Resolusi 27

Sepanjang ingatan, 27 adalah usia terjauh yang pernah saya khayalkan semasa remaja dulu. Saya pernah membayangkan bagaimana hidup seharusnya saat usia 17; satu bulan setelah lulus SMA. Khayalan saya purna: menikah dan beranak pinak sebelum usia 25. Agak menggelikan rasanya jika mengingat betapa yakinnya saya atas hal tersebut. Delusional, indeed.

random thoughts – for the benefit of mr kite (1)
Tulisan dari entry tahun 2009

Akhir tahun hingga menjelang pergantian umur adalah waktu favorit saya untuk membaca ulang blog yang sudah menjadi media curhat 10 tahun belakangan ini. Melihat perspektif saya terhadap berbagai hal dan bagaimana ia perlahan berubah ke arah yang menurut saya lebih baik. Pandangan atas politik, atas dogma, atas nilai nilai dalam hidup. Saya juga merasakan kembali semua resah, gundah, kebimbangan dan ketidaktahuan sebelum akhirnya saya menjadi saya yang sekarang.

random thoughts – for the benefit of mr kite
Pada sebuah entry di tahun 2011 saya menemukan tulisan ini.

Di tahun itu saya berusia 19, baru saja selesai merayakan keriuhan Jakarta setelah 1 tahun lamanya berproses dengan orang orang hebat dalam pekerjaan paling keren yang pernah saya punya. That 19 years old Nani still shares the same perspective about marriage. Bahkan saat menjejak usia 27 sekarang, saya masih membayangkan diri saya travelling sendirian di kota dan negara asing instead of membacakan The Little Prince sebelum anak saya tidur.

Mungkin saya terlalu berlebihan dalam memandang masa depan, terlalu spesifik dan dramatis dalam memaknai sebuah khayalan. Saya lupa kapan tepatnya, mungkin setahun belakangan saat sedang banyak berproses di dalam karena satu-dua (atau tepatnya – beberapa belas) kejadian tidak mengenakkan di tahun tahun sebelumnya, saya berhenti berkhayal soal masa depan. Saya juga merelakan impian impian masa kecil – remaja – awal 20an yang tidak kesampaian. Jika sampai detik ini saya tidak berhasil menjadi penulis, ya sudah tidak apa apa.

Sejak Desember sesekali saya mulai membayangkan resolusi apa yang akan saya tulis untuk 2019. Perkara resolusi resolusian ini telah menjadi ritual tahunan selama satu dekade. Sepanjang rentang 10 tahun kemarin saya melihat sendiri bagaimana resolusi dan bucket list itu menjadi kenyataan. Setiap entry berjudul Resolusi 17, 18, 19 … dst akan menjadi review terhadap resolusi tahun sebelumnya, untuk kemudian saya tuliskan kembali harapan harapan baru yang taelah saya sampe merinding gini melihat bagaimana mereka bisa kejadian meski beberapa di antaranya terdengar tidak masuk akal. 

Di resolusi 21 misalnya saat saya menulis ingin menjadi anchor televisi, FYI saya gendut dan tidak cantik jangankan di kamera TV yang resolusinya 4K, di kamera tustel saja saya ga enak dilihat. Namun kemudian di usia 22 out of the blue saya melamar sebagai creative program di TV lokal dan menjadi host untuk beberapa talkshow bahkan talent iklan (warga Sampit yang traumatize dengan saya yang muncul setiap malam dan Jumat sore, maaf :’)) Dan beberapa perkara random yang saya nobatkan sebagai resolusi dan kejadian dengan cara yang menurut saya pada saat itu: mejik. 

Karena sudah dilakoni sepuluh tahun, diam diam persepsi ini menjadi paradigma yang baru saya sadari keberadaannya setahun belakangan. Turning pointnya adalah buku Neil DeGrasse Tyson – Astrophysics for People in a Hurry. Saya mulai merenung soal kalimat quotable beliau bahwa we’re made from stardust atau we’re not special because our existence consist with the same ingredients with other 7 billions human being. Kontemplasi yang kemudian berujung dengan “Damn, I must’ve been an annoying bitch for the past 10 years”

Terbiasa dengan pemikiran bahwa saya spesial membuat saya merasa entitled pada banyak hal. Saya berpikir bahwa mejik demi mejik yang terjadi dalam hidup adalah buah dari kespesialan itu. Saya merasa lebih baik, lebih pintar, lebih free-thinking, lebih liberal, lebih enlighted, lebih berpengalaman dibanding orang lain karena masa kecil dan latar keluarga saya begitu sulit dan melarat.

Dalam perjalanannya saya mulai mencari afirmasi dan pujian. And become obsessed with being smarty pants snob holier – than – thou. Dalam banyak momen saya mendapatkan pujian yang saya mau. Disebut prodigy, old soul, bijaksana, pintar, dan sematan serupa dari orang orang yang saya pandang hebat dan keren.

But here’s the dark side of feeding your ego : Ga akan pernah cukup.

Perasaan selalu merasa kurang ini berimbas pada banyak sekali self-harm bodoh cenderung pointless. Saya jadi paranoia terhadap penolakan di social circle, pekerjaan, orang yang disuka dan seterusnya. Gemanya akan membesar saat saya mengalami penolakan untuk alasan yang bahkan (mungkin) tidak ada hubungannya dengan apa yang saya rasa kurang. Merasa kurang kurus membuat saya beberapa kali pingsan karena diet ketat yang salah. Merasa kurang pintar membuat saya melahap belasan buku soal sains dan fisika dalam hitungan minggu. Merasa kurang sexually appealing membuat saya bertualang ke banyak kota dan negara hanya untuk memenuhi pernyataan bahwa saya desirable.

Semuanya hanya demi penerimaan. Acceptance.

Buku Mark Manson juga banyak memandu saya untuk membenahi perspektif ini. Beliau melalui bukunya menjelaskan banyak soal merasa spesial dan menjadi entitled karenanya. I’m not an unique snowflakes and it’s okay. 

Perubahannya baru benar benar terasa saat kemarin saya kembali bertemu dengan orang pernah saya cari afirmasinya beberapa tahun lalu. Dulu saat saya tertarik dengannya, saya membuat mental note soal apa saja yang ia suka dan bermalam malam melakukan riset atas hal tersebut. Buku buku kesukaannya, lagu yang ia dengarkan, makanan yang ia sukai semua saya cari dan pahami agar saat berbicara dengannya saya tidak terlihat bodoh. Tujuannya sederhana, agar keberadaan saya diakui, agar saya menjadi signifikan karena telah menonjol melalui kesejajaran dalam berdiskusi.

FAKLAH NO WONDER JOMBLO MULU PERKARA NAKSIR AJA DIBIKIN SERUMIT INI

Afirmasi itu tidak pernah saya dapatkan dan menjadi satu dari beberapa hal yang masuk dalam black hole shouganai pasca momentum Neil DeGrasse Tyson tadi. Kemudian setelah Desember kemarin kembali bertemu, ternyata ada perubahan yang terjadi. Saya mengatakan/melakukan apapun tanpa membawa misi ingin diakui. Tidak ada overthinking, tidak ada kontemplasi mendadak, tidak ada lagi tendensi ingin disebut pintar disebut cantik disebut menarik. Saya bisa dengan santainya mengatakan “Ga tau, apa itu?” atas konsep/istilah/judul/penulis/penyanyi yang memang tidak saya tau tanpa khawatir dikira bodoh :’))

Mungkin baginya saya tidak banyak berubah dan masih sama seperti bertahun silam, but it doesn’t matter for me anymore. Karena saya telah berhenti berasumsi atas hal yang tidak saya tau dan hanya fokus kepada yang saya pahami. Saya berhenti menduga duga perasaan atau pendapat orang terhadap saya dan hanya memikirkan bagaimana perasaan saya terhadap diri sendiri. Senang – tidak senang, nyaman – tidak nyaman, bahagia – tidak bahagia.

49663016_2307083499315292_1452483417529647104_n
Kaget juga melihat tulisan remeh begini sampe diretweet 1,500 kali di Twitter

Menjejak usia 27, saya meneruskan ritual hari ulang tahun ini dengan menuliskan paradigma ketimbang resolusi.

Kelak dalam perjalanannya apapun bentuk pencapaian, milestones, mejik, pengalaman dan orang orang baru yang saya alami/temui, mereka akan menjadi hal menyenangkan untuk dinikmati tanpa harus ditargetkan dan dijadikan harapan. Saya cukup dengan diri sendiri dan apapun yang terjadi di luar itu adalah physical matter yang tidak akan mengurangi maupun menambah nilai eksistensi saya sebagai a speck of stardust in this vast universe.

Seperti tujuh milyar warga bumi lainnya, saya tidak spesial. Saya tidak lebih dan juga tidak kurang dari orang lain. Saya tidak berhutang penjelasan apapun kepada siapapun sebab ya itu tadi, pada akhirnya saya hanya punya diri sendiri.

Ini akan terdengar seperti guidance yang suram jika dilihat dari perspektif : saya terkesan menolak untuk berkongsi dengan orang lain dalam menjalani kehidupan. Namun paradigma ini membantu banyak sebagai coping mechanism saat saya teringat betapa menyakitkannya emotional damage yang saya alami saat menggantungkan eksistensialisme pada afirmasi manusia lain. Pada nervous breakdown setiap kali saya merasakan penolakan. Pada kenangan buruk dan hal hal yang seharusnya bisa saya perbaiki di masa lalu. All of those what if, should’ve, could’ve, must’ve.

Jadi, mari menjalani usia 27 dengan sikap shouganai dan lebih menyayangi diri sendiri!

 

 

 

Sampit, 10 Januari 2019

Hidup tidak semestinya dimaknai dengan kejam

Advertisements

Author: nanirigby

A Wanderer who constantly asking about "Why?"

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s