Kita Tidak Sedang Menderita

Dua puluh tahun lalu, saat aku berusia 7 tahun, seseorang melecehkanku secara seksual. Hampir setiap hari ia memperlihatkan penisnya padaku, memintaku untuk memegang, mengulum, menjilat kemaluannya dan mengintipku saat mandi.  Aku tidak pernah mandi tanpa mengenakan baju dan memilih pergi ke rumah tetangga jika ditinggal sendirian di rumah. Hingga akhirnya di usiaku yang ke-15 ia menikah dan pelecehan itu berhenti begitu saja.

Saat itu, aku merasa aku adalah orang paling menderita di dunia.

Ketika usaha ayah bangkrut dan kami yang sudah miskin harus semakin miskin dengan dijualnya rumah dan pindah ke kontrakan berkamar satu, aku harus tidur berhimpitan dengan kakak di kasur tipis depan televisi 14 inci di ruang tamu/ruang tengah/ruang makan sebab kontrakan itu hanya punya 2 ruangan. Setiap hari ibu memasak satu bungkus mie instan rebus berkuah banyak dengan tambahan garam untuk dibagi bertiga; aku, kakak dan adik. Di hari yang baik kami akan makan sarden berkuah encer atau  telur dadar dengan sambal kacang.

Kami lalu menambahkan lauk seadanya itu dengan nasi hasil jatah raskin yang lebih banyak batu daripada berasnya dan mengeluh dalam diam sebab segan pada ibu yang harus mengantri di Kantor Kelurahan dan menjunjung 10 kilogram beras di kepalanya, berjalan kaki, setiap akhir pekan. Sepanjang kelas 4 SD rambutku berkutu karena kontrakan berdinding kayu itu bersebelahan dengan kandang ayam dan bebek pemiliknya. Jika musim hujan, air akan menggenang setinggi mata kaki dan ayah akan membuat panggung darurat di dalam rumah agar kami bisa tidur tanpa kebasahan.

Saat itu, aku merasa aku adalah orang paling menderita di dunia.

Tujuh tahun lalu, di bulan Juli, saat membeli tiga bungkus mie instant dan uangku kurang seribu tujuh ratus rupiah, seorang kasir membentakku karena harus membatalkan pembelian satu bungkus mie instan dan ia terpaksa memanggil managernya. Antrian di belakangku panjang, dan masing-masing menggerutu karena untuk membayar seribu tujuh ratus rupiah saja aku tidak bisa. Dua bungkus mie instant, aku bagi untuk makan satu minggu kemudian di kos kumuh Cipete Dalam seharga 350 ribu per bulan.

Di bulan September aku terjatuh dari tangga dan harus menahan sakit berjalan kaki sepanjang Cipete Raya sebab sepeser uangpun tidak ada untuk ongkos karena habis membayar tukang urut. Hingga sekarang tungkai kaki kananku tidak bisa diluruskan karena kejadian tersebut.

Saat itu, aku merasa aku adalah orang paling menderita di dunia.

Lima tahun terakhir hidup mulai membaik, di usia 27 sekarang aku bisa bangun pagi di kasur empuk dengan kamar ber-AC, membuka kulkas berisi dengan makanan berkualitas premium, berangkat bekerja mengendarai mobil, bekerja di perusahaan bonafit dengan pangkat yang lumayan untuk kemudian pulang ke rumah sendiri yang penuh buku-buku impor, membacanya di depan televisi besar dengan ratusan channel luar negeri dan perkara lain yang 20 tahun lalu adalah tersier bahkan mustahil untuk aku miliki.

Namun kemudian aku akan berbaring di ranjang, menerawang jauh hingga larut malam dan mulai menangis. Aku akan betanya tentang tujuan hidup, aku akan menangisi kesepian yang kurasakan, aku akan meratap soal mengapa begitu sulit bagiku untuk berdamai pada diri sendiri dan berbahagia seperti orang-orang kebanyakan.

Saat ini, aku merasa aku adalah orang paling menderita di dunia.

Hidup mempertemukanku dengan banyak orang dan kisah-kisah tentang hidup. Tentang satu derita dan derita lainnya. Meski aku dan egoku ingin agar penderitaanku berada di bawah lampu sorot dan seluruh dunia menaruh kasihan kepadaku, keinginanku untuk menganggap apapun kejadian sulit yang telah dan akan terjadi padaku tidak sebanding dengan derita orang lain masih lebih besar. Sebab seperti yang almarhum ibuku selalu bilang

“Kita ini miskin, tapi kita masih punya harga diri. Dan itu yang harus kamu jaga”

Karenanya meski harus menderita, aku menolak untuk mengiba. Meski harus menyeret kaki berbebat perban sepanjang satu kilometer di panas terik, aku pantang mengeluh dan memaksa orang menjadi bagian dari penderitaanku. Pada akhirnya aku diomeli tentu saja :)) karena merahasiakan hal itu dan tidak membaginya pada seseorang yang sangat peduli padaku saat itu.

IMG_20191020_234236
A mantra from a man who lived long enough to laugh about my whining of suffering.

Aku tidak tau apakah kekeraskepalaan ini merupakan berkah atau kutukan sebab ia selalu menjadi dasar dengan batasan baik/buruk yang rancu. Aku tidak tau apakah jalan yang kupilih sekarang benar adanya dan akan membawaku pada kebahagiaan atau ia justru menjadi jembatan untuk satu lagi penderitaan.

Yang aku tau, setiap hari di mana aku masih hidup dan berkesempatan untuk bersinggungan dengan makhluk bumi lainnya, aku menolak untuk merasa menderita. Aku menolak untuk melakukan pemujaan terhadap kondisi sulit. Aku tidak ingin menjadikan penderitaan dan kesedihanku sebagai alasan untuk meminta pengertian orang lain lebih lebih pembenaran atas tingkah laku tercela.

Dalam menghadapi kejadian dalam hidup, jika ia adalah sebuah kesusahan, aku akan berupaya semampuku untuk keluar dari kondisi itu dan sepayah payahnya kemampuanku untuk berjuang, aku akan berharap agar aku cukup kuat untuk menjadi tabah.

Sebab aku bukan lagi orang paling menderita di dunia.

 

Sampit, 20 Oktober 2019

27 adalah usia paling ajaib sejauh ini.

Author: nanirigby

A Wanderer who constantly asking about "Why?"

One thought on “Kita Tidak Sedang Menderita”

  1. “Aku akan betanya tentang tujuan hidup”

    Bagi beberapa orang di usia 20-an bertanya tentang tujuan hidup atau mungkin dikenal sebagai krisis eksistensial sepertinya banyak ditemukan, minimal kamu, saya, dan beberapa kawan yg saya tau ..
    Sampai ada istilah “27 club” bagi orang-orang yang memutuskan mengakhiri hidupnya di usia 27 karena tak kunjung menemukan makna/tujuan hidup ..

    Tapi bila kita terus mencari tujuan/arti/makna hidup, lalu sampai hari ini tidak menemukannya. Ya mungkin tidak bermakna, sebelum suatu saat kita menemukan makna, maka hidup sekarang itu tidak bermakna.

    Mungkin, kita sendiri yang membuat makna hidup, kita sendiri yg memutuskan “hidup ini bertujuan atau tidak bertujuan”, yang dengan “tujuan/makna” itu kita berusaha terus survive dalam menjalankan kebanalan hidup.

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s