Effortless Love

Aku tumbuh dengan asumsi bahwa cinta adalah reward. Aku menitipkan harapan untuk dicintai melalui sikap yang baik, membantu pekerjaan di rumah, menjadi juara satu, memenangi banyak perlombaan di sekolah. Tapi tidak juga kudapatkan pelukan dan kata-kata penuh kasih sayang dari mereka.

Aku tidak sadar, aku selalu menjadikan cinta sebagai imbalan. Sepanjang usia remaja aku mengira seseorang akan mencintaiku jika aku menjadi perempuan yang mereka sukai. Open minded, pandai berbahasa Inggris, cerdas dan mampu mengimbangi diskusi tentang apapun. Dan aku belajar dan belajar, menelan ratusan buku hingga belasan tahun berlalu dan aku tetap tidak dicintai.

And then there’s you. Kamu datang dan membuatku merasa dicintai tanpa aku harus berusaha apapun kecuali menjadi diriku sendiri. Kamu sudah mencintaiku bahkan sebelum aku riset tentang apa yang kamu sukai. Kamu sudah mencintaiku bahkan sebelum aku bergerak untuk membuatmu kagum kepadaku. Kita hanya perlu menjadi diri kita sendiri dan berjalan bersisian untuk membagi keriaan dan kesuraman dunia.

Bulan berlalu dan belum pernah aku merasa sebahagia itu. Bagaimana bisa tanpa aku belajar hingga larut malam, tanpa aku membuat catatan untuk memulai percakapan, tanpa aku diet mati-matian, seseorang menerimaku dan membuat hidupku lebih menyenangkan? Aku begitu menikmati perasaan itu dan tidak bisa menahan diriku sendiri untuk memberitahu setiap orang bahwa aku, dicintai karena menjadi aku, bukan siapapun.

Suatu pagi saat demamku tinggi dan satu porsi soto tersaji di meja makan, hatiku mencelos. Ingatan tentang masa kecil dan segala hal yang terjadi di dalamnya menghajarku dalam sekali sentakan. Hari itu berulang-ulang di kepalaku pikiran tentang “Aku tidak layak mendapatkan ini”

Dan aku menjadi Ibuku. Memilih diam sebagai jalan untuk coping dari setiap masalah dalam hidupnya. Memilih untuk menelan semuanya sendiri karena menganggap tidak akan ada yang bisa mengerti. Memilih untuk perlahan mendorongmu pergi. Mematikan seluruh perasaan sebab aku tidak layak untuk dicintai.

Tapi kamu tetap di situ, menyayangiku.

***

Sebulan terakhir tidak satu malampun aku lewati tanpa mimpi buruk. Buah penyesalan yang sedemikian dalam namun terus kusebut sebagai penghukuman. Berkali-kali mengalami episode mania dan kusebut sebagai tulah dari eksistensiku yang tidak lebih dari sosok jahat tanpa hati. Hingga di penghujung hari, setelah suara dokter meninggi karena ia hampir putus asa menyebut bahwa semua ini bukan salahku, aku pulang dalam penerimaan.

Aku lelah menghukum diriku sendiri, pada malam-malam menuju tidur dan suara itu datang dan menyebut aku tidak layak untuk hidup, aku akan merindukanmu. Menyebut namamu di sela tangis hingga suara itu menjelma menjadi mimpi buruk lalu terjaga dengan penderitaan yang sama.

Aku merindukanmu yang sempat menjadi pengingat bahwa aku bisa berdamai dengan diriku sendiri. Aku merindukanmu saat gelap turun dan aku mulai merasakan dingin. Aku merindukanmu. Aku tidak lagi memiliki ‘tapi’ dan ‘rasionalisasi’.

Yang aku tahu, aku merindukanmu.

Author: nanirigby

A Wanderer who constantly asking about "Why?"

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s