Cognitive Bias dan Pemaknaan Mimpi Buruk

Saya jarang sekali bermimpi buruk belakangan ini. Dulu ketika masih usia belasan mimpi buruk menjadi perkara harian, kebanyakan mimpi diperkosa/dikurung dalam sumur. Biasanya jika terbangun dengan keringat mengucur atau airmata mengalir, saya akan merangsek ke kamar Kakak dan melanjutkan tidur di sana karena somehow saya merasa ‘aman’. Sesekali di usia 20an ini saya masih terbangun dengan pola yang sama namun biasanya akan segera tertidur kembali karena saya mengerti dari mana datangnya mimpi buruk itu.

Bahkan hal itu tidak lagi saya maknai sebagai mimpi yang buruk karena tau diri ini menggemari Junji Ito, suka game violence, ngefans sama film film Zombie dan mengikuti serial Happy Tree Friends dan Salad Fingers di YouTube. Jika mimpi yang saya alami adalah tembak tembakan/dikejar zombie/masuk ke realm aneh saya akan terbangun dengan ngos ngosan senang lalu menggumam “THAT DREAM WAS AWESOME!” lalu tidur kembali in no time.

Untuk pertama kalinya setelah sekian tahun, saya menemukan mimpi buruk dengan keinginan merangsek ke kamar Kakak setelah terbangun. Karena sadar sudah 6 tahun terakhir saya hidup sendiri, maka hal pertama yang saya lakukan adalah menangis sejadinya dan menelpon kawan baik di Bengkulu yang kebetulan masih terjaga. Kami membahas soal surviving mode tubuh dan pikiran yang bahkan saat dalam mimpi sekalipun, masih alert dan saya ingat betul dalam mimpi saya bergumam “Nani this is not real, wake up, Nani wake up” hingga akhirnya tiba tiba terjaga.

Tertidur kembali setelah menolak menenggak obat tidur dan memilih minum susu hangat, pagi ini saya bangun lalu browsing singkat dan membaca beberapa lembar Psychology Book-nya DK seusai menyeduh kopi dan merokok seperti biasa. Saya kira saya sudah selesai untuk menyingkirkan kepatah-hatian yang saya alami. Saya sudah menghapus setiap jejaknya hingga tidak bersisa barang secuilpun. Wajahnyapun sudah samar di ingatan saya, suara dan hal hal yang pernah ia katakan pelan pelan saya pindah dari long memory term ke short memory term dengan coping mechanism yang saya pelajari melalui buku buku dan artikel psikologi.

Meski jarang sekali berkasih-kasihan, he’s my second boyfriend for the entire 27 years of my life, saya cukup mahfum soal bagaimana jatuh cinta dan patah hati bekerja. Melalui curhatan teman teman dan buku/video/artikel yang saya cerna. Namun rupanya ada sedikit perbedaan antara memahami dan mengalami. Ada beberapa tahun di mana saya sangat terobsesi dengan bagaimana otak bekerja hingga saya tiba di titik segala hal dapat dijelaskan secara rasional tanpa melibatkan perkara gaib sedikitpun. Titik terakhir jika sesuatu terjadi dan saya mentok tidak bisa memahami, saya kembali pada premis:

“Terima saja, kamu hanya belum mengerti apa yang terjadi”

Dan biasanya setelah sekian waktu dan diskusi saya lalui, ia akan bisa diterima dengan baik. Dirasionalkan dengan baik karena saya tau, ilmu pengetahuan akan terus berkembang dan saya masih sangat bodoh dan perlu banyak belajar. Mengambil jarak dan melihatnya melalui eagle eye atau sekadar menerima bahwa saya sedang terjebak dalam ilusi Panoptikon, adalah metode paling ampuh untuk melalui ‘cobaan’ hidup.

Dalam cognitive bias ada ruang bernama Not Enough Meaning dengan premis bernama We Imagine Things and People We’re Familiar With of Fond of as Better dan We Simplify Probabilities and Numbers to Make Them Easier to Think About. Dan saya harus mengakui saya memandang kepatah-hatian ini dengan bias yang terlampau banyak. Saya mengira saya sudah cukup mengenalnya dan membangun tebak tebak buah manggis soal perasaannya pada saya. Saya menyusun symptom yang berujung simpulan kurang valid/tidak masuk akal karena menggunakan pendekatan Appetite, seperti yang dijelaskan Plato dalam The Tripartite Theory of the Soul:

Appetite : this is the part of the soul where very basic cravings and desires come from. For Example, things like thirst and hunger can be found in this part of the soul. However, the appetite also features unnecessary and unlawful urges, like overeating or sexual excess.

WhatsApp Image 2019-06-07 at 10.45.31.jpeg

Bias seperti ini jika dibiarkan akan menjadi prejudis dan asumsi yang tidak main main gemanya. Saya ingat betul bagaimana seorang Nani saat berusia 15 tahun dan patah hati untuk pertama kalinya. Saya membangun imagi yang sedemikian kokoh positifnya dan vivid bahwa lelaki ini tidak meninggalkan saya namun hanya sedang sibuk saja, saya harus menunggunya. Hingga akhirnya 9 tahun berlalu dan saya mendapat jawaban bahwa ia tidak sekalipun ingin menjadi pacar saya, yang terjadi hanya perkenalan biasa.

Sembilan tahun saya menunda hidup karena ketidaktahuan dan demi apapun saya menolak menghabiskan sembilan tahun lagi untuk sekadar patah hati. Sejak 31 Mei saya mendapat distraksi menarik, karena kekaguman saya kepada orang ini tidak main main besarnya, sebuah afirmasi darinya menjadi pengalihan isu yang sangat baik. Terlalu baik malah. Setelah 31 Mei saya tidak memikirkan sedikitpun soal patah hati yang baru saja terjadi, dunia seolah berwarna jingga keemasan dengan saya sebagai Alina dan ia Sukabnya. Indah, terlalu indah seolah olah tidak ada hal lain yang lebih indah.

Sayangnya, seperti halnya distraksi apapun, ia ephemeral. Temporal. Ketika keriaan itu usai dan dopamine level di otak menurun, saya harus kembali membuka karpet dan membereskan sampah di bawahnya. Tapi kali ini tanpa bantuan alkohol, obat penenang atau curhat berlebihan. Saya harus menghadapi ini sendirian dengan ‘bekal’ pengetahuan yang rasanya cukup untuk bersepakat dengan diri sendiri bahwa:

“Ia hanyalah fluke in the system. Kesialan yang terjadi. Shit happens sometimes. Kamu dibrengsekin, disakiti dan tidak apa apa. Toh yang indah indah juga pernah terjadi, seimbang. Terima dan lepaskan”

Perasaan dua orang yang bersepakat untuk berkongsi tidak akan pernah bisa linear. Hal ini disebabkan dua individu dibesarkan, terpapar dan memiliki belief system yang berbeda. Jika dalam hal ini garis saya perkara cinta-mencintai lebih panjang sementara ia telah berhenti sejak lama, ya tidak apa apa. Namanya juga dua garis yang tidak akan pernah linear. Rasional saja tidak cukup, saya juga harus belajar untuk menerima dan merelakan.

Tes MMPI telah dibahas sedikit pada pertemuan ke-4 kemarin. Dokter bilang kurva reasoningku tinggi. Kemampuanku untuk merasionalkan setiap kejadian di masa lalu sangat baik. Diam diam aku bangga dengan itu, rasanya seperti validasi atas upaya memahami diri sendiri melalui buku buku dan diskusi selama ini. Kurva yang mengkhawatirkan hanya bad thoughts dan inipun kuamini sebab ia telah menjadi belief systemku pasca bersikap dan berpikiran positif membuatku berakhir pada pelecehan seksual, penipuan uang, dan menunggu seseorang hingga 9 tahun lamanya. Sehingga seperti yang diajarkan seorang kawan, sebelum ia melakukan operasi bedah, ia akan memikirkan kemungkinan terburuk agar siap secara mental dan menganggap keberhasilan operasinya adalah ‘reward’ dari upaya maksimalnya.

Namun saya mengerti, berpikiran positif dan berpikiran negatif memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri. Ada alur dengan kemungkinan mengguncang ketetapan dan kestabilan pikiran namun itu adalah resiko yang harus diambil. Hidup adalah soal memilih dan memperjuangkan pilihan itu hingga dihadapkan dengan pilihan pilihan baru dan pola yang sama kembali diulang. Sekarang saya ingin belajar bersikap netral, seperti yang kerap saya ulang ulang sebagai mantra di pagi hari:

Daripada suudzon atau husnudzon, lebih baik tidak berprasangka sama sekali.

Untuk bersikap senantiasa netral dan dalam perjalanannya, hidup mempertemukan saya dengan banyak sekali hal hal menarik yang ‘mengejutkan’ karena saya berangkat tanpa prasangka. Jika saja dulu saya berprasangka baik/buruk tentang bagaimana hubungan ini akan menuju, tidak akan saya dikejutkan dengan perasaan sangat sangat bahagia karena dicintai seseorang yang saya cintai 2 tahun lamanya. That was wonderful, menemukan diri berbahagia itu menyenangkan. Mengetahui ada seseorang yang khawatir dan memikirkan eksistensi saya rasanya membahagiakan. Itu adalah reward dari sikap menolak berprasangka.

Walaupun kejutan di akhirnya adalah patah hati, ya tidak apa apa. Hidup tetap harus berjalan dan saya harus lebih belajar lagi soal menerima dan merelakan.

 

Sampit,  07 Juni 2019

 

 

Author: nanirigby

A Wanderer who constantly asking about "Why?"

2 thoughts on “Cognitive Bias dan Pemaknaan Mimpi Buruk”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s