Selamat Jalan, Mama

Saya memerlukan waktu 3 tahun lima bulan hingga akhirnya memiliki kelapangan hati untuk menuliskan soal kepergian mama. Sebelumnya kakak adalah satu satunya sosok yang saya bagi soal betapa terganggunya saya dengan kenyataan bahwa mama meninggal sebelum saya menjadi saya yang sekarang ini. Perasaan terganggu itu kemudian berkembang menjadi penyesalan dan rasa bersalah yang teramat sangat hingga sering kali saya menemukan diri saya menangis sejadinya tanpa sebab. Atau terjaga bermalam malam memikirkan apa yang bisa saja terjadi jika kami tidak semelarat itu saat mama sakit.

Saya lahir di keluarga miskin. Abah adalah penjual minyak tanah keliling dengan penghasilan yang cukup untuk membeli indomie tiga bungkus dimakan berlima setiap hari. Saya terbiasa menumpang kawan untuk berangkat sekolah hingga SMA, tidak mampu membeli parabola hingga hanya mengonsumsi TVRI dan Metro TV berbelas tahun lamanya melalui satu satunya televisi tabung 14 inci tanpa remote di ruang tamu merangkap ruang tengah merangkap ruang makan merangkap kamar adik.

Paska kerusuhan etnis 2001, usaha minyak tanah abah tamat riwayatnya. Rumah yang tidak seberapa luas itu dijual dan kami pindah ke sebuah rumah kontrakan berkamar satu. Tiga ramadhan kami habiskan di rumah sempit dari papan yang bersebelahan dengan kandang ayam itu (yang membuat teman sekelas enggan berkawan selama satu semester di kelas satu SMP lantaran rambut saya senantiasa berkutu). Tiga ramadhan yang sahur-berbukanya makan indomie dan sarden melulu. Tiga Idul Fitri di mana saya tidak dikunjungi kawan manapun sebab saya selalu berbohong kami pulang kampung.

Saya tidak menghabiskan masa kecil dengan menonton kartun. Yang saya ingat hanyalah kenangan bermain egrang, barbie kertas dan patok lele di rumah tetangga. Juga ingatan atas seorang paman yang tengah menonton video porno di ruang tengah dan menawari saya untuk memegang kemaluannya. Tawaran yang kemuadian datang secara terus menerus hingga saya kelas 1 SMA. Yang membuat saya ketakutan setengah mati jika ditinggal sendirian di rumah, yang membuat saya mandi dengan pakaian lengkap setiap hari, yang membuat saya jijik setengah mati jika melihat figur wanita dan laki laki telanjang di televisi.

Sumber penghiburan saya adalah Perpustakaan Daerah. Selain untuk menghindari orang yang saat itu paling saya benci sedunia, Perpusda memiliki koleksi buku buku fiksi yang bisa dibaca dan dipinjam secara gratis. Penghiburan lain selain buku buku, adalah masakan mama.

Meski frekuwensi makan Indomie dan sarden nyaris setiap hari, namun Indomie dan sarden yang mama masak adalah yang paling enak sedunia. Atau ketika abah memiliki uang berlebih, abah akan pergi ke rumah tukang sate dan membeli tulang tulang ayam yang telah dikerat dagingnya untuk sate, kadang kadang ditambah kulit dan usus. Tulang tulang dengan daging tak seberapa itu lalu dimasak dengan saos plastikan, dapat dipastikan kami semua makan lahap hari itu.

Di tengah kemiskinan yang meraung raung sepanjang masa kecil saya itu, mama adalah yang paling sabar mendengarkan keluhan saya setiap pulang sekolah. Waktu itu saya menganggap mama sangatlah kejam karena tidak membiarkan saya melanjutkan sekolah ke SMP PGRI yang jam belajarnya santai sekali itu. Saya dipaksa masuk ke SMP favorit kedua dan kemudian SMA favorit pertama dengan alasan yang bagi saya waktu itu terdengar sangat picisan : “Agar hidup saya tidak susah seperti hidup beliau”

Mama dengan sabarnya membujuk adik saya yang terlambat bicara (dan menurut guru gurunya autis) untuk terus bersekolah meski sudah tiga kali tinggal di kelas dua SD. Adik saya sekarang berumur 20 tahun dan masih di kelas 2 SMA, namun berkat kesabaran mama dulu, adik saya mungkin adalah anak berumur 20 tahun yang paling keren yang pernah saya kenal. Ia punya mental yang kuat (bagaimana tidak, dari umur 6 tahun lingkungan telah menolaknya sedemikian rupa hanya karena tidak bisa bicara) dan kebijaksanaan dalam bertindak yang tidak pernah saya miliki saat seusianya.

Mama yang menghabiskan seumur hidupnya menunggu dinikahi agar terbebas dari beban menafkahi 6 adik adiknya, yang tidak mengenal dunia luar kecuali rumah dan jalan jalan kampung tempatnya berjualan jajanan pasar. Yang tidak lancar berhitung maupun membaca karena hanya mampu bersekolah hingga kelas 5 SD. Yang tidak mengenal Dawkins, Tan Malaka, Pramoedya ataupun Marx namun tetap menjadi orang paling cerdas sekaligus bijaksana yang pernah saya kenal. Yang di sisa hidupnya harus menanggung sakit karena telah bekerja sedemikian beratnya dalam tubuh kanak kanak.

Kemiskinan itu berkurang rongrongannya ketika kakak sudah mulai bekerja. Akhirnya kami memiliki belasan saluran televisi meskipun perangkatnya tidak berganti. Mama gemar sekali menonton Natgeo channel saat larut malam, terutama tayangan yang berkaitan dengan luar angkasa. Tiga tahun setelahnya, saya menyusul bekerja. Akhirnya bisa mencicil perangkat komputer dan sofa meski hanya sebatas DP karena cicilannya dilanjutkan oleh mama.

Saya kira semuanya telah membaik saat itu. Adik akhirnya lulus SD dan bisa membaca, kakak naik jabatan dari pramuniaga menjadi kasir swalayan, saya menjejak bulan keenam sebagai wartawan dengan kerja sambilan penyiar radio dan EO. Yang saya lupa adalah, saya seharusnya sadar bahwa mama tengah sakit dan butuh pertolongan.

***

Saya memiliki beberapa penyesalan dalam hidup. Seperti kenapa dulu saya tidak pernah berani mengadukan perbuatan paman saya kepada orang dewasa, kenapa saya tidak mencoba lebih keras untuk kuliah sastra, kenapa saya tidak menekuni pekerjaan film lebih giat lagi dan seterusnya. Namun dari semua penyesalan itu ada satu yang membangunkan saya di tengah malam dan membuat saya kehilangan fokus untuk kemudian menangis sejadinya di toilet hingga sekarang.

Penyesalan karena saya tidak bisa membayar 2,5 juta untuk sewa ambulans dan merujuk mama ke rumah sakit Provinsi. Bagi saya dan keluarga di tahun 2014 nominal itu sungguhlah besar, nyaris 2 bulan gaji saya sebagai Creative Program di salah satu TV lokal saat itu. Namun bagi saya harusnya sangatlah mudah untuk mencari pinjaman mengingat luasnya pergaulan saya sebagai jurnalis dan penyiar radio. Saat itu saya tau betul saya bisa mendapatkan uang itu tapi dengan bangsatnya saya hanya diam dalam rapat keluarga soal : merujuk mama ke RS Provinsi atau menandatangani surat pulang atas permintaan sendiri yang isinya memilukan itu.

Malam itu penyakit ginjal mama tengah parah parahnya, ia meraung kesakitan di bangsal kelas 3 RS Murjani Sampit hingga menjelang subuh. Keputusan kami bulat, mama akan dibawa pulang (yang kami ketahui bersama bahwa tanpa dialisis mama akan meninggal dalam hitungan minggu). Saat kakak merapikan barang barang mama, beliau berkata di sela rintih dan tangisnya bahwa beliau tidak pulang dan masih ingin hidup untuk menyaksikan cucu pertamanya tumbuh besar. Mama pingsan subuh itu, saat matahari terbit abah datang berboncengan dengan adik yang menyeret gerobak minyak tanah beliau di sepeda motornya. Gerobak dilapis kasus Palembang dan mama dibawa pulang hari itu.

Mama meninggal seminggu kemudian.

***

Saya membaca dan mendengar cerita orang orang mengenai coping mechanism. Namun yang saya lakoni pada saat penyakit mama memburuk kalaulah disebut coping mechanism maka yang saya pilih adalah metode paling buruk sedunia. Saya begitu dingin menghadapi sakitnya mama, saya terus bergumam soal mama tidak mungkin meninggal di usia semuda itu, mama telah mengalami hal serupa tahun lalu dan baik baik saja, mama masih sehat kok dan seterusnya. Malam malam berjaga di rumah sakit saya lakoni setengah hati, hingga akhirnya mama tidak lagi mengingat saya dalam perbincangannya dengan kakak. Bahkan pada bada’ Dzuhur mama meninggal, saya menolak mendampingi beliau saat menghela nafas terakhir. Saya ada di ruang tengah, nonton TV sambil makan martabak. Saya baru menangis saat mama dikafankan sore harinya. Malam hari selepas pemakaman, saya pergi ke sebuah cafe bersama dua orang kawan yang bingung kenapa saya malah tertawa tawa dan bersikap seolah tidak terjadi apa apa.

Butuh waktu 3 tahun lima bulan untuk akhirnya saya bisa menceritakan detil ini kepada kakak. Yang kemudian menyebut saya tidak bertanggung jawab atas kematian mama. Bahwa saya tidak semestinya menyalahkan diri sendiri atas kejadian tersebut. Semakin saya katakanlah sukses semakin saya ingin mendamprat Nani tiga tahun silam, gadis 22 tahun itu sedemikian egois hingga lupa untuk sayang kepada ibunya sendiri.

Sekarang selepas bercerita dan akhirnya menulis ini, saya seperti terbangun dari ruang vakum dalam kepala yang memutar mutar saya pada penyesalan itu. Sekarang saya ingin lebih pandai menerima kematian mama sebagai bagian dari proses kehidupan, bahwa yang hidup bakal mati, kapanpun bagaimanapun. Saya ingin bersikap lebih lunak pada diri sendiri agar tidak mengutuk kemudahan yang saya punya sekarang sebagai pengingat betapa tidak berdayanya saya tiga tahun silam.

Saya ingin menjadi orang yang tidak memiliki keluhan apapun terhadap dirinya. Yang dengan lapang dada menerima segala kejadian dan tidak berputar putar menyesali perkara yang sudah terjadi. Saat ini saya akhirnya bisa meyakini bahwa mama tidaklah marah pada saya, bahwa beliau telah memaafkan saya jauh sebelum kematiannya. Untuk terus membahagiakan sisa anggota keluarga yang saya punya dan hidup melalui mimpi beliau untuk melihat dunia seluas luasnya, segegap gempitanya.

Advertisements

Author: nanirigby

A Wanderer who constantly asking about "Why?"

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s