Let’s Jump! or Climb, or Swim, as Long as You’re Happy

Menginjak bulan ketiga dan saya telah menamatkan empat sesi liburan dalam kurun waktu dua bulan. Tidak terlalu buruk mengingat saya jarang jarang merasa gemar bepergian. Pada 18 – 20 Februari silam saya memanfaatkan kembali sistem liburan tanpa cuti dengan ide untuk bepergian yang muncul pada malam hari sebelum keberangkatan. Benar adanya, saya adalah satu dari sejuta umat yang jika merencanakan sesuatu kelewat matang, cenderungnya malah ga jadi hahaha.

Kali ini dengan penerbangan pagi kami ke Surabaya di hari Sabtu. Berencana untuk ke Batu – Malang dan menyusun itinerary  objek wisata berupa Musium Angkut – Batu Night Spectacular – Eco Green Park – Jatim Park 2 seperti turis turis pada umumnya. Saya sekaligus mengemban tugas memperkenalkan tempat tempat di atas pada rekan travel yang tidak pernah ke Batu sebelumnya.

Namun dalam perjalanan dari Surabaya – Batu sebuah ide brilian muncul. Bahwa mumpung di Batu, kenapa ga ke Bromo aja sekalian! Meski Bromo telah menjadi tempat wisata dan tidak membutuhkan persiapan selayaknya mendaki gunung beneran namun tetap saja merencakan pergi ke Bromo tidak dapat disamakan dengan pergi ke warung depan. Pada akhirnya tentu saja impulsivitas yang menang!

img_0182
Touchdown Batu jam 2 siang. Langsung rafting!
img_0240
Jumping from the 3 mtrs high water dam
img_0190
Musium Angkut & BNS di malam hari
img_0223
Terakhir ke sini 2015 akhir, isinya masih sama sama aja
img_0332
Nunggu sunset kek ayam mati dalam freezer. DINGIN.
img_0383
Sunset di atas gunung, check.
img_0361
On our way back to Batu
img_0387
Kawah bromo yang bau belerang
img_0394
Ke sininya kudu nanjak 250 biji anak tangga. Copot dengkul Habibie.
img_0399
Menujunya sih naik Jeep sama kuda…
whatsapp-image-2017-02-24-at-4-47-53-pm
And I still got enough time to finish in through the weekend yay!

Sebagai informasi bagi warga negara yang ingin menunaikan liburan tanpa cuti a la kami, maka pengaturan waktu dan badan yang sehat adalah segalanya. Beruntung kami cukup sehat untuk memepatkan hal hal seru lengkap dengan drama dari kantor yang mengharuskan saya mengerjakan revisi peta dan Farida harus mengurus bagasi bos yang ga kebawa ke Malaysia! Selama kurang dari 48 jam di Surabaya – Batu, kami sempat melakukan:

  1. Rafting (tiba dari Surabaya jam 2 siang, langsung ke Kaliwatu)
  2. Musium Angkut (selesai rafting jam 5 sore, ganti baju dan langsung pergi)
  3. Batu Spectacular Night (Musium Angkut hanya buka sampai 8 malam, jadi banyak waktu di sini)
  4. Bromo (berangkat jam 12 malam setelah tidur 2 jam sepulang dari BNS)
  5. Penanjakan 1 – Pasir Berbisik – Kawah Bromo (trekkingnya lumayan jauh, tangganya landai sekali~~)
  6. Ngemall, OFC (setelah 4 jam dihajar jalanan Batu – Surabaya, akhirnya tiba di Ciputra)
  7. Safe and sound di Bandara sebelum pukul 8 malam.

Cape? BUANGET. Tapi ya itu, konsekuensi hahaha. Tapi sungguhlah ini menyenangkan sekali.

Saat ngantor kembali di hari Senin, saya mendapat telepon dari redaksional surat kabar internal group kami di Malaysia. Rupanya berita tentang orangutan yang dibantai dan dimakan oleh oknum di perusahaan sawit di Kapuas telah menarik perhatian internasional. Sebagai prevensi, diutuslah saya untuk mengunjungi area konservasi orangutan di Lamandau – Pangkalan Bun di mana perusahaan kami telah melepasliarkan 4 orangutan tahun silam. Maka berangkatlah saya dengan pantat yang belum sepenuhnya lurus untuk berkendara darat 4 jam dan sungai 2 jam. Fyuuhh.

dsc01226
Nenek moyang nih.
dsc01265
Feeding time.
dscn4814
Hutan selepas hujan. Tebak isinya apa? NYAMUK DI MANA MANA.

Ini minggu yang menyenangkan. Akhir pekan akan dihabiskan untuk mengembalikan tulang belulang dan segenap otot ke fitrahnya. Cape sekali jendral!

Sampit, 24 Februari 2017

I might have nothing in my pocket but I have tons of memories I won’t trade it with anything 🙂

Advertisements

How Far 2017 Would Go

https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/originals/38/74/86/3874865264ee88852c1061f9b27023e9.jpg
I can’t make money I’m not Bank Indonesia

Saya ingat betul, pada Juni 2010 dalam perjalanan ke sebuah bukit di Cikarang – Jawa Barat untuk pemotretan poster film Rayya, Cahaya di Atas Cahaya saya mengatakan ini pada Jeanny, wardrobe yang kami hire hari itu:

“Aku ga suka travelling, ide untuk capek capek terbang lama dan segala keriweuhannya bikin males aja” just like an asshole saat Jeanny bertanya apakah saya suka jalan jalan. Saya ingat betul kalimat ini karena memang seumur 19 tahun hidup saya kala itu, Jakarta adalah satu satunya destinasi travelling paling jauh yang pernah saya jejak. Sembilan belas tahun hidup tanpa pernah sekalipun berlibur saya terus menumpuk ide bahwa liburan is a waste of money and energy.

Butuh rentang enam tahun untuk bekerja dan bekerja demi ‘menabung’ CV yang bagus hingga akhirnya bisa mendapat pekerjaan dengan gaji yang bersisa untuk liburan di penghujung bulan. Jika saya menghabiskan bertahun tahun untuk membaca dan membuka dunia dari tulisan semata, maka dimulai sejak usia 23 saya ingin keluar dan melihat dunia sebenar benarnya.

Destinasi travelling saya di 2016 sudah saya bagikan di sini dan membaca kembali entry tersebut mampu membangkitkan senyum. Bahwa meski lemari baju saya tidak penuh terisi barang barang mahal bermerk ataupun tidak makan di restoran mewah setiap hari, hati saya penuh dengan kenangan kenangan baik tentang tempat dan orang orang baru #tsaahhh.

Ada jutaan deskripsi soal mengapa travelling dapat mengubah seseorang, dan satu hal yang saya pahami adalah hal itu benar adanya. Perspektif yang akan bertambah luas dengan pertemanan yang kian banyak adalah satu dari sekian juta mengapa saya begitu menggemari bepergian. Saya mengenal dan mendengar langsung kisah hidup orang orang yang menakjubkan.

Pemandangan yang menakjubkan, pengalaman yang mencerahkan pikiran, they’re really are, things that money can’t buy.

Jurnal travelling 2017 akan saya cicil perlahan dalam entry entry mendatang untuk dikompilasi pada akhir tahun. Dan hitung mundur dimulai sejak Tahun Baru!

Lombok – Gili Trawangan (26 Desember 2016 – 02 Januari 2017)

Sejak pertengahan Desember saya dan Farida sudah kasak kusuk merencanakan ingin berlibur ke mana. Ide bermunculan mulai dari Phi Phi Island, Vietnam (lagi) sampai Maldives! serba muluk memang. Saya sudah berniat untuk ke Bali dalam rangka tahun baru akhirnya setuju untuk melanjutkan perjalanan ke Lombok.

Snorkling adalah kegiatan baru yang saya gemari. Ada kesenangan tersendiri dalam berenang-berlama lama mengambang di lautan dan mengamati laut dari dalam air. Kalau mau roromantisan dan sok sok filosofis, saya menyenangi kesunyian yang absolut saat berenang dan seperti Capricorn kebanyakan (Murakami misalnya hahaha) saya cuma betah melakukan olahraga egois yang tidak melibatkan tim. Saya baru bisa berenang di akhir 2016 setelah 4 bulanan rutin belajar setiap minggu. Di Belitong saya belum berani berenang di laut tanpa life jacket barulah di Gili saya berani berenang di laut sebebas bebasnya!

Kejeniusan bermula dengan dibelinya tiket ke Lombok hingga 2 kali transit padahal ada penerbangan langsung Surabaya – Lombok tanpa harus transit ke Bali terlebih dahulu. Alhasil kami cuma punya kurang dari 24 jam untuk snorkeling di tiga spot di Gili karena keburu abis buat dua kali transit dan nginep di Bali.

Genius.

 

img_8096
Lombok Barat
img_8105
Snorkling Addict @Gili Trawangan
img_8140
Ada Gunanya Belajar Berenang! @Gili Meno
img_8148
Seaside’s Gelato
img_8158
Pelabuhan Gili Air
img_8229
Ngambang di Laut!

Semarang (27 – 29 Januari 2017)

Ini adalah sederet upaya trial kami kaum serikat buruh untuk memanfaatkan hari libur yang hanya 2 hari. Berbekal nekat bolos sebelum jam pulang di hari Jumat untuk mengejar penerbangan ke Semarang, berempat kami berhasil menggeber beberapa situs wisata di Semarang biar kaya turis kebanyakan :)))

img_9204
Gedong Songo
img_9242
Naik Kudaaaaa
img_9275
Lawang Sewu dengan Formasi Paling Turis Sedunia

Candidasa – Bali (04 – 08 Februari 2017)

Dalam rangka disuruh ikutan training lalu melipir ke Bali ngoahahhaa. Cuti yang tidak melimpah membuat jadual bepergian harus diatur sebaik baiknya. Kepingin mengulang pengalaman snorkling, saya bergegas ke Candidasa, sebuah desa keciiiil sekali di Kabupaten Karang Asem, dua jam perjalanan dari Bali. Mendapat review sebagai destinasi gateway yang baik lantaran jauh sehingga ga terlalu ramai, saya mendapat kesempatan untuk melihat Bali dengan wajahnya yang lain. Yang ramah, murah dan menyenangkan :*

img_9712
Blue Lagoon – 2nd Spot of Snorkeling
img_9592
Pantai Lebih, Klungkung
whatsapp-image-2017-02-09-at-5-13-59-pm
Virgin Beach – 3rd Spot of Snorkeling
whatsapp-image-2017-02-09-at-5-17-38-pm
In the Name of Wide Blue Sky and Deep Blue Sea ❤
whatsapp-image-2017-02-09-at-5-22-40-pm
Candidasa – 1st Spot of Snorkeling
WhatsApp Image 2017-02-09 at 5.24.39 PM.jpeg
Gosong tapi BAHAGIA!

Dulu, ketika saya membaca jurnal travelling mereka yang menyebut bahwa Indonesia cantik, kaya dan sayang untuk dilewatkan hanyalah basa basi traveller yang ga punya duit buat ke Maldives (yea, I was that naive) namun ketika melihat sendiri tempat yang dimaksud membuat saya sadar betapa beruntungnya kita orang Indonesia. Segenap keindahan alam dapat diakses dengan mudahnya meski well harus diakui beberapa tempat memang menguras kekayaan untuk disambangi. Namun jika dibanding dengan bule bule yang harus menempuh belasan jam penerbangan, melewati imigrasi dan berpotensi lost in translation maka sungguh, kita orang Indonesia beruntung adanya.

There was a time when I woke up in the middle of he night and feel that my life is such a mess. That I’m a lonely worthless human being. It happens in so many time it starts to affect my sleeping routine. Today when I saw Nani back in two years ago, I really want to thank her for being such a braveheart by taking a chance and conquering the worries of traveling alone in a perfectly strange place.

Eh sekarang malah kecanduan traveling sendirian hahaha.

Beberapa kawan berturut turut menjadi 25 di tahun ini. Saya senang membaca entry blog dan posting media sosial mereka. Usia 25 adalah spesial, konon katanya. Seperempat abad dengan persoalan Quarter Life Crisisnya. Saya justru -semoga tidak ada jinx di kalimat ini- menggenapi usia 25 dengan perspektif bahwa saya sudah mengalahkan krisis usia 25 itu. Betapa di usia ini tidak lagi saya temukan kegalauan kegalauan soal ke mana saya harus berkiblat dan mau jadi apa. Krisis atas penetapan formulasi pertanyaan filosofis paling klasik soal Who am I?

Bikin entry soal Millenials ah.

2017 masih panjang, kegemaran snorkeling semoga senantiasa dipertemukan dengan laut yang cantik dengan biota bawah laut yang masih asik. Semoga senantiasa punya cukup uang untuk bepergian sebab bucket list sedemikian panjang. Semoga di usia 25 bisa punya diving licence biar makin asik main di bawah air.

Sampit, 09 Februari 2017

Labuan Bajo, Maret teteh datang!!:)))