Sekat dan Ruang

Aku sudah terjaga sebelum pukul lima

Dari tidur yang tidak seberapa panjang dan lebih banyak mimpi buruknya

Air mendidik di atas api yang menyala

Menyeduh kopi lalu meminumnya tanpa banyak bicara

 

Televisi berbisik perihal debat presiden semalam

Mesin cuci telah dikosongkan dan sekarang pengeringnya mengeram

Rokok pertama pagi ini telah dinyalakan

“Percepatan kematian”

Aku tersenyum mengingat wajahmu pada sesap kesembilan

 

Matahari mulai tinggi dan baju-baju telah kering separuh

Kopi dingin dan abu rokok yang dijentik jatuh

Ingatan tentangmu adalah potongan yang tak pernah utuh

Seperti pintu yang tak terbuka penuh

Seperti rindu yang tak butuh direngkuh

Seperti gelenyar tubuh yang tak perlu disentuh

 

Bisik televisi dan pagi tanpa suara

 

Kau menawarkan ria dan luka,

Lalu aku bertaruh.

 

Sampit, 14 April 2019

Advertisements

Ruang Tunggu

Kedua lengan bertumpu pada pusara penantian

Atas nama malam dan rindu yang tertahan

Kembali kau pertanyakan perkara kesetiaan

Pada Ruang Tunggu yang talah lama kutinggalkan

 

Rindu telah menjadi dendam

Terlalu lama ia diperam

Di sela jemari yang jenuh menari sendirian

Di antara suara yang tak kunjung tersampaikan

 

Di Ruang Tunggu hanya ada ketabahan

Dan kesabaran

Kesabaran

 

Sebab,

 

Jika hanya kekal penantian yang kau berikan

Harusnya kau bunuh aku sejak permulaan

 

Sampit, 13 Februari 2012

Rindu sudah menjadi dendam, tuan.