Ketidaktertarikan yang Tidak Menarik

Jika fase hidup harus dicacah dan diberi label seiring perjalanan usia, saya rasa marka yang paling tepat untuk usia 25 ini adalah apathy. Saya merasa kehidupan saya adalah stagnan meski di luar terlihat saya tengah melesat ke banyak penjuru mata angin. Saya sadari ini saat hari terakhir di Jepang. Saya menggumam sendiri setelah keluar dari toilet bandara Osaka

“Bangsat, udah ke Jepang kok rasanya biasa aja”

Pergi ke Jepang bukan soalan sepele untuk saya. Ada belasan tahun yang dihabiskan untuk membaca komik dan sedikit sedikit tahu budaya Jepang. Ada masa di mana saya kesal karena Abah tidak ma(mp)u mengkursuskan saya Bahasa Jepang. Tokyo Tower, Asakusa, Gunung Fuji dan seterusnya pernah saya tuliskan tebal tebal di halaman belakang buku pelajaran Matematika tepat di bawah Bucket List seumur hidup Nani. Waktu itu saya hanya bisa nonton Naruto sambil bergumam kapan bisa pergi ke Jepang. Ke mana antusiasme terhadap keinginan di halaman belakang buku pelajaran Matematika itu pergi, saya tidak mengerti.

Di persinggahan ini, saya tidak merasa tertarik dengan apapun. Perubahan ini terasa sebab saya dulu adalah seseorang yang mudah tertarik dengan hal baru dan tenggelam di dalamnya. Saya ingat saya pernah memiliki sekurangnya empat binder yang saya sampul hitam dengan lambang pentagram dan stiker band band metal di mana mana. Saya pernah telat setiap pagi karena malamnya khusyuk di forum metal sambil mencatat hal hal yang tidak saya tahu ke dalam binder tersebut. Ada juga masa di mana saya sangat tertarik dengan islam, musik jazz, anime, indie movement dan seterusnya. Antusiasme saya terus ada, waktu ke waktu sebab kala itu saya merasa bahwa stagnansi adalah mati.

Sekarang sudah menjejak tahun ketiga saya merasa tidak tertarik pada apapun. Sungguh saya mencoba untuk menemukan hal baru. Pada buku buku misalnya, dorongan untuk serius menjadi pembaca buku muncul pada awal 2016. Saya mulai mengoleksi buku buku yang dulu tidak bisa saya beli. Selesai bernostalgia saya melahap buku buku baru hingga tidak terasa dalam setahun 89 buku selesai saya baca. Tahun selanjutnya, antusiasme pada buku buku seolah lenyap. Sekarang untuk menamatkan dua buku dalam satu bulan saja saya rasanya malas. Hasilnya, dalam nyaris dua tahun terakhir saya membeli lebih dari 300 buku dan nyaris setengahnya belum terbaca.

Saya mencoba untuk menyukai travelling karena pertengahan tahun ini ngeuh bahwa saya banyak jalan jalan dalam setahun belakangan. Saya mencoba menyusun kota dan negara yang ingin dikunjungi beserta alasan. Namun setelah menuntaskan Jepang, daftar kota dan alasan ingin mengunjunginya yang saya susun terasa hambar. Saya menyadari bahwa travelling seperti upaya skip dari realita. Bahwa saya tidak harus begini begitu untuk sementara. Setelahnya ya sama saja, kembali dalam dunia tanpa selera. Apatisme ini berujung dengan ajakan ke Korea di akhir tahun yang saya tampik meskipun separuh biaya ditanggung program infaq dan sodaqohnya seorang kawan. Sungguh, ketidakantusiasan ini seperti kutukan.

Dalam daftar upaya menemukan antusiasme ini ada bersepeda (karena males), belajar Bahasa Perancis (karena ngapain juga), sampai blind dating tiap ke luar kota yang berakhir dengan kebosanan. Hingga perkara tidak sehat seperti bikin my personal mukbang show di mana saya beli banyak makanan dan mencoba memakannya sekaligus (kayaknya naik 5 kilo gara gara ini), dan mencoba rajin mabu mabuan untuk meningkatkan resistensi terhadap alkohol yang hasilnya kalau setahun lalu dua teguk wine saja saya tumbang, sekarang even half a bottle of Jack Daniel didn’t tackle me down. Puncaknya adalah ketika saya membeli perlengkapan baking mulai dari oven, mixer, mangkuk dan gelas ukur, loyang dan semuanya lalu ketika sampai di rumah saya tidak berselera bahkan untuk membuka mereka dari kardusnya hingga hari ini. Padahal sehari sebelumnya begitu tekun saya telusuri video video Tasty di Youtube.

Rasanya seperti sudah mencoba terlalu banyak dan akhirnya menyerah.

Sekarang saya tidak tahu ingin melakukan apa. Saya bosan setengah mati tapi terlalu malas untuk bergerak. Penghiburan penghiburan kecil dan meaningless adalah makan pagi – siang – malam dan internet. Juga berseason season serial televisi Netflix.

Selain Bambang, saya tidak begitu mengerti di mana letak keriaan di dunia ini.

IMG_1413
His sleeping face soothe all aches 

 

Sampit, 24 Nopember 2017

Advertisements

Author: nanirigby

A Wanderer who constantly asking about "Why?"

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s