Yang Bikin Bodoh Itu Kurang Baca, Bukan Micin

Yang paling mengganggu saat berselancar di dunia maya adalah masih saja menemukan orang orang yang melakukan hal ini:

Tapi ketika yang beginian muncul, saya biasanya hanya tertawa dan membatin “Goblooo” sambil lalu. Herannya, meski sudah setengah mati screening pertemanan tapi tetap saja hal hal begini melintas di timeline Facebook. Bagi saya, like dan amin begini harmless. Nyampah tentu saja, apalagi kalau ternyata entry yang diserbu adalah clickbait atau monetized post tapi ya udahlah, toh saya berada di area yang tegas terkait memperbolehkan adik menghabiskan siang malamnya untuk looting sen demi sen dari flooding adsense. Yang ‘terjebak’ ngasih duit ke empunya hajatan ya siapa suruh sampah begitu diklik.

Sama seperti entry entry “Ketik Amin”, terlepas dari perdebatan ustadz ustadz soal boleh-tidaknya, kata “Amin” dalam kehidupan nyata memang telah digunakan secara foya foya sehingga apa bedanya dengan mengetiknya di sosial media (kecuali annoying dan nyampah, tentu saja. Tapi merasa annoyed adalah masalah saya, bukan hutang siapa siapa) dan kembali lagi, kalau terjebak monetized post maka yang goblo sebenarnya siapaaa?

Yang membodohi lagi menyesatkan serta meresahkan hingga urgensi untuk menuliskannya di blog ini adalah kebiasaan meng-copy paste/share hoax. Dan ini berbahaya karena sejarah telah mencatat ratusan kejadian dan puluhan ribu kematian sia sia karena berawal dari kabar yang tidak bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya.

Dulu ketika menjadi jurnalis, setiap pagi saya panas dingin membaca berita yang saya tulis. Saya senantiasa kuatir jika berita saya tidak benar dan tidak cukup cover both side. Di bulan bulan terakhir saya bahkan sengaja menghindar menulis berita berita bombastis yang berpotensi masuk halaman utama. Saya lebih banyak mencari ide untuk berita feature yang menyenangkan semua pihak (mungkin ini juga yang akhirnya menyadarkan bahwa saya tidak berbakat menjadi jurnalis hahaha)

Kekhawatiran itu menghantui saya hingga susah tidur padahal koran kami hanya dicetak tiga ribu eksemplar dengan probabilitas orang membaca berita saya di sudut bawah halaman tengah hitam putih pastilah sangat kecil. Beruntung hingga akhir masa kejurnalisan, saya tidak mendapat kendala berarti terkait hal ini.

Sekarang bayangkan seseorang dengan follower ratusan ribu hingga jutaan, setiap hari menulis kebencian dan menyebar tidak hanya fitnah namun juga hoax. Berita bohong. Iya saya berbicara soal Jonru. Sejak setahun terakhir saya mengenal nama ini dan sesekali memantau Facebook Pagenya yang luar biasa sampah itu. Awalnya saya biasa saja sebab alam memang membutuhkan orang orang seperti Jonru untuk menjaga keseimbangannya. Toh hanya satu orang saja, dan saya hanya perlu menutup aplikasi Facebook agar tidak lagi merasa terganggu.

Namun waktu berlalu dan makin banyak undangan group yang saat saya bergabung di dalamnya, kok Jonrunya makin banyak. Makin sering saya menemukan tulisan tulisan Jonru dan yang sejenis Jonru di sekitar saya. Kalau hoax masih bisa disikapi dengan kebijaksanaan berupa buka Google dan verifikasi beritanya, menghadapi ujaran kebencian membutuhkan kebijaksanaan mental yang lebih kompleks. Kita harus memiliki keterbukaan pikiran, toleransi yang tinggi dan kelapangan jiwa untuk bisa menelan kenyataan bahwa ada jutaan orang yang tiap tiap individu itu memiliki kemungkinan terhasut dan turut menjadi.

Kebencian yang tidak rasional terhadap Jokowi

Cina akan menginvasi Indonesia dan mengganti ideologi negara ini menjadi Komunisme

Anti vaksin (yang menariknya jika di luar negeri gerakan anti vaksin ini karena mereka curiga pemerintah melalui industri obat obatan ingin meracuni anak anak mereka atau karena tergabung dalam cult of being as nature as possible will heal your miserable soul, di Indonesia vaksin ditolak karena Amerika menyusupkan gelatin Babi ke dalam vaksin untuk mengkafirkan bayi bayi muslim. Yeah, it really happens.

Gempa terjadi karena makin banyak orang pro LGBT

Yahudi antek Amerika akan memusnahkan umat Islam

Konten konten bertema demikian biasanya dimulai dengan sederet panjang dikabarkan dari (insert a shady news biro) yang melakukan investigasi di (insert a stranded city of nowhere) dan mendapat informasi dari agen rahasia (what? MI6? Mossad? BIN? apa?) lalu disusul a poorly written (some sort of) news dan diakhiri dengan seruan agar umat Islam bersatu dan ujung ujungnya memboikot sesuatu.

Dan kita masih saja menuding micin sebagai sumber kebodohan.

Membaca adalah solusi untuk kebodohan yang sia sia ini. Baca buku buku yang bagus, berita berita dari saluran yang kredibel; tonton berita di televisi karena sekurangnya masih dikawal oleh KPI bukan dari channel Youtube yang sumber beritanya dari opini content creatornya. Bangun perspektifmu sendiri, uji dengan verifikasi dan buka pikiran (serta kelapangan hati) untuk menerima perubahan atas perspektif itu. Saya tidak pernah malu jika perspektif saya sekarang berbeda dengan beberapa tahun lalu sebab saya tau seberapa banyak buku yang saya baca, berapa banyak individu baru yang saya temui, kejadian yang terjadi selama rentang waktu itu.

Lagipula sudah 2018 masa masih meminjam opini orang?

 

 

Advertisements

Sumba and Other Revelations

Syahdan, kawan kawan saya ingin ke Sumba sementara saya terjebak dengan training asuransi di HO Jakarta. Sungguh sebuah ketidakadilan yang tidak bisa dibiarkan! Meski sebenarnya selain terbentur jadwal, saya tetap tidak bisa pergi karena cuti sudah minus dua sejak pulang dari KL kemarin. Tapi di mana ada kemauan di situ ada jalan, bukan? Setelah dua hari mengikuti training, sayapun bolos ke Bali untuk menunggu teman teman yang menyusul 2 hari kemudian. Huahahaha.

Yang saya lupa, saya cuma packing untuk keperluan training berupa 3 blouse dan 2 celana panjang. Tapi bukan sia sia saya menerima sematan McGyver saat sendal jepit putus dan saya berhasil menyambungnya dengan mediasi seutas bobby pin di tengah tengah Pulau Komodo setahun silam. Akhirnya celana jeans dipotong jadi shorts, blouse jadi flowy tank top dan (mau tidak mau) membeli 3 kaos dan 3 celana baru di Krisna, toko oleh oleh kesayangan kita semua karena sebiji celana harganya 20 ribu saja~

Kamis siang kami berangkat dari Denpasar menuju bandara Waikabubak di Tambolaka, Sumba Barat Daya. Kondisi kota Kabupaten ini seperti jalan lintas provinsi pada umumnya. Kesan yang muncul adalah gersang, berdebu dan gerah ketika melintasi jalan raya utama yang menghubungkan Tambolaka dengan beberapa spot wisata di Kecamatan itu. Kalau harus mengkomparasi dengan Kalteng, Tambolaka ini mirip seperti Cempaga dengan jalan aspal yang sedikit lebih banyak.

Seminggu setelah pulang saya baru ngeuh kalau kami datang di musim penghujan sehingga dapat disebut itu adalah periode terbaik dalam setahun di wilayah itu. Namun kesan gersang masih ada meski hujan nyaris setiap hari. Bayangkan bagaimana kondisi masyarakat di sana saat musim kering tiba mengingat Indonesia wilayah timur dikenal dengan curah hujan setahun yang sedikit.

Kami berlima mengambil private tour sehingga lebih fleksibel soal jadwal. Di Sumba Barat Daya kami baru mengetahui kalau hotel yang kami tempati sudah termasuk salah satu hotel paling top di sana. Yang mana bentukannya… lebih mirip seperti penginapan Melati di pinggir kota kalau di Sampit. Baru kali ini saya pergi ke luar kota dan merasa bangga dengan Sampit yang setidaknya punya satu hotel bintang 4 itu hahaha. Terlepas dari itu semua, Kabupaten Sumba Barat Daya adalah surga tersembunyi yang akhirnya terkuak (dan assesible) berkat film Marlina dan Susah Sinyal :))

Kita akan melalui sebuah Kecamatan bernama Kodi Bangedo jika ingin menuju Pantai Bawana. Sepanjang jalan memang telah beraspal, namun akan titik di mana kamu akan bergumam “Persetan dengan pembangunan jalan kalau warganya masih berak dengan menggali tanah begini” sebab apa artinya memiliki halaman belakang instagramable kalau setiap hari dihantui kelaparan? Yep, Kodi adalah kecamatan paling miskin di Kabupaten Sumba Barat Daya, bahkan seluruh Sumba.

DSC00202
Pantai Bawana, Kodi. Akan ada belasan orang yang menemanimu menuruni tebing yang licin dan curam untuk upah 20 ribu rupiah. Kesel kan?

Saat menulis ini saya sedang membaca baca berita terkait Kecamatan ini, yang ternyata jalan aspal baru dibangun tahun 2015. Anggaran yang tidak sedikit mengingat dari Tambolaka ke Pantai Bawana saja nyaris 3 jam perjalanan. Duit yang bisa dipakai untuk pengembangan UKM dan pengadaan air bersih, misalnya. Perjalanan ke Sumba menghasilkan mixed feeling yang lumayan kampret sih. Di satu sisi saya terpuaskan sekali dengan keindahan alamnya sementara sisi lain rasanya marah sekali terhadap turis seperti saya yang membuat Pemda lupa prioritas dalam mengelola daerah.

Tapi mungkin kelak Kecamatan Kodi dan Kabupaten Sumba Barat Daya akan berkembang seperti ‘kakaknya’ Labuan Bajo dan moga moga menjadi seperti Bali. Sebab jika kita tidak bisa hidup sejahtera dari tanah gersang dan terik matahari, setidaknya masih ada harapan dari sektor wisata.

Karena energi saya untuk ngomel sudah habis, selamat menghabiskan bandwidth untuk foto foto cakep berikut ini..

sdr
Pantai Bawana yang sepi, bersih dan luas. 20 menit lebih bengong dan nyaris nangis terbawa suasana. Untungnya saya pribadi yang tegar.
IMG_20180218_074914.jpg
Bukit Bulu Halus, duh namanya~
cof
Setiap hari disuguhkan ikan yang satu porsinya segede ini, gimana bentuk ikannya semasa hidup ya..
DSC00717
Senja keemasan di Dancing Tree Pantai Walakiri, Sumba Timur
DSC00257
Sekali lagi, ini bukan dari Google.
DSC00389
Desa Adat di Waingapu.
27581743_304096740116755_141005803552243712_n
Juklak turis
cof
Pantai Mandorak, Waingapu yang aduhai banyak airnya~

 

 

Sampit, 08 Maret 2018

Taun depan Wakatobi~