The Subtle Art of Not Giving A Fuck

Mark Manson adalah orang favorit terbaru saya. Dalam skenario tea party imajiner yang saya gelar pada sore sore yang senggang beliau saya tempatkan tepat di samping Neil DeGrasse Tyson, bersisian dengan Christoper Nolan dan Murakami. Dalam skenario tersebut kami ngobrol soal alam semesta sambil minum teh dan ngemil profiteroles. Tidak, ini tidak berakhir dengan orgy what the fuck is wrong with you.

Di sela kesibukan push rank di PUBG (sudah Crown II yay), marathon How To Get Away With Murder di Netflix dan baru baru ini setengah mati bimbang haruskah menekuni Fortnite di Nintendo Switch karena faklah saya tertarik tapi gengsi hahaha, saya menemukan buku Pak Manson tengah diskon 20 persen di Periplus Juanda Surabaya. Dalam perjalanan pulang buku ini nyaris habis dan resmi tamat dua hari kemudian.

Isinya jauh dari buku buku self-help seperti yang sering saya temukan di akun Instagram Junita Liesar. Juga jauh dari tema motivasional seperti yang sering diposting orang orang sehat di media sosial. Secara sederhana The Subtle Art of Not Giving a Fuck (yang untuk kepentingan jemari akan disingkat sebagai TSANGF) ini bertutur soal: life sucks, yaudah jalani aja.

WhatsApp Image 2018-10-01 at 08.29.13

Tidak saya temukan soal “There will be a silver lining on every pain” atau “Embrace your hard time because it lead to something beautiful” atau “Jangan khawatir miskin kalau nikah dan punya anak sebelum mapan, rezeki Allah yang jamin” di buku ini. Buku ini cocok untuk seorang unique snowflake yang merasa berhak atas kemudahan kemudahan hidup karena kespesialan itu tadi. Yang merasa jalan hidupnya berat dan society telah berlaku sangat tidak adil. Bahwa sistem yang sudah berjalan ratusan tahun ini salah dan tidak fleksibel for my own needs. Bahwa tidak ada satupun ideologi yang bisa merangkul pemikiran seorang introvert ini dan nobody gets me.

No, we are not special.

Satu satunya yang membuat kita spesial kalau kata Pak Neil DeGrasse Tyson adalah kita terbuat dari unsur yang sama dengan bintang bintang di angkasa; karbon, nitrogen dan oksigen. Sisanya, seluruh peradaban dari tahun 0 hingga sekarang beserta segenap kebudayaan dan teknologi yang ada di dalamnya hanyalah a speck of dust on this universe. Pak Tyson juga bilang bahwa satu satunya alasan kita dan peradaban ini masih eksis adalah karena belas kasihan alam semesta. Coba bayangkan jika saat ini di galaksi tetangga tengah ada rangkaian ledakan bintang yang akan bersinggungan dengan galaksi kita dan membuat seluruh bumi beserta isinya meledak tanpa sisa dalam yet another big bang dan kita tidak bisa menebaknya karena ilmu pengetahuan dan teknologi yang kita punya sekarang belum mampu melakukan observasi sejauh itu.

We’ll be erased. We will be forgotten.

Dengan premis A Counterintuitive Approach to Living a Good life Pak Manson terasa sangat berhati hati untuk berjalan tidak memberikan pesan yang salah soal “Ayo anak anak kita jadi nihilis saja karena susah payah mengejar kebahagiaan buat apa karena kita semua akan mati juga pada akhirnya~” untung Pak Doni tidak menulis buku motivasi hahaha. Hal ini ditulis secara gamblang di halaman preface soal Not Giving a Fuck tidak sama dengan being indifferent. Hanya saja kita lebih selektif dalam memilih ‘konflik’ hidup, disebutkan skala prioritas penting untuk menentukan sebanyak apa porsi emosi yang dikeluarkan untuk siapa atas hal apa.

Ini menarik sebab seusai membaca buku ini saya menjadi reflektif soal diri sendiri dan observatif terhadap orang lain. Pengelolaan emosi yang terlalu represif akan membuat seseorang triggered dengan hal hal sepele. Seperti Pak Manson, saya juga pernah mendapati orang marah marah dengan kasir Alfamart hanya karena label harga tidak sesuai. Atau meng-anjing-babi-kan orang yang mengambil spot parkir yang dikehendaki (padahal bukan reserved parking eniwei) diambil orang. Kalau kata Pak Manson, kondisi ini melelahkan karena kita stress dan beremosi berlebihan kepada hal hal yang tidak perlu.

Di Jepang ada istilah shikata ga nai (仕方がない) atau yang sering disingkat shouganai untuk merujuk soal “It can’t be helped”, yaudahlahya. Saya sering sekali menggumam kata yaudahlahya ini beberapa tahun belakangan sampai berubah menjadi shouganai sejak mengetahui hal ini saat kemarin pergi ke Jepang. Saya melihat sendiri soal betapa ‘shouganai’nya orang Jepang saat antrian toiletnya diselak turis Cina, atau saat saya jalan sambil main handphone hingga sering nyaris nabrak nabrak, mereka akan minta maaf (padahal yang salah saya) dan terus berjalan tanpa menunjukkan emosi. Kalau mau melihatnya dari perspektif berbeda ya orang orang Jepang (utamanya di kota besar seperti Tokyo dan Osaka) memang seperti zombie. Dan shouganai-nya mereka mungkin lebih ke arah “Aku sibuk sekali dan ga punya waktu untuk berurusan dengan hal hal sepele seperti memarahi turis yang kalau jalan sambil main hape”

But hey, it works either way.

Chapter chapter awal buku ini memaparkan soal permasalahan kita yang terlalu banyak giving a fuck. Pak Manson juga melakukan dekonstruksi soal kenapa kita sering merasa kita adalah an unique snowflake dan entitled to things. Di saat selebtwit dan selebgram menggempur kita soal kampanye you’re special so the world should pay attention and respect to you, Pak Manson malah mati matian meruntuhkan tower ego itu agar kita tidak merasa bahwa dunia dan masyarakat berhutang sesuatu kepada kita. Entitlement itu anak tirinya ego. Dan menjadi orang egois hanya boleh dilakukan kalau kamu anaknya Jack Ma. Kalau udah mizkin, merasa spesial dan minta diperlakukan istimewa yha udha mz u mati ajha~

WhatsApp Image 2018-10-01 at 08.29.17

Di buku ini juga dijelaskan soal kecenderungan kita untuk romanticizing pain. Di media sosial bertebaran orang orang yang tiap hari galau but never try to get help. Saya juga bertemu dengan yang berada dalam hubungan tidak sehat dan terus curhat soal itu tapi tidak pernah mengiyakan (dan melakukan) saat disuruh putus dan keluar dari hubungan itu. Kita memuja rasa sakit seolah itu memang bagian dari diri kita –lebih buruk lagi, merasa itu adalah takdir– seolah ia bagian dari tubuh yang kalau dilepas setara dengan harus kehilangan kaki kanan, ga ikhlas dan ga mampu.

Padahal rasa sakit baik psycological atau physical adalah reaksi tubuh atas reseptor neuron yang mengatakan “Hey, there’s something wrong here” dan tugas kita adalah to fix it. Seperti saat tangan keiris pisau, kita merasakan sakit lalu mencari cara untuk menyembuhkannya. Kasih obat merah, minum Paramex, lilit perban, apapun agar rasa sakitnya hilang. Begitu juga dengan rasa sakit yang muncul akibat cinta yang tidak berbalas, habis nonton drama Korea atau saat Poussey mati kegencet Sipir di Orange is the New Black (this part made me cried for 2 whole days) dan perasaan perasaan sedih sejenis. When we get sad, try to get out and be happy, get help and let yourself be helped. Terdengar sederhana tapi kita lebih suka menimpa kesedihan dengan kelaraan lain. Kesedihan, somehow, membuat kita merasa spesial. Dan kespesialan itu membuat kita merasa entitled.

The Feedback Loop from Hell-nya Pak Manson juga menarik sebab ia menyentil soal kebiasaan kita untuk overthinking dan overanalyze terhadap perkara yang sebenarnya sederhana saja. Bukan bermaksud mengecilkan nilai depresi, anxiety dan penyakit mental lainnya hanya saja kadang kita terlalu cepat menyimpulkan kesedihan kita sebagai depresi. Ditambah sulit untuk memilah mana kesedihan yang murni dan kesedihan demi konten di era sekarang ini. Tapi ya shouganai, berempati saja tanpa harus mencari motif.

Eniwei, karena entry ini sudah terasa panjang sekali, setelah seminggu membaca buku ini hingga tamat dan mengulang kembali dari kemarin, saya menemui simpulan soal hidup yang singkat ini laluilah dengan biasa saja. Prioritaskan keluarga dan teman yang baik, cut toxic people from your life (mereka beneran ada, bukan hanya mitos), tolong diri sendiri saat merasa sedih dan terjebak dalam anxiety. And life can’t be beautiful if we don’t want to see it that way.

 

Sampit, 01 Oktober 2018

Advertisements