Edge of Twenty Seven

November menjejak langkah ke-duapuluhempat. Tahun 2019 tinggal hitungan minggu, satu lagi tahun yang lewat tanpa pencapaian berarti. Semakin lama, semakin tua, hidup nampaknya memang akan terasa seperti begini begini saja

Untuk aku pribadi, tahun ini tidak seburuk itu. Setidaknya aku tidak mengalami kemalangan yang terlalu, atau penderitaan bertalu. Beberapa highlights terjadi terutama dalam tataran perubahan fisik. Seperti bulan November di tahun-tahun sebelumnya, aku gemar menuliskan semacam kaleidoskop, untuk melihat kembali bahwa hidup dengan pacenya sendiri –sepelan apapun– adalah progresi. Aku juga gemar menilik kembali tulisan-tulisan ini di tahun selanjutnya (yang pada saat itu entah sudah kuhapus atau belum) dan tersenyum sebab dengan membaca ulang, aku bisa ingat betul bagaimana rasanya melalui hal tertentu, di waktu tertentu.

Januari

Di bulan ini beberapa hal baru terjadi, ditembak dan jadian setelah punya crush padanya selama 2 tahun. Menjejak usia 27 dengan sederet perayaan dan hadiah menyenangkan dari kawan-kawan, kembali aktif bermain twitter dan sempat ‘agak populer’ berkat entry-entry self love. Bulan ini juga penanda pindahnya Amel (my childhood friend) ke Pangkalanbun untuk menekuni hidup sebagai istri orang di sana. Tahun 2019 jika berdasar kejadian-kejadian di bulan ini, adalah penanda yang sangat baik sebab rasanya tidak ada seharipun aku sempat merasa sedih. Punya pacar yang sangat sayang padaku, hampir setiap weekend berkegiatan di luar kerjaan kantor dan tidak ada hari yang terlewat tanpa keriaan bersama teman-teman. January was F-U-N.

Februari

Bulan ini keriaan memiliki pacar baru masih berlanjut. Aku begitu sayang padanya hingga bagiku tidak ada yang lebih merdu dari suaranya, yang lebih penting dari mengangkat telponnya. Terbatasnya jarak bukan masalah sebab demi apa yang terasa seperti cinta itu, aku rela berkompromi terhadap nyaris apapun. Tanpa keluh. Awal bulan pergi ke Jakarta untuk teater Nyanyi Sunyi Revolusi (kisah hidup Amir Hamzah) dan di teater ini melihat bagaimana Lukman Sardji menyajikan akting yang begitu hidup jauh sebelum ia dipuji-puji dalam film 24 Steps of May.

Februari juga penanda puncak weight loss terbanyak dalam rentang 27 tahun hidupku. Total aku turun 24 kilogram dan menjejak angka 78 kilo, terkurus sejak terakhir seberat ini adalah saat era wartawan, 10 tahun lalu. Ini tentu sebuah pencapaian meski setiap hari aku tidak sarapan, makan siang dua lembar roti minim isian dan Iced Americano lalu kadang makan malam kadang tidak tergantung pacar menelpon jam berapa (sebucin itu, memang) ditambah berenang minimal 1 jam sehari, setiap hari.

Di bulan ini, Instagram menjadi saksi, aku bisa menggunakan baju lungsuran dari seorang teman yang berukuran M. Demi apapun di muka bumi rasanya bahagia sekali.

Hampir lupa, aku mendaftar kursus Bahasa Jepang dengan total 10 kali pertemuan. Karena bosan aku berhenti dan hingga saat ini Bahasa Jepang yang tersisa tinggal Senpuki dan Itadakimasu.

Maret

Seperti tahun yang sudah sudah, kebiasaan meal prep rupanya sudah menjadi memori motorik. Melihat kembali Instagram berlabel tanggal bulan ini, ada banyak sekali varian makanan yang aku olah sebagai bekal. Rajinnya membuat bekal (dan memakannya tentu saja) membuat progres penurunan berat badan tidak seberapa signifikan. Namun karena pacar menyebut jangan saat kubilang aku ingin sekurus Luna Maya, bucin ini mengangguk setuju dan memperbaiki pola makannya dengan makanan yang lebih bervariasi dan berwarna tinimbang dua lembar roti dan kopi hitam melulu.

Bulan ini, hubungan LDRku yang lebih manis dari biang gula itu mulai goyah. Frekuensi komunikasi yang semula begitu rapat menjadi kadang-kadang. Chatting soal hal-hal kegemaran atau sekadar bercerita sedang apa terasa bukan prioritas lagi. Ruangan Telegram hanya berisi dua-tiga pesan sekadarnya atau ajakan singkat untuk masturbasi. Mungkin aku yang lebay terhadap sebuah perubahan. Tidak tangguh saat kondisi kehidupan kekasih sedang rumit. Namun hal ini tak pelak mengundang tanya:

Jika benar ini adalah cinta, mengapa aku diperlakukan seadanya?

April

I’m HOOKED into Cognitive Bias dan 112 turunannya di bulan ini. Dalam hidup akan selalu ada fase beginian kan, hati tengah gundah gulana namun alih-alih menyelesaikan masalah di depan mata tapi malah mencari distraksi dengan keriaan lain. Dibantu beberapa buku filsafat dan psikologi yang telah dimiliki, “belajar” hal ini menjadi rutin setiap hari. Aku ingat saat makan siang sendirian, menyesap es kopi sambil menulis ulang/membuat contoh kasus/menyusun inti dan korelasi satu bias ke bias lain sambil dalam hati bergumam sesekali “Kenapa hingga siang ini dia belum membalas pesan selamat pagiku?”

Bulan ini melepas Nintendo Switch yang sudah berdebu, nyobain metode meluruskan rambut bernama keratin smoothing (yang lurusnya hanya bertahan 3 hari), kembali memelihara poni, menjadi satu dari milyaran umat manusia di muka bumi yang menjadi saksi dari foto real blackhole untuk pertama kalinya, get into baking dan Pemilihan Presiden.

Puncaknya pada 27 April pergi ke Surabaya untuk menonton film 27 Steps of May. Film yang hingga sekarang masih membuatku merinding jika mengingat sensasi bagaimana aku menyaksikan film itu sendirian sambil menangis dan bagaimana aku mengarungi lautan manusia (ini tidak bercanda, coba saja melewati Tunjungan Plaza di malam Minggu) tapi seperti tidak mendengar dan melihat apa-apa. Semuanya lewat begitu saja sampai akhirnya aku burst out di pojokan smoking area Sushi Tei. Kesedihan itu kian menjadi karena aku tidak bisa menghubungi pacar, orang yang ingin kujadikan sandaran dan tempat berbagi saat hal-hal buruk terjadi.

WhatsApp Image 2019-11-18 at 15.05.33

Mei

Kelas Jepang masih berlanjut tapi aku sudah ogah-ogahan. Rasanya nyaris tidak ada kegiatan di luar kerjaan yang membuatku bersemangat di bulan ini. Rutinku semata bangun pagi-ke kantor-pulang dan tidak sabar menunggu kantuk sebab berada dalam kondisi sadar di bulan ini rasanya sulit sekali.

Mungkin psikologikal, mungkin diagnosa psikiater benar adanya. Namun aku menolak sekeras mungkin untuk kalah dalam kondisi ini dan menyebutnya sebagai perubahan mood semata. Namun percaya soal ini; your doctor goes to medical school and spent millions not for nothing. It’s getting worse dan membangkitkan semua ketakutan yang entah nyata entah rekaan. Aku, lagi-lagi berusaha untuk kuat dan menyebut diri sendiri lebay. Dua orang yang mengaku saling jatuh cinta tentu bisa kehilangan cinta itu kapan saja. Dua orang yang begitu lekat seperti ketan tentu bisa saja perlahan menjauh. Itu natural, itu terjadi pada hampir setiap orang.

Tapi gemanya, gosh, gemanya itu yang masih sesekali membangunkanku di tengah malam untuk kemudian menangis sejadinya hingga sekarang.

Pada tanggal 28, ketakutanku menjadi nyata. Ia memutuskan hubungan kami dengan alasan yang menambah hantaman: aku membenaninya dengan kewajiban untuk wajib lapor. Percayalah untuk seorang perempuan yang selalu mengklaim (dan berusaha setengah mati untuk menjadi) kuat-mandiri-tegar-tangguh-tidak membutuhkan validasi lelaki, diposisikan sebagai perempuan clingy yang seolah membutuhkan perhatian 24 jam membuatku terluka lebih dari yang kusadari hingga aku menyebut kata setuju untuk mengakhiri hubungan ini dalam rentang tidak sampai 5 detik.

Juni

Berjanji untuk bertemu dengan (mantan) pacar di Bali bulan ini namun keburu putus membuat semua rencana liburan buyar. Tiket telah terbeli cuti telah terdeduksi. Atas asas serba-sayang akhirnya nekat berangkat ke Bali untuk menghabiskan 9 hari tanpa rencana pasti. Menjalani hari demi hari dalam kepatah-hatian dan upaya penghiburan seadanya hingga akhirnya berangkat dan menghabiskan 9 hari tersebut dengan gempita.

Hidup ini menarik sekali kalau diingat ingat. Bagaimana aku merasa duniaku luruh saat hubungan yang aku impikan sejak 2 tahun belakangan itu bubar begitu saja lalu seseorang datang tiga hari kemudian dan membayar kontan rasa sedih itu dengan ‘harga’ yang tidak main main. Sepanjang bulan Mei aku berbunga bunga kembali lantaran mengetahui seseorang yang telah kukagumi selama 10 tahun memiliki ketertarikan padaku.

Liburan di Bali menjadi menyenangkan karena disusulin ehe~

Juli

Agak sulit bagiku untuk mencerna konsep karma dan tulah namun entah sudah berapa kali aku dihantamkan dengan kejadian yang jika dirunut maka tulah adalah kata yang bersinar paling terang. Di bulan Mei pasca putus aku memilih untuk tidak berhubungan dengan siapa-siapa namun nyatanya toh aku dibuat jatuh cinta.

Pada 5 Juli saat masih liburan di Bali, aku ke Ubud untuk membuat tattoo. Aku memutuskan untuk membuat tattoo pertamaku dengan orang ini atas rekomendasi seorang kawan yang telah lama tinggal di Bali. Enso nama simbol ini, sebagai pertanda gerbang dimulainya hal yang baru. Long story short, aku jatuh cinta dan jadian dengan tattoist-ku. Sebuah keputusan yang sepertinya tidak rasional dan tidak profesional tapi mau gimana lagi aku anaknya gampang sayang~

Dua hari pertemuan singkat itu berakhir dengan pulangnya aku ke Sampit dan dimulainya hubungan LDR yang baru. Sepanjang bulan ini aku kembali melakoni juklak bucin. Suaranya adalah suara paling merdu, telpon/video call darinya adalah yang paling prior, dicintainya adalah seberuntung beruntungnya perasaan yang pernah ada. Aku jatuh cinta pada pilihan berani atas hidup yang dilakoninya, nilai ideal yang ia usung tentang seperti apa hidup yang ia inginkan dan sebagai seorang seniman, ia adalah seniman yang tidak hanya berbakat namun juga tekun.

Tanpa banyak menunda waktu pada 26 Juli aku kembali ke Bali dan menghabiskan 4 hari di sana. Tidak banyak waktu yang bisa kuhabiskan mengingat terbatasnya cuti yang dimiliki but man… this love feels like summer with all of those unicorns and butterflies in my head.

Agustus

Bulan ini aku dua kali bolak-balik Bali atas nama cinta :)) pertama untuk trip singkat 2-4 di awal bulan dan trip panjang 9 hari pada 16-25 di akhir bulan. Hubungan ini indah sekali dan layak dirayakan dengan meriah. Bulan ini aku punya keriaan baru; turut memanajemenisasi usaha pacar. Membantunya soal pencatatan keuangan secara remote. Menyenangkan rasanya terlibat dalam sesuatu yang berpotensi menjadi besar seperti ini.

September

70113011_2739454472744857_8900031810591784960_o
I feel semriwing~

Usaha pacar kian berkembang, klien berdatangan dan pembangunan dilakukan. Menguras energi namun rasanya senang sekali. Di bulan ini aku memutuskan untuk mencukur habis rambutku mengingat kerusakannya sudah di ambang batas toleransi. Mustahil bagiku mengembalikan rambut ke semula sehingga lebih baik di-reset dengan cara dibotakin. It doesn’t feel ‘much’ seperti pertama kali botak 2015 silam. I feel fine mungkin karena alasannya tidak bias karena perasaan apapun. I just want to be bald and that’s it.

Kami melewatkan malam demi malam bercerita tentang bagaimana hari ini berlalu dan apa yang kami inginkan di masa depan. Restoran kecil untukku di mana aku bisa memasak apapun yang aku mau lalu disuguhkan kepada teman dan klien yang datang. Hubungan ini begitu manis I could died from diabetes.

Oktober

Memasuki bulan kedua tanpa pertemuan. Cutiku habis dan bulan ini lewat begitu saja tanpa kejadian berarti. Mungkin lantaran kesempatan untuk bertemu disia-siakan begitu saja, aku akhirnya mengambil jarak untuk bisa melihat hubungan ini secara keseluruhan.

Hubungan ini, sayangnya, sama sekali bukan fairy tale.

November

Things get worse hingga akhirnya aku memutuskan untuk walk out pada 9 November. Aku sudah cukup berjuang untuk hubungan ini dan chapter itu aku cukupkan. Another broken heart but it okay, this too shall pass kan.

Desember tinggal hitungan hari dan 2019 serta usia 27 akan berlalu sebentar lagi. Suprisingly, after all of these things that happened in this year, aku masih hopeless romantic loh. Aku masih senang mengawang tentang bagaimana rasanya disayangi sepenuh hati. Aku masih gemar melakukan ziarah kenangan dan mengingat bagaimana rasanya disayang. Aku pernah disayang dengan baik dan itu sudah cukup, semua orang memiliki batasan waktu sehingga cepat atau lambat ia akan berakhir, ini hanya soal durasi.

Pada 13 November aku memutuskan untuk memasang behel. Sejarah perbaikan gigiku ini panjang dan melelahkan. Dalam lima tahun terakhir tidak terhitung berapa kali kunjungan ke dokter gigi untuk penambalan belasan caries, perawatan akar untuk geraham yang masih bisa ditolong, pencabutan tiga geraham yang tidak tertolong, hingga akhirnya gigiku benar benar siap untuk perawatan yang bersifat aesthetic. Ini komitmen tidak main-main karena tahunan tapi sudahlah, wayahe.

Secara keseluruhan, 2019 adalah tahun yang baik. Di tahun ini juga aku menyaksikan sendiri perubahan drastis yang terjadi di depan cermin dibanding aku setahun lalu. Nani telah menjadi perempuan berbehel dengan rambut keriting dan berhasil menghilangkan 20kg+ dari bobot tubuhnya. I’m happy that I still manage to love myself in any situation.

Desember berencana tidak ke mana-mana (tapi yha, aku juga menulis begini November silam namun ended up ke Bali selama 9 hari wkwk) karena segenap perubahan ini membuatku merasa perlu untuk mengambil nafas dulu untuk benar-benar mencerna soal apa yang aku inginkan dan apakah ia baik untukku jika dimiliki/dilakoni. Sebab mudah untuk berlaku impulsif tapi ia juga membutuhkan energi besar untuk beres beres setelahnya.

Looking forward for a better 2020!

Author: nanirigby

A Wanderer who constantly asking about "Why?"

One thought on “Edge of Twenty Seven”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s