A Sad Sad World of Murakami

cropped
Penyebab Nani jadi sering makan Indomie

Perkenalan pertama pada buku Haruki Murakami adalah saat saya menemukan Norwegian Wood di tumpukan best seller Periplus dalam perjalanan ke Malang, 2015 silam. Sebelumnya, saya cuma tau soal penulis Jepang yang merajai laman utama Goodreads ini melalui seorang kawan yang menyebut namanya saat saya tanya tengah membaca apa. Lantaran judulnya seperti judul lagu The Beatles, sayapun membeli dan menghabiskannya saat liburan di Malang usai.

Saya ingat perasaan mencelos seusai membacanya lantaran dengan kejam Murakami menjabarkan secara detail soal perasaan kesepian. Bagaimana dengan santainya ia menulis soal it just another morning I woke up with an empty feeling seolah kemuraman itu sebuah kewajaran dalam keseharian orang orang Jepang. Saya lalu bertemu Kafka on the Shore, melanjutkan dengan Colorless Tsukuru Tazaki and His Pilgrimage Years, Strange Library dan What I Talk About When I Talk About Running (judulnya kek kumcer Raymond Carver aww) dalam kurun sebulan kemudian.

Akhirnya di bulan April saya dengan semena mena mengklik order SEMUA buku Murakami yang Periplus Online jual tanpa terkecuali. Saya memberdayakan gerakan Mari Makan Indomie demi Beli Buku Yang disukai selama nyaris sebulan dan mempertanyakan kenapa ga belinya pas THR udah keluar hahaha. Dua bulan kemudian datanglah 17 judul buku buku Murakami langsung dari Penguin Press.

Menginjak bulan kedelapan perkenalan dengan penulis yang kalau jogging gemar bertelanjang dada dan koloran doang ini, saya baru membaca tujuh dan menyisakan sepuluh lainnya untuk dibaca hingga akhir tahun. Hasilnya: stress :))))

Tiap menginjak halaman halaman menjelang ending, saya menyiapkan diri untuk menghadapi akhir yang kentang. Murakami tidak pernah menyediakan ending yang membuat kita menghela nafas lega karena tau tokoh utama akan baik baik saja. Ada kekhawatiran yang subtil soal “Duh mati bunuh diri nih abis ini nih” terhadap unnamed character di Dance Dance Dance, Toru Okada dan Tsukuru Tazaki sampai Kafka Tamura yang baru berumur 15 tahun. Semua tokoh utama laki laki ini digambarkan telah menemukan dan menyelesaikan apa yang mereka cari atau hadapi tapi ya tetap saja saya kuatir soal jangan jangan ending ini adalah cara Murakami mengisyaratkan bahwa mereka akan bunuh diri. 

Kesuraman ini saya dapatkan paling kuat di Kafka on the Shore. Bocah 15 tahun yang harus kabur dari rumah, terlibat kasus pembunuhan, meniduri ibu dan kakak perempuannya berdasarkan ramalan bapaknya. Segalanya serba gelap dan mencekam hingga saya meragukan kewarasan pak Murakami saat menulis cerita cerita ini.

Vivid detail of gruesome events! astaga! baru membaca tujuh buku saja saya sudah beberapa kali bermimpi soal kucing yang dibelah hidup hidup di Kafka on the Shore, lelaki yang dikuliti hidup hidup dan inevitable pain of Creta Kano di buku The Wind-Up Bird Chronicle. Dan Murakami yang dengan santainya menjabarkan perkara perkara telak soal kesepian, kesendirian, rutin yang membosankan seolah itu adalah hal normal yang membuat saya sedikit banyak kagum dan mengubah perspektif saya yang selama ini menganggap hal itu besar dan seluruh dunia kudu mengerti 😀

Yang membuat Murakami menonjol adalah bagaimana kritikus sastra menyampirkan nama Kafka dalam buku bukunya. Mungkin seperti Eka Kurniawan yang disejajarkan dengan Umberto Eco bahkan Salman Rushdie. Penempatan nama nama besar yang membuat orang bertanya tanya sehebat apa sih buku yang mereka tulis. Pujian adalah kutukan, kata Wiji Thukul. Meski kedua nama di atas (Murakami dan Eka Kurniawan) adalah penulis yang sangat saya gemari dan tidak dipungkiri kehebatannya dalam menulis, saya masih memiliki trah tersendiri antara Midnight’s Child dan One Hundred Years of Solitude dan Kafka on the Shore serta Cantik itu Luka.

Surealisme di buku buku Murakami memang menakjubkan. Bagaimana ia terpikir soal portal batu yang menghubungkan dua perfektur berbeda di Jepang. Bagaimana ia memasukkan unsur telekinesis sekaligus dual-persona bahkan beberapa layer kesadaran dalam satu tokoh dan bangsatnya itu terasa masuk akal di The Wind-Up Bird Chronicle.  Hahaha. Yang menjadi ciri adalah adanya realm atau dimensi lain dari layer kesadaran yang sekarang ini. Dan semuanya dijelaskan dengan tutur yang santai (di beberapa bagian bahkan saya merasa deuh ini part kok panjang amat yaaaa namun Murakami selalu berhasil menarik pembaca dengan tempo lamban tapi charming ini) sehingga segala keabsurdan dan surealisme yang disajikan tidak menggebu gebu dan serba mengagetkan.

Dalam Dance Dance Dance yang merupakan sequel dari Wild Sheep Chase, dibuat semacam alter ego si tokoh utama tanpa nama berupa Sheep Man dan ini merupakan buku ketiga dari trilogy Pinball – Wild Sheep Chase – Dance Dance Dance. Ada total seribu limaratus lebih halaman untuk dunia magis penuh kambing dari Murakami dan sialnya saya baca sampai tuntas :)))

Saat ini saya tengah menekuni Leila S Chudori – Sembilan dari Nadira sebagai istirahat singkat dari marathon Murakami sebulan belakangan. Cape mental tapi adiktif. Dan setelah proklamasi soal “Ah apaan sih Murakami, suram begitu bukunya” dalam diskusi bersama seorang penggemar buku di bulan Januari silam, saya kudu merevisi ucapan tersebut sebab sembilan belas buku Murakami telah terpesan.

Saya jatuh cinta, seperti orang orang di luar sana, pada Murakami dan kesuraman yang ditawarkannya.

And it feels almost like a magic.

Advertisements

Author: nanirigby

A Wanderer who constantly asking about "Why?"

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s