2017, Wrapped

Ini adalah tahun kedelapan saya tuliskan resolusi tahun baru sekaligus ulang tahun dalam label Resolusi {insert current age}. Tahun ini adalah giliran Resolusi 26 meski rasanya baru kemarin saya menuliskan Resolusi 18 dan saat itu saya menulis begini:

Saya hanya akan bekerja jika pekerjaan itu mampu bersinergi dengan ideologi saya (saya tau ini terdengar sangat sangat super sombong)
Well, saya rasa ini salah satu dari resolusi ulang tahun yang mampu saya penuhi. Ideologi saya sebenarnya tidak muluk, saya hanya ingin pekerjaan yang tidak terpaku hanya pada satu space. Tidak hanya diam, menunggu tanggal gajian lalu berulang sampai tahun berlalu tanpa terasa lantas saya jadi tua dan kalang kabut nyari jodoh 😀
Sekarang saya menjejak tahun ke empat menjadi corporate slave yang terpaku pada satu space, diam dan menunggu tanggal gajian. Jika hal ini saya tulis setahun silam, entry blog ini akan berisi penyesalan dan rasa bersalah terhadap Nani Delapan Tahun Lalu. Betapa saya sudah membunuh mimpi mimpinya dan seterusnya.
Selama tiga tahun menjadi ‘mimpi buruk’ bagi idealisme remaja 17 tahun itu, saya telah menjejakkan kaki ke belasan kota dan tiga negara. Langkah terjauh yang melebihi dari apa yang saya bisa lakukan dalam lima tahun sebelumnya. Tidak hanya soal mampu bepergian, tapi apa yang saya dapat dari perjalanan itu. Saya mengetahui hal hal baru dan melihat langsung, mengalami peristiwa yang selama ini hanya saya baca dan lihat di buku buku dan internet. Setiap diskusi dengan orang orang baru menjadi nutrisi bagi pikiran saya dan membuka perspektif seluas luasnya. Menggenapi istilah open-minded se-kaffah kaffahnya.
2017 adalah satu lagi tahun yang menyenangkan. Saya kembali bisa bepergian dan bersenang senang. Menambah Lombok, Gili Trawangan, Semarang, Bali (ke 8 kalinya), Malang – Batu (ke 2 kalinya), Jakarta (ke entah sekian belas kalinya), Jogjakarta (ke 2 kalinya), Labuan Bajo, Bali (ke 9 kalinya), Bali (lagi) (ke 10 kalinya), Jakarta memboyong Bapak Anwar sekeluarga, dan Jogjakarta (ke 3 kalinya) untuk list perjalanan dalam negeri dan Jepang untuk daftar bepergian luar negeri. Bagaimana caranya bisa liburan hingga 13 kali dalam setahun sementara jatah cuti hanya 14 hari? Berterimakasihlah pada kalender Indonesia yang banyak tanggal merah kejepitnya.
Istilah travelling adalah candu akhirnya saya rasakan benar adanya. Setelah tiga tahun terakhir menghabiskan setidaknya 10 kali jalan jalan dalam setahun (walaupun sekedar short trip untuk nonton premiere film/konser/teater atau cuma makan makan enak), sebulan saja tidak ke mana mana rasanya seperti ada yang kurang. Apalagi akhir tahun kemarin saat bersikeras untuk tidak ke mana mana karena selain cuti habis :))) juga karena Bapak Anwar ingin ngumpul pas tahun baru.
Major spotlight pada tahun 2017 kemarin memang (masih) soal bepergian. Di sela selanya saya menamatkan membaca 52 judul buku, pindahan dari kos menjadi rumah kontrakan, menekuni hobi bersepeda dan memulai meal prep. Seperti semua manusia lain di muka bumi, saya menginginkan progresi, perubahan, kemajuan. Menulis resolusi adalah salah satu cara untuk mengabadikan hal tersebut. Delapan tahun berselang sejak penulisan Resolusi 18 dan sebuah dusta rasanya jika saya tidak merasa lega dengan apa yang terjadi tahun demi tahun. Yang paling melegakan mungkin pada tahun 2015  saat saya mencoret nyaris semua bucket list yang saya buat empat tahun sebelumnya, hanya tersisa satu bucket list yang belum kesampaian; pergi ke New York.
Di tahun itu juga, saya menulis ulang bucket list saya. Hal hal yang ingin dilakukan sebelum mati dan lantaran hingga saat ini saya belum mati, maka review terhadap hal tersebut terasa penting untuk dilakukan:
Bucket list revised, 7 Desember 2015
1. New York
Munculnya keinginan untuk pergi ke New York saya rasa sama dengan anak anak yang remaja di tahun 2000an lainnya. Saya memulainya dengan serial How I Met Your Mother dan film film chick flick. Betapa indah New York di mata saya saat itu. Saya masih melihatnya dengan keindahan yang sama hingga sekarang. Saat ini, ke New York sebenarnya mudah dan (relatively) murah jika dilakoni melalui paket tour. Tapi bertahun tahun saya menyimpan kota itu dalam angan bukan untuk disederhanakan melalui 6 hari perjalanan ke tempat tempat wisata dengan kunjungan terburu buru. Saya ingin (kalau tidak kesampaian untuk tinggal) menetap setidaknya selama sebulan lalu menyesap pelan pelan kota yang sudah memesona saya sejak remaja itu. Untuk mewujudkan hal ini sama sekali tidak mudah apalagi murah :)))

2. Berat badan ideal

Yhaa.. masih belum yhaa.. tapi on a serious note, I’m no longer give a fuck about it. Selama ini gendut adalah label yang tidak saya terima untuk menjadi bagian dari diri saya. Seolah sebutan gendut adalah sebuah penghinaan yang harus mati matian dilawan. Padahal sebenarnya orang orang menyebut saya gendut tidak mutlak karena menghina, mungkin hanya ngatain :)) semenjak semakin aware bahwa semesta tidak berputar dengan saya sebagai porosnya, kekhawatiran kekhawatiran irasional terhadap pandangan orang terhadap bentuk tubuh saya perlahan hilang. People wasn’t care that much on others because we are all designed to be a self-centered person. 

3. Jatuh cinta karena perasaan ini menyenangkan mehehehe

“Mehehehe”nya bikin point ini meaningless sebenarnya. Dua tahun lewat dari 2015 dan saya masih belum merasakan apa apa kepada siapa siapa. Kalau diandaikan sebagai kurva memang ada beberapa lonjakan perasaan yang disponsori trio hormon tapi tidak satupun bertahan lebih dari seminggu. Mungkin it is the way it is, bahwa tidak semua manusia “cocok” dengan kotak bernama percintaan.

4. Perjalanan ke luar negeri

Saya melontarkan hal ini dalam kondisi belum pernah ke luar negeri sama sekali. Passport aja ga punya dan pergi ke luar negeri terasa rumit sekali dalam kepala. Akhirnya setelah batal ke Vietnam, enam bulan kemudian saya mencoret bucket list ini dengan menjadikan Singapore sebagai negara asing pertama yang dikunjungi. Tahun selanjutnya menambahkan Jepang dalam daftar tersebut. Malaysia di tahun ini dan semoga, semoga saja, New York di winter 2019.

5. Kuliah dan menjadi sarjana

Sebenarnya perkara sarjana sarjanaan ini agak mengganggu hanya pada saat mencari pekerjaan tanpa koneksi ‘orang dalam’. Jika tanpa dibantu rekomendasi orang di dalam perusahaan yang perekrutannya secara spesifik mencari jurusan tertentu maka mustahil saya bisa masuk sebagai asst. comm. di kantor yang dulu mensyarat minimalkan S1 Komunikasi/Pendidikan Bahasa Inggris ini. Bukan bermaksud untuk menihilkan nilai kuliah dan menjadi sarjana tapi mungkin seperti perkara percintaan, kotak itu hanya tidak “cocok” dengan saya.

6. Melihat abah naik haji umroh

Daftar tunggu calon jamaah haji Kotawaringin Timur tembus 18 tahun untuk yang sudah membayar DP. Kemarin sempat ngobrol dengan Abah, umroh aja gapapa katanya :)))

7. Pekerjaan yang nyaman

Saya ga tau apa itu nyaman karena saya belum mencoba semua pekerjaan. Namun setelah 9 tahun bekerja di berbagai tempat, saya harus mengakui ini adalah pekerjaan paling nyaman dari semua pekerjaan yang pernah saya lakoni.

8. Memenuhi impian impian tersier di masa kecil

Mimpi tersier saya akan terdengar sederhana jika dibaca di usia dan perspektif sekarang. Namun jika dilihat dari mata anak kecil yang begitu miskin hingga untuk makan malam ia harus berbagi sebungkus indomie dengan kakaknya, keinginan ini megah adanya. Mimpi saya ingin punya uang untuk membeli apapun yang saya inginkan. Meski uang saya sekarang tidak cukup untuk membeli Apache Helicopter, tapi sejauh ini saya merasa aman dari segi finansial.

9. Membuat siapapun yang bersinggungan dengan saya merasa bahagia

Ini kerjaan SJW sebenarnya hahaha. Saya tidak pernah iseng nanya apakah mereka bahagia tapi sejauh ini hubungan dengan keluarga, teman dan Bambang baik baik saja.

10. Be a positive Nani and makes the struggling 2012 Nani proud!

I am positive and proud!

Saya masih memiliki tahun tahun di depan untuk mencoret bucket list yang tersisa. Tidak banyak memang tapi ya ga mudah juga. Secara keseluruhan 2017 adalah tahun yang menyenangkan ^^

 

Sampit, 04 Januari 2018

Advertisements

Author: nanirigby

A Wanderer who constantly asking about "Why?"

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s