2017’s Wishlist

Ritual akhir tahun kesukaan saya selain merencanakan liburan adalah terbukanya ruang kewajaran untuk menepi dari kehidupan yang serba normal serba waras dengan banyak banyak menuliskan resolusi untuk tahun berikutnya. Ini adalah kegiatan klise yang paling saya suka. Menuliskan keinginan keinginan di tahun mendatang untuk kemudian berupaya (atau tidak) mewujudkannya satu per satu.

Setiap tahun saya menuliskan harapan harapan baru, dan setiap tahun saya selalu menemukan hal hal tersebut mewujud sehingga rasanya menyenangkan untuk senantiasa menuliskan semacam wishlist ini berulang ulang.

Salah satu keinginan saya di tahun 2016 ini adalah menamatkan sekurangnya 100 buku sebagai balas dendam atas tahun tahun di mana saya tidak mampu dan tidak sempat membeli ataupun membaca buku. Hasilnya hingga 08 Desember hari ini, saya telah membaca sekurangnya 80an buku. Meski tidak tercapai 100, namun jumlah ini jauh lebih baik dibanding tahun sebelumnya di mana saya hanya membaca tak sampai lima buku dalam setahun.

Resolusi garismiring wishlist garismiring motivasi 2017  saya adalah sebagai berikut:

  • Membaca 50 buku
  • Menyelesaikan renovasi rumah pribadi
  • Pergi ke luar negeri setidaknya satu kali
  • Nonton AriReda lagi
  • Makin jago renang dan yoga
  • Tinggal di Bali
  • Dan tentu saja, masih New York!

Saya cukup lama bergeming di depan laptop untuk mengulang ulang kepinginan apa yang begitu saya inginkan untuk diri saya di tahun mendatang. Saya ingat di tahun tahun silam ada puluhan bahkan mungkin ratusan perkara yang saya inginkan untuk kejadian. Kini untuk mencetuskan enam poin di atas saja rasanya lamaaa sekali. Kecuali New York, my ultimate life goal.

Mungkin karena saya semakin tua, 25 tahun di bulan Januari kelak. Mungkin lantaran perjalanan hidup telah mempertemukan saya dengan banyak sekali orang, tempat dan pemahaman baru. Mungkin karena rajin yoga dan meditasi (?) namun saya jarang sekali menemukan diri saya jatuh dengan hebatnya seperti tahun kemarin. Istilah there will be quiet after the storm nampaknya benar adanya.

Eniwei, satu yang mencolok dari 2017’s wishlist saya adalah Tinggal di Bali. Hal ini tercetus lantaran dalam beberapa bulan terakhir saya kembali teringat soal betapa sulit untuk berkehidupan dengan layak di Sampit. I was paid well at work, have a good career and so on and so on. Tapi hidup bukan melulu soal menjadi yang terbaik di tempat kerja. Saya memiliki sisa 16 jam dalam hidup yang tidak tersentuh kegiatan sosial yang berarti. Melulu soal tidur cukup, bangun tidur dan bekerja lalu tidur lagi sambil liburan sekali-dua kali dalam setahun.

Jenuh, men.

Bali adalah tempat paling ideal saat ini sebab saya telah merasakan tinggal di Jakarta dan kota kota besar lainnya di Pulau Jawa sama sekali tidak menarik minat saya. You can be anything you want in Bali and people would considerate it as normal. As long it doesn’t bring any harm to another creatures.

Saya nyaris menggenapi seperempat abad dan tidak sekalipun saya menemukan orang di Sampit yang ngeuh siapa itu Eka Kurniawan. Belumlah lagi jika saya menyebut AriReda, Haruki Murakami atau bahkan Umberto Eco. Bukan bermaksud menegasikan intelektualitas orang orang di kota saya, mungkin hanya sayanya yang belum bertemu tapi seperempat abad rasanya sudah lebih dari cukup untuk menunggu dan mencari.

Sementara di Bali, dalam satu kali nongkrong saya bisa mendapatkan empat jam lebih percakapan panjang lebar tentang absurditas tema buku buku Murakami, Gabriel Marquez dan Kafka-esque. Bagaimana tidak menjadi sebuah triumph jika dalam perjalanan pulang ke hotel saya tak henti tersenyum lantaran merasa berada di tempat yang tepat.

Betapa ini akan terdengar seperti sebuah kesombongan namun demikianlah adanya. Saya mungkin satu di antara (saya yakin) banyak orang yang lelah dengan keadaan tidak dimengerti, yang nilai nilainya dianggap sebagai sekedar sebuah fase yang akan segera menemukan jalan lurus kembali, yang terus menginginkan sesuatu yang lebih dari sekedar bangun pagi, bekerja untuk kemudian pulang dan tidur lalu besok bekerja dalam pekerjaan yang dilakoni setengah hati.

Saya pernah sampaikan keinginan ini kepada beberapa orang dan reaksinya berbeda beda. Beberapa menyebut saya kurang bersyukur dengan kehidupan yang saya miliki sekarang. Dengan mudahnya saya bisa melancong ke luar negeri dan makan-menginap di tempat mewah tanpa perlu kuatir akan kehabisan uang. Atau betapa gampangnya saya pergi dari cafe ke cafe menghabiskan ratusan ribu untuk sekadar duduk dan membaca buku, menulis untuk blog melalui MacBook mahal tanpa kuatir soal cicilan dan nota nota. Ia menyebut hidup saya telah menjadi standar rasa iri bagi kebanyakan orang seusia saya, ditambah dengan saya hanya lulusan SMA namun menjadi kesayangan bagi Direktur perusahaan asing di tempat saya bekerja.

Tidak sekalipun saya mengecilkan hal tersebut, sungguh jika keberuntungan adalah perkara kocokan dadu yang dimainkan Einstein bersama Tuhan di atas sana, maka saya adalah beruntung adanya. Namun hidup bukan sekadar melancong ke luar negeri atau nongkrong di cafe cafe mahal. Saya merindukan rekan untuk perjalanan yang tidak sebentar, saya menginginkan lingkaran yang menganggap apa yang ditulis oleh Gunawan Muhammad adalah sesuatu yang penting dan ucapan Seno Gumira Ajidarma dalam bedah bukunya layak dibahas dalam sekurangnya tiga perspektif berbeda.

Saya ingin berdebar debar menantikan AriReda, Pure Saturday, Efek Rumah Kaca tampil di atas panggung. Saya ingin berdebar debar menantikan sanggahan argumen tentang penyataan Richard Dawkins dalam buku The Selfish Gene-nya. Saya ingin mengetahui dan belajar lebih banyak hal lagi, mengalami lebih banyak peristiwa lagi untuk kemudian mati dengan perasaan “Saya sudah hidup dengan sebaik baiknya”

Ledakan keinginan untuk pergi dari kota ini ditunjang oleh sudah dua tahun terakhir saya tinggal terpisah dari keluarga. Memenuhi semua kebutuhan sendiri dan semakin jago mengolah emosi. Saya siap, dan itu yang terpenting dari segalanya. We only had one shot to live in this world, and I don’t want to stay in a wrong place whilst I can move.

2017, here we go.

 

 

 

11 Desember 2016

Masa muda jangan dihabiskan untuk hanya diam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s