Rasa Sakit

Waktu berjalan dan kamu kira kamu sudah terbiasa dengan rasa sakit. Kamu kira hidup dengan larah luka yang menganga sudah kamu relakan sebagai bagian dari masa lalu tanpa pilihan. Kamu lalu memilih untuk menjadi dewasa dan hidup dengan segenap konsekuensi atas pilihan itu.

Hingga seseorang datang, memberikan satu lagi penolakan atas apa yang tersisa dari dirimu. Bertubi, berkali-kali. Saat kamu kira sungguh mustahil seseorang seperti dirinya melukaimu sejauh itu, dia benar-benar melakukannya. Seseorang yang dengan lembut menyebut namamu di belakang kata aku mencintaimu dan membuatmu percaya bahwa apa yang tersisa dari tubuh dan jiwamu layak untuk dicintai. Untuk disayangi.

Lalu, saat ia benar-benar pergi, kamu memilih diam dan menelan rasa sakit itu sendirian. Pada malam-malam saat kamu terjaga dan tidak bisa melakukan apa-apa kecuali menangisi namanya. Memanggil dengan apa yang tersisa dari lirih suaramu untuk kembali merasakan kenyamanan dan keamanan itu, untuk sekali saja. Agar kamu bisa terlelap tanpa mimpi buruk yang perlahan mulai mengambil sedikit demi sedikit dari apa yang tersisa dari dirimu.

Minggu berganti, dan kamu memilih untuk pergi, dari rumah yang menghantuimu dengan kenangan atas apa yang kamu kira adalah cinta. Dari setiap sudut ruangan yang membuatmu mengira kamu berharga tapi lalu dibuang begitu saja.

Namun di ruang dan waktu yang asing inipun, kamu tak habis menangisi rasa sakit di dadamu. Pada malam-malam saat kamu terjaga, pada kesunyian yang bernas setiap usai kamu benturkan kepala ke dinding karena mereka berisik luar biasa, pada setiap keping obat yang kamu telan dalam upaya ingin terlupa, rasa sakit itu tetap memelukmu.

Kamu mengira rasa sakit itu akan kalah pada terjaga berhari-hari, pada tubuh tanpa asupan energi, pada airmata yang menggenang setiap kali kamu sebut namanya, pada ribuan hembusan nafas dan doa agar kamu dapat terlepas rasa sakit meski hanya sehari.

Hari ini bertubi kabar baik kamu terima. Dua orang kini mempercayaimu dengan perkerjaan yang kamu suka. Hadiah, kata-kata penyemangat dan upaya untuk menghiburmu tak pernah putus diberikan. Kamu tersenyum, merasa familiar dengan rasa menyenangkan itu, dan mengira inilah hari di mana rasa sakit itu akhirnya pergi.

Namun pada redup lampu kamar saat hari telah berganti, kamu tutup pintu dan jendela, mencoba memejamkan mata lalu airmata kembali mengalir. Rasa sakit itu kembali memelukmu hingga tidak ada yang bisa kamu lakukan kecuali menangis. Dan kamu merasa telah mengkhianati hal-hal baik yang seharusnya membuatmu bahagia di hari ini.

Kepada pil tidur kelima kamu titipkan sebuah harapan.

Ambil rasa sakitnya.

Ambil semua yang tersisa.

Denpasar, 28 Nopember 2020.

Luka

Tidak ada yang tau mengapa aku bernama Luka. Pun diriku sendiri, ibuku hidup tidak cukup panjang untuk memberitahu mengapa aku bernama Luka. Ayah? Sejak lahir aku tidak mengenal sosoknya. Hanya ada Ibu dan bermalam-malam shift kerjanya yang itupun tidak bertahan lama. Ia meninggal saat aku mulai bisa membaca.

Semula kupikir tak ada salahnya bernama Luka. Seorang guruku mengeja namaku sebagai L-U-C-C-A, ia menyebut itu nama yang indah. Hingga tahun ketiga Sekolah Dasar aku bahagia sebab mempunyai nama Lucca yang indah artinya. Lalu kartu pelajar yang dibuat di tahun keempat harus melongok kembali akta kelahiranku. Seluruh kelas akhirnya tau bahwa aku bernama Luka. Dan mereka mulai menyampirkan kata ‘borok’, ‘koreng’, ‘bopeng’ di belakang namaku.

Pengasuh panti asuhan sempat menambahkan nama marganya di belakang namaku. Ia kemudian diseret ke dalam sidang adat karena sembarangan memberi marga ke seorang asing yang tak jelas asalnya. Ditambah, kata Luka harus berada di depan marga yang konon katanya hanya dimiliki para bangsawan itu.

Ya, aku tinggal di panti asuhan selepas Ibu meninggal. Kadang terpikir bagaimana bisa Ibu tak memiliki keluarga sama sekali. Sekadar Kakak, Adik, Ibu atau bahkan teman, Ibu tidak menunjukkan tanda memiliki mereka. Pemakamannya digelar sederhana, yang bertandang hanya tetangga, yang memandikan dan menguburnya para pengurus Masjid. Hingga akhirnya aku ditemukan menangis lapar di dalam kontrakan dan semua orang terusik, membuangku ke Panti Asuhan.

Mungkin, Ibu memiliki keluarga dan teman. Tapi mereka hanya enggan memelihara seorang anak bernama Luka. Tinggal di panti mengharuskanku untuk tidak egois dalam menuntut kasih sayang. Sebab aku harus berbagi dengan puluhan anak lain. Dipeluk sekali seminggu saja sudah beruntung. Karenanya aku terbiasa mengejar gelar terbaik agar diperhatikan. Menjadi penghafal paling cepat, murid paling pandai, hingga pencuri handal.

Di usia remaja setidaknya enam kali aku mencuri dari kotak amal Masjid. Semata lantaran pengurus panti terus mengeluh soal kesulitannya mencari dana untuk memberi kami makan dan kehidupan yang layak. Uang yang kucuri banyak jumlahnya, diam-diam kumasukkan ke dalam kotak amal panti. Seseorang melihat aksiku dan mengadu. Aku dikeluarkan dari panti karena mereka tidak bisa memelihara seorang pencuri.

Padahal aku hanya butuh pelukan dan tepukan bangga dari mereka.

Sebenarnya bernama Luka-pun bagiku tidak masalah. Ibuku pastilah memiliki alasan indah (setidaknya kuharap begitu) mengapa aku bernama Luka. Kadang aku hanya kesal sebab Ibu tidak memberiku nama yang agak panjang, atau setidaknya satu kata tambahan agar aku tidak kesulitan untuk membuat akun jejaring sosial yang mengharuskanku memiliki last name. Atau agar orang-orang tidak sampai di titik kesal karena berkali-kali mendapat jawaban “Luka” saat mereka menanyakan “Iya Luka, terus nama lengkapnya apa?”

Usiaku bertambah dan aku mengalami mimpi buruk banyak jumlahnya. Mimpi itu berupa seorang pria memukuli Ibu. Aku bermimpi Ibu lebam berdarah berkat sabetan ikat pinggang pria tinggi besar yang tidak pernah bisa kulihat wajahnya. Ibu terus memohon ampun dan pria itu seakan tak bertelinga. 

Mimpi itu berulang-ulang hingga membuatku nyaris percaya bahwa itu adalah kenyataan.

Mimpi itu terulang hingga sekarang. Seperti pemutar kaset yang rusak tombolnya kepalaku mengulang mimpi itu setiap malam. Hingga kemarin akhirnya aku percaya, itu adalah kenyataan. Sebab aku bernama Luka, Ibuku mengeram benci saat melahirkanku ke dunia. Aku memberinya luka. Tidak terhitung banyaknya. Ia menyabetkan ikat pinggang dan membenturkan kepalaku ke tembok hingga aku lupa akan lukaku dan selalu mengira ia adalah Ibu terbaik yang aku punya.

Aku bernama Luka. Aku memutuskan untuk mengakhiri hidupku. Usiaku 23 tahun, tidak perlu khawatir saat menemukan tubuhku yang mungkin berserak hancur. Makamkan aku selayaknya manusia, tak perlu repot mencari kerabat sebab aku tak memiliki mereka. Urusan duniaku sudah usai, tidak ada hutang maupun dendam yang belum terpunahkan.

Tidak ada yang tau mengapa aku bernama Luka. Pun diriku sendiri, ibuku hidup tak cukup panjang untuk memberitau mengapa aku bernama Luka. Ayah? Sejak lahir aku tidak mengenal sosoknya. Hanya ada ibu dan bermalam malam shift kerjanya yang itupun tidak bertahan lama. Ia meninggal saat aku mulai bisa membaca..

Sampit, 24 Maret 2012

Kepada Laut Aku Ingin Pulang

Kepada laut aku ingin pulang
Untuk lebur bersama riak dan gelombang
Dalam gelap yang menenangkan
Tanpa rasa sakit dan pintu yang ditutup berdebam

Kepada laut aku ingin pulang
Aku menyerah untuk mengetuk berulang
Pada pintu dan jendela yang kukira bersedia memberikan rasa aman

Sebab

Jika hanya larah luka yang engkau berikan
Harusnya kau bunuh aku sejak permulaan.

Sampit, 16 Nopember 2020

Effortless Love

Aku tumbuh dengan asumsi bahwa cinta adalah reward. Aku menitipkan harapan untuk dicintai melalui sikap yang baik, membantu pekerjaan di rumah, menjadi juara satu, memenangi banyak perlombaan di sekolah. Tapi tidak juga kudapatkan pelukan dan kata-kata penuh kasih sayang dari mereka.

Aku tidak sadar, aku selalu menjadikan cinta sebagai imbalan. Sepanjang usia remaja aku mengira seseorang akan mencintaiku jika aku menjadi perempuan yang mereka sukai. Open minded, pandai berbahasa Inggris, cerdas dan mampu mengimbangi diskusi tentang apapun. Dan aku belajar dan belajar, menelan ratusan buku hingga belasan tahun berlalu dan aku tetap tidak dicintai.

And then there’s you. Kamu datang dan membuatku merasa dicintai tanpa aku harus berusaha apapun kecuali menjadi diriku sendiri. Kamu sudah mencintaiku bahkan sebelum aku riset tentang apa yang kamu sukai. Kamu sudah mencintaiku bahkan sebelum aku bergerak untuk membuatmu kagum kepadaku. Kita hanya perlu menjadi diri kita sendiri dan berjalan bersisian untuk membagi keriaan dan kesuraman dunia.

Bulan berlalu dan belum pernah aku merasa sebahagia itu. Bagaimana bisa tanpa aku belajar hingga larut malam, tanpa aku membuat catatan untuk memulai percakapan, tanpa aku diet mati-matian, seseorang menerimaku dan membuat hidupku lebih menyenangkan? Aku begitu menikmati perasaan itu dan tidak bisa menahan diriku sendiri untuk memberitahu setiap orang bahwa aku, dicintai karena menjadi aku, bukan siapapun.

Suatu pagi saat demamku tinggi dan satu porsi soto tersaji di meja makan, hatiku mencelos. Ingatan tentang masa kecil dan segala hal yang terjadi di dalamnya menghajarku dalam sekali sentakan. Hari itu berulang-ulang di kepalaku pikiran tentang “Aku tidak layak mendapatkan ini”

Dan aku menjadi Ibuku. Memilih diam sebagai jalan untuk coping dari setiap masalah dalam hidupnya. Memilih untuk menelan semuanya sendiri karena menganggap tidak akan ada yang bisa mengerti. Memilih untuk perlahan mendorongmu pergi. Mematikan seluruh perasaan sebab aku tidak layak untuk dicintai.

Tapi kamu tetap di situ, menyayangiku.

***

Sebulan terakhir tidak satu malampun aku lewati tanpa mimpi buruk. Buah penyesalan yang sedemikian dalam namun terus kusebut sebagai penghukuman. Berkali-kali mengalami episode mania dan kusebut sebagai tulah dari eksistensiku yang tidak lebih dari sosok jahat tanpa hati. Hingga di penghujung hari, setelah suara dokter meninggi karena ia hampir putus asa menyebut bahwa semua ini bukan salahku, aku pulang dalam penerimaan.

Aku lelah menghukum diriku sendiri, pada malam-malam menuju tidur dan suara itu datang dan menyebut aku tidak layak untuk hidup, aku akan merindukanmu. Menyebut namamu di sela tangis hingga suara itu menjelma menjadi mimpi buruk lalu terjaga dengan penderitaan yang sama.

Aku merindukanmu yang sempat menjadi pengingat bahwa aku bisa berdamai dengan diriku sendiri. Aku merindukanmu saat gelap turun dan aku mulai merasakan dingin. Aku merindukanmu. Aku tidak lagi memiliki ‘tapi’ dan ‘rasionalisasi’.

Yang aku tahu, aku merindukanmu.