Hantu di Musim Penghujan

“Aku bermimpi tentang hantu”

Segelas air putih yang kuminum belum terteguk sepenuhnya saat Fuga mengusik perhatianku soal mimpinya tentang hantu, sepagi ini.

Ruang tengah sedang sepi. Belum tandas hausku yang harus menempuh puluhan kilometer untuk menemukan jawaban mengapa perempuan ini menghubungiku sambil menangis.

“Aku… melihat matanya yang kelabu dan mencium aroma busuk dari tubuhnya” Fuga kembali bersuara.

Tunggu, bukankah mimpi tidak berbau? Aku pernah beberapa kali bermimpi tentang makanan yang sepertinya beraroma wangi namun aku tidak pernah ingat bagaimana baunya. Tidak, sebuah mimpi tidak semestinya meninggalkan ingatan tentang bau. Aku beringsut dari dudukku, mendekati tubuhnya yang gemetar. Perempuan ini benar-benar ketakutan, dapat kulihat tatapan matanya yang menerawang jatuh dengan pupil membesar, seolah tengah menghadapi mimpi buruknya di dunia nyata. Urung kupeluk sebab terlalu lancang jika kulakukan. Tidak saat ini, tidak di tempat ini.

Fuga kini terisak pelan

“Jika bukan karena ini malam ketiga aku bermimpi hal yang sama, tentang hantu yang menatapku seolah inilah saatnya aku mati, tidak akan aku mengganggumu sepagi ini”

Bicara soal pagi, aku teringat sebuah pagi beberapa tahun silam, saat pertama kali aku mengenal Fuga. Namanyalah yang paling menarik perhatianku. Fuga Agatha. Fuga. Tidak pernah dalam hidupku aku mendengar dan bertemu orang dengan nama Fuga. Aku pernah mengenal seseorang bernama Proletariyati, Xeon hingga Berhala. Yang terakhir adalah teman karibku hingga sekarang, kedua orang tuanya adalah pekerja seni paling progresif di zamannya dan menganggap rasa sayang kepada anak tidak ubahnya sebuah pemujaan terhadap berhala. Temanku mengalami bullying sepanjang sekolah karena nama ini.

Namun Fuga, belum pernah aku bertemu dan mendengar sebelumnya. Dentumnya yang keras mengingatkanku bahwa kelahirannya pastilah membawa makna untuk menjadi lantang dan berbekas di ingatan setiap orang. Tidak seperti Berhala, betapa Fuga adalah doa. Fuga memang membawa dentuman dengan irama paling merdu sejak aku mengenalnya.

Perempuan yang pandai memainkan irama melalui kerling mata dan senyumnya yang indah. Irama yang membuat detak jantungku bertambah kencang setiap ia menelusuri pelan alur wajahku. Bermain dengan anak rambut dan membelaiku hingga tertidur. Ah, Fuga.

Lamunanku buyar. Matari masih belum sepenuhnya terbit, cahayanya yang bias berkejaran di sela jendela ruang tamu. Sudah lama aku tidakk bertemu pagi sesyahdu ini. Mungkin lantaran Fuga, yang sedari tadi beringsut merapatkan tubuhnya kepadaku dengan gemetar yang tak kunjung reda.

“Aku bisa merasakannya, sungguh. Jemarinya yang dingin mencengkram lenganku sangat erat hingga aku kesakitan dan matanya! Matanya demikian kelabu dan aku merasa takut teramat sangat” Suaranya merendah.

Tapi sebentar, konon saat bermimpi manusia tidak bisa menggunakan indera sensoriknya. Serupa aroma, Fuga tidak semestinya merasakan sensasi indera lain. Tidak mungkin bagi seseorang yang tengah bermimpi dapat merasakan dingin, bau, lebih-lebih rasa sakit.

Lantas mengapa ia meninggalkan bekas kebiruan di lengan perempuan yang kini meringkuk dengan mata sendu ini?

“Tolong aku, buat ia berhenti menyakitiku”

Kurengkuh Fuga pada akhirnya, mendekapnya seerat mungkin untuk setidaknya mengurangi rasa takut perempuan yang masih saja gemetar itu. Kupejamkan mataku serapat mungkin. Bias cahaya matahari dari jendela menyentuh wajahku saat waktu berkejaran mendatangkan siang untuk mengganti pagi. Kuhirup aroma Fuga, rambutnya mengingatkanku pada aroma hutan, entah lantaran shampoo yang digunakannya atau sekadar sugesti sebab memeluk Fuga seketika melemparkan ingatanku pada hutan tempatku sering bermain di masa kanak-kanak. Teduh dan tenang.

Dekapan kulekatkan hingga kudengar suara Fuga terbatuk perlahan. Kian lekat, kian erat.

Fuga sempat meronta beberapa saat. Dapat kurasakan kedua lengannya berupaya melepas kuncian tanganku. Namun sejurus kemudian tubuhnya adalah kesunyian yang bernas. Tidak kutemui cahaya mata penuh rasa cemas yang sedari tadi kutatap. Tidak juga kutemukan gemetar tubuhnya seperti saat ia bercerita tentang hantu dalam mimpi beberapa belas menit lalu.

Tidak kutemui apa-apa lagi di tubuh Fuga yang kini tanpa suara meregang nyawa di pelukanku. Kukecup keningnya pelan:

“Tenang, tidak ada lagi hantu yang akan memangsamu”

Sampit, 11 November 2019

Musim penghujan telah tiba.

Mari Sudahi

Dua orang saling menemukan, menjadi lekat dan menyembuhkan. Atas duka atas luka atas segala derita yang pernah tercipta. Keduanya merasa inilah sesempurnanya sebuah jumpa. Begitu magis dan serba tidak biasa.

Hari berganti bulan demi bulan bergulir. Keduanya masih saling mencintai walau jarak kini terukir. Meski bertemu hanya sesekali namun keduanya sama sekali tidak khawatir. Hubungan ini begitu manis dan mustahil untuk menjadi getir.

Bertemu dua minggu sekali, sebulan sekali kemudian tidak sama sekali. Keduanya yakin jarak dan kondisi tidak akan mengalahkan mereka selama masih bisa berkomunikasi. Semula menyapa satu jam sekali, menjadi sehari sekali, lalu berhari hari.

“Keadaan masih bisa membaik, berikan ia satu hari lagi untuk mengerti hal ini”

Adalah rapal kesekian ratus yang kuucap pada malam sebelum tidur setelah berbagi 2-3 pesan singkat seharian. Untuk kemudian menangisi bantal sebab perasaan kesepian begitu menggema ketika seseorang telah menawarkan kebersamaan namun ingkar terhadap perjanjian.

Kini puncaknya, aku diminta menunggu sambil sabar dan memaklumi. Tanpa tenggat waktu kecuali kata ‘nanti’. Maka jika sesuatu yang seolah-olah seperti cinta ini hanya mencekikku dalam sunyi,

Mari sudahi.

92577b1ec408290639f91ca5660a782a.jpg

Sampit, 09 November 2019

Another heartbroken, another sleepless night.