasa iri terhadap kehidupan sempurna milik tetangga, inferioritas, alienasi, depresi dan paranoia adalah potion yang membumbui novel ini. Hal hal seperti ini cukup familiar di kehidupan urban kekinian sehingga tidak berlebihan jika novel ini dipuji dengan sebutan Psychology Thriller.

Ketiga: Dramatis

Perselingkuhan, check

Mabok sampai dipecat, check

Mabok sampai lupa ingatan, check

Cat fights over a men, check

Melabrak rumah orang, check

There’s countless number of drama on the novel and we all love it, right? :)))

Ketiga formula itu dilengkapi dengan bahasa tutur yang bagus, runut kejadian yang meskipun maju mundur namun tetap mudah dipahami dan Hawkins yang pandai mengatur mood pembaca dengan adanya tiga perspektif. Buku yang menyenangkan untuk dihabiskan sambil menunggu antrian. Habis dalam dua kali duapuluh empat jam ❤

Sampit, 21 September 2016

Life’s suck. Jangan jadi kek Rachel Watson.

South of the Border, West of the Sun

Selepas maraton dinas, saya menemukan buku ini di dasar koper. Merely touched. Bertekad untuk menghabiskannya dalam kurun empat hari sebelum memulai proyek #MembacaTebal di minggu selanjutnya. Buku ini begitu menyenangkan hingga saya tidak sadar telah mencapai halaman terakhir di hari kedua. Meski jika dijabarkan secara sederhana ini adalah cerita tentang lelaki yang memiliki obsesi berlebihan terhadap cinta monyetnya kala SD hingga menimbulkan alter-reality, saya tetap percaya bahwa cinta yang sedemikian besar bisa mengubah banyak hal (kewarasan, misalnya)

Saya menyukai Hajime, tokoh pria sebagai sudut pandang pertama di buku setebal 214 halaman ini. Dia begitu menyukai Shimamoto -teman masa kecilnya- hingga menghabiskan 25 tahun (dan sepertinya terus berlangsung) untuk menghidupkan sosok perempuan yang tidak siapapun tau di mana sama siapa sekarang berbuat apa dalam detil yang luar biasa nyata dan meyakinkan.

https://i2.wp.com/cdn.wordables.com/wp-content/uploads/2015/12/HarukiQuotes9.png
I love the way Google Image Search the most alay version of Murakami’s quotes

Di akhir buku, disebutkan bahwa semua hal nyata yang menghidupkan skena kembalinya Shimamoto setelah 25 tahun perpisahan ternyata tidak pernah ada. Dan di sepanjang buku kita hanya sedang melihat proyeksi khayalan Hajime semata. Saking canggihnya kemampuan menulis pak Murakami, saya tidak menduga hal ini sama sekali. Saya kira akan ada penjelasan panjang lebar tentang apa saja yang terjadi di hidup Shimamoto seperti bagaimana ia bisa begitu kaya padahal tidak sekalipun pernah bekerja? nyet itu yang dilarung ke laut anak siapa nyet? kenapa ada om om ngasih seratus ribu yen buat brenti stalking Shimamoto dan seterusnya.

Ternyata yha, biasa, ga ada penjelasan apa apa karena semua itu khayalan semata hahahahabangsathahaha. Namun buku ini tetap menyenangkan, tidak sepahit Wind-Up Bird Chronicle atau seabsurd trilogi The Rat (Pinball – Wild Sheep Chase – Dance Dance Dance). Nyaris memiliki taste semanis Norwegian Wood namun tidak segelap itu. Soal cari mencari pengentas kesepian di masa muda dan menemukan perkara cocok di antara manusia. Laif.

Note: Dalam jeda setelah menamatkan The Elephant Vanishes kemarin, saya menghabiskan Paula Hawkins – The Girl on the Train yang filmnya akan rilis di bulan Nopember tahun ini. Membayangkan Emily Blunt sebagai Rachel Watson di buku ini rasanya mendebarkan karena she’s exactly who am I gonna pointed out as Rachel.

Things are great lately  ❤

Sampit, 16 September 2016

Menunggu Desember dengan tidak sabar!

 

A Trip to Remember

I rarely post my trip experiences. I’m not that good on describing what I feel and found the amazingness of the place I’ve been going. It’s September already and last night I had this thought before I hit the sack.

Men Nani udah jalan jalan ke banyak tempat sekali tahun ini.

Jadi ini dituliskan untuk mengingatkan diri sendiri di tahun tahun selanjutnya soal betapa saya semestinya tidak menggugat berlebih terhadap hidup yang tidak berjalan mulus. Entry kali ini akan dipenuhi selfie. I warn you.

Bali (29 Desember 2016 – 2 Januari 2016)

Ini kali pertama saya pergi ke Bali, menginap di Kuta untuk kemudian pindah ke Sanur dua hari setelahnya. Bertemu Pitooooo \o/ dan menghabiskan pagi – sore seliweran di pantai dan mencicipi kopi kopi enak, makanan makanan lezat dan perbincangan hangat aww.

Bali – Jakarta – Bali (23 – 31 Januari 2016)

Kali ini ke Bali (lagi) karena niatan nonton Ari Reda di Taman Ismail Marzuki pada 26 Januari. Mumpung weekend, melayanglah gadis ini ke haribaan Sanur untuk menyapa residen Ubud kesayangan dan Pito. Lalu menyaksikan Ari Reda yang memukau selama tiga jam pagelaran dan kembali ke Bali untuk nonton Navicula! Bulan yang menyenangkan indeed. Oh, saya juga menghadiri Malam Puisi Bali dan menjadi turis ga tau diri membacakan puisi Lang Leav dan Aan Mansyur. Bhihik.

 

Bali (08 – 12 April 2016)

Iya Nani ke Bali lagi hahaha. Kali ini untuk ngapain ya.. wait.. oke kali ini tanpa alasan selain kebetulan ada libur panjang (?) atau lainnya. Kembali menyambangi residen Ubud dan secara abusive menghajar Kuta dan Seminyak bermodalkan sepeda motor sewaan.

Bali (13 – 18 Mei)

Oke saya ke Bali lagi. Kalau tiap berangkat dan balik ke Sampit membawa satu kodi Pie Susu Dian, mungkin di tahun ini saya sudah sukses menjadi re-seller leholeh khas Bali itu. Di titik ini saya telah sukses dikenali oleh para waitress Smorgas – Jl. Danau Tamblingan dan ikrib bingit sama Pito dan kengkawannya di Helmen Coffee. Dan residen Ubud masih seenak empat kunjungan sebelumnya.

Kali ini saya membawa misi untuk menyaksikan pagelaran Ari Reda di Rumah Sanur – Jl. Danau Poso. Saat pagelaran berakhir dan saya kudu packing untuk mengejar penerbangan pagi keesokan harinya, di sela seruput terakhir soto yang enak banget itu saya memutuskan untuk tidak ke Bali dulu sementara waktu. Setidaknya sampai saya sembuh. Nani sakit kolesterol. Men.

Screen Shot 2016-09-11 at 12.30.19 PM.png

Singapura (30 Juni – 6 Juli 2016)

Berawal dari “Nan ke Vietnam yuk” dari Rida, saya menyelesaikan pembuatan pasport dalam kurun waktu SEHARI. Terimakasih kepada Manager HRD KLK Kalteng, I owe you one muach. Mengurus itinerary dan sekelumit perpesanan hotel melalui jasa pemesanan online, semua sudah fix lengkap dengan peta Ho Chi Minh City dan Rida telah membayar bagiannya. Lalu pada H MINUS SATU, Rida yang saat itu ada di Jakarta menelpon soal.

“Nan kayaknya Vietnam kejauhan, ke Singapore aja yuk”

Saya sayang Rida, namun kali ini sekurangnya tiga puluh menit saya habiskan untuk memprotes soal gila ya saya bikin pasport sehari jadi buat ke Singapore doang. Long story short, usai semua pembatalan dan re-route penerbangan, saya mendapatkan tiket ke Singapore 4 kali lipat harga normal lantaran pembelian dilakukan kurang dari 24 jam sebelum keberangkatan dan itu sedang libur lebaran. Of course.

Rida? oh dia beli tiket seharga 8 kali lipat harga normal pada dua jam sebelum keberangkatan. Di Bandara. Kek perkara pergi ke Singapure serupa kaya naik kereta api ke Sleman.

Kami memang bukan traveller paling cerdas sedunia.

Empat hari di Singapura itu seru! Pertama kalinya saya pergi ke luar negeri dan berhadapan dengan toilet kering ke manapun menuju. Secara agresif makan SubWay dan melakukan tourist cliche di beberapa spot turis di sana. FUN!

Surabaya (13 – 14 Agustus)

Trip kali ini didasari rasa penasaran terhadap ide iseng gimana kalau weekend ke luar kota tanpa kudu ambil cuti atau nunggu tanggal merah. Pada tanggal 12 tepatnya jam dua subuh saya membeli tiket penerbangan paling pagi ke Surabaya dan pulang paling sore di tanggal 14. Eh ternyata bisa loh, tiba di Surabaya jam 9 pagi lalu mengitari mall TP yang sekarang sudah ada enam biji lalu menunaikan urusan di ZAP Clinic, nonton, nongkrong, ke mall lagi keesokan harinya lalu pulang.

Cukup untuk kabur singkat dari Sampit, tapi untuk ditunaikan setiap minggu seperti ide semula, rasanya tidak setimpal dengan pegel badan aja.

Jakarta (20 – 22 Agustus)

Ke Jakarta sebenarnya tidak bisa dianggap sebagai liburan. Namun kali ini perginya bersama tiga orang kawan lainnya and we had a great time for 2 days in Jakarta! Ditambah lagi seluruh keperluan saya disponsori! Hahaha. Terbang melalui penerbangan paling sore ke Semarang lalu tiba di Jakarta menjelang tengah malam untuk kemudian berhura hura dan mall-hopping keesokan harinya. FUN ❤

Jakarta – Surabaya – Medan – Pekanbaru – Belitung (25 Agustus – 6 September 2016)

Permohonan cuti pada 25-26 Agustus sudah saya ajukan sebulan sebelumnya. Alasannya, saya ingin menghadiri pagelaran Teater Bunga Penutup Abad di Gedung Kesenian Jakarta. Teater yang tiketnya telah saya beli jauh sebelum permohonan cuti disetujui karena tiket telah nyaris habis sebulan lebih sebelum pertunjukan. Saya kebagian tiket VIP that cost me some fortune tapi tidak saya sesali karena tempat duduk saya strategis sekali.

Seminggu sebelum berangkat, dua berita saya terima. Satu; cuti saya tidak diluluskan dan dua; pada tanggal itu saya harus berangkat dinas untuk photoshoot seluruh anak grup KLK di Indonesia. WTF.

Nyaris semalam penuh saya menimbang betapa saya akan menyesal jika tidak menyaksikan teater yang diangkat dari novel Bumi Manusia-nya Pram ini. Ditambah dengan fakta bahwa tiketnya susah didapat. Betapa dekat saya dengan tunainya keinginan tersebut dan betapa mendesak ia untuk dipenuhi. Akhirnya, dengan keberanian entah dari mana, saya yang hanya remah korporat ini menghubungi Presiden Direktur perusahaan kami di Jakarta dan meminta agar jadual dinas saya dimundur serta saya diizinkan cuti untuk nonton teater.

Pertanyaan beliau : “What? How? What the.. Nani, that presentation have to be done in 24, and our time is tight. And your bloody theatre, what is that all about?”

Men, kalau levelnya Regional Direktur saya masih bisa cengengesan dan ngarang ini-itu. Di hadapan Presdir begini saya hanya merasa kurang tepat untuk berbohong. Akhirnya saya jelaskan semua secara panjang lebar dan betapa saya ingin nonton pagelaran tersebut lantaran jangkauan temanya adalah sesuatu yang sejak remaja saya sukai. Beliau akhirnya setuju, dengan saya yang penuh keyakinan menyatakan akan menyelesaikan draft awal sebelum tanggal 7 sehingga dia punya sekurangnya 4 kali kesempatan untuk review dan revisi. (update, ini tanggal 11 dan kami telah melakukan dua kali review, beliau bilang semuanya oke dan tinggal menunggu beberapa data tambahan dari akuntan lalu beres. YAY)

Begitulah, drama di balik Teater Bunga Penutup Abad. Men itu empat jam paling bahagia dalam hidup saya. Nyaris tanpa kedip saya menyaksikan perwujudan novel Pak Pram, ke dalam teater. Penampilan Happy Salma yang tanpa cela, Reza Rahardian yang utuh hadir sebagai Minke. Duh.

Lepas dari Jakarta, pada 26 Agustus saya berangkat ke Surabaya selama dua hari untuk beberapa urusan. Lantas memulai dinas sambil nyolong liburan dan kopdar di hari Senin. Di Medan saya bertemu kawan lawas dari twitter, makan duren di tempat paling klise untuk turis lalu melakukan photoshoot di tiga kabupaten berbeda. Lalu melanjutkan ke Pekanbaru, photoshoot di dua kabupaten dengan arah berlawanan sehingga sungguh menguras energi lalu ke Jakarta untuk preview awal. Lalu melanjutkan ke Tanjung Pandan untuk sehari penuh memanfaatkan fasilitas kantor untuk pergi ke pantai pantai di sepanjang Tanjung Pandan – Kelapa Kampit dan diving di pulau Lengkuas kyaaaaaa.

Pulang pada tanggal 6 dan preview kedua keesokan harinya. Saya sendiri bertanya tanya kenapa saya masih sehat secara fisik dan mental setelah deadline beruntun sejak awal Agustus kemarin hahaha. Ini adalah rute terpanjang saya dalam bepergian. Dan trip kali ini cukup untuk membuat saya kalem tidak ingin pergi ke mana mana sekurangnya hingga tahun depan. Airport juggling, tons of hotel check in, aju merasa cukup dengan semuwa ituw.

2016 adalah tahun yang menyenangkan. Saya banyak membaca, banyak bepergian, banyak menemui keseruan di tahun ini. September akan habis dalam kedipan mata, saya yakin itu. Setelah pergi ke banyak tempat dan bertemu banyak orang, saya mulai memikirkan soal  iya, memangnya kenapa sih saya kudu keukeh banget tetap di Sampit? menyusul tawaran Presdir untuk menempati posisi PR dan memimpin communication department di kantor pusat dengan gaji yang tentu berkali lipat. Tawaran yang sudah dua kali saya tolak dengan alasan saya tidak ingin meninggalkan bos saya di regional karena saya ingin berterima kasih dengan tetap di sini sampai beliau pensiun.

Oh, saya sangat menyayangi bos saya yang satu ini. Saya muncul di hadapan beliau untuk melamar pekerjaan tanpa modal apapun kecuali keberanian. Perusahaan ini membutuhkan sarjana bahasa inggris/komunikasi yang menguasai desain dan pengalaman bekerja di perkebunan minimal dua tahun. Saya muncul dengan kondisi resume awur awuran, tanpa rekomendasi lantaran saya cabut tanpa short notice dari kantor sebelumnya. Saya diterima bekerja tanpa alasan kuat kecuali beliau percaya pada saya. Dan itu bikin terharu, sungguh.

Setiap mengingat bagaimana beliau membela saya saat yang lain mempertanyakan kredibilitas saya, pada setiap gugat manager mengapa saya naik jabatan sedemikian cepatnya, beliau yang mempertaruhkan kredibilitasnya saat Presdir meminta saya memegang proyek senior manager and share holder annual presentation. Proyek yang di tahun tahun sebelumnya dipegang oleh expatriate senior manger yang telah bekerja 15 tahun lebih sebagai tangan kanan Presdir. Yang kemudian diserahkan kepada saya (dengan waswas yang tinggi, mungkin), anak kampung yang norak melihat MRT, berbahasa Inggris seadanya dan bahkan tidak sekalipun mengenyam pendidikan yang lebih tinggi dari SMA. Tanpa sertifikat desain, PR, public communication, apapun.

Saya tidak memiliki banyak pilihan kecuali bersyukur dan melesat lebih jauh dari ini. I already detached every string here in Sampit. I cut my friends, my family, love of my life. I already found myself all alone every time I got back home anyway. It’s been two years and I think I’m ready, I’m prepared physically and most important mentally to loose the string and leave. Tapi ya kenapa ya rasanya susya sekali hahaha.

Sampit, 11 September 2016

Saya semestinya bahagia sekali sekarang, setelah semua pujian dan pengakuan itu.

Tapi ya kok ya tep aja rasanya kek ada yang salah.