When the Train Hits You Early

Kenapa novel ini begitu populer? Padahal “cuma” bercerita soal perempuan pecandu alkohol yang tiap pagi naik kereta ke London lalu suatu hari ia terlibat kasus pembunuhan. Untuk saya, ada tiga faktor yang melatari melesatnya buku ini ke rak top seller di toko buku.

Pertama: Tokoh utama yang mengundang simpati

Jika setiap tokoh utama di buku buku yang kita baca tidak memiliki masalah yang cukup pelik untuk turut kita pikirkan, niscaya buku tersebut tidak akan menarik. “Masalah” ini yang dimainkan oleh penulis agar pembaca hooked dengan tokoh utama. Saya tentu ogah membaca sebuah buku jika tokoh utamanya berupa perempuan cantik jelita kaya raya punya kekasih ga kalah rupawan dan penuh harta lalu keduanya jalan jalan keliling dunia sambil ketawa ketawa ngabisin duit hingga halaman terakhir.

http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRty1MH9_TCaIjMfIc_8adMMueqUhGBtNeCMh2NQqKYK9Fs2Xhp
Filmnya rilis Oktober tahun ini, yang main Emily Blunt.

Hawkins mendampuk Rachel Watson sebagai perempuan 32 tahun yang ditinggalkan Tom Watson suaminya untuk wanita lain, Anna Watson. Rachel adalah seorang alkoholik, dipecat dari pekerjaannya, kehabisan uang hingga harus menumpang di rumah adiknya, dan berpura pura masih bekerja di London dengan menaiki kereta api setiap pagi selama berbulan bulan. Oh, seolah hidup Rachel masih kurang blangsak, dia dinyatakan ga bisa punya anak.

Hingga sepertiga buku saya menaruh simpati sedalam dalamnya untuk Rachel, betapa bangsatnya Tom yang meninggalkannya karena meraka ga bisa punya anak, Tom yang berselingkuh dan seterusnya. Namun simpati ini berubah perlahan menajadi pertanyaan “Hooh, why won’t you get help, find AA meeting and get your shits together”, hal ini dilatari dengan adanya 3 sudut pandang yang dimainkan bergantian. Rachel, Anna dan Megan/Jess yang memberikan pembelaan mereka terhadap keburukan yang dilemparkan masing masing.

Kedua: Konflik konflik klasik khas masyarakat urban

Kecanduan alkohol karena masalah hidup yang pelik, suami selingkuh lalu menikahi selingkuhannya, rasa iri terhadap kehidupan sempurna milik tetangga, inferioritas, alienasi, depresi dan paranoia adalah potion yang membumbui novel ini. Hal hal seperti ini cukup familiar di kehidupan urban kekinian sehingga tidak berlebihan jika novel ini dipuji dengan sebutan Psychology Thriller.

Ketiga: Dramatis

Perselingkuhan, check

Mabok sampai dipecat, check

Mabok sampai lupa ingatan, check

Cat fights over a men, check

Melabrak rumah orang, check

There’s countless number of drama on the novel and we all love it, right? :)))

Ketiga formula itu dilengkapi dengan bahasa tutur yang bagus, runut kejadian yang meskipun maju mundur namun tetap mudah dipahami dan Hawkins yang pandai mengatur mood pembaca dengan adanya tiga perspektif. Buku yang menyenangkan untuk dihabiskan sambil menunggu antrian. Habis dalam dua kali duapuluh empat jam ❤

Sampit, 21 September 2016

Life’s suck. Jangan jadi kek Rachel Watson.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s