Bluebeard’s Castle

Serial You di Netflix ini menarik sekali karena: it touches so many soft spots in me. Menamatkan 10 episodenya dalam dua malam Januari silam dan betapa saya ngefans dengan karakter Beth yang kampring di serial ini :))

Screen Shot 2019-08-05 at 22.26.11Bicara soal plot dan alur cerita sebenarnya biasa banget, milenial urban stories pada umumnya. Agak mengingatkan pada beberapa potongan cerita di novel Hanya Yanagihara yang A Little Life, soal bagaimana dinamika kehidupan milenial di New York, Amerika pada umumnya.

Pergeseran perspektif soal “American Dreams” di era Baby Boomers dan Milenial juga menarik, jika dulu yang diusung adalah soal harta dan tahta dan kesuksesan materi tiada ampun maka di zaman ini kesuksesan adalah bagaimana untuk “selesai” dengan diri sendiri sebelum terjun ke ranah rigid bermasyarakat.

1101130520_600.jpgHal ini mungkin berkaitan dengan awareness soal self-love, soal spiritualisme, soal mental illness dan seterusnya di era sekarang. Setelah revolusi internet bergaung, orang orang lebih mudah menyampaikan pergulatan batinnya sehingga wajar jika majalah Times menyebut milenial dengan The Me Me Me Generation. Generasi paling nyaring dibanding generasi generasi sebelumnya.

Saya sendiri berisik minta ampun, utamanya di ranah tulisan mengingat saya kurang nyaman dengan media visual seperti video. Sehingga ketika menemukan buku atau film/serial yang seolah olah menjadi representasi diri, saya akan ngefans seketika.

Seperti monolog Beth saat menjelang kematiannya dalam sekapan Joe di ruang bawah tanah toko buku:

How the hell did you end up here?

You used to wrap yourself in fairy tales like a blanket. But it was the cold you loved. Sharp shivers as you uncovered the corpses of Bluebeard’s wives. Sweeter goose bumps as Prince Charming slid one glass slipper over your little toes, a perfect fit.

But by the schoolyard, real princesses floated by you on fall winds. You saw the gulf between you and the rich girls, and vowed to stop believing in fairy tales. But the stories were in you, deep as poison.

If Prince Charming was real, if he could save you you needed to be saved from the unfairness of everything when would he come? The answer was a cruel shrug in a hundred fleeting moments. The sneer on Stevie Smith’s face when he called you a fat cow. Uncle Jeff’s hand squeezing your ass in the Thanksgiving kitchen. The accusation in your father’s eyes when you told him what happened.

From every boy masquerading as a man that you let into your body, your heart, you learned you didn’t have whatever magic turns a beast into a prince. You surrounded yourself with the girls you’d always resented, hoping to share their power, and you hated yourself. And that diminished you even more.

And then, right when you thought you might just disappear, he saw you. And you knew, somewhere deep, it was too good to be true. But you let yourself be swept, because he was the first strong enough to lift you.

Now, in his castle, you understand Prince Charming and Bluebeard are the same man. And you don’t get a happy end unless you love both of him. Didn’t you want this? To be loved?

Didn’t you want him to crown you?

Didn’t you ask for it?

Didn’t you ask for it?

Didn’t you ask for it?

So say you can live like this. Say you love him, say thank you, say anything but the truth.

What if you can’t love him back?

Bluebeard and His Seven Wives adalah dongeng soal seorang Sultan tajir yang punya kastil dengan banyak pintu. Setiap istri yang dia bawa pulang akan penasaran dengan isi di balik pintu pintu tersebut dan Bluebeard (meski telah memberikan warning) namun tetap membuka pintu itu. Hingga pintu ketujuh terbuka, ia mau tidak mau harus membunuh istrinya itu.

Versi favoritku tentu saja dari Grimm Brothers, namun dongeng versi lightnya bisa dibaca di sini. Dongeng ini cukup terkenal hingga diangkat menjadi film di tahun 1925 dan beberapa play teater. Tentang bagaimana rasa ingin tahu pada akhirnya literally bisa membunuhmu, jauh sebelum istilah curiousity kills the cat itu muncul.

Ini adalah satu dari sekian banyak random thoughts kind of entry. Baru saja tiba dari Bali tadi siang. Delay penerbangan hingga lima jam membuat saya banyak bengong di pojokan bandara. Buku Mythology 101-nya Kathleen Sears hampir habis saat saya menemukan cerita soal Cronus yang membunuh Uranus dengan cara ngumpet di vagina Gaia dengan membawa arit untuk kemudian memotong penis Uranus. Imajinasi orang orang zaman dulu yang ajaib mengingatkan saya pada dongeng Bluebeard dan akhirnya monolog Beth.

Kelindan ingatan itu berakhir dengan saya yang menangis pelan tanpa suara karena tiba tiba merindukan rumah yang tidak pernah ada itu. Teringat kepada berapa kilometer dan waktu yang saya tempuh hingga usia sekarang tapi tetap saja perasaan sunyi menyergap ketika membuka pintu di penghujung hari dan menemukan rumah kosong tanpa bunyi. Saya kira, naifnya, saya telah selesai soal penerimaan atas keadaan. Bahwa sunyi dan sepi harus diterima bukan dipungkiri. Bahwa kesendirian ini adalah konsekuensi atas pilihan yang harus dijalani dengan berani.

Tapi tetap saja, kutukan bagi yang mengetahui.

 

 

 

Sampit, 05 Agustus 2019

Sebab, tidak ada yang lebih sunyi dari perasaan tidak dimengerti.

Advertisements

Author: nanirigby

A Wanderer who constantly asking about "Why?"

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s