KL and The Number Two Emergency

26184586_517084545357161_6886268026572767232_n
Fleet Foxes on stage with their White Winter Hymnal. Jantungku copot mz~~

Saya menambahkan Kuala Lumpur dalam daftar bepergian ke luar negeri Januari 2018 dengan budget kurang dari 5 juta. Karena niat perginya untuk nonton Fleet Foxes di KL Life, jadilah menyusun itienary untuk muter muter sekitaran KLCC dan hanya 3 hari saja. Tiga hari habis 5 juta tuh mahal, bukan backpacker sama sekali. Namun berhubung beberapa kawan (dekat maupun tidak) bertanya soal bagaimana caranya bisa berlibur ke luar negeri dengan sumber pendapatan gaji bulanan sebagai rang kantoran, saya ingin membagi breakdown anggaran untuk tetap nyaman di KL dengan budget 5 jutaan.

Tiket dan Hotel

Beruntunglah mereka yang tinggal di Jakarta sebab CQK – KUL cuma 400 ribuan dengan Air Asia (no baggage no meal), sementara untuk Sampit – Jakarta – Sampit saya harus membayar  1,9. Untungnya ada 1.100 point Traveloka senilai 1,1 juta. Praktis untuk tiket saya hanya membayar total 1,2. Sementara untuk hotel, di area KLCC ini harga hotel muahal muahal karena tergolong pusat kota tempat menara kembar, KL Tower dan Bukit Bintang berada. Mengakalinya adalah dengan hotel kapsul, saya menginap di The Bed untuk 3 malam dan hanya membayar 400 ribuan dari harga original 800ribu karena lagi lagi point Traveloka.

 

The Bed KLCC

 

ini pengalaman pertama saya mencoba shared room begini, awalnya mikir akan risih dan ga nyaman mengingat di satu ruangan besar ada 16 blok dan waktu itu saya berbagi ruangan dengan 6-7 tamu lain. Ternyata ga berisik sama sekali, common bathroomnya luas dan ada banyak shower room.

 

Bersih dan Lengkap. Ada Hairdryer

 

Mengingat ukuran ‘kamar’ yang hanya segitu, mungkin akan ribet kalau membawa koper besar dan saat proses bongkar bongkar nyari barang. Tapi tetap dapat loker dan lemari penyimpanan kok. Saya hanya membawa koper kabin dan muat pas di celah kecil di kaki kasur, dan be organized maka segalanya bakal gampang. Travel bag organizer yang keliatannya sepele ini ternyata berguna banget. Taruh pakaian ganti dan sikat gigi and you’re good to go. 

Saya banyak tertolong soal tiket dan akomodasi dengan deduksi point Traveloka, kalau mau dapat banyak point harus sering sering beli tiket/booking hotel. Rajinlah menawarkan diri kalau ada yang mau beli tiket, ribet juga engga. Rumusnya per 250 rupiah booking hotel dan per 10.000 beli tiket pesawat dapat 1 point senilai 100 rupiah. Di kantor saya bisa beliin tiket pesawat dan hotel bos hingga 15 juta lebih, dapet poin senilai 150.000, lumayan kan.

Hiburan dan Transportasi

Pengeluaran cukup besar yang sering saya missed adalah transportasi. Kemarin pas ke Jepang ga berasa karena dicover paket tur dan di Singapura dicover travelmate. Kalau liburan masih di dalam negeri tinggal instal GoJek. Ternyata rate transportasi privat di KL ga terlalu bikin keki tapi perbedaannya signifikan antara pakai Uber dan taksi umum, selisihnya bisa sampai 15-20 RMPaling mahal mungkin ke Bandara, jarak KLCC ke KLIA2 bisa sampai 79RM pakai Uber (250 ribuan sebenarnya sama aja kaya ke Soetta dari Jakarta Pusat hahaha) tapi ada KLIA Express yang sekali jalannya 35RM (120 ribu) berhenti di KL Sentral dan 15 RM taksi ke area Vortex jadi yha sama sama ajaa hahaha.

Masa ke KL ga foto foto di Petronas? Dari area Vortex tempat saya menginap ke Petronas cuma 300 meter, jalan kaki nyampe. Lalu mikir seberdekatseberdekatannya lokasi wisata, tetap aja gempor kalau jalan kaki dan bakal mahal kalau naik Uber. Browing browsing ternyata ada fasilitas city tour murah, dari Petronas saya naik Hop On Hop Off city tour dengan tiket tembusan 24 jam 55RM (187 ribu) dengan total 23 perhentian di tempat wisata! Jadi sistemnya: beli tiket di bus stop manapun, naik terus turun aja di tempat wisata yang diinginkan. Setelah puas keliling/belanja/makan/foto foto, tinggal ke bus stop dan tunggu bisnya lewat per 20 menit. Seru kan, saya dapet 5 spot dari total 23 dengan durasi 2-3 jam di tiap tempat wisata.

WhatsApp Image 2018-01-24 at 11.16.32Kalau ke KL Tower siapkan sekitar 300 ribu untuk nembus sampai Sky Deck dan Sky Box, worth it kok. Selama efektif 24 jam di Hop On Hop Off saya sempat ke Petronas, KL Tower, Bukit Bintang, China Town dan tentu saja, nonton Fleet Foxes!

26071306_2016191691952402_1526895778927214592_n

Setelah merilis album ketiga di tahun 2017,  Skye Skjelset dkk makin.. aneh :)) aseli dari sebelas lagu di album Crack-Up yang bisa saya pahami maksudnya mungkin hanya tiga, sisanya percampuran lirik dan musik psikedelik yang kelewat tinggi. Namun dua album sebelumnya (self titled dan Helplessness Blues) adalah favorit saya. Malam itu mereka membawakan lebih dari 20 lagu dan KL Life literally rattled saat sing a long Mykonos bersama. Senang!

Salah satu sponsornya adalah Levi’s yang bagi bagi tote bag dan denim pouch gratisan lengkap dengan dua patch yang bebas dipilih. Mevvah!

Makanan

Ada tiga ras yang menjadi komposisi Malaysia secara keseluruhan. Melayu, India dan China. Ketiganya berakar sejak lama hingga terlihat pada perpaduan budaya dan makanan. Seorang kawan berkata bahwa makanan India terbaik bisa ditemukan di Malaysia setelah di India itu sendiri saking berakarnya ras ini di sana. Ada Little India dan China Town yang cukup merepresentasikan itu semua.

Nah masalahnya, I don’t like any of that food.

Don’t get me wrong, saya suka makanan berlemak bersantan dan heboh tapi hanya untuk waktu waktu tertentu. Lebaran misalnya. Sekarang coba eda bayangkan berada di negara yang sarapan Nasi Lemak makan siang Briyani makan malam Laksa adalah hal wajar. Gimana ga diare.

Yep, hari ketiga di KL saya terserang muntaber. Awalnya mengira masuk angin biasa karena telat makan, tapi kok sampai muntah muntah dan akrab sama toilet begini. Nelpon dokter kantor dan diagnosisnya either keracunan makanan atau muntaber. Niat untuk makan dan jajan enak di bandara KLIA2 yang konon salah satu bandara terkeren di Asia itupun sirna. Buru buru check in, menuju gate departure dan mencari toilet adalah prioritas utama.

Kecurigaan utama saya ada banyak, selain dari pencarian nasi yang dimasak apa adanya tanpa tambahan broth or coconut milk yang susah minta ampun (di satu resto pilihan nasi either Briyani, Pulau Rice atau Saffron) tapi China Town dan food stall di KLCC menjadi kandidat utama karena agak tidak higienis. Tapi kalau perutnya kuat dan doyan makanan bersantan khas Melayu, KL adalah sorga.

Nilai tukar RM yang ga terlalu menyakitkan (waktu itu 1RM=3.400 rupiah, dibanding Singapore yang nembus 10 ribu atau Jepang yang 1Yennya 112 rupiah sementara untuk semangkuk ramen pinggir jalan bisa 1.200 Yen atau 134 ribu sih bikin bahagia) membuat harga makanan maupun barang di KL tergolong bersahabat. Sebagai komparasi saya jajan di Uniqlo Suria KLCC Mall 89RM dapet 2 potong baju dan 1 celana non diskon yang mana hal tersebut adalah mustahil di Indonesia. Sementara untuk makanan dengan 7RM 5 sen (25 ribu) bisa dapat nasi hainan lauk iga bakar plus sup kuah daging di senia hawker (semacam warung tenda) di China Town. Tapi kalau di resto seperti Old Town yang terkenal itu seporsi nasi lemak lauk kari ayam bisa nembus 35RM jadi be wise yaaa (paling ngilu sih pas kelaperan sehabis konser lalu mampir di resto India yang rada high-end, ga ngerti menu akhirnya pesan chef’s recomendation dan for a not so satisfying dinner I have to pay 165RM hiks maratus rebu di Indonesia bisa buat makan sushi sampe teler)

Oleh Oleh

Nhaa, kalau ada niatan untuk merapel oleh oleh, inilah saatnya. Apalagi kalau dapat jatah bagasi 20KG, MANFAATKAN! di Bukit Bintang ada satu mall kecil namanya Sungei Wang. Di situ banyak toko yang menjual cokelat dan barang barang klise (kaos, keychain) dan murah. Setidaknya jika dibandingkan dengan kalau beli di Bandara hehe. Dengan budget 300RM saya bisa beli sekoper penuh oleh oleh dan masih ada sisa buat nyobain shiatsu di Fahrenheit88. Beli oleh oleh murah dan banyak (dan kalau bisa sifatnya netral) di satu negara biar kalau pergi ke negara lain ga harus beli oleh oleh. Tinggal bilang “Cuma sempat beli ini di bandara” mehehe.

Kira kira 4 hal di atas yang harus disiapkan pos budgetnya. Karena 40 persen dari masa liburan saya di KL isinya muntaber jadi saya ga terlalu boros di pos makanan. See, there will always be a silver lining on every pain wkwkwk.

Sampit, 24 Januari 2018

Advertisements

A Sad Sad World of Murakami

cropped
Penyebab Nani jadi sering makan Indomie

Perkenalan pertama pada buku Haruki Murakami adalah saat saya menemukan Norwegian Wood di tumpukan best seller Periplus dalam perjalanan ke Malang, 2015 silam. Sebelumnya, saya cuma tau soal penulis Jepang yang merajai laman utama Goodreads ini melalui seorang kawan yang menyebut namanya saat saya tanya tengah membaca apa. Lantaran judulnya seperti judul lagu The Beatles, sayapun membeli dan menghabiskannya saat liburan di Malang usai.

Saya ingat perasaan mencelos seusai membacanya lantaran dengan kejam Murakami menjabarkan secara detail soal perasaan kesepian. Bagaimana dengan santainya ia menulis soal it just another morning I woke up with an empty feeling seolah kemuraman itu sebuah kewajaran dalam keseharian orang orang Jepang. Saya lalu bertemu Kafka on the Shore, melanjutkan dengan Colorless Tsukuru Tazaki and His Pilgrimage Years, Strange Library dan What I Talk About When I Talk About Running (judulnya kek kumcer Raymond Carver aww) dalam kurun sebulan kemudian.

Akhirnya di bulan April saya dengan semena mena mengklik order SEMUA buku Murakami yang Periplus Online jual tanpa terkecuali. Saya memberdayakan gerakan Mari Makan Indomie demi Beli Buku Yang disukai selama nyaris sebulan dan mempertanyakan kenapa ga belinya pas THR udah keluar hahaha. Dua bulan kemudian datanglah 17 judul buku buku Murakami langsung dari Penguin Press.

Menginjak bulan kedelapan perkenalan dengan penulis yang kalau jogging gemar bertelanjang dada dan koloran doang ini, saya baru membaca tujuh dan menyisakan sepuluh lainnya untuk dibaca hingga akhir tahun. Hasilnya: stress :))))

Tiap menginjak halaman halaman menjelang ending, saya menyiapkan diri untuk menghadapi akhir yang kentang. Murakami tidak pernah menyediakan ending yang membuat kita menghela nafas lega karena tau tokoh utama akan baik baik saja. Ada kekhawatiran yang subtil soal “Duh mati bunuh diri nih abis ini nih” terhadap unnamed character di Dance Dance Dance, Toru Okada dan Tsukuru Tazaki sampai Kafka Tamura yang baru berumur 15 tahun. Semua tokoh utama laki laki ini digambarkan telah menemukan dan menyelesaikan apa yang mereka cari atau hadapi tapi ya tetap saja saya kuatir soal jangan jangan ending ini adalah cara Murakami mengisyaratkan bahwa mereka akan bunuh diri. 

Kesuraman ini saya dapatkan paling kuat di Kafka on the Shore. Bocah 15 tahun yang harus kabur dari rumah, terlibat kasus pembunuhan, meniduri ibu dan kakak perempuannya berdasarkan ramalan bapaknya. Segalanya serba gelap dan mencekam hingga saya meragukan kewarasan pak Murakami saat menulis cerita cerita ini.

Vivid detail of gruesome events! astaga! baru membaca tujuh buku saja saya sudah beberapa kali bermimpi soal kucing yang dibelah hidup hidup di Kafka on the Shore, lelaki yang dikuliti hidup hidup dan inevitable pain of Creta Kano di buku The Wind-Up Bird Chronicle. Dan Murakami yang dengan santainya menjabarkan perkara perkara telak soal kesepian, kesendirian, rutin yang membosankan seolah itu adalah hal normal yang membuat saya sedikit banyak kagum dan mengubah perspektif saya yang selama ini menganggap hal itu besar dan seluruh dunia kudu mengerti 😀

Yang membuat Murakami menonjol adalah bagaimana kritikus sastra menyampirkan nama Kafka dalam buku bukunya. Mungkin seperti Eka Kurniawan yang disejajarkan dengan Umberto Eco bahkan Salman Rushdie. Penempatan nama nama besar yang membuat orang bertanya tanya sehebat apa sih buku yang mereka tulis. Pujian adalah kutukan, kata Wiji Thukul. Meski kedua nama di atas (Murakami dan Eka Kurniawan) adalah penulis yang sangat saya gemari dan tidak dipungkiri kehebatannya dalam menulis, saya masih memiliki trah tersendiri antara Midnight’s Child dan One Hundred Years of Solitude dan Kafka on the Shore serta Cantik itu Luka.

Surealisme di buku buku Murakami memang menakjubkan. Bagaimana ia terpikir soal portal batu yang menghubungkan dua perfektur berbeda di Jepang. Bagaimana ia memasukkan unsur telekinesis sekaligus dual-persona bahkan beberapa layer kesadaran dalam satu tokoh dan bangsatnya itu terasa masuk akal di The Wind-Up Bird Chronicle.  Hahaha. Yang menjadi ciri adalah adanya realm atau dimensi lain dari layer kesadaran yang sekarang ini. Dan semuanya dijelaskan dengan tutur yang santai (di beberapa bagian bahkan saya merasa deuh ini part kok panjang amat yaaaa namun Murakami selalu berhasil menarik pembaca dengan tempo lamban tapi charming ini) sehingga segala keabsurdan dan surealisme yang disajikan tidak menggebu gebu dan serba mengagetkan.

Dalam Dance Dance Dance yang merupakan sequel dari Wild Sheep Chase, dibuat semacam alter ego si tokoh utama tanpa nama berupa Sheep Man dan ini merupakan buku ketiga dari trilogy Pinball – Wild Sheep Chase – Dance Dance Dance. Ada total seribu limaratus lebih halaman untuk dunia magis penuh kambing dari Murakami dan sialnya saya baca sampai tuntas :)))

Saat ini saya tengah menekuni Leila S Chudori – Sembilan dari Nadira sebagai istirahat singkat dari marathon Murakami sebulan belakangan. Cape mental tapi adiktif. Dan setelah proklamasi soal “Ah apaan sih Murakami, suram begitu bukunya” dalam diskusi bersama seorang penggemar buku di bulan Januari silam, saya kudu merevisi ucapan tersebut sebab sembilan belas buku Murakami telah terpesan.

Saya jatuh cinta, seperti orang orang di luar sana, pada Murakami dan kesuraman yang ditawarkannya.

And it feels almost like a magic.