Awaited

Untitled.jpg
Don’t be that guy.

Wah, dua puluh lima.

Dulu sekali saat saya masih belasan dan mulai rajin menulis blog, yang paling sering saya jadikan entry adalah soal betapa inginnya saya pergi dan tinggal di New York. Tenang, hingga pada detik tulisan ini direkam maya, saya masih kalem kalem aja di Sampit dan belum ada pergerakan menuju negara dengan tingkat kriminalitas dan polusi tinggi itu.

Secara sederhana, kala itu saya kelewat ngebet untuk menjadi keren dan New York menempati hirarki tertinggi. Kepinginan yang luar biasa mengada ada untuk seorang perempuan 16 tahun baru lulus SMA dengan orang tuanya yang bukan siapa siapa. Perempuan yang jangankan ke luar negeri, ke luar kotapun ia tak pernah.

Perempuan 16 tahun yang kemudian menggenapi usia 17nya dengan tuntutan harus bekerja. Yang asing dengan komputer, internet lebih lebih gadget canggih. Harta berharganya hanya beberapa belas buku yang dibaca berulang ulang dan sepeda motor kreditan yang kemudian membawanya hingga berkilometer setiap harinya untuk mencari berita.

Sepanjang usia 17, saya harus membagi gaji yang tak seberapa dengan cicilan komputer dan sepeda motor. Menyisakan tidak lebih dari 200 ribu untuk jajan. Setiap ‘uang rokok’ yang diberikan narasumber segera saya bawa pulang untuk diberikan kepada ibu dengan perasaan bangga luar biasa, kami biasanya makan enak keesokan harinya. Di usia itu, saya banyak begadang untuk belajar mengoperasikan komputer dan mengetik dengan baik. Sambil terus membaca kamus di waktu luang.

Delapan tahun silam, saya tidak pernah tau akan seperti apa saya di usia 25. Yang saya tau, saya tidak akan menikah di usia ini :))) namun pada setiap langkah pulang seusai lembur, pada kesunyian jelang subuh saat begadang saya selalu yakin bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Nani kelak akan baik baik saja.

Saya tengah memandang sertifikat Executive of the Year di ruangan saya saat menulis kalimat ini. Siapa sangka bahwa perempuan yang hanya lulusan SMA ini tidak hanya mendapat tempat di kerumunan namun juga menonjol dengan caranya sendiri. Saya tidak ingin disebut beruntung sebab saya tau, ada kamus lusuh dan jemari yang pegal delapan tahun silam. Ada sumpah untuk tidak mau lagi jadi orang miskin setelah kematian ibu. Kemiskinan yang tidak hanya membuat beliau pergi demikian cepatnya tanpa perawatan berarti namun juga kemiskinan yang membuat ibu tidak mengecap kebahagiaan hingga hari kematiannya.

Kemiskinan yang memberi kami ratusan kali makan malam berupa sebungkus mie instan berkuah banyak untuk dimakan berdua. Yang membuat ibu harus berjalan kaki dan mengantri raskin di kelurahan setiap bulan. Yang membuat kami sekeluarga hanya bisa makan daging sekali dalam setahun saat Idul Adha. Yang membuat masa SMP-SMA saya terasa seperti neraka.

Kemiskinan yang, sekali lagi, mengambil ibu sedemikian cepatnya.

Namun sungguh, keahlian utama manusia adalah bertahan hidup dan menemukan silver lining di setiap duka. Jika bukan karena kematian ibu, tidak akan saya melanggar janji untuk senantiasa melawan kapitalisme, tidak akan saya bekerja untuk perkebunan sawit dan menjadi bagian dari permasalahan deforesasi di muka bumi. Betapa tidak, persimpangan karir sebulan setelah ibu meninggal adalah menjadi guide untuk OFI Pangkalanbun atau berhenti bermain main dan mencari uang.

Kemiskinan sekali lagi menang.

Dua tahun berselang sejak kematian ibu, dua tahun sudah saya berturut turut menjadi Best Executive of the Year dan dua kali pula naik jabatan. Melepaskan diri dari rumah dan segenap perkara kemiskinan yang berputar putar di keluarga mendiang ibu. Memastikan abah dan adik berkehidupan layak sambil terus berupaya untuk membuat kehidupan saya sendiri lebih baik.

Maka untuk persoalan sepelik ini, saya menolak disebut beruntung.

Apa masalah paling pelik perempuan yang menginjak usia 25 tahun? Seluruh orang Indonesia akan mengamini pernyataan ini: Menikah. Kapan nikah, sudah ada calon apa belum, kok masih betah aja jomblo, nanti susah hamil kalau nikahnya ketuaan, jangan pilih pilih kalau sudah jadi perawan tua bakal nyesal dan seterusnya dan seterusnya. Oh trust me, saya mendapat pertanyaan ini dari orang orang asing pada setiap kesempatan.

Saya menginjak usia 20an dengan memandang punggung kakak yang kala itu secara perlahan menjadi tulang punggung keluarga. Sejak usia 19, setamat SMA ia sudah menjadi pramuniaga toko dan menghabiskan enam tahun hidupnya di tempat itu hingga akhirnya berhenti saat menikah di usia 25. Pernikahan yang memberinya gelar janda sepuluh bulan kemudian. Sepuluh bulan yang serupa neraka, jika saya boleh mengutip ungkapan kakak menyusul nasihat untuk betul betul mempertimbangkan keinginan menikah. Menikah dengan orang yang salah adalah hal terakhir yang ingin saya lakukan dalam hidup.

Memiliki Kakak seperti itu, ditambah Abah yang tidak sekalipun riwil soal kapan saya menikah (sebab nampaknya di mata Abah saya adalah anak kecil selamanya) cukup untuk menutup ruang pertimbangan untuk menikah demi menyenangkan hati keluarga.

Apa yang akan saya lakukan di usia 25 dan seterusnya?

I don’t know.

I don’t know where I’d go.

But deep down I know that I’ll go far.

Semarang, 19 Januari 2017

A late birthday wish

Semoga saya dan seluruh makhluk bumi selalu bahagia 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s