Kenapa Ikutan Meal Prep?

Saya sadar betul bahwa Nani dan konsistensi adalah dua hal yang sulit akur. Saya jarang sekali betah melakukan satu hal secara rutin dan menahun. Runutan contohnya ada di entry blog sebelumnya dan jujur saja menuliskan hal itu membuat saya nelangsa. Seperti menguwek uwek jeroan sendiri dengan tangan kosong. Tapi tidak seperti konsistensi yang tidak berkawan baik dengan saya, kemampuan menemukan silver lining secara prematur adalah keahlian yang sayangnya tidak bisa saya cantumkan dalam resume pekerjaan manapun.

Setelah bengong dan tidak karuan tidur (sebagian besar karena menjadi pelaku LDR dengan lima jam perbedaan waktu sih) selama nyaris seminggu saya mulai merasa bahwa saya butuh perubahan. Saya tidak bisa berbuat banyak pada nasib, tapi saya punya kekuatan untuk mengubah perkara non abstrak di sekitar saya. Akhirnya pada long weekend kemarin saya menata ulang kamar dan menghilangkan beberapa furniture di dalamnya.

Untuk diketahui kamar pada rumah yang saya tempati bersama seorang kawan 6 bulan terakhir ini hanya berukuran 3 kali 3 meter. Sebelumnya kamar kontrakan saya berukuran 4 kali 6 sehingga ketika semua perkakas kamar dipindah rasanya kok sempit sekali. Dengan kasur custom 200 kali 200, kamar di rumah baru ini literally isinya kasur semua :)) enam bulan dengan kondisi kamar tanpa ruang gerak itu memperkuat rasa malas sehingga banyak waktu yang saya habiskan di atas kasur dan mager.

Setelah mengungsikan 2 lemari buku dan mengganti kasur menjadi ranjang ukuran 90cm, saya kaget ternyata 210 kali 100 sentimeter lebih dari cukup untuk melakukan banyak hal. Setelah 3 hari berkutat dengan penataan ulang kamar, hari ini saya ingin memulai perubahan lainnya; meal prep (buset butuh 4 paragraf sebelum akhirnya kita memasuki tema ini ya)

Meal prep ini sering muncul di Tasty (sub-channel BuzzFeed) dan saya kelewat sering nonton video masak masakkan ini pada saat mager menjadi rutinitas dulu. Gaungnya menjadi lebih kencang setelah belakangan di Twitter sering wira wiri mba Twelvi dengan resep dan tips meal prepnya. Pas baca blognya, bagian yang paling menarik perhatian saya adalah dia bisa menabung hingga 150 juta selama kurang dari 2 tahun untuk jalan jalan.

Oke, saya mungkin membutuhkan waktu lebih banyak untuk menabung uang sebanyak itu. Tapi setelah melakukan hitung hitungan sesuai dengan guideline mbaknya, saya bisa menabung jumlah yang sama dalam waktu 2,5 tahun. Yang mana jika sudah saya lakukan empat tahun yang lalu saat pertama masuk kantor maka seharusnya saya sudah bisa membelikan rumah baru untuk abah (harga rumah baru tipe 100 di Sampit lho ya, bukan Meikarta), tapi gapapa, empat tahun terakhir saya bersenang senang, melihat dan belajar banyak hal. Nah, pada 2018 harusnya saya sudah cukup dan bisa memulai hal baru : menabung.

In a way or another, saya merasa relate dengan cerita mbak Twelvi soal hidup pas pasan – dapat kerjaan oke dengan gaji lumayan – foya foya untuk membayar/membuktikan sesuatu. Saya sendiri sadar betul sekali dua kali dalam sebulan saya akan belanja online barang barang bermerk dengan dorongan serupa. Atau membeli hal hal yang tidak bisa saya beli dulu untuk mengisi sesuatu yang hilang di masa lalu. Daftarnya berlanjut hingga ke soal makanan dan ini yang paling parah. Hubungan saya dan makanan tiga tahun belakangan lebih seperti objek-subjek balas dendam ketimbang penghilang rasa lapar. Ada urusan kompleks yang berakar pada mendadak punya uang lebih. Urusan kompleks yang membuat saya melesat dari 79 kilo menjadi 95 kilo dalam kurun tiga tahun.

Bodoh jika saya tidak belajar apa apa dari garis panjang kemiskinan di keluarga kami maka dengan sungguh sungguh dan semoga konsistensi betah berlama lama akur dengan saya, 2018 saya ingin mulai meal prep dan membeli rumah baru buat abah sebelum 2025.

Meal prep ini terdengarnya sederhana sekali ya. “Apaan sih tiap hari juga aku masak biasa aja kok”, hal ini sangat signifikan untuk orang yang sama sekali tidak masak dan menghabiskan minimal 100 ribu sehari untuk makan. Minimal. Untuk takaran kota kecil, tiap ditanya dan menjawab seperti itu orang akan berkata wow dan terkaget kaget. Wajar sebab dari perspektif mereka yang masih tinggal dengan orang tua, 100 ribu lebih setiap hari untuk makan doang berlebihan. Tapi let me do the math for you;

Sarapan – nasi campur/pecel/lontong/bubur ayam/soto HARUS ekstra lauk plus delivery 10.000 = 35 ribu

Ngopi – tiap hari pasti pesan atau mampir ke coffe shop dekat kantor = 33 ribu

Makan siang – biasanya jam 2-4 tergantung lapernya kapan, harga kurang lebih sarapan

Makan malam – kalau masih kenyang jarang makan malam, tapi kalau masih bangun sampai jam 12, biasanya keluar dan makan 20-40 ribu.

Itu kebutuhan makan basic, belum ngemil.

Maka ketika melihat hitung hitungan meal prep bisa mereduce sejuta seminggu jadi 200 ribu, ada kemungkinan 3,2 juta yang bisa ditabung setiap bulan. Belum ditambah dari berhenti belanja online, sementara tidak jalan jalan tanpa tujuan dan seterusnya. Optimislah.

Di sisi lain, meal prep ini bisa menjadi solusi beberapa masalah sekaligus;

  1. Masak bisa dirapel di hari Minggu, jadi tidak harus bangun pagi setiap hari untuk masak
  2. I need to cut lose some weight, jadi bisa sekalian mengatur menu low carb
  3. Alasan beli makanan adalah karena malas ribet, dan buka kulkas – ambil bekal – bawa pergi tidak lebih ribet dari bbman sama jasa kurir makanan
  4. I need to start saving my money

Saya sudah mencoba hal ini selama seminggu. Masih banyak PRnya, seperti memperlengkap bumbu bumbu dapur biar masakannya ga monoton, beli kotak bekal yang HDPE sekaligus microwave friendly sekaligus berukuran seragam (biar kalau disimpan di kulkas lebih rapi) dan seterusnya.

Selama seminggu ini yang paling menarik perhatian saya adalah jumlah uang yang dikeluarkan. Karena meal prep ini sekalian diet, jadi saya berusaha untuk hanya makan makanan yang sudah disiapkan. Otomatis tidak minum kopi fancy yang kalorinya entah berapa itu, tidak ngemil dst, saya asli seminggu ini cuma ngeluarin 187 ribu buat makan. Weekend kemarin saya menghabiskan 200 ribu untuk nonton + ngopi di malam minggu. Jumlah yang lebih besar dari anggaran meal prep seminggu!

24845502_115139459274438_6949405342904090624_n

Mungkin ada yang mikir “Aelah 200 ribu doang pelit amat kek orang susah aja” I do, saya tau betul rasanya susah dan ga kepengen kaya begitu terus terusan. Selain itu, saya ingin menunjukkan pada diri sendiri bahwa ada hal hal yang ga ketangkep sama indra saya dan berjalan dengan sendirinya. Padahal saya bisa melakukan kontrol terhadap hal tersebut. Cuma harus lebih peka aja. Memperbaikinya pelan pelan. Bertahap.

Masalah makan terbesar saya mungkin ada di sarapan. Saya ga suka sarapan, tendensi saya adalah melakukan rapel sarapan dan makan siang dalam porsi besar di jam 10 pagi. Hasilnya jam 3 ya laper lagi, geser ke 9-10 malam pengen makan. Dulu saya sempat rajin bikin oatmeal pagi pagi. Tapi bosen rasanya begitu begitu saja dan harus mengulang ritual nyeduh air – nunggu – aduk aduk – nunggu dingin – baru makan.

Dengan meal prep, tiap pagi tinggal buka toples terus ditambah apa aja yang lagi dicemil anak kantor wkwk. Sementara untuk makan siang dan makan malam saya coba tiga menu biar ga bosen. So far ini menyenangkan, karena tujuan utamanya adalah menghemat uang bukan diet, jadi masih bisa cemal cemil kalau gratisan.

IMG_1941
Oatmeal susu plus dried blueberries camilan anak admin :))

 

Sampit, 14 Desember 2017

Advertisements

Author: nanirigby

A Wanderer who constantly asking about "Why?"

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s