Pergi ke Jepang dan Perkara Menghidupi Harapan

Meski seringkali menolak menyebut diri ini mempercayai lekatan sifat pada zodiak zodiak, saya tetap harus mengakui ini; Aquarian adalah kumpulan orang orang dengan impulsivitas tinggi. Kebetulan, tandem perjalanan/kawan sepermainan/rekanan serumah/god mothernya Bambang merupakan kelahiran 10 Pebruari. Maka setelah tahun kemarin memutuskan pergi ke Singapura pada malam sebelum keberangkatan, tahun ini agak mendingan karena “Nan, tanggal 7 ke Jepang yuk” meluncur sehari selepas gajian. H minus tujuh.

Mungkin jika yang membaca paragraf di atas adalah orang orang dengan kemampuan mengkonversi ingus menjadi duit, perkara bepergian ke luar negeri tanpa perencanaan berbulan bulan (atau setidaknya niatan jauh jauh hari) adalah hal biasa. Namun bagi pekerja kelas rendah dengan total pendapatan (bukan cuma gaji lho ya) yang tidak lebih dari enam juta sebelum dipotong KPR dan cicilan kartu kredit ini, pergi ke luar negeri adalah perkara pelik yang membutuhkan perencanaan paling tidak enam bulan sebelumnya agar tidak terancam kelaparan sepulang liburan.

Setelah September kemarin memboyong keluarga Anwar ke Jakarta untuk liburan dan mendadak kabur ke Jogja Oktobernya, saya sebenarnya tidak ingin ke mana mana hingga akhir tahun. Tapi namanya manusia ya, kalau pengen sesuatu adaaa aja jalannya. Jadi ceritanya, dulu saya ikut ikutan hype “Simpan uang 20 ribuan seketemunya” yang (kalau tidak salah) dipopulerkan oleh konsultan keuangan itu. Total 20 ribuan saya sejak 2016 kemarin ternyata hampir lapan juta~

Ditambah tabungan untuk pos hura hura, berangkat ke Jepang akhirnya kejadian juga. Setelah membayar lunas paket tour kami ke Haneda via Singapore Airlines yang konon salah satu maskapai terbaik itu. Makanannya enak sih, untuk takaran makanan pesawat. But who am I to compare ya, pesawat paling canggih yang pernah dinaiki cuma kelas satu Garuda Indonesia. Eniwei setelah total delapan jam di udara, kami tiba di Tokyo jam enam pagi dan langsung city tour lalu berhenti di Tokyo Tower.

IMG_1299
Karena bus berhenti tepat di bawahnya, ngambil foto utuhnya susah sekali Jendral~

Setelah belanja souvenir khas TT di lantai bawah, saya ketemu satu stall ramen di pojokan. Cara pesan makanannya lucu, pakai vending machine lalu begitu tiket makanan keluar, dikasih ke mas/mbanya. Tunggu sebentar, jadi deh. Satu stall yang agak gede cuma berpegawaikan satu orang sebagai koki karena urusan kasir sudah dihandle mesin. Hari lain saya makan gyudon di Osaka, konsepnya sama pakai vending machine dan pegawainya cuma 2 orang padahal kapasitas tempat itu bisa nyampe 50 orang. Dan cepet banget jadinya padahal saya kira bakal lama lantaran pegawainya dikit.

Makanan di Jepang sejauh yang saya temukan ga ada yang ga enak. Istilah umami kayaknya beneran diterapkan di setiap makanan. Salah satu spot makanan menarik adalah di kuil Fushimi Inari. Sepanjang jalan menuju deretan Tori (gerbang) yang jadi lokasi syuting Memoar of Geisha itu isinya street food yang murah dan enak. Murah karena nyaris semua stall menaruh harga 500 yen untuk satu porsi makanan yang selain enak, porsinya besaaar. Saya nyoba tiga potong kobe beef yang lumayan tebal, satu porsi isi 6 bola takoyaki dan gurita masing masing 500 yen. Kalau dikonversi ke rupiah sekitar 60 ribu kali ya. Nampuluh ribu well spent itu sih.

Banyak yang bilang kalau Jepang itu mahal. Jawabannya ya relatif. Kalau dari sudut pandang orang yang bisa mengkonversi ingus menjadi duit misalnya, ngabisin 1000 – 1200 yen untuk selembar baju I love Japan tentu biasa aja. Sementara kalau dari sudut pandang orang yang biasa beli kaos oleh oleh di Krisna tentu 122 ribu untuk selembar kaos adalah penistaan terhadap prinsip beli barang oleh oleh Murah dan Banyak.

Jadi saya menghindari membeli oleh oleh di tempat wisata, saya lebih suka ke toko 300 Yen yang banyak cabangnya itu dan banyak menemukan oleh oleh lucu dan Jepang banget di toko itu. Bisa dapet kaos dan totebag jejepangan dengan harga 30 ribuan itu kan menyenangkan sekali ya coy~~

Eniwei setelah dari Tokyo Tower kita bergerak ke untuk makan siang di restoran Shabu Shabu. Enak dan mewah sih ini secara per porsinya 1800 yen yha. Setelah makan siang lanjut ke Asakusa untuk main ke Sensō-ji, kuil Buddha yang tidak begitu menarik perhatian saya karena selain antrian naik ke kuilnya luar biasa padat, saya tidak mengerti di mana letak keseruan selfie dan berfoto di tempat ibadah.

Di Asakusa saya memilih untuk berkeliling di halaman dan ngemil yang enak enak di tenda tenda jajanan sepanjang kompleks kuil.

IMG_1369
Heran kok barang vending machine begini bisa enak banget

Sorenya bergerak ke Kawaguchi-ko, atau Danau Kawaguchi. Danau ini sendiri merupakan hasil muntahan Gunung Fuji yang berubah menjadi danau. Kebetulan lagi akhir musim gugur jadi pohon pohonnya merah dan cakep banget astagaa. Di Kawaguchiko suhu malam hari masih 5 – 10 derajat. Lumayan dingin dibanding Tokyo – Asakusa yang 15 derajat. Di sini kita bermalam dan nyobain mandi di Onsen sebelum besoknya ke Gunung Fuji.Saya ga ngerti bagaimana agent travel memikirkan caranya, tapi kok ya selama di Jepang (lima hari) dan di pesawat (dua hari) saya merasa dimanja banget. Makanan tiga kali sehari enak enak, hotel yang pas dicek di Traveloka nembus 2 juta semalam dan seterusnya. Mana terbangnya pakai SQ yang sekali jalan bisa nembus namjuta pula. Gatau deh. Yang pasti worth every pennies.

IMG_1460
Bangun pagi dengan pemandangan begini bagaimana tidak ingin tidak pulang coba
IMG_1453.JPG
Di seberangnya beginian. Kelar.

Setelah puas di Kawaguchi-ko, perjalanan dilanjutkan ke level lima Gunung Fuji. Kami cukup beruntung karena cuaca cerah dan bisa naik sampai level lima. Banyak yang bilang kalau naik ke sana termasuk untung untungan. Yha rezeki anak yang sering menabungkan uang 20 ribuannya mungkin ya.

Puas kedinginan pada suhu minus satu di level lima Gunung Fuji, kami bergerak menuju Hamamatsu untuk bermalam dan besoknya ke Gotemba Premium Outlet. Di Gotemba ini adalah “tempat sampah”nya Mall besar di kota (FYI Gotemba letaknya di tengah tengah pedesaan). Jadi nyaris semua barang bermerk bisa ditemukan setengah harga di sini meskipun modelnya tertinggal satu-dua musim. Tempatnya luas sekali astaga, dari 2,5 jam waktu yang diberikan untuk berbelanja, saya yang memang sejak awal tidak ingin belanja barang bermerk yang walaupun katanya sudah setengah harga tapi masih aja mahal itu, memutuskan untuk membeli Swatch untuk kakak (dari harga normal di atas sejuta di Indonesia jadinya 6000 yen atau 700 ribuan) dan nongkrong di Philly’s. Sandwich “cuma” roti sama daging steik kok ya bisa enak banget begitu ya.

Dari Gotemba kami bergerak ke Hamamatsu untuk bermalam sebelum melanjutkan perjalanan ke Kyoto. Perjalanan ke sini dari Gotemba sekitar 1,5 jam dan lanjut ke Kyoto sekitar 2,5 jam. Awalnya saya heran kenapa jalannya jauh jauh, kenapa ga stay di Tokyo 2 hari dan muter muter kota, misalnya. Ternyata jadwal sudah disusun serapih dan sejauh itu biar yang ikut tur puas walaupun mungkin cuma sekali seumur hidup ke Jepang.

Di Kyoto, kami main ke Kyomizu temple. Di sini makan enak dan nyobain Kimono yang lapisannya udah kayak Baumkuchen yang entah kenapa populer banget di Jepang (di beberapa stall bahkan menulis ini oleh oleh khas Jepang yakale kan yaaa). Dari Kyomizu lalu ke Kinkakuji Pavilion rumahnya raja zaman dulu yang kayaknya kalo jadi raja males banget ke mana mana jalannya jauh padahal masih satu kompleks ckckck.

Dari Kinkakuji lanjut ke Fushimi Inari. Yang menarik dari tempat ini adalah (lagi lagi) street foodnya hahaha. Di sini sepanjang jalan isinya tenda jajanan dengan harga 500 – 1000 yen per porsi yang tidak hanya bikin kenyang lantaran guede juga bikin hati bahagia kok bisa daging dipanggang doang enaknya keterlaluan~ Oh ya, Fushimi Inari juga terkenal melalui film Memoar of Geisha dengan adegan Saki kecil berlarian di Torii (gerbang) yang totalnya lebih dari 10.000 itu.

Di Fushimi Inari ada banyak Rubah (Kitsune) yang terlihat creepy (mungkin gegara main di sana senja jadi kesannya beda kali ya) Kitsune di sini adalah dewa penjaga karena pada masanya daerah situ merupakan penghasil padi gitudeh.

Dari sana lalu bergerak ke stasiun untuk mencoba naik Shinkansen. bullet train bukan untuk gegayaan agar terdengar keren. Jarak antara Kyoto ke Osaka kalau naik mobil sekitar 2 jam. Dengan Shinkansen cuma 12 menit wankawan. Bahkan untuk jarak seperti Jakarta – Surabaya (Tokyo – Osaka) cuma 2 jam. Yah masih kenceng naik pesawat sih tapi kan kalo naik Shinkansen di dalemnya selow banget, bisa jalan antar gerbong, ngudud lucu (di beberapa gerbong ada fasilitas smoking room) atau jajan makanan.

IMG_1815
Sayangnya tidak non local spoken friendly
IMG_1828
Basement stasiun shinkansen Osaka yang isinya sepeda semua.

Setibanya di Osaka sekitar jam 7 malam. Saatnya apaaaa? yak betul. Makan makan lagi. Kali ini nyobain Yakiniku di lantai 20 building entah apa namanya abjad Jepang semua ya neyk. Setelah makan barbeque buffet sepuasnya, menuju hotel Osaka Da-ichi yang kebetulan pas di tengah kota. Jadilah dua anak perempuan ini menggelandang hingga menjelang tengah malam di jalanan kota yang suhunya 10 derajat itu.

Besoknya menuju Osaka Castle, saya yang udah bosen liat kuil memutuskan untuk nongkrong di taman di antara daun sakura yang berwarna merah dan secara menakjubkan terlihat seperti pohon dan daun jambu. Ada Ginko, Momiji kyaaa~ sebagai orang yang berasal dari negara dengan keseharian melihat pohon kalau ga hijau ya cokelat kering, melihat daun dauh merah begitu adalah kesegaran tersendiri.

Setelah nongkrong di Osaka Castle, kami menuju ke Shinsaibashi. Sorga makanan enak dan outlet belanja. Di sini saya ketemu toko 300 yen dan mborong oleh oleh. Selama lima jam waktu sebelum ke Bandara, ritme saya adalah jalan keliling sampe laper (kompleksnya luas banget), jajan gyudon. Jalan lagi sampe pengen boker, terus jajan omurice, begitu seterusnya. Sayangnya cuaca lagi berangin jadinya dingin banget, saya sampai khilaf mampir ke salah satu outlet buat beli sweater dan mantel padahal buat apa nyampe Indonesia ga kepake juga. Tapi daripada beku di suhu 2 derajat ya coy.

Perjalanan ke Jepang berakhir di Sinsaibashi Osaka ini. Sungguh perjalanan yang menyenangkan. Pergi ke Jepang sekaligus mencoret satu bucket list yang ditulis pada 2011 silam dan resolusi 2017, saya lupa melihat di mana tapi ada satu quote image yang bilang :

and I already walks on mine

 

Jakarta, 12 Nopember 2017

 

Author: nanirigby

A Wanderer who constantly asking about "Why?"

One thought on “Pergi ke Jepang dan Perkara Menghidupi Harapan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s