Tentang Jarak

Aku rasa tuhan mencatat setiap kata rindu yang aku sebut untukmu dan mengubahnya menjadi pendar cahaya. Karenanya malam ini langit seolah menyala sebab aku sedang rindu rindunya.

Aku kira aku cukup veteran soal hubungan jarak jauh. Aku kira aku telah cukup hapal pada rutin, pola dan konsekuensi atas penghambaan pada minimnya frekuensi bertemu dan komunikasi. Yang tabah akan menang, yang gegabah akan kalah.

Namun jika ini soal menang dan kalah, aku ingin menaruh semua jatah keberuntungan yang aku punya agar aku tidak kalah terhadap situasi ini. Sebab ia perlahan membuatku kembali pada kenyataan soal:

Ini cuma soal menunggu siapa yang lebih dulu kalah pada jarak.

Hampir seribu kilometer menujumu, dan aku mulai kesal karena untuk sekadar bertemu ia harus menjadi perkara paling mewah di hubungan ini. Lalu diam-diam menaruh iri pada yang bisa menuntaskan rindu semudah menyalakan sepeda motor dan berkendara pelan selama sepuluh menit. Iri pada setiap resah yang ditenangkan dengan genggaman, pada setiap tangis yang redam dalam pelukan. Perkara sesederhana ini mengapa harus menjadi mewah sekali?

Lalu entah mengapa segalanya terasa sendu. Kebersamaan beberapa hari akan berganti pada sehari, dua hari, seminggu, berminggu minggu tanpa temu. Kembali bertemu untuk kemudian berpisah kembali dalam rentang waktu tidak tentu. Begitu seterusnya sampai… kapan? Dengan naifnya aku memandang hal ini melalui perspektif ini cukup kok, yang penting kan saling sayang namun ia perlahan terasa menjemukan, dan sedih sekali untuk menyadari bahwa hal itu saja tidak cukup, aku ingin lebih.

Aku ingin bertemu.

haruki-murakami-quote-lbu8l6b.jpg

Sampit, 30 September 2019

Sekarang beritahu aku, sampai kapan jarak ini mampu mengingkari waktu? 

Advertisements

Midsommar dan Perkara yang Sering kita Abaikan

Tahun 2019 sudah menjejak September dan baru ini saya ‘tergerak’ untuk menulis review film. Selain karena frekuensi nonton film berkurang (biasanya setiap minggu menjadi 1-2 kali sebulan) dan memang belum menemukan film yang cukup menggelitik untuk dituliskan.

Formula film menarik untuk saya sederhana saja, jika 24 jam setelah menontonnya saya masih kepikiran berarti film itu cukup mengganggu, dan saya perlu untuk merekamnya ke dalam media tulisan agar tidak terlupakan. Sayang, soalnya.

images

Midsommar pertama saya kenali dari klip teaser singkat di Twitter, pergi ke YouTube beberapa hari setelahnya untuk trailer dan I’m sold karena iming iming disutradarai Ari Aster, yang juga menyutradarai Hereditary. Mengingat saya suka tiba tiba kepikiran kepala adik tokoh utama yang putus ketabrak tiang lampu hingga berhari hari setelah menontonnya, berangkatlah saya ke Cinemaxx Citimall Sampit untuk Midsommar.

Dan rasa penasaran itu terbayar, lunas, genap seketika. Film ini berdurasi 2 jam 27 menit namun tidak satu menitpun terasa membosankan dan tidak satu adeganpun yang sia-sia. Sebagus itu, sungguh. Saya dihibur dengan turbulence emosi Dani (Florence Pugh) yang harus kehilangan keluarganya begitu saja dan perjuangannya untuk tegar di tengah kehilangan yang terasa uwuwu sekali

*** SPOILER ALERT***

Secara plot, Midsommar sebenarnya tidak menawarkan hal baru. Film serupa soal sekumpulan orang di tempat terpencil melakukan ritus aneh dan bunuh bunuhan sudah ada sejak era Stephen King meledak melalui novel (dan kemudian film) Children of the Corn. Next to next adegan juga mudah ditebak, sejak awal Pelle (Vilhelm Blomgren) mengaku berasal dari Swedia dan ikut cult runut cerita sudah bisa disimpulkan berupa:

Seseorang dari closed cult dikirim ke dunia luar untuk mencari tumbal.

Premis yang semakin kuat saat para turis (total 6 orang) yang berlibur ke Harga, desa terpencil di Swedia untuk mengikuti festival musim panas bernama Midsommar ini dipaparkan begitu saja dengan hal asing berupa dua orang yang bunuh diri secara sukarela. Mengingat kedua orang yang sudah terpapar dunia luar tidak mencegah keenam turis ini, ending cerita sudah bisa ditebak; mereka semua mati atau tidak akan bisa meninggalkan tempat itu.

Midsommar-Dani-May-Queen
mbnya cakep cakep kok mrengut aja~

Selanjutnya Midsommar adalah sembilan hari festival 90 tahunan yang dipenuhi magic mushroom, ramuan ramuan delusi, ritus aneh dan tempat tempat keramat. Pada titik tertentu, film ini mengingatkan saya pada Get Out. Yang menarik perhatian saya justru bagaimana karakter Dani berkembang dari awal hingga akhir film.

Ari Aster memainkan formula Dani sebagai perempuan yang masuk ke dalam rekrutmen untuk Midsommar secara tidak sengaja. Ia menjadi yang ganjil dalam 5 tumbal yang slotnya telah dipenuhi rekan rekan Pelle. Di sisi lain, Dani justru menjadi Ratu Kesuburan berkat memenangi lomba joget di tiang panjat pinang. Dan bagaimana film ini menggambarkan Dani yang “terbuang” dari dunia luar lalu secara sadar dan ikhlas menjadi bagian dari Horga.

Dani yatim piatu secara tiba-tiba karena adiknya yang bipolar membunuh kedua orang tua dan dirinya sendiri dengan mengisap karbondioksida. Dani kemudian tidak memiliki siapa siapa lain selain pacarnya, Christian. Di penghujung film kegamangan Dani soal dia siapa jika harus hidup tanpa Christian dikukuhkan melalui adegan ritus seksual lelaki itu dengan Mya, salah seorang penduduk Horga. Lelaki yang menjadi last resortnya berkhianat dan dipilih Dani untuk dibakar hidup-hidup pada punya festival Midsommar. Cute.

Selain perkembangan karakter yang apik, saya jatuh cinta pada teknis pengambilan gambar di film ini. Setiap shotnya artsy, setiap kostumnya mengingatkan pada baju-baju di toko Muji, setiap anglenya layak dijadikan wallpaper hape. Bahkan mayat yang punggungnya dikuliti dan digantung di kandang ayam aja artsy faklah hahaha. Sebagai film, ia berhasil mengganggu pikiran saya hingga hari ini (nontonnya kemarin sore) dan masih menjadi bahasan antara saya dan rekanan satu geng.

Disturbingly haunting. Me likey.

 

Sampit, 12 September 2019