2018, Wrapped

Tahun lalu saat menuliskan ini saya sedang berada dalam fase gemar jalan jalan. Lebih dari belasan kali saya bepergian untuk liburan. Yang mana sebagai mbak mbak kantoran biasa tanpa pressure untuk engagement dan mengelola konten media sosial (hal ini satu satunya alasan yang terlintas di kepala saya soal kenapa seseorang sering jalan jalan selain karena kaya raya tentu saja) jumlah belasan itu terasa banyak. Beruntung pekerjaan kali ini jam kerja dan hak cutinya cukup jelas sehingga saya bisa mengatur jadwal jalan jalan dengan baik.

Karena perkara bepergian ini sekadar fase, lama lama ia pudar dengan sendirinya. Di tahun ini saya tidak terlalu bersemangat ketika mendapat ajakan berlibur. Sejak awal tahun saya sudah menolak ajakan ke Derawan, Banda Neira dan terakhir ke Korea dan Hong Kong karena somehow saya tidak berselera. Di benak saya hanya terbayang keribetan packing, rusuh di Bandara dan mencari nanny untuk Bambang selama ditinggal. Tapi mungkin 80 persen alasannya lebih kepada karena saya mizkin saja hahaha.

Januari memiliki highlight berupa pergi ke Kuala Lumpur selama lima hari untuk menghadiahi diri sendiri nonton konser Fleet Foxes di KLCC. Bulan ini juga menjadi penanda dimulainya hobi baru berupa meal prep. 26071306_2016191691952402_1526895778927214592_n (1)Pertengahan Februari saya mengambil paket tour ke Sumba, Nusa Tenggara Timur selama 6 hari. Bulan ini juga lagi booming film Marlina, Pembunuh dalam Empat Babak dan Susah Sinyal yang mengambil lokasi syuting di Sumba. Penasaran dengan sekeren apa Pantai Walakiri dan Weekuri sayapun berangkat bersama 4 kawan lain dalam private tour. Ternyata memang bagus banget, review lengkapnya di sini.

DSC00100

Maret.. di akhir bulan saya pergi ke Banjarmasin untuk pertama kalinya. Selama tiga hari di sana yang saya lakukan hanya tidur – makan – shopping kaya orang kebanyakan duit karena memang tidak banyak yang bisa dilakukan di Banjarmasin dalam waktu tiga hari kecuali wisata kuliner. Saya juga ingat betul Maret adalah bulan di mana saya agak terobsesi dengan channel YouTube Kurzgesagt – In a Nutshell. Kesembilanpuluh (terhitung hingga hari ini 17/12) video mereka saya tonton berulang ulang setiap malam sebelum tidur. Penjelasannya runut dan grafiknya menarik. Saya juga menyukai bagaimana mereka membuat hal se-njelimet String Theory menjadi sesederhana 1+1=2.

Di bulan April ada beberapa minggu di dalamnya yang penuh perenungan. Pertama karena Farida resign dan saya kehilangan rekan kerja yang sama gilanya di kantor. Kedua, berhentinya Rida dari kantor membuat saya merasa tidak enak untuk ‘numpang’ kontrakan yang telah kami tinggali selama setahun belakangan, ditambah kontrak tahunannya habis di bulan ini. Ketiga, sejak Februari saya mendapat surat peringatan dari KPR-BTN untuk menempati bangunan perumahan yang saya kredit sejak 4 tahun silam. Intinya jika lebih dari 5 tahun bangunan tidak ditempati akan dikenakan sanksi berupa perubahan skema pembayaran dari subsidi menjadi non-subsidi. Saya kira ini hanya bluffing ternyata tetangga depan rumah betulan harus membayar dari cicilan 950 ribu sebulan menjadi 1,4 juta sebulan.

Akhirnya di bulan Mei, bertepatan dengan minggu kedua bulan puasa saya akhirnya pindah. Perpindahan kali ini lebih terasa seperti eksodus karena lokasinya cukup jauh dari kota. Kurang lebih 7 kilometer. Delapan jika dihitung hingga depan rumah. Lokasi perumahan yang jauh ini sedikit banyak membawa perubahan dalam kebiasaan sehari hari saya. Perubahan yang (untungnya) lebih sehat dan hemat. Saya tidak bisa lagi pesan makanan menggunakan ojek online karena satu trip pengantaran ongkosnya 60-75 ribu, padahal dulu waktu rumah masih di tengah kota sehari bisa 3 kali menggunakan ojek online ini. Apapun yang saya mau makan, tinggal pesan dan satu jam kemudian sampai.

36113480_851551645039588_7494619598243758080_n.jpg

Juni, saya memulai hobi baru (lagi). Kali ini karena terdesak keadaan, saya mulai rajin memasak dan membawa bekal. Ditambah setelah kurang lebih satu bulan merasakan capeknya naik motor sejauh 8 kilometer sekali jalan dan berpapasan dengan truk setiap hari, saya memutuskan untuk mulai mengumpulkan uang untuk uang muka mobil. Setiap hari setidaknya seratus ribu bisa saya hemat karena meal prep ini.

Hingga minggu pertama bulan Juli saya gundah gulana karena kebelet ingin punya mobil. I might sounds like a whiny bitch because there’s a lot of people drive their motorbike for a solid hour or even more in order to go to work. Tapi karena bayangan mati tersambar truk saat naik motor menghantui pikiran saya setiap hari, keputusan untuk mencicil mobil akhirnya bulat juga. Setelah berlapang dada merelakan tabungan untuk ke Murmanks, Rusia di akhir tahun terpakai, ditambah bonus lebaran dan hasil berhemat via meal prep saya akhirnya mengambil Mobilio hitam dengan cicilan empat setengah tahun ke depan. Untungnya dengan uang muka yang cukup besar, cicilan bulanannya tidak sebegitu menyakitkan. Yha setidaknya saya masih bisa makan dengan baik dan nonton bioskop walaupun perkara liburan menjadi hal yang mustahil untuk sementara waktu. Sediy~~

Agustus Amel menikah! Untuk pertama kalinya saya pergi ke luar kota setelah kurang dari sebulan ‘bisa’ nyetir karena resepsi Amel di Pangkalanbun. Ini mungkin pertama kali sekaligus terakhir (setidaknya untuk tahun ini) karena ternyata nyetir jauh itu capek sodara sodara. Bulan ini saya kembali dapat tugas untuk berkeliling kebun di Region lain. Kali ini dalam rangka pembuatan video profile KLK Region Kalimantan Timur. Selama 10 hari terhitung sejak tanggal 11 hingga 23 Agustus saya hopping dari satu kebun ke kebun lain tanpa sinyal internet dan telepon sama sekali. Dua hari di ujung visit saya pergi ke kebun terjauh kami –6 jam perjalanan darat– dan menyempatkan untuk singgah ke Labuan Cermin.

Di bulan September saya addicted memainkan PUBG. Sampai sekarang saya masih bermain sesekali tapi tidak segila di bulan September. Saya mulai bermain di akhir season 2 – awal season 3 yang di kedua seasonnya saya push rank tiap hari dan berhasil naik menjadi Ace. Selain PUBG, saya juga memulai kebiasaan baru : Herbalife. Tepatnya sejak 11 September silam saya rutin mengganti sarapan dengan produk ini. Dengan tujuan ingin kurus tentu saja. Ini kali kedua saya ikut program herbalife sebenarnya, hanya saja kali ini saya jauh lebih mengerti soal how my body works dan apa yang dibutuhkan oleh tubuh. Hingga akhir September, saya berhasil menurunkan 5 kilogram dari berat awal.

44924586_2139487512781083_3048575720124472621_n.jpgYang saya ingat tentang bulan Oktober hanya satu : DIET. Bulan ini adalah bulan euforia karena saya ”akhirnya” sukses menurunkan berat badan dengan cepat dan tidak menyakitkan. Saya apply membership Health Club dan ngegym/berenang nyaris setiap hari dengan durasi 30-60 menit.

Gaya hidup yang jelek sepanjang 2016 – 2017 berimbas kepada tidak hanya berat badan yang bertambah hingga lebih 10 kilo, tapi juga menurunnya ketahanan tubuh. Saya gampang flu, cepat lelah dan sedikit2 merasa sedih.

Di bulan ini saya mulai merasakan perubahan yang lumayan. Dari yang dulu baru jalan dikit saja sudah ngos-ngosan, kini sudah bisa lari dengan konsisten hingga 5-6 menit. Dari yang 5 lap berenang sudah mau habis nafas jadi tahan 20-30 lap.

Yang paling menyenangkan, tentu saja karena reward dari konsistensi ini terasa. Baju mulai longgar dan beberapa kaos kesukaan akhirnya muat lagi. Di akhir Oktober, saya turun 10 kilo dalam waktu 1,5 bulan.

Di bulan Nopember saya masih diet tapi dengan ritme yang lebih pelan. Mungkin karena bosan kali ya, cheating day saya jadi lebih banyak dan olahraga mulai jarang. Saya tetap on track tapi pace-nya tidak secepat dua bulan sebelumnya. Karena tujuannya adalah membiasakan diri untuk makan maksimal 1,300 kalori sehari. Saya bisa dan sanggup defisit hingga 1,000 kalori sehari (yang kalau dilakoni konsisten selama 7 hari menjadi jaminan turun berat badan hingga 2 kilogram) dengan hanya makan shake herbalife untuk sarapan, satu potong tahu kukus untuk makan siang dan Promag untuk makan malam. Tapi hell no, saya ga mau begitu terus terusan. Oh di bulan ini saya juga menggagas beberapa gig sastra dan budaya bersama anak anak Cangkir Tua. Menyenangkan rasanya kembali ‘membangkitkan’ roh anak indie yang sudah terpendam bertahun tahun lamanya.

Desember baru menjejak hari kedelapanbelas. Di bulan ini highlightnya adalah ingin ke Korea tapi gagal (ternyata keburu full seat) dan operasi gigi geraham bungsu sebelah kanan. Sisanya hanya kegundahan kegundahan sepele soal ingin tahun baruan ke mana yang saya curiga akan berakhir dengan main game hingga subuh, just like another weekend hahaha.

Saya rasa 2018 saya cukup shallow. Tidak ada kejadian menggemparkan, tidak ada roller coaster perasaan. Awal tahun saya sempat dekat dengan F yang saya kenal saat di Jakarta. namun setelah dua bulan intens ngobrol, video call dan chatting kami memutuskan there’s no possible way this relationship would work. Dia harus balik ke Ankara – Turki sehingga waktu ngobrol kami either delay di saya atau dia selama 5 jam. Lagipula tidak ada yang menyenangkan dari LDR, I’ve learn it in a hard way.

Tapi jujur, saya menyukai ritme hidup yang seperti ini. Meski beberapa kali saat dandan di pagi hari saya membayangkan diri saya seperti Walter Mitty di the Secret Life of Walter Mitty yang monoton – rutin – mundane –  biasa aja. Mungkin karena beberapa tahun di awal usia 20an saya separo mampus jungkir balik berurusan dengan urusan pekerjaan, keluarga dan romansa kali ya. Kalau usia 20-24 tahun saya kemarin dibikin kaleidoscope seperti ini, panjangnya mungkin bakal lebih dari 100 halaman. Setiap bulan, hell, setiap minggu di tahun tahun itu saya mengalami krisis. Adaaaaa aja masalah yang kayaknya ga akan tuntas tuntas.

Saya rasa agak congkak jika menyebutkan saya sudah settle sekarang karena siapa yang tau apa yang akan terjadi besok. Saya bisa saja di-PHK, atau cacat, atau sakit, atau basically anything could happen dan mengubah state settle saya menjadi jungkir balik kembali. Kurang dari sebulan saya akan menjejak usia baru, 27. When people says time flies I used to -Pffft-ing them because they had no idea how hard it is for me to get by even just for a day. Now I kind of get it, it feels like I just graduated high school yesterday yet it’s already 10 years behind. I still felt the same pain on my heart like the day my mother died although she’s already passed for almost 4 years. Some memories are so vivid, linger and had all painful details. 

Dan terasa seperti baru saja terjadi kemarin.

 

Sampit, 18 Desember 2018

Advertisements