Sepotong Surat Untuk Nani 10 Tahun Lalu

10 Years Challenge has brought me here.

Dear 17 years old Nani,

I’m not here to say that your life is now perfect and problem-free, I’m here to thank you.

Terima kasih karena sudah berani untuk berkata tidak dan kabur ke rumah tetangga pada ajakan masuk kelambu, di suatu pagi hari Minggu saat rumah kosong dan pamanmu datang berkunjung. Kalimat “Nanti paman jilat vaginamu biar enak” mungkin masih terngiang hingga 10 tahun kemudian, tapi kamu akan menemukan kata kata itu tidak lagi bisa menyakitimu. Dan berkat keberanianmu untuk mengadu kepada Ibu, itu adalah hari terakhir ia menjadi teror dalam hidupmu.

Semua rasa marah yang kamu lampiaskan pada Ibu, pada pintu kamar, pada 7 tindikan di telinga, pada setiap pulang larut malam, pada setiap bolos dan asap rokok, akan perlahan kamu mengerti. Bahwa yang telah terjadi sama sekali bukan salah siapa siapa, bukan salah Ibu, bukan salah kamu karena menjadi perempuan, bukan salah Ayah karena tidak menjagamu, it happens because it happens.

It might take years, but you’ll find yourself forgiving him and moved on.

Kamu baru saja mengalami patah hati untuk pertama kalinya, ya? Saya baru saja menemukan surat cinta dan curhatanmu hari Sabtu kemarin. Soal kamu yang jatuh cinta karena akhirnya ada seseorang yang mengerti kamu. Yang berdiri di sisi kendaraan datang saat menyebrang jalan, yang memperhatikan kakimu saat meniti jembatan turun di pelabuhan. Kamu menemukan seseorang yang memperlakukanmu dengan baik setelah semua hal jahat yang terjadi dalam hidupmu. Mencintainya sama sekali bukan kesalahan meski bertahun kemudian kamu mengutuk perasaan itu dengan penyesalan penyesalan.

It might take years, but you’ll find yourself forgiving that moment and moved on.

Terima kasih karena tidak sekalipun kamu berhenti menulis. Dan tau gak, Nan? Tulisan tulisan itu mengantarkanmu bertemu dengan banyak sekali orang orang hebat. Dalam beberapa bulan setelah kelulusan SMA-mu, kamu akan menjadi wartawan di Radar Sampit, anak group Jawa Pos dan meraih gelar the most productive journalist 2009 karena lebih dari 500 beritamu terbit dalam setahun pada event pertemuan seluruh wartawan cetak regional Kalteng dan Kaltim.

Setahun setelahnya tepat saat ulang tahunmu ke-18, kamu akan bertemu dengan Dr. Herry Yogaswara, Antropolog LIPI. Beliau akan mengirimkan pesan panjang lebar via e-mail tentang ketertarikannya pada tulisan soal kerusuhan etnis 2001 di blogmu. Ia akan banyak membantumu untuk melihat soal pentingnya terus belajar, untuk terus menulis. Oh Senja Merah? Beliau yang kini adalah Kepala Pusat Penelitian Kependudukan LIPI melakukan review dan membawa 135 lembar novel fotokopian itu sebagai kenang kenangan. Kamu juga akan bertemu dan berhubungan baik dengan Kimung, Dewi Umaya Rachman, Noe Letto, Cak Nun, Richard Oh dan sederet nama lain yang percayalah, hingga usiamu kini 27, kamu masih sering tersenyum mengingat bagaimana mereka menyebut hal hal baik tentangmu.

Terima kasih karena sudah keras kepala menolak untuk menjadi yet another pramuniaga  toko di dalam rentang sejarah kemiskinan di pohon keluarga kita, terima kasih karena tidak menyerah untuk belajar soal berorganisasi dan berkomunikasi di Radio, tidak menyerah untuk belajar mengetik dan menguasai komputer selama di Radar Sampit, tidak menyerah menonton film dan lagu lagu bahasa Inggris tanpa subtittle untuk menabung soft skill hingga akhirnya kamu mendapatkan pekerjaan impian dua tahun setelahnya. Menjadi Publicist di Jakarta.

Meski akhirnya kamu harus pulang dan bekerja sebagai kreatif televisi lokal, terima kasih karena kamu sudah menjadi orang pertama di keluarga yang menjejak tanah Jakarta dan bertahan hidup di sana.

Nani sayang, terima kasih karena tidak menyerah dengan keadaan. Kamu yang kuat untuk mematahkan anggapan, sindiran dan keraguan orang orang yang menyepelekanmu, karena kamu bukan anak siapa siapa dan tidak mengecap pendidikan apa apa, namun nekat melamar pekerjaan di perusahaan internasional yang terkenal luar biasa picky terhadap aplikatornya. Dalam setahun kamu akan tersenyum saat Direktur Utama memberikan piagam Executive of the Year padamu di annual gathering seluruh regional.

Kamu akan menghidupi mimpi mimpi sepele namun diam diam kamu panjatkan sebagai doa. Sebelum usiamu menjejak 25, kamu akan pergi ke Jepang, oh, ingatkah kamu pada komik komik sewaan yang menyita seluruh uang jajan itu? Ingat saat detektif Conan berjalan di bawah Tokyo Tower? saat kamu memimpikan soal berjalan kaki di Tokyo? Kamu menggenapinya, Nani. Kamu memeriahkan nyaris semua harapan Ayah soal hidup yang lebih baik. Kamu bahkan bisa memboyong semua orang liburan ke Jakarta untuk kemudian diam diam tersenyum saat mengetahui Ayah membanggakanmu pada setiap tamu yang hadir di rumah.

“Nani mengajakku makan di tempat yang isinya bule semua” adalah hal manis yang akan kamu kenang di hari hari mendung saat masalah di kantor membuatmu sedih.

Di usia selanjutnya kamu akan belajar bahwa semua pencapaian itu hanyalah rentetan kejadian yang tidak seharusnya membuatmu sombong. Kamu akan bertemu dengan lebih banyak orang dengan cerita hidup yang jauh lebih hebat dan akan membuatmu belajar soal hidup bukan hanya soal mencari uang.

Saya paham betul, sayang, kematian Ibu membuatmu bersumpah untuk tidak ingin menjadi orang miskin. Nantinya kamu akan belajar bahwa merasa cukup adalah kunci penting untuk kehidupanmu. Kamu akan berhenti melakukan pembuktian pembuktian soal materi, kamu akan belajar soal apa yang benar benar kamu inginkan dalam hidup:

Berdamai dengan diri sendiri.

Saya bisa melihat dan merasakan bagaimana sudut pandangmu perlahan berubah, kamu yang sudah menerima kematian Ibu sebagai sebuah peristiwa alam, bukan pertanda atau hukuman karena kamu begitu lalai dan tidak menujukkan kasih sayang padanya. Meski kadang masih suka kesel ya kamu yaa hahaha. Kamu yang sudah berdamai dengan paman dan kesulitan di masa kecil karena Ayah tidak pernah hadir dalam tataran emosi.

Kamu merelakan setiap laki laki yang kamu kira akan menyelamatkanmu dari kesepian, namun ternyata menyakiti hingga hatimu terasa terbelah delapan. Kamu akan mengerti bahwa kamu layak, kuat dan cukup, dan tidak seorangpun bisa menyelamatkanmu dari apapun kecuali dirimu sendiri.

Nani sayang, saya tidak bisa menjamin kehidupan akan terus seperti ini di masa depan. Tapi dengan apa yang telah kamu lakukan untuk membuat dirimu sendiri bahagia, saya tidak merasa khawatir soal bagaimana jika. Kita akan belajar untuk mengendalikan –bukan dikendalikan– oleh ideologi, kita akan belajar soal bagaimana menjadi baik, tanpa harus merasa menjadi yang terbaik.

Kita di hari ini telah melakoni hidup sebaik baiknya dengan apa kita punya. Soal apakah kita akan membekas dalam ingatan seseorang, apakah kita akan dikenang atas kebaikan kebaikan, kita tidak tau soal itu. Dan ga papa. It’s okay to know nothing about the future.

Saya hanya punya keyakinan, bahwa kita akan terus belajar dan beradaptasi.

Sampit, 22 Januari 2019

Peluk dan sayang, Nani di masa sekarang.

Advertisements

Author: nanirigby

A Wanderer who constantly asking about "Why?"

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s